Bahasa · My Writer Side

Segala Hal Berasal dari Hal Lain yang Lebih Kecil

When I search some essay contest of Japan in internet (I found some, but sadly the deadlines are expired… TTATT), Suddenly I remember the essay contest (my only essay contest =_=) that I’ve ever participated.

I know it from flyers that I got in my school when I was a 2nd-year-High-school student. I reopen that document again and found, well, although it didn’t win, I feel little proud of my first essay. Not because it’s great essay or what, but because I write it. Somehow just because of that–doing the good thing we never do before–it will make some proud feeling, right?

So I post this for you just in case you want to know. The theme of the essay is “Student go anticorruption.”

Well, it’s writen by Bahasa Indonesia though, but maybe i’ll write the english version of it next time.
 ^^

Partisipasi Pemuda dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia 

          Hal pertama yang akan saya tuliskan disini adalah, latar belakang saya menulis essai ini. Saya sering berpikir, semua berawal dari pelajar. Guru, berawal dari pelajar. Direktur, berawal dari pelajar, bahkan pembantu rumah tangga pun, sebagiannya pasti pernah mengeyam tingkat pendidikan, serendah apapun itu.

Baik formal atau non-formal, tentang hal-hal umum maupun hal yang menjurus ke satu aspek kehidupan, seseorang pasti pernah menjadi pelajar. Yang saya maksud pelajar disini tidak selalu sekumpulan anak-anak yang memakai seragam, duduk di bangku, dan menghadap papan tulis dengan seorang guru yang tengah berbicara di depan mereka, seperti yang mungkin sebagian orang bayangkan. Pelajar yang saya maksud disini adalah seseorang yang belajar.

Seorang anak petani yang tengah diajari menanam padi oleh ayahnya, seorang anak kecil yang diajari menulis oleh ibunya, seorang penyanyi yang sedang belajar dengan guru vokalnya. Itulah yang saya maksud pelajar disini. Maka tentu tidak salah bukan, kalau saya bilang semua yang ada di dunia ini berawal dari pelajar?

Masa depan bangsa ada di tangan para pelajar-pelajar ini. Jika kita bicara tentang siapa yang paling dirugikan oleh korupsi, ada banyak jawaban berbeda yang akan diberikan orang-orang. Namun sebagian besar pasti akan menjawab, rakyat miskinlah yang paling dirugikan.

Saya lalu berpikir, mengapa rakyat miskin yang paling dirugikan? Saya menjawab, karena mereka tak punya kekuatan politik. Mengapa mereka tidak punya kekuatan politik? Karena tingkat pendidikan mereka rendah. Mengapa tingkat pendidikan mereka rendah? Karena mereka tidak punya biaya. Mereka mereka tidak mempunyai biaya? Ada banyak kemungkinan. Di antaranya karena tingkat pendapatan Negara rendah, atau karena pemerintahnya korupsi.

Dari sana, jelas bukan, apa dampak korupsi terhadap para pelajar dan kemajuan negara?

Di golongan pelajar, hanya mahasiswa-lah yang mempunyai kekuatan politik untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, berdemo, menggelar diskusi dan sebagainya. Itulah cara mereka untuk turut membantu pemberantasan korupsi di Indonesia, sedangkan bagi pelajar SMA dan SMP, walau pun kami sudah mengetahui dan mengerti permasalahannya, kami tidak punya cukup kekuatan untuk menyampaikan aspirasi kami dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Oleh karena itu saya berpendapat, hanya ada satu cara yang bisa dilakukan di jenjang pendidikan kami, dan cara inilah yang paling penting dan mendasar dalam menciptakan sebuah Negara anti korupsi. Yaitu membentuk calon pemimpin yang mapan, mempunyai kesadaran tinggi dan bertanggung jawab.

Mengapa korupsi terjadi? Menurut saya, karena para pelakunya belum mapan, belum memiliki kesadaran diri, dan belum bertanggung jawab. Jika mereka bertanggung jawab dan memiliki kesadaran diri, tentu mereka tidak akan melakukannya, bukan? Jika mereka sudah mapan, tentu mereka akan berpikir ’untuk apa saya korupsi?’, bukankah begitu?

Menegakkan hukum, membentuk lembaga-lembaga pengawas, dan mempertegas sanksi, memang tindakan baik bagi penanggulangan. Tapi yang paling penting adalah pencegahan. Di poin inilah sekolah menjadi hal yang sangat penting. Di sinilah dibentuk penerus bangsa yang nantinya menjadi penentu akan ke mana Negara ini berjalan.

Talk less, do more. Jangan hanya mencela korupsi. Tidak akan ada perubahan apa-apa jika kita hanya mencela para koruptor dan tindak korupsi tanpa melakukan apa-apa. Mendidik siswa-siswi tentang kesadaran, kejujuran, tanggung jawab serta cara membedakan yang mana hak dan yang mana kewajiban, adalah cara termudah dan yang paling utama dalam membantu pemberantasan korupsi di masa depan.

Gerakan Pemuda Anti-Korupsi juga merupakan contoh baik bagi pemberantasan korupsi oleh para pemuda. Di organisasi ini, kita mendapat pendidikan tentang pentingnya menghindari korupsi, dan dapat ikut aktif dalam berbagai kegiatan sosialisasi anti korupsi yang diadakan.

Korupsi yang sudah terjadi Indonesia, yang menurut saya sudah cukup parah ini, janganlah ditambah parah lagi karena kita terlalu berlarut-larut mengurusnya sehingga lupa mendidik para penerus bangsa agar mereka tahu mana hal yang baik dan tidak. Jika kita hanya berfokus pada kasus-kasus korupsi ini dan tidak melakukan tindakan pencegahan bagi para pelajar, bukan tidak mungkin kasus korupsi di Indonesia pada masa mendatang akan lebih parah lagi. Jika sudah begitu, apakah kita masih akan sanggup menyelesaikannya?

Saya berbicara tentang kejujuran, saya berbicara tentang tanggung jawab, dan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh para persona yang mengemban amanah dari masyarakat. Segala hal berasal dari bagian terkecil di dalamnya. Masyarakat bergantung pada tiap-tiap individunya, kemajuan negara bergantung masyarakatnya, dan dunia bergantung pada negara yang menjadi pilar-pilar penyangganya. Hanya butuh satu kesadaran kecil sebagai awal demi terciptanya dunia yang lebih baik.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s