Bahasa · My Blabber Side

EJU Today

Ternyata oh ternyata! EJU itu lebih kejam dari fitnah! (Yah, banyak yang bilang fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, tapi aku sih mendingan difitnah daripada dibunuh. Eh, nggak dua-duanya ding… *ini apaan sih OOT banget*)

Kembali ke EJU!

Jadi ceritanya hari ini aku sama Kazuchan ikut ujian EJU. Setelah berbulan-bulan kami menunggu (well, aku nggak nungguin juga sebetulnya, karena jadwal kuliah udah mulai memabukkan =_=) akhirnya datanglah hari ini, tanggal 11 November.

Kami datang ke Japan Study Center UI ngepas banget sama waktu saat pintu utamanya dibuka. Di sana udah berkumpul banyaaaaaak banget anak rata-rata umur SMA dan awal kuliah. Yang bikin perutku melilit adalah, mereka kebanyakan megang kertas dan belajar bareng sementara aku nggak belajar apa pun untuk ini. Bener-bener tanpa persiapan.

Polos.

Lalu di materi ujian pertama, Nihongo. Huwahahahahah!!! Benar-benar luar bi(n)asa!!! Cuma bisa mesem-mesem sendiri ngebayangin seandainya lembar jawaban writing itu ditulisin lirik lagunya YUI dan ternyata sang pemeriksa juga fans berat YUI lalu dia memberikan skor bagus buat saya~~

Ngayal berat.

Selanjutnya Reading Comprehension.

Yang saya perlakukan bagaikan writing comprehension alias mengarang bebas karena peringatan bahwa sisa waktu tinggal 5 menit lagi tepat saat saya mengisi soal yang ketujuh (padahal soalnya ada 25).

Setelah itu Listening and Reading comprehension lalu Listening Comprehension.

Yang semuanya numpang lewat doang di telinga saya dan nggak ada satu pun yang bisa saya cerna. Sekali lagi, aku cuma bisa nyengir.

Lalu dilanjutkan dengan Japan and The World. Oke, di sini dunia berasa cerah secara tiba-tiba! Walau pun terakhir kali aku belajar IPS adalah saat SIMAK UI beberapa bulan yang lalu dan ilmunya sekarang udah bercampur dengan ilmu IPA, tapi rasanya kali ini bisa melek! Nggak kayak waktu Nihongo tadi, punya mata tapi nggak bisa liat apa-apa. Berasa tulisan di question booklet itu burem semua ==____==

Setelah itu istirahat selama satu setengah jam, dan dilanjutkan dengan Math! Banyak anak di kelasku kebingungan dengan cara pengisian ujian itu. Emang sih, aku akuin buat yang baru pertama kali liat, cara pengisiannya sangat asing. Ditambah lagi pengawas berkata mereka tidak diperbolehkan untuk menerangkan, jadi peserta sendiri yang harus mikirin. Untungnya saya pernah menengok sampel soal matematika EJU dan cukup berhasil menyerap cara pengisiannya jadi langsung isi tanpa banyak bicara.

Langsung isi?

Oho, tunggu dulu…

Kali ini ada pilihan Course 1 atau Course 2. Enggak mau repot, tanpa ngelirik pertanyaan Course 2 aku langsung milih yang kesatu. Setelah itu merenung cukup lama memandang permasalahan pertama. Well, yang aku pelajarin adalah fisika, biologi, dan, terutama, kimia sekarang! Ilmu Matematika Dasar udah dikembalikan lagi ke gurunya tanpa ada yang nyisa! Setelah akhirnya dapet pencerahan 2 sampe 3 soal di permasalahan pertama, lanjut permasalahan ke dua cuma bisa bengong 0.0

Permasalahan ketiga lumayan….

Permasalahan keempat yah, setidaknya setengah soalnya bisa terisi.

Permasalahan kelima dan seterusnya: Ampun Pak Budi tolong saya, please, TTTATTT

Namun untungnya (?) saya dapat mengaplikasikan bakat mengarang saya pada lingkaran-lingkaran menyebalkan itu dan selesailah ujian matematika EJU dengan jawaban yang saya yakin bikin para pemeriksanya geleng-geleng kepala melihat kejeniusan saya! Mereka pasti mikir saya telah menemukan teori baru untuk memecahkan soal yang mereka berikan, teori yang bahkan nggak terpikirkan oleh Hipparcus…

“When you can’t find the answer for your problem, you can make your own answer.”

