Bahasa · My Writer Side

Book Review: Eragon

url

Tittle : Eragon
Author: Christopher Paolini
Translator: Sendra B. Tanuwidjaja
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, 2006

Siapa yang nggak tahu Eragon yang filmnya sudah keluar dari bertahun-tahun lalu itu?

Terlalu telat saya membaca ini, memang.

Sama seperti kasus Hugo Cabret, saya memang menonton filmnya lebih dulu, jauh sebelum saya baca novelnya. Walau itu pun saya nggak nonton penuh. Seingat saya, hanya di bagian tengah saja. Tapi saya menemukan sebuah fakta mengejutkan ketika membaca buku ini.

Dibuka dengan prolog menegangkan melibatkan elf, urgal, dan sebuah telur, cerita ini memandu kita ke pada seorang pemuda desa bernama Eragon yang tiba-tiba saja menerima benda yang awalnya dia kira batu tapi ternyata si batu itu bisa netas!!

Oke, sudah cukup penjabaran sinopsisnya. Saya yakin hampir semua orang pecinta buku atau pecinta film fantasi tau kayak apa garis besar cerita si Eragon ini. Saya hanya mau berkata bahwa saya nggak akan pernah lagi membaca buku ini karena buku ini SAMPAH.

    5 Alasan kenapa buku ini nggak Recommended oleh saya:

1. THE SUCK PLOT IS SUCK

Seorang pemuda ingusan dari desa kecil yang dipilih oleh takdir lalu menjalani pengembaraan bersama seorang kakek tua bangka yang tau segala hal macam petanya Dora (well, nggak juga sih, toh petanya Dora suka berisik tanya-tanya) demi mengejar sesuatu untuk menyelamatkan dunia. I mean, come on!! Is there any other boring stream?! Bukan, ini bukan masalah mainstream-nya! Mainstream itu bukan hal yang haram di jagad perfantasian dan penulisan, tapi kemampuan sang penulis-lah untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang brilian and Paolini fail from the very first page! Dan dia bahkan gagal setelah dia mencoba untuk mengikuti jejak Tolkien! If you know what I mean, mungkin Paolini ini seorang Tolkien freak atau apa sehingga tulisan Tolkien sangat berpengaruh ke ceritanya sendiri dan yeah, this piece not, NEVER made him the second Tolkien or something -_-

2. MANA EMOSINYAAAA?????

I mean, saya udah banyak banget baca buku, baik fantasi atau genre lain, yang saking datarnya bakal bikin banyak orang tidur di bab pertama. Seringkali saya bertahan, tapi Eragon adalah salah satu yang saya lempar jauh-jauh. Tidak cukup dengan plotnya yang ultra poor, bahkan Paolini nggak bisa membangkitkan tension di tempat-tempat seharusnya! Penulisannya membosankan, tanpa nyawa. Ketara sekali dia menulisnya dengan sistem plot-oriented. Dan Realm-nya! Astaga! Satu lagi kegagalan Paolini! Bahkan jelas-jelas ada peta nangkring di lembar pertama. Digambar dengan cantiknya selebar dua halaman! Tapi Paolini bahkan nggak bisa menghidupkan realmnya! Latarnya absurd, dipaksakan. Ketika membaca buku ini, saya hanya bisa membayangkan tokohnya melakukan hal dengan latar belakang abu-abu atau padang pasir gersang tandus tidak bernama. Dua bab sebelum tamat, menurut saya sudah merupakan prestasi luar biasah, mengingat saya sudah bernafsu mencabik-cabiknya sejak sepertiga buku. Saya sempet berpikir bakal mati berdiri (kalo bacanya sambil berdiri) saking betenya waktu baca ini buku.

