My Writer Side

Book Review: The Invention of Hugo Cabret

The Invention of Hugo Cabret

Tittle: The Invention of Hugo Cabret
Author: Brian Selznick
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: Mizan Fantasi, 2012

Sebelum tahu ternyata diadaptasi dari sebuah buku, saya sudah menontonnya duluan. HUGO. Tittle itu cukup menarik perhatian saya. Oke, saya akui memang ide cerita film itu bagus, tapi entah mengapa saya justru jadi menguap berkali-kali saat menontonnya dan langsung mematikannya di menit kesekian puluh.

Oleh karena itu saya tidak terlalu excited ketika mendapati buku setebal 543 halaman ini. Tapi tetap iseng saya buka juga sampel buku yang kebetulan tidak disampul plastik dan satu kata bagi saya ketika menjelajah isinya: WOW.

First, kita mulai dari kover dulu, seperti biasa. Tidak ada yang luar biasa di kovernya menurut saya, kecuali warnanya yang mencolok sehingga saya kebetulan menemukannya di tumpukan buku historical fantasy yang rata-rata berwarna gelap.

Second, buku ini bercerita tentang seorang anak yatim piatu bernama Hugo Cabret. Tinggal bersama pamannya yang merupakan seorang perawat jam stasiun di kota Paris, suatu hari sang paman yang pemabuk tak kunjung pulang dan Hugo-lah yang akhirnya merawat semua jam di statiun tersebut sambil mengerjakan hal yang dirahasiakannya dari semua orang.

Yap, automaton. Sebuah mekanisme berbentuk menyerupai manusia yang mempunyai kemampuan menggambar dan menulis.

Automaton tersebut adalah peninggalan dari ayahnya. Sang ayah mendapati Automaton itu terlantar begitu saja di gudang sebuah museum dan ketika masih hidup, ia berusaha memperbaiki Automaton tersebut seperti sediakala, bersama Hugo. Hugo yang terobsesi pada mesin-mesin jam dan Automaton tersebut merasa memiliki kewajiban memperbaikinya setelah kematian sang ayah. Dengan menyimpannya di bilik tempat tinggalnya di stasiun, ia mencuri suku cadang dari seorang kakek penjual mainan di sana. Hingga suatu hari ia tertangkap, sang kakek menyita buku catatan tentang Automaton tersebut, peninggalan yang berharga dari mendiang ayahnya.

Kejadian itu membawa Hugo bertemu Isabelle, anak angkat sang kakek penjual mainan. Bersama-sama mereka menguak rahasia sang Automaton yang ternyata memiliki hubungan dengan masa lalu sang kakek.

Begitu membuka buku ini, kita akan dikejutkan oleh berlembar-lembar gambar hitam putih. Tapi bukan, novel ini bukan buku cerita bergambar atau novel berilustrasi. Memang, dari 543 halaman, 284 halamannya adalah gambar, sketsa, ilustrasi, potret.

Namun bukan sekadar ilustrasi.

Jika kita hayati dan kita resapi, tiap goresan hitam-putih itu berbicara, bercerita. Bukan hanya sebagai pelengkap cerita, tapi justru gambar-gambar itulah yang membuat ceritanya utuh. Mungkin terkesan berlebihan jika saya berkata bahwa gambar itu seakan bernyawa, tapi sebagai pembaca dan penikmat seni, itulah yang saya rasakan. Malah, saking ajaibnya gambar-gambar yang disuguhkan, seringkali saya merasa sedih saat rentetan gambar itu berakhir dan di halaman berikutnya hanya tersedia tulisan yang harus saya baca.

2-wonder-in-the-woods-page-079

Dari segi penulisannya, saya akui teknik penulisan novel ini sederhana. Tapi justru saya merasa bahwa kesederhanaan rangkaian kalimat itu sukses berkolaborasi dengan lembaran-lembaran ilustrasinya. Ada sedikit typo yang tertangkap mata saya, tapi secara keseluruhan sama sekali tidak mengganggu cerita.

Ide ceritanya menarik, tentang seorang pembuat film dari Perancis Georges Méliès, sebuah sosok yang terkenal membuat impian menjadi nyata lewat teknik sulap dan film-filmnya. Bukan sebuah ide cerita yang pasaran untuk target anak-anak. Di samping itu, selalu ada kekaguman sendiri untuk saya ketika membaca atau menonton sebuah cerita dengan seseorang yang nyata sebagai tokohnya karena itu berarti ketelatenan dalam riset dan riset dan riset, serta ketepatan dalam imajinasi.

Saya juga mengklaim diri berhasil menyelami karakter Hugo ketika membacanya. Seorang anak laki-laki yatim piatu yang hidup dengan cara keras dan suram namun memiliki mimpi besar itu. Lewat kesederhanaan kata-kata dan kedetailan gambarnya, Brian Selznick berhasil menyampaikan emosi karakter-karakter yang ada.

Banyak yang berpendapat novelnya membosankan dan filmnya jauh lebih menarik. Well, everybody has different point of view and we can’t blame anyones’s opinion, tapi menurut saya bukunya jauh, jauh, jauh lebih mempesona.

Jika anda tipe penikmat film yang berpendapat mengkhayal adalah hal yang terlalu melelahkan dan lebih suka mengamati hal yang ada di depan mata, film Hugo mungkin pilihan yang tepat. Namun bagi para pemimpi yang lebih suka membiarkan imajinasinya menjelajah liar, menyatu bersama kekuatan kata-kata dan goresan pena, tak pernah ada yang lebih memuaskan ketimbang meresapi novel The Invention of Hugo Cabret halaman demi halaman.

Satu hal yang saya dapatkan ketika menutup buku ini, untuk tak pernah menyerah pada mimpi dan mengejar setiap tujuan kita.

“Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Nilai 10 Untuk goresan pena Brian Selznick yang mampu memberikan nyawa pada ceritanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s