Yah, tapi walau bagaimana pun, that was a great experience! Yang terpenting adalah pengalamannya. Setidaknya aku jadi tau:

“Oh ternyata listening nihongo tuh kayak gituuu…”

“Oh ternyata rasanya ngerjain matematika pake english tuh begituuu…”

“Oh ternyata rasanya mengarang pake tulisan jepang tuh begituuu…”

“Oh ternyata rasanya punya buttler tuh begituu….” (lho?) (ini karena peraturan ujian mengatakan semua benda yang jatuh ke bawah bakal diambilin sama panitia, nggak boleh ngambil sendiri. Dan kalo mau ke luar kelas mesti dikawal persis presiden ngadain kunjungan kenegaraan =_=)

By the way, tadi pulangnya mampir ke Gramedia sama Kazuchan dan akhirnya kesampean juga beli buku The Hobbit-nya Tolkien!!!!!! Gyaaaa!!!!! XDXDXD

Image

Ini dia oleh-oleh hari ini. Booklet RItsumeikan University, admission list-nya universitas di jepang, kartu EJU, dan THE HOBBIT XDXD

Advertisements
Bahasa · My Writer Side

LOMBA MENULIS CERPEN, ESSAY, DAN PUISI LINGKAR PUISI DAN PROSA – LEMBAGA BHINNEKA 2012 – ”Suarakan Hak-hak Perempuan”

Prakata:
Dunia dikejutkan oleh berita tentang seorang anak perempuan dari Pakistan berumur 14 tahun, Malala Yousufza. Gadis kecil ini tak berdaya, bergelimang darah, setelah ditembak oleh Militan Taliban di negara tempatnya menancapkan pemikiran-pemikiran cerdas dari kepala ranum yang berkerudung indah. Apa yang membuat Malala menjadi sasaran kemarahan Militan Taliban ini? Gadis cemerlang ini menulis di dalam blognya dan aktif menyebarkan ide-ide tentang pendidikan bagi anak perempuan. Diapun mengkritisi kegiatan kelompok-kelompok militan di negaranya.
 
Seorang feminis, pegiat kemanusiaan dari India, Kamla Bhasin, menulis sebuah puisi yang berjudul “Because I am a girl I must study”. Puisi ini berbentuk percakapan seorang ayah dengan anak perempuannya mengenai mengapa si ayah harus menyekolahkan anak perempuannya, sedangkan dia mempunyai banyak anak lelaki yang lebih baik disekolahkan. Anak perempuan itu menjawab dalam salah satu argumennya, “Knowledge brings new light, so I must study. To make a world where girls belong, I must study”.
 
Kita tutup lembaran perjuangan Malala Yousufza dan Kamla Bhasin lalu melihat dan memikirkan kembali kasus-kasus pelanggaran hak-hak perempuan yang terjadi di Indonesia. Kasus yang menimpa Putri di Aceh seharusnya dapat menjadi cermin nurani bangsa Indonesia mengenai kemerdekaan perempuan Indonesia. Putri yang belia memilih bunuh diri demi menjaga nama baik keluarganya setelah difitnah menjual diri.
 
Berdasarkan petisi yang diajukan NH Handayani (change.org), tahun 2011 di Bengkulu terjadi perkosaan pada seorang siswi yang akan menghadapi ujian akhir. Pihak sekolah mengeluarkannya karena telah dianggap melakukan tindakan asusila dan membuat citra sekolah buruk. Proses mediasi telah diupayakan dan mendapatkan dukungan dari beberapa lembaga non pemerintah dan pemerintah seperti KPAI, Kementerian PP & PA, Kepala Badan PP & PA namun tak digubris pihak sekolah. Alasannya adalah sekolah memiliki otonomi untuk mengambil keputusan terkait dengan peraturan di sekolahnya. Tanggal 8 September 2012 dan 8 Oktober 2012 terjadi kasus yang sama di Jawa Timur dan Depok. Dalam kasus ini, korban perkosaan seharusnya mendapat dukungan dan penerimaan masyarakat agar dapat melanjutkan pendidikan dan hidupnya, namun sering kali terjadi sebaliknya, korban malah diintimidasi dan dikucilkan.
 
