Bahasa · Uncategorized

Alice in Wonderland (Translated by Me)

Due to my hope and goal to becoming fantasy novel translator, I just trying to translated one of fantasy ebook in my folder. Phew, sorry, not good enough… Still wondering whether I must continue translating it or not. But I found it pretty interesting though!

Happy reading~! ^^

 

 

CHAPTER I.

Terjun ke dalam Lubang Kelinci

 

Alice sedang duduk di tepi sungai bersama saudara perempuannya hingga ia bosan. Sekali dua kali ia melirik pada buku yang saudaranya pegang, namun tak ada gambar di dalamnya.

“Dan apa gunanya buku yang,” pikirnya, “tak bergambar?” Ia bertanya pada dirinya sendiri.

Hari yang panas ini membuatnya bosan. Mungkin akan lebih menyenangkan jika ia bangkit dan memetik beberapa bunga daisy lalu merangkainya. Saat itulah ia melihat seekor kelinci putih dengan mata merah muda berlari di dekatnya.

Itu tak akan menjadi hal yang aneh, dan Alice pun tak akan terlalu memikirkannya jika ia tak mendengar si Kelinci berkata, “Ya ampun! Ya ampun! Aku akan terlambat!” sambil mengeluarkan sebuah arloji dari dalam kantungnya dan melihatnya dan kemudian berlari.

Alice berdiri, ini pertama kalinya ia melihat seekor kelinci dengan sebuah arloji. Alice lalu melompat dan berlari mengejarnya tepat saat kelinci itu melompat ke dalam lubang besar di dekat semak-semak.

            Secepat mungkin, Alice mengejarnya ke lubang itu dan tak berhenti untuk berpikir dunia macam apa yang ia masuki. Lubang itu menukik dengan lurus kemudian menikung dengan tajam. Begitu tajam hingga Alice tak punya waktu untuk berpikir hingga ia menyadari dirinya jatuh ke dalam sesuatu seperti liang yang sangat dalam.

            Ia mungkin tak bergerak cepat, atau liang itu pastilah sangat dalam hingga membutuhkan waktu lama untuk jatuh ke bawahnya hingga memberinya waktu untuk melihat benda-benda aneh yang dilaluinya.

            Pertama-tama ia mencoba melihat ke bawah liang untuk melihat apa yang ada di sana, namun terlalu gelap untuk dapat melihat apa pun. Lalu ia memandang ke sisi liang dan melihatnya tersusun dari rak-rak buku. Di sana-sini ia melihat peta dipancangkan oleh paku-paku. Ia mengambil salah satu kendi dari rak yang ia lalui. Terdapat bacaan ‘selai’ di luarnya, namun tak ada selai di dalamnya hingga ia pun menaruhnya kembali pada rak selanjutnya yang ia lalui.

            “Yah,” pikir Alice pada dirinya sendiri, “setelah jatuh seperti ini, aku tak keberatan sama sekali jika jatuh dari tangga. Pasti mereka yang ada di rumah berpikir betapa beraninya aku! Aku tidak akan mengatakan apa pun jika aku jatuh dari atas rumah.” (Yang mana aku berani katakan hal itu benar)

            Turun, turun, dan turun. Kapankah akan berakhir?

“Aku ingin tahu,” ia berkata, “sudah seberapa jauh aku jatuh? Apakah aneh jika aku terjatuh ke dalam bumi dan keluar dari tanah di mana orang-orang berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah?”

            Turun, turun, dan terus turun.

“Dinah akan merindukanku malam ini,” Alice berkata lagi. (Dinah adalah kucingnya). “Aku berharap orang-orang di rumah tak lupa memberinya susu di waktu minum the. Oh, Dinah sayang! Aku berharap kau ada di bawah sini bersamaku! Tak ada tikus di sini, tapi kau dapat menangkap kelelawar, dan rasanya seperti tikus, kau tahu? Tapi, apakah kucing makan kelelawar?

            Lalu saat tiba waktu tidur bagi Alice, ia bermimpi sedang berjalan bersama Dinah dan ketika ia bertanya “Dinah, katakan padaku sekarang, apakah kau memakan kelelawar?” pada saat bersamaan, duk! Duk! Ia jatuh terjerembab di tumpukan ranting dan daun kering. Ia segera berdiri dan melihat ke atas, namun terlalu gelap. 

            Di ujung sebuah ruangan besar di depannya, kelinci itu masih terlihat. Tak ada waktu lagi, sehingga Alice pun segera mengejarnya tepat saat kelinci itu berkata, “Oh, demi telingaku, betapa terlambatnya aku!” lalu ia menghilang dari pandangan.

