Bahasa · My Writer Side

Book Review: Wolf Totem

url

Tittle: Wolf Totem
Author: Jiang Rong
Translator RIka Iffati
Publisher: Hikmah, 2009

Just need to take one of small glimpse before I grab this book and don’t want to release it. Karena cerita ini akan berkisar tentang serigala, tentu saja.

Buku dengan genre semi-autobiografi ini bercerita tentang seorang pemuda berbangsa Cina Han bernama Chen Zhen yang datang ke daratan padang rumput Olonbulag, Mongolia, sebagai pelajar. Di tempat itu, ia belajar tentang bagaimana kehidupan padang rumput, serigala, filosofi hidup rakyat kuno Mongolia, dan bukti nyata bagi ketamakan manusia bahkan ia mendapat banyak pelajaran tentang bangsanya sendiri.

Ujian yang sebenarnya ia dapatkan ketika ia dan beberapa temannya sesama pelajar menangkap bayi serigala dari sarang induknya. Chen yang semakin lama semakin menyerap darah seorang penggembala padang rumput Mongolia itu pun terpesona pada si anak serigala dan tak kuasa jika harus membunuh semuanya untuk kebutuhan banner dan memutuskan untuk memelihara seekor pejantan sehat di antaranya. Namun hidup di padang rumput tidaklah semudah itu ketika bersama si anak serigala. Bersamaan dengan pengalaman-pengalaman dan pelajaran akan hidup baru yang ia dapatkan, Chen Zhen berbagai kesulitan ketika membesarkan si anak serigala. Belum lagi dengan pandangan skeptis para penggembala yang merasa Chen sebagai orang asing dari bangsa cina, telah merendahkan derajat totem serigala mereka, dan Bao Sunghui serta beberapa orang dari pemerintahan yang tamak dan berniat memanfaatkan si serigala untuk kebutuhan mereka semata.

Jangan pernah menilai buku dari cover.

Tapi tak bisa saya pungkiri bahwa saya memang menilai sebuah buku dari kualitas cover, kertas, pencetakan, penulisan, lalu isi buku itu sendiri. Covernya “Membara”, dengan singkat telah membuat kita dapat menangkap garis besar dari bukunya. Tapi seakan desain cover itu terlalu “ngiklan”. Kurang elegan dan terkesan sangat “memaksa untuk dibeli”. Lalu kertasnya, well, bukan tipe kertas yang membuat saya nyaman membacanya, memang. Kertas berbahan koran kelabu dengan tulisan kecil-kecil rapat yang sanggup membuat teman-teman saya menguap begitu membukanya.

Tapi dari segi isi, novel ini tak dapat ditandingi dengan kertas yang bagus atau kaver yang elegan. Membacanya membuat kita seakan dapat menjelajah Mongolia dengan jiwa kita sendiri. Semua penjelasannya begitu detail dan sederhana, tidak berbelit-belit. Filosofi yang dijabarkan setiap tokoh pun menarik, seakan tanpa memaksa, pernyataan-pernyataan mereka dapat membuat kita setuju tentang filosofi tentang keagungan serigala, keseimbangan alam, dan apa yang bisa manusia perbuat dan dapatkan darinya. Step by step, secara nyata Rong menulis penjabaran yang believable.

Satu lagi yang membuat buku ini terasa begitu nyata adalah endingnya. Tidak semua yang ada di dunia nyata berakhir dengan akhir bahagia, dan itulah yang terjadi dengan buku ini. Dari sana kita belajar tentang bagaimana tabiat para manusia yang sebenarnya. Sebuah peperangan antara para utusan Tuhan untuk menjaga keseimbangan alam dengan makhluk berakal yang dikuasai oleh nafsu buta. Manusia adalah makhluk yang tamak, jelas. Tapi di sinilah kita dapat melihat kenyataannya. Well to be honest, saya bahkan menangis bersama dengan Yang Ke di beberapa lembar tentang perusakan padang rumput dan kolam angsa oleh Bao Sunghui dan Si Tua Wang, serta bersama Chen Zhen di saat kematian si anak serigala [UPS! INI SPOILER!!]

Memang tidak bisa disangkal beberapa bagian, (atau bagi beberapa teman-teman saya, SEMUA) ditulis begitu membosankan. Banyak topik yang diulang-ulang dan bahasa yang digunakan di paragraf deskripsinya terasa seperti naskah pidato atau bahkan makalah kuliah. Tapi di luar semua itu, kita dapat mengambil banyak hal dari dalamnya.

Disajikan dengan padat, buku ini tidak hanya ‘berisi’ tapi juga menginspirasi. Selalu ada something new, something valuable di setiap halamannya. Beberapa pernyataan yang membuat kita menyadari bahwa hal yang kita yakini selama ini keliru. Beberapa pernyataan yang membuat kita menghadapi dunia luar yang sesungguhnya.

8.00 for Wolf Totem. For Chen Zhen, whose distant visionary. For Bilgee, who teach me what the essential meaning of live in the wild nature. For the wolves, who teach me about valority, and much more that I can’t say.

Advertisements