Dengan adanya kasus demikian, para admin Lingkar Puisi dan Prosa – Lembaga Bhinneka terinspirasi dengan keteguhan Malala yang muda dan ketajaman Kamla Bhasin nan senja dalam menyuarakan pendidikan bagi kaumnya, keputusan Putri untuk menjaga nama baik keluarga dan stigma-stigma pada korban pemerkosaan memunculkan banyak pertanyaan seperti:
– Apakah yang terjadi di negara Malala sedang terjadi pula di sekitar kita?
– Apa yang bisa kita usahakan untuk menyuarakan kepedulian kita terhadap maraknya kekerasan dan kesenjangan penerimaan hak pada perempuan di Indonesia?
– Apa yang bisa kita usahakan untuk menyuarakan kepedulian kita terhadap perempuan Indonesia di dalam dan di luar negeri?
– Bagaimana stereotype masyarakat Indonesia mengenai kemerdekaan perempuan Indonesia?
 
Mari jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan mengirimkan karya anda melalui Lomba Puisi dan Cerpen yang kami selenggarakan dengan tema: Suarakan Hak-hak Perempuan”
 
Image
sumber gambar: learn4love.wordpress.com
 
 
Ketentuan Lomba:
 
A. Ketentuan Umum
1. Lomba dibuka untuk umum (WNI/WNA) dan naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia.
 
2. Peserta telah bergabung dalam grup Lingkar Puisi dan Prosa – Lembaga Bhinneka [http://www.facebook.com/groups/169713406459422/?bookmark_t=group] dan twitter @LembagaBhinneka.
 
3. Waktu pengumpulan naskah : 1 November 2012 (00.00 WIB) – 1 Desember 2012 (Pukul 20.00 WIB.)
 
4. Peserta wajib menyebarluaskan informasi lomba ini.
 
5. Peserta hanya boleh mengikuti satu jenis lomba dan mengirim satu naskah terbaik.
 
6. Karya merupakan karya asli bukan saduran dan belum pernah dikirim dan diikutkan pada lomba atau media massa.
 
7. Peserta mengirim dua file dalam satu email. File pertama berupa naskah yang diikutkan dalam lomba. File kedua berisi biodata narasi.
 
8. Naskah Cerpen dan Essay dikirim ke email Lembaga Bhinneka lingkarpuisiprosa@gmail.com dalam attachment dengan subjek Nama-Judul-Jenis Lomba (C/E), sedangkan naskah Puisi dikirim ke email artherpantherolii@yahoo.co.id dengan subjek Nama-Judul (Puisi).
 
 
B. Ketentuan Khusus
 
1. Cerpen
a. Naskah diketik pada kertas A4 dengan margin 4-4-3-3 (Kanan-Atas-Kiri-Bawah), jenis huruf Times New Roman 12 (tidak ada perbedaan jenis dan ukuran huruf dalam bagian naskah), dan spasi 1,5.
b. Panjang naskah 4-10 halaman.
 
 
2. Essay
a. Naskah diketik pada kertas A4 dengan margin 4-4-3-3 (Kanan-Atas-Kiri-Bawah), jenis huruf Times New Roman 12 (tidak ada perbedaan jenis dan ukuran huruf dalam bagian naskah), dan spasi 1,5.
b. Panjang naskah 1-4 halaman. c. Naskah dilengkapi dengan daftar referensi bila naskah berisi data atau teori.
 
 
3. Puisi
a. Naskah diketik pada kertas A4 dengan margin 4-4-3-3 (Kanan-Atas-Kiri-Bawah), jenis huruf Times New Roman 12 (tidak ada perbedaan jenis dan ukuran huruf dalam bagian naskah), dan spasi 1.
b. Panjang naskah 1 halaman.
 
 
C. Pengumuman Hasil Lomba dan Hadiah
 
1. Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 8 Januari 2013
2. Hadiah
Juara 1 : Rp. 400.000,00 + Buku
Juara 2 : Rp. 200.000,00 + Buku
Juara 3 : Rp. 100.000,00 + Buku
Sertifikat untuk 5 besar masing-masing jenis lomba.
 
