My Blabber Side · My Writer Side

What The “Magical Me” ….. ????

hotter-potter-logo-1

    β€œMenurut kamu siapa karakter yang paling menyebalkan dalam seri Harry Potter? Alasannya?”

Karakter yang paling menyebalkan di sekuel Harry Potter??

Well, I can’t really decide one, actually. Ada banyak toko yang patut dimaki dan patut dijejalkan kacang segala rasa bertie bott rasa kotoran telinga (atau ada yang punya ide rasa-rasa ‘dahsyat’ lainnya?) dalam-dalam ke mulutnya. Mulai dari yang mainstream yang hampir pasti disebelin semua orang seperti Dolores, keluarga Malfoy plus antek-anteknya, keluarga Dursley, daaaan lain-lain.

Namun, untuk menjawab pertanyaan di atas, hati saya telah menetapkan:

CI_58023_1329327232

Siapa dia?

Gilderoy Lockhart!

Siapa lagi coba?

Alasan saya memilih beliau?

Tentu saja karena saya muak dengan kenarsisannya, kesombongannya, dan kepengecutannya.
Well dia emang nggak nyebelin-nyebelin amat dibanding beberapa tokoh yang pantas disebelin lainnya, tapi kok saya malah milih dia ya? Simpel aja, karena saya paling sebel sama seorang pengecut yang suka omong besar.

Saya bingung dari mana dia bisa dapet penghargaan seperti Order of Merlin, anggota kehormatan Liga Pertahanan Ilmu Hitam, atau Witch Weekly’s Most Charming Smile Award??? Oh, okelah itu karena kenarsisannya.

Selain (mengaku) sebel-riti eh, seleb-riti, dia juga ternyata adalah seorang penulis. Ini dia buku-bukunya.

Duel dengan Dracula oleh Gilderoy Lockhart
Gaul dengan Goblin oleh Gilderoy Lockhart
Heboh dengan Hantu oleh Gilderoy Lockhart
Tamasya dengan Troll oleh Gilderoy Lockhart
Vakansi dengan Vampir oleh Gilderoy Lockhart
Mengembara dengan Manusia Serigala oleh Gilderoy Lockhart
Yakin dengan Yeti oleh Gilderoy Lockhart

Ada yang berminat membakarnya membacanya?

Errr…. Hermione mungkin??

Gilderoy-Lockhart-Hermione-Granger-gilderoy-lockhart-5327258-312-372

Yang jelas bukan mereka berdua…

Gilderoy-Lockhart-harry-potter

Mungkin dia menghipnotis Dumbledore dengan senyuman saktinya sampe Dumbledore luluh dan menerimanya di Hogwarts sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam

gilderoy-lockhart

Entah apa yang dipikirkan Dumbledore, yang jelas begitu liat senyuman kayak gini sih, boro-boro luluh, yang ada bakal langsung saya tinju.

Serius.

Dan yang lebih annoying dari itu adalah ketika ia tertangkap basah mau melarikan diri karena merasa nggak sanggup membereskan huru-hara klimaks di Hogwarts pada buku kedua, lalu dia akhirnya ngaku dia mengarang (beneran mengarang, dalam arti mengarang, bukan menuliskan fakta) semua buku-buku sensasional itu dan jampi memorinya pun turut andil.

Well sebenernya saya malah berharap dia berakhir di perut Basilik aja sekalian. Tapi mungkin nggak buruk juga dia kena kutukan memori-nya sendiri dan bertingkah bodoh sebagaimana mestinya. Ya memang seperti itu mestinya kan? Secara emang dia nggak pinter-pinter amat…

Kalo bertemu dengannya… Kalo boleh milih ya mendingan nggak usah ketemu. Ntar dosa saya nambah gara-gara mulut saya otomatis mengeluarkan sumpah serapah atau tangan dan kaki saya otomatis ‘bersenam-ria’ di wajahnya.

However, Kenneth Branagh sukses banget memerankan si amasing Lockhart ini. At least, kita juga harus berterima kasih sama Lockhart lho. Kalo nggak ada dia, nggak ada tokoh baru yang bisa dimaki di buku kedua kan?

NB: Saya memakai email Kyuukouokami@gmail.com untuk mensubscribe blog Ndari

Advertisements
My Writer Side

Book Review: The Invention of Hugo Cabret

The Invention of Hugo Cabret

Tittle: The Invention of Hugo Cabret
Author: Brian Selznick
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: Mizan Fantasi, 2012

Sebelum tahu ternyata diadaptasi dari sebuah buku, saya sudah menontonnya duluan. HUGO. Tittle itu cukup menarik perhatian saya. Oke, saya akui memang ide cerita film itu bagus, tapi entah mengapa saya justru jadi menguap berkali-kali saat menontonnya dan langsung mematikannya di menit kesekian puluh.

Oleh karena itu saya tidak terlalu excited ketika mendapati buku setebal 543 halaman ini. Tapi tetap iseng saya buka juga sampel buku yang kebetulan tidak disampul plastik dan satu kata bagi saya ketika menjelajah isinya: WOW.

First, kita mulai dari kover dulu, seperti biasa. Tidak ada yang luar biasa di kovernya menurut saya, kecuali warnanya yang mencolok sehingga saya kebetulan menemukannya di tumpukan buku historical fantasy yang rata-rata berwarna gelap.

