Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Hunter by Asa Nonami

re_buku_picture_86488

Tittle: The Hunter (Pemburu)
Author: Asa Nonami
Translator: Julanda Tantani
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Oke, dimulai dari cover!
Harus saya akui, saya sukaaaa banget sama desain covernya, goresannya menggambarkan jalan raya tokyo yang dreary but somehow melancholy. Dan saya suka dengan gagasan kanji ‘Kogoeru Kiba’ dan nama pengarangnya yang tetap dipertahankan. To be honest, kanji-kanji inilah yang mencuri perhatian saya dan membuat saya mengambilnya dari setumpukan buku-buku new arrival di toko buku saat itu.

Move on to the story.

Secara garis besar, novel ini berkisah tentang seorang polisi bernama Takako Otomichi di mana pada saat itu, kaum wanita yang bekerja di kepolisian masih merupakan hal yang belum terlalu umum. Suatu hari di awal tahun, seorang pria ditemukan terbakar secara mengenaskan dengan ikat pinggang berpengatur waktu yang dicurigai sebagai alat pembunuhan. Untuk membongkar kasus tersebut, Takako yang masih digolongkan anggota junior kepolisian, dipasangkan dengan Tamotsu Takizawa yang berperakan besar, dengan wajah agak kasar dan sering Takako samakan dengan Penguin Kaisar. Namun tak sampai di situ saja, pembunuhan lainnya pun terjadi dengan melibatkan seekor hewan yang diduga anjing yang sangat besar terjadi pada beberapa orang dan tugas mereka berdua pun beralih untuk menangkap hewan apa pun yang melakukan pembunuhan tersebut.

Oke, pertama dari segi penulisan.
Untuk novel yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya (bener kan?) saya angkat topi. Ada beberapa pemilihan kata-kata yang kurang pas sebetulnya, tapi itu bisa saya maafkan. Namun, tolong ya, saya sangat benci membaca nama si anjing serigala yang diartikan itu! TOPAN. Memang apa salahnya mempertahankan nama dalam naskah aslinya, HAYATE, dan malah men-translate-nya?! Lantas kenapa nggak sekalian aja Takako diartikan jadi ‘Gadis Berderajat Tinggi’ dan Takizawa jadi ‘Aliran Air Terjun’ atau entah apa, saya nggak tau kanjinya. Well, inilah pertama kalinya saya nemu cerita terjemahan dari jepang di mana ada nama tokoh yang di-bahasaindonesiakan. Mungkin saya yang kurang membaca atau apa, sehingga saya baru tahu, tapi yang jelas nama itu, TOPAN, SANGAT TIDAK ENAK dibaca. Titik.

My next complaint goes to the editor!! Histris, mistrius, dan sederet typo lainnya, kadang membuat saya mikir, “Ini si editor sebenernya magabut atau gimana?” I wondering if she or he knows the meaning of EYD.. Lalu, ada beberapa pilihan kata yang kurang tepat dari sang penerjemah, dan hal itu sepertinya luput begitu saja dari mata jeli sang editor.

Selanjutnya, mungkin inilah yang paling penting, dari segi cerita.
Saat membaca ini, saya seakan mendengar suara Candil yang bernyanyi “Polisi jugaaaa manusiaaaa…”
Yap, betul. Penokohan dan penceritaan benar-benar manusiawi, mengupas tentang sisi-sisi yang nggak pernah kita ketahui ternyata juga dimiliki oleh para anggota kepolisian. Bagaimana mereka menghadapi kasus dan berusaha sekuat tenaga menyelesaikannya di samping pada, saat yang bersamaan, kehidupan pribadi mereka pun tak kalah bermasalahnya. Novel ini membuat saya paham bahwa pekerjaan polisi dan detektif dalam melaksanakan kewajiban mereka tidak serta merta dapat dilakukan begitu saja, melainkan harus melalui banyak proses dan seringkali mencapai jalan buntu yang melelahkan. Bahwa kita tak bisa seenaknya berkata: “Apa aja sih yang dikerjain polisi itu?!” hanya karena kasus kita tak selesai dalam sekejap mata seperti yang kita harapkan.

Namun di samping itu, jujur saya merasa agak kecewa.
Kata-kata “memenangkan penghargaan Naoki yang bergengsi” itu lewat begitu saja dalam benak saya. Untuk meraih pernghargaan se-bergengsi itu, menurut saya tidak ada yang fantastis dalam buku ini. Kasusnya biasa, penceritaannya biasa, dan saya masih bertanya-tanya, apa hubungan antara ketiga korban yang telah dicabik habis oleh Hayate (saya nggak mau pake nama TOPAN di sini) tersebut? Mengapa tidak turut diceritakan? Apa hal ini luput begitu saja dari penulis yang memenangkan penghargaan sebesar itu? Dan walau pun saya juga membaca beberapa resensi tentang buku ini yang kesemuanya menyebutkan tentang adegan-dramatis-yang-dapat-mengurai-air-mata-pembaca di akhir cerita, kenyataannya saya hanya mencibir dan menutup buku keras-keras ketika menamatkannya.

Yah, untuk plot-hole-nya (yang entah bagaimana dilewatkan begitu saja oleh si pemberi penghargaan bergengsi), untuk kedataran emosi di klimaks ceritanya (menurut saya), untuk penjabaran tentang kehidupan para polisinya, untuk detail keterangan tentang anjing serigalanya (this is special for me, since I love wolves), over all, saya beri nilai 7.

Pour the water on coffe and grab The Hunter in your hand at the rainy evening, not so bad, though =D

WIth my beloved mug >w<
WIth my beloved mug >w<
Advertisements

4 thoughts on “Book Review: The Hunter by Asa Nonami

  1. agree. Topan itu memberi kesan Indonesia banget, kayak Ali Topan. membuyarkan imajaniasi.

    however, saya melihat Nonami san sangat ‘berani’ untuk memperjuangkan derajat wanita di Jepang, dengan memberikan tokoh sentral pada Takako dan menghujat Takizawa. ini tentu saja dianggap sangat ‘brutal’ di budaya Jepang yang cukup ‘merendahkan’ wanita.

    diluar itu, dibanding dengan novel Jepang lainnya, The Hunter ini menceritakan secara detail perasaan. yang menurut saya, ini tidak lazim di Jepang. sedikit tabu membicarakan perasaan dalam tugas.

    tidak ada klimaks dalam cerita. setuju. mungkin emang gayanya begitu kali ya.

    i like your review and opinion regarding this book.

    Like

    1. bener juga ya, mungkin ke-tidaklaziman itu justru jadi salah satu alasan mengapa buku ini dapet reward bergengsi seperti itu.

      Over all walau nggak terlalu puas tapi saya nggak nyesel juga beli novel satu ini =D

      Anyway, thanks for the visit and commenting ^^

      Like

  2. Ternyata bukan hanya saya saja yang kesel dengan penerjemahan “Topan”. Padahal ga ada salahnya ya tetep diterjemahinnya jadi Hayate. Saya juga rada bingung dikasih penghargaan naoki itu. Bagus, sih, tapi saya ga menemukan hal yang sangat istimewa dalam novel itu. Pas saya cari2 di google katanya sih ada sequelnya, mungkin karena sequelnya itu ya jadi bisa dapet penghargaan?
    Saya suka opini anda πŸ˜€

    Like

    1. Bener ada sequelnya? Wah saya baru denger lho!! Kalo beneran ada saya sih bersedia aja beli, meski ada beberapa ‘walau pun’, kinda enjoy this book actually. πŸ™‚

      Thank you to be sooooo kind to read and commenting! πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s