Selamat berkarya!
 
 
TIM PELAKSANA LOMBA
Koordinator Lomba : Dianna Firefly           
1. Cerpen         : Tha Artha dan Haz Algebra
2. Puisi            : Arther Panther Olii dan Dianna Firefly
3. Essay           : Do Ro dan Hendri Yulius
(Pertanyaan dan lain-lain ditujukan melalui grup Lingkar Puisi dan Prosa – Lembaga Bhinneka)
 
 
Salam,
 
ADMIN LPP-LB
 
My Writer Side

Because I’m a Girl, I Must Study

A father asks his daughter:
Study? Why should you study?
I have sons aplenty who can study
Girl, why should you study?

The daughter tells her father:
Since you ask, here’s why I must study.
Because I am a girl, I must study.

Long denied this right, I must study
For my dreams to take flight, I must study
Knowledge brings new light, so I must study
For the battles I must fight, I must study
Because I am a girl, I must study.

To avoid destitution, I must study
To win independence, I must study
To fight frustration, I must study
To find inspiration, I must study
Because I am a girl, I must study.

To fight men’s violence, I must study
To end my silence, I must study
To challenge patriarchy I must study
To demolish all hierarchy, I must study.
Because I am a girl, I must study.

To mould a faith I can trust, I must study
To make laws that are just, I must study
To sweep centuries of dust, I must study
To challenge what I must, I must study
Because I am a girl, I must study.

To know right from wrong, I must study.
To find a voice that is strong, I must study
To make a world where girls belong, I must study.
Because I am a girl, I must study.

By: Kamla Bhasin

My Blabber Side

I-wanna-be List

After had a talk (it’s out of main topic actually XD) about dreams with my bestie, following towards her, I decided to write some of my dreams here. It’s mainly a foolish and imaginary dreams of a little girl, I’m a big dreamer as other little girl as well back then (the present too, to be honest XD).
The dreams are chronogicaly writen by the time I had it. The first-written dream is when I’m younger and the last one is my dream in present.

1. I Wanna be Sailormoon

well it’s Sailor Mercury actually, because Mizuno Ami is soooo smart, has a cool glasses and small PC. In my childhood time, mahou shoujou anime are very popular, and, who’s don’t know Bishoujou Senshi Sailor Moon?

2. I Wanna be a Ballerina
It’s quite embarrasing dream, maybe. But trust me, almost all little girl ever had this dream. Just like the boys wanted to be a pilot or racer when they was a little boy

3. I Wanna be an Artist
Because I loooooove drawing! Give me a large paper and give me some paint or drawing tool, and the little me (the big me too, honestly) will be quiet for some hours.

4. I Wanna be a Writer

Started when I’m about 2nd grade of elementary school, my aunt has a lot of books so if I make a visit, I’ve always grab some children-adventure books from her shelf to spend some hours with. She also often give me a book as a present either in my birthday or some my special event. When I grown up, I used to think that “Why I could only read if I can write my story too?”
So here I am, growing as a person who love and led so much by the books. There’s something so magical when you read a book you love and enjoy so much every words of it. It’s like our mind were absorbed to the other world and we make a great adventure alongside the character.
Maybe this is the one and only eternal dream of my life. I born to love books, read a books, and writing some (although it so hard to finish write even one =_=) books too. You can call me a Bookworm. I’m tottaly have no problem with that. Because this is the world I love.

5. I Wanna be an Astronom
You know, because it sooooo cool if we can see the stars, the meteors, the asteroids, and other space things that we can only seen obscured and in a extremely small portion in the night with naked eye. Actually it’s my brother’s dream. But the little me simply think that that is absolutely brilliant dream!!!
Now I kinda give up in this dream. Because when I enter the junior high school, I realize so many awful lesson that we have to learn. And to be an Astronom, I have to mastered all about science, and math, and kind of that. I’m not a typically student like Jimmy Neutron or Peter Parker so, well, you know what I think…
But that’s a cool dream, really.