Second, buku ini bercerita tentang seorang anak yatim piatu bernama Hugo Cabret. Tinggal bersama pamannya yang merupakan seorang perawat jam stasiun di kota Paris, suatu hari sang paman yang pemabuk tak kunjung pulang dan Hugo-lah yang akhirnya merawat semua jam di statiun tersebut sambil mengerjakan hal yang dirahasiakannya dari semua orang.

Yap, automaton. Sebuah mekanisme berbentuk menyerupai manusia yang mempunyai kemampuan menggambar dan menulis.

Automaton tersebut adalah peninggalan dari ayahnya. Sang ayah mendapati Automaton itu terlantar begitu saja di gudang sebuah museum dan ketika masih hidup, ia berusaha memperbaiki Automaton tersebut seperti sediakala, bersama Hugo. Hugo yang terobsesi pada mesin-mesin jam dan Automaton tersebut merasa memiliki kewajiban memperbaikinya setelah kematian sang ayah. Dengan menyimpannya di bilik tempat tinggalnya di stasiun, ia mencuri suku cadang dari seorang kakek penjual mainan di sana. Hingga suatu hari ia tertangkap, sang kakek menyita buku catatan tentang Automaton tersebut, peninggalan yang berharga dari mendiang ayahnya.

Kejadian itu membawa Hugo bertemu Isabelle, anak angkat sang kakek penjual mainan. Bersama-sama mereka menguak rahasia sang Automaton yang ternyata memiliki hubungan dengan masa lalu sang kakek.

Begitu membuka buku ini, kita akan dikejutkan oleh berlembar-lembar gambar hitam putih. Tapi bukan, novel ini bukan buku cerita bergambar atau novel berilustrasi. Memang, dari 543 halaman, 284 halamannya adalah gambar, sketsa, ilustrasi, potret.

Namun bukan sekadar ilustrasi.

Jika kita hayati dan kita resapi, tiap goresan hitam-putih itu berbicara, bercerita. Bukan hanya sebagai pelengkap cerita, tapi justru gambar-gambar itulah yang membuat ceritanya utuh. Mungkin terkesan berlebihan jika saya berkata bahwa gambar itu seakan bernyawa, tapi sebagai pembaca dan penikmat seni, itulah yang saya rasakan. Malah, saking ajaibnya gambar-gambar yang disuguhkan, seringkali saya merasa sedih saat rentetan gambar itu berakhir dan di halaman berikutnya hanya tersedia tulisan yang harus saya baca.

2-wonder-in-the-woods-page-079

Dari segi penulisannya, saya akui teknik penulisan novel ini sederhana. Tapi justru saya merasa bahwa kesederhanaan rangkaian kalimat itu sukses berkolaborasi dengan lembaran-lembaran ilustrasinya. Ada sedikit typo yang tertangkap mata saya, tapi secara keseluruhan sama sekali tidak mengganggu cerita.

Ide ceritanya menarik, tentang seorang pembuat film dari Perancis Georges Méliès, sebuah sosok yang terkenal membuat impian menjadi nyata lewat teknik sulap dan film-filmnya. Bukan sebuah ide cerita yang pasaran untuk target anak-anak. Di samping itu, selalu ada kekaguman sendiri untuk saya ketika membaca atau menonton sebuah cerita dengan seseorang yang nyata sebagai tokohnya karena itu berarti ketelatenan dalam riset dan riset dan riset, serta ketepatan dalam imajinasi.

Saya juga mengklaim diri berhasil menyelami karakter Hugo ketika membacanya. Seorang anak laki-laki yatim piatu yang hidup dengan cara keras dan suram namun memiliki mimpi besar itu. Lewat kesederhanaan kata-kata dan kedetailan gambarnya, Brian Selznick berhasil menyampaikan emosi karakter-karakter yang ada.

Banyak yang berpendapat novelnya membosankan dan filmnya jauh lebih menarik. Well, everybody has different point of view and we can’t blame anyones’s opinion, tapi menurut saya bukunya jauh, jauh, jauh lebih mempesona.

Jika anda tipe penikmat film yang berpendapat mengkhayal adalah hal yang terlalu melelahkan dan lebih suka mengamati hal yang ada di depan mata, film Hugo mungkin pilihan yang tepat. Namun bagi para pemimpi yang lebih suka membiarkan imajinasinya menjelajah liar, menyatu bersama kekuatan kata-kata dan goresan pena, tak pernah ada yang lebih memuaskan ketimbang meresapi novel The Invention of Hugo Cabret halaman demi halaman.

Satu hal yang saya dapatkan ketika menutup buku ini, untuk tak pernah menyerah pada mimpi dan mengejar setiap tujuan kita.

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Nilai 10 Untuk goresan pena Brian Selznick yang mampu memberikan nyawa pada ceritanya.

My BEM-J SIde

Blood Donor Activity

Well!!!!

working in the student council had been make me a seriously bad blogger =___=
But Whatever, I enjoy it!

So, yesterday latety we’ve been hold a public event. It’s all about health, because I study in Health College. It divide in some event:

  • Students and lecturers gymnastic activity and volleyball tournament in day one.
  • Public Seminar about hypertension in day two,
  • Blood Tension Check for students in day three and four,
  • the last, First aid practice and blood donor in day five.
  • Pamphlet for the event
    Pamphlet for the event

    Then it’s my first time do the blood donor!!!
    Yeaaayyy!!!

    Talk to my arm :D
    Talk to my arm πŸ˜€
    Card I got after donoring
    Card I got after donoring

    Soooo excited yesterday!
    Have yourself a great day too, both yesterday and today! =D