            Kini Alice mendapati dirinya berada di sebuah ruangan besar yang panjang dengan langit-langit rendah tempat tergantungnya deretan lampu-lampu bercahaya. Ada pintu di tiap sisi ruang itu, tapi ketika Alice berkeliling dan mencobanya satu persatu, semuanya terkunci. Ia kembali berjalan dan berputar dan mencoba berpikir bagaimana caranya ia dapat keluar. Kemudian ia mendapati sebuah pilar yang terbuat dari kaca. Terdapat sebuah kunci kecil yang terbuat dari emas di atasnya dan Alice berpikir pastilah itu kunci dari salah satu pintu yang ada di ruangan besar tadi. Tetapi ketika ia mencobanya pada tiap lubang kunci, disadarinya lubang-lubang itu terlalu besar atau kunci itu yang terlalu kecil—hingga tidak cocok dengan satu pun lubang yang ada.

Tetapi ketika kembali mengelilingi ruangan itu, ia menemukan sebuah tirai yang tak ia lihat sebelumnya, dan ketika ia menyingkapnya, ditemukannya sebuah pintu kecil, tingginya tak lebih dari satu kaki. Ia pun mencoba kunci itu pada lubangnya dan syukurlah kunci itu cocok!

            Alice mendapati pintu itu menuju ke sebuah ruang sebesar lubang tikus. Ia berlutut dan dari sana, dilihatnya sebuah taman dengan bunga-bunga cerah. Betapa inginnya ia keluar dari ruang gelap dan berada di taman indah itu, tapi bahkan kepalanya pun tak dapat melalui pintu kecil itu.

“Dan jika kepalaku dapat keluar pun,” pikir Alice, “tak akan ada gunanya. Sisa tubuhku masih terlalu besar untuk dapat keluar. Oh aku sungguh berharap tubuhku dapat mengecil! Sepertinya bisa jika saja aku tahu caranya.”

            Tak ada gunanya hanya berdiam diri di sana, sehingga ia kembali ke pilar tadi dengan harapan dapat menemukan kunci untuk pintu-pintu yang besar atau mungkin buku yang berisi petunjuk bagaimana cara agar ia dapat mengecil.

            Namun kali ini ia menemukan sebuah botol kecil di atasnya. (“Yang aku yakin tak ada di sini sebelumnya,” kata Alice). Dan pada leher botol itu tergantung sebuah kertas dengan tulisan “Minum aku”.

            Memang tulisannya “Minum aku,” tapi Alice terlalu bijak untuk langsung melakukannya. “Tidak, aku akan melihatnya dulu,” ia berkata, “kalau-kalau ada tanda ‘beracun’ atau tidak.” Karena ia yakin jika kau minum dari botol yang bertanda ‘beracun’ maka kau pasti akan sakit.

            Namun tak ada tanda itu di botol ini sehingga Alice memberanikan diri untuk mencobanya dan mendapati rasanya enak (seperti campuran antara pie, es krim, bebek panggang, dan roti panggang hangat), dengan cepat ia pun meneguknya hingga habis.

“Aku merasa aneh.” Ujar Alice setelah itu. “Aku yakin aku tidak sebesar sebelumnya!”

Dan memang itu yang terjadi. Tingginya kini tidak lebih dari satu kaki dan wajahnya mengecil hingga ukuran di mana ia dapat melalui pintu kecil itu dan keluar menuju taman yang indah tadi.

            Tetapi, malangnya Alice! Ketika ia menghampiri pintu, ia menyadari sudah meninggalkan kuncinya di atas pilar dan ketika ia kembali untuk mengambilnya, ia tak dapat meraihnya. Ia dapat melihatnya dari balik kaca dan berusaha sebisa mungkin memanjat salah satu kaki pilar, namun terlalu licin dan ia sudah terlalu lelah. Yang bisa ia lakukan hanya duduk dan menangis.

            “Ayolah, tak ada gunanya menangis seperti ini!” Alice berkata pada dirinya sendiri setegas mungkin. “Aku memerintahkanmu untuk diam!”

            Kemudian pandangannya jatuh pada kotak kaca kecil yang tergeletak di lantai. Ia melihatnya dan mendapati sebuah kue krcil dengan tulisan “Makan aku” tercetak di atas anggur-anggurnya.

            “Baiklah, aku akan memakannya.” Kata Alice. “Jika ini membuatku membesar, aku dapat menggapai kunci itu dan jika ini membuatku mengecil, mungkin aku dapat merangkak keluar dari bawah pintu-pintu hingga aku dapat mencari jalan lain.”

Lalu ia pun memasukkan seluruh kue itu dalam mulutnya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Alice in Wonderland (Translated by Me)

  1. Alice in Wonderland is my favorite book EVER I think. So, I’m in the KEEP TRANSLATING. But, I can’t read this even though I wish I could so I could understand what kind of translation choices you made. : ) Great job!

    Like

    1. haha, i’m just an amateur so I think there’s must be lot of things about translating a book that I must learn.
      But I looooove fantasy books and I love doing this! ❤

      Thanks for coming and commenting ^_^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s