Bahasa · My Blabber Side · My Writer Side

Ketika Majalah Remaja Indonesia Justru Mengacaukan Mindset Para Remaja Indonesia

Ini serius lho.

Udah lama saya nggak tertarik buat beli majalah apa pun lagi, kira-kira satu tahun, mungkin. Saya lebih memfokuskan diri pada novel dan textbook bahasa asing sekarang. Tapi dengan keadaan saya baru diangkat (baca: didaulat secara sepihak =3=) jadi penanggung jawab mading jurusan kampus oleh sang bos koordinator departemen, tiba-tiba saja saya kepengen lagi buka-buka majalah remaja (yes, majalah remaja, bukan majalah anime) lagi.

Dan ternyata saya menemukan hal-hal lucu yang tidak saya temukan sebelumnya di sana.

Mayoritas majalah remaja menggembar-gemborkan tentang anti-bullying, tentang pentingnya persahabatan, dan petuah-petuah untuk menyamaratakan teman tanpa memilih-milih. Tapi yang lucu adalah, di saat yang sama mereka dengan giatnya memproklamasikan istilah ‘geng’ dan ‘klik’ dan sebagainya, di mana kita tahu hal itu biasanya membuat kita mengelompokkan teman dan menyusun strata yang sesuai dengan tiap kelompok tersebut.

Apa itu adil?

Selanjutnya, mereka selalu ramai membahas tentang pentingnya menjadi diri sendiri. namun di saat yang sama rubrik make over mereka sibuk menjadikan seseorang yang memang pada dasarnya good-looking menjadi lebih good-looking menggunakan make up dengan merek mendunia.

Lalu, nah ini yang paling lucu, mereka berisik sekali berkampanye tentang kepedulian terhadap sekitar tapi coba balik ke halaman fashion mereka dan perhatikan baju serta aksesoris yang dipakai model mereka. Semuanya membahas gaya terkini dengan perlengkapan berharga selangit dan buah pikiran para desainer hebat dengan merek terkenal.

Kenapa nggak mereka hapus aja statement mereka terdahulu dan menggantinya dengan caption: “Jadilah dirimu sendiri dan wujudkan kepedulianmu pada karya Jeffrey Campbell dengan ‘harga dewa’ ini. Yang nggak cantik ke laut aja. Yang nggak mampu bodo amat.”

Apa itu adil?

Yang jadi masalah adalah, hal-hal seperti inilah yang men-setting pemikiran para remaja bahwa status sosial dan keindahan fisik adalah segalanya. Di mana yang kaya dijilat sana-sini, yang gaul jungkir-balik dikejar orang, yang cantik dan ganteng dipuja-puja, yang genius and nerd dimanfaatkan, yang kurang enak dilihat diinjak-injak, dan yang berkemampuan finansial terbatas nggak diakui.

Mau bukti?

Coba datengin sendiri SMP, SMA, SMK, dan sekolah-sekolah menengah terdekat anda, lalu hubungi saya kalo anda lihat hal itu nggak terbukti.

Jujur, saat saya masih di sekolah menengah, ketika pikiran saya mungkin masih terlalu mainstream, belum terbuka, dan nggak critical, saya nggak melihat ada yang aneh dengan semua aspek itu. Well, I’m nerd and I love it. Tapi kini saya baru menyadarinya, ketika di perjalanan bolak-balik kampus di mana saya selalu naik angkutan umum dan ketemu banyak orang, saya mulai lebih memperhatikan lagi bagaimana anak-anak sekolah itu berperilaku.

Sayang ya? Padahal majalah remaja adalah salah satu (kalau nggak bisa disebut SATU-SATUNYA) media cetak yang bisa menjadi patokan mindset remaja Indonesia yang hobi bacanya minim banget.

My wish is simple, I just want that teenage magazine gain more awareness of how much they influenced the youth, could be more clever to choose what they had to do to make them (the youth) more intelligent and lead them (the youth) to create the brighter future. Thus, this developing-claimed-but-not-so-develop country can move into the better country.

Because the future of this country is depend in the hands of youth, isn’t it?

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Majalah Remaja Indonesia Justru Mengacaukan Mindset Para Remaja Indonesia

  1. Menurutku jadi diri sendiri itu penting.nah cara fashion dan make-up remaja di majalah menurutku malah jadi semacam alat bantu lho!Jadi kita bisa lebih menemukan siapa diri kita.Nah bukan cantik menurutku,tapi agar terawat dan menjaga diri (kalo harganya mahal,ada yg murah juga kok) >.< Dan disana juga ada daur ulang barang lama mjd barang baru yang stylish-kan?Kita harus tau mana yg bisa diikuti dan jangan diikuti.Disana kita main kreativitas dan ispirasi…menurutku tentang geng dan clique mereka hanya mereview film barat tentang itu kok!Hehehe……aslinya ya tetep anti Bulying!Masalahnya remaja kita yang suka nelan mentah-mentah sih…….gitu deh menurutku.

    xoxoxo,
    Nao

    Like

    1. Hi Nao! TBH I’m agree in some point with you! Dan kalau remaja-remaja yang saya sebut itu berpikiran seperti kamu, it would be soooo good! Memang masalahnya adalah, banyak pemikiran-pemikiran muda yang langsung menelannya bulat-bulat alih-alih diolah terlebih dahulu. I’m really into fashion too as for me fashion is art. Tapi ternyata banyak dari mereka (anak-anak muda itu) yang menggunakan hal-hal tersebut demi mencapai hal dangkal seperti, yang saya sebutkan, status sosial. Terlepas dari ‘niat’ apa pun yang mendasari majalah-majalah tersebut, seringkali mereka menitikberatkan pada kesempurnaan secara fisik. Saya rasa hal ini udah sangat nggak sehat. Fisik dan status itu bukan segalanya, generasi muda harusnya digembleng pemikirannya, gagasan-gagasannya, kekritisannya. Membiarkan mereka berkutat di pemikiran yang dangkal, dengan cara yang dangkal dan tujuan yang dangkal pula will be so wasted.

      Anyway thanks for come and be so lovely to drop that reasonable comment! 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s