6. I Wanna be a Mangaka
You know what manga is, isn’t you? Well in case you don’t know, Manga is what japan comic called. And the person who draw manga called Mangaka. So because I love the manga so much that time, I decided to learn alot to draw manga and, because mangaka or “komikus” (that’s what they called in Indonesia) in my country is so few, I decided to be one of them.
But then again, I realize there’s so much sacrifice if I want to dive seriously in that world. The times, the money, my lesson, and maybe my future too. So finally I decided to cancel it. Although then, I still drawing manga now, but my ability is lack so I just can draw some simple one.
This is the characters I used in my collaboration story contest in this early 2012

Yuki the Labyrinth Guardian
Raff the Vagabond

7. I Wanna be a Musician

Music is one of miracle thing in my life! It started so long time ago, but I realized it has an important role of my life when i befriends with persons who has ability in music in Junior High. Later I suggested that they’re must make a band, and surprisingly, they invite me too! Well the only instruments I can play is just pianica and Soprano Recorder. But from then I started to learn guitar and has a guitar as my 15th birthday present from my parent!
These days I have some interest in electric bass and still learn in otodidac.

My guitar, Harle-kun.
He’s already 3 years old now ❤ ❤ ❤

8. I Wanna be a Translator

This is one of my eternal dreams actually. Because this kind of proffesion always let me to dive in a pool of books and an ocean of beautiful words.

9. I Wanna be a Designer

This hobby is born when I starting love to draw manga. Me and my friend often use the lolita style of our character. So some years ago we decide to make a lolita boutique together with us as the main designer! We even named that future boutique! It is “Ladies Lucid Lexicon” or 3L, because we want our boutique to be the needed thing for girls as the microscop is needed for scientists.

The example of my design

That’s all.
Um, it’s not ‘All’ actually, but that’s all I can remember now.
Well, after writing it all, i’m just realized that mostly dream I have is related to art and literature. No wonder, because that’s the part I love of this world.

The world will feels so wonderful if we have so much dreams, isn’t it? We never too tired or too bored to do something we love. If we have goals to reach, all the things in our life will be so meaningful. But the one that you have to remember is: No matter how big the obstacles are, giving up your dreams is forbidden thing to do.

Ganbatte susume ga zettai koto da yo!
Dakara, kimi no yume wa nani?
^_^

Bahasa · My Writer Side

Segala Hal Berasal dari Hal Lain yang Lebih Kecil

When I search some essay contest of Japan in internet (I found some, but sadly the deadlines are expired… TTATT), Suddenly I remember the essay contest (my only essay contest =_=) that I’ve ever participated.

I know it from flyers that I got in my school when I was a 2nd-year-High-school student. I reopen that document again and found, well, although it didn’t win, I feel little proud of my first essay. Not because it’s great essay or what, but because I write it. Somehow just because of that–doing the good thing we never do before–it will make some proud feeling, right?

So I post this for you just in case you want to know. The theme of the essay is “Student go anticorruption.”

Well, it’s writen by Bahasa Indonesia though, but maybe i’ll write the english version of it next time.
 ^^

Partisipasi Pemuda dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia 

          Hal pertama yang akan saya tuliskan disini adalah, latar belakang saya menulis essai ini. Saya sering berpikir, semua berawal dari pelajar. Guru, berawal dari pelajar. Direktur, berawal dari pelajar, bahkan pembantu rumah tangga pun, sebagiannya pasti pernah mengeyam tingkat pendidikan, serendah apapun itu.

Baik formal atau non-formal, tentang hal-hal umum maupun hal yang menjurus ke satu aspek kehidupan, seseorang pasti pernah menjadi pelajar. Yang saya maksud pelajar disini tidak selalu sekumpulan anak-anak yang memakai seragam, duduk di bangku, dan menghadap papan tulis dengan seorang guru yang tengah berbicara di depan mereka, seperti yang mungkin sebagian orang bayangkan. Pelajar yang saya maksud disini adalah seseorang yang belajar.

Seorang anak petani yang tengah diajari menanam padi oleh ayahnya, seorang anak kecil yang diajari menulis oleh ibunya, seorang penyanyi yang sedang belajar dengan guru vokalnya. Itulah yang saya maksud pelajar disini. Maka tentu tidak salah bukan, kalau saya bilang semua yang ada di dunia ini berawal dari pelajar?

Masa depan bangsa ada di tangan para pelajar-pelajar ini. Jika kita bicara tentang siapa yang paling dirugikan oleh korupsi, ada banyak jawaban berbeda yang akan diberikan orang-orang. Namun sebagian besar pasti akan menjawab, rakyat miskinlah yang paling dirugikan.