3. FILLER, FILLER, AND FILLER AGAIN??

Saya adalah penulis (yah, masih berstatus wanna-be sih -_-) yang lebih rela memotong hasil tulisan saya yang sudah sepanjang 10 halaman demi memadatkan cerita dan menghindari efek ‘penyampahan’ daripada tetap mempertahankannya. Rupanya Paolini nggak sependapat dengan saya. Di sana-sini saya mendapatkan ‘sampah’ di mana-mana. Bahkan ada satu bab sampah yang khusus yang dia dedikasikan untuk kita! Para pembacanya! Coba buka bab “Kemegahan Tronjheim” dan rasakan sendiri sampahnya.

4. The hero that you’d think better go to hell along with the villains

Sedikit pun saya nggak pernah merasa simpati pada tokoh-tokoh di cerita ini. The boy named eragon is just a shallow-minded boy yang. Diceritakan bahwa semua orang di buku berkata bahwa ia ISTIMEWA padahal pada kenyataannya karakteristik yang digambarkan untuk bocah ini sangat TIDAK ISTIMEWA. Logikanya, bahkan saya, yang membaca penjabaran dari penulisnya langsung, membaca semua pemikiran-pemikiran si Eragon langsung, tidak bisa menemukan letak keistimewaannya, apalagi tokoh-tokoh dalam buku ini, yang nggak mendapat keterangan dan penjelasan dari mana-mana?

Oh. Mereka bisa sihir. Saya lupa.

Dia egois, dia bodoh, dia berpikiran pendek. Akan lain ceritanya jika ia memiliki sifat-sifat seperti itu di awal namun perjalanan dan semua hal yang terjadi mengubahnya sedikit demi sedikit. Tapi yang saya dapati di sini adalah, ada seorang bocah laki-laki yang idiot dari awal sampai akhir, memimpin sebuah cerita yang saya baca, dan dia nggak berhasil sama sekali. Saya hanya merasakan sifat dewasa yang dipaksakan dan sifat yang semakin kekanak-kanakkan. Saya bingung kenapa Saphira mau menetas di tangan bocah ini. Kalo saya jadi Saphira, mending saya meringkuk aja di telur selama-lamanya.

Dan posisi The old-wise man yang menjadi pakem “person who knows all” dalam dunia perfantasian dipegang oleh si tua Brom. Saya sudah cukup senang ketika dia mati, mungkin cerita bakal jadi lebih menarik ketika Eragon yang idiot itu terpaksa memikirkan segala-galanya sendirian. Eeeehh… Nggak taunya malah muncul the old-wise man yang lain. Murtagh! Walau pun dia nggak terlalu old dan nggak terlalu wise, tapi selalu ada person-who-knows-all yang menyertai Eragon. Kalo begitu terus kapan pikiran ini anak bisa maju?! Yeah, better go to hell you, Eragon!

5. Because it had been filmed

Ada orang yang lebih suka nonton filmnya dibanding baca bukunya. Saya nggak selalu sependapat. Dalam kasus Hugo Cabret, Hunger Games, dan Twillight saya lebih suka bukunya (ini bukan berarti saya suka Twillight, then). Untuk kasus satu ini, filmnya mungkin sama boringnya, tapi TIDAK MEMBACA BUKUNYA SAMA SEKALI adalah pilihan yang cukup bijaksana.

Well, it’s all then. But I guess I kinda like the way he tells about scrying and things. Satu-satunya bagian yang saya suka adalah saat Eragon melakukan Scry atau menjelajah pikiran orang-orang. Tapi selebihnya, IT A BIG BIG BIG FAIL.

Orang-orang berkata Christopher Paolini beruntung karena berhasil menerbitkan sebuah novel fenomenal di usianya yang saat itu masih belia. Sekitar 15 tahun. Tapi saya berkata Christopher Paolini beruntung karena orangtuanya punya perusahaan penerbitan sehingga bisa saja dia meminta karyanya diterbitkan saat masih dalam kandungan.

“Daddy, Mommy, I doodling so well this day!”
“Really? Come on print and publish it now then, son!”

ONE of FIVE star for Eragon.
And see you in the hell.

Advertisements