Saya lalu berpikir, mengapa rakyat miskin yang paling dirugikan? Saya menjawab, karena mereka tak punya kekuatan politik. Mengapa mereka tidak punya kekuatan politik? Karena tingkat pendidikan mereka rendah. Mengapa tingkat pendidikan mereka rendah? Karena mereka tidak punya biaya. Mereka mereka tidak mempunyai biaya? Ada banyak kemungkinan. Di antaranya karena tingkat pendapatan Negara rendah, atau karena pemerintahnya korupsi.

Dari sana, jelas bukan, apa dampak korupsi terhadap para pelajar dan kemajuan negara?

Di golongan pelajar, hanya mahasiswa-lah yang mempunyai kekuatan politik untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, berdemo, menggelar diskusi dan sebagainya. Itulah cara mereka untuk turut membantu pemberantasan korupsi di Indonesia, sedangkan bagi pelajar SMA dan SMP, walau pun kami sudah mengetahui dan mengerti permasalahannya, kami tidak punya cukup kekuatan untuk menyampaikan aspirasi kami dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Oleh karena itu saya berpendapat, hanya ada satu cara yang bisa dilakukan di jenjang pendidikan kami, dan cara inilah yang paling penting dan mendasar dalam menciptakan sebuah Negara anti korupsi. Yaitu membentuk calon pemimpin yang mapan, mempunyai kesadaran tinggi dan bertanggung jawab.

Mengapa korupsi terjadi? Menurut saya, karena para pelakunya belum mapan, belum memiliki kesadaran diri, dan belum bertanggung jawab. Jika mereka bertanggung jawab dan memiliki kesadaran diri, tentu mereka tidak akan melakukannya, bukan? Jika mereka sudah mapan, tentu mereka akan berpikir ’untuk apa saya korupsi?’, bukankah begitu?

Menegakkan hukum, membentuk lembaga-lembaga pengawas, dan mempertegas sanksi, memang tindakan baik bagi penanggulangan. Tapi yang paling penting adalah pencegahan. Di poin inilah sekolah menjadi hal yang sangat penting. Di sinilah dibentuk penerus bangsa yang nantinya menjadi penentu akan ke mana Negara ini berjalan.

Talk less, do more. Jangan hanya mencela korupsi. Tidak akan ada perubahan apa-apa jika kita hanya mencela para koruptor dan tindak korupsi tanpa melakukan apa-apa. Mendidik siswa-siswi tentang kesadaran, kejujuran, tanggung jawab serta cara membedakan yang mana hak dan yang mana kewajiban, adalah cara termudah dan yang paling utama dalam membantu pemberantasan korupsi di masa depan.

Gerakan Pemuda Anti-Korupsi juga merupakan contoh baik bagi pemberantasan korupsi oleh para pemuda. Di organisasi ini, kita mendapat pendidikan tentang pentingnya menghindari korupsi, dan dapat ikut aktif dalam berbagai kegiatan sosialisasi anti korupsi yang diadakan.

Korupsi yang sudah terjadi Indonesia, yang menurut saya sudah cukup parah ini, janganlah ditambah parah lagi karena kita terlalu berlarut-larut mengurusnya sehingga lupa mendidik para penerus bangsa agar mereka tahu mana hal yang baik dan tidak. Jika kita hanya berfokus pada kasus-kasus korupsi ini dan tidak melakukan tindakan pencegahan bagi para pelajar, bukan tidak mungkin kasus korupsi di Indonesia pada masa mendatang akan lebih parah lagi. Jika sudah begitu, apakah kita masih akan sanggup menyelesaikannya?

Saya berbicara tentang kejujuran, saya berbicara tentang tanggung jawab, dan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh para persona yang mengemban amanah dari masyarakat. Segala hal berasal dari bagian terkecil di dalamnya. Masyarakat bergantung pada tiap-tiap individunya, kemajuan negara bergantung masyarakatnya, dan dunia bergantung pada negara yang menjadi pilar-pilar penyangganya. Hanya butuh satu kesadaran kecil sebagai awal demi terciptanya dunia yang lebih baik.

Image