My Blabber Side · Uncategorized

For Those Who Broken-Hearted

1. Dress Well

Just to light up your mood. Make the universe is your catwalk.

2. Give Him Your Best Smile


If you own this pic, just tell me so I could add the credits :)
If you own this pic, just tell me so I could add the credits πŸ™‚
Music · My Blabber Side · My Fangirl Side

Feeling Nostalgic ♬β™ͺβ™«

Because the theme of BEM-J past event is “Nostalgia” that the playlist is all ‘jadul’ songs such like the lectures and parents teenage love songs and children songs of our age like Sherina’s and so on, I got hooked again by one of them, Sheila on 7! And yes, since that day, until now my playlist filled by them!

They just reminds me of my childhood time when my big brother admired them so much and used to sang their song in blah blah blah pronounce (as a kids, we love to improve all the lyric ourselves, yes?) and I fell in love with the melody and sang along that blah blah blah lyric together with big bro. Some songs like “Melompat Lebih Tinggi”, “Sahabat Sejati”, “Pejantan Tangguh”, “Pemenang”, and many more!!

What so funny is, I used to don’t like present local songs because the quality of lyric are shallow and worst and seasonal, not lasting because it not truly good. Then I realize I used to like past local songs. Not because I’m still a little girl that time so that only song I knew beside Sailoormoon’s OST, but Indonesian past song have a good, meaningful, and life-not-only-love based meaning of lyric, which is ultimately better!!

This is how they look when I'm still a child! Kinda funny, right?!
This is how they look when I’m still a child! Kinda funny, right?!



Duta masih ganteng yak πŸ˜› and he has a same birth month with me! β™ͺヽ( βŒ’oβŒ’)δΊΊ(βŒ’-βŒ’ )v β™ͺ



PS: I currently addicted too by T-five’s “Kau”! And also Paula Cole’s “I Don’t Want to Wait”, OST from Dawson’s Creek! What a nostalgia!!

At that age, I don't like the film nor understand it, I just love the OST
At that age, I don’t like the film nor understand it, I just love the OST
My BEM-J SIde · My Blabber Side

Well Balance

Errr…. This??


Hoho, I mean well balance, not New Balance :p

Sorry for not posting anything these days. Wake up in dark morning, then go to the college, study until 3 PM and do this and that in the student organization until 8 PM and arrive home very late and still have to make the assignments and study for the sudden quiz and chemical practice tommorow, phew, I just don’t have proper energy to open the laptop…

In addition, my college would celebrate Dies Natalis and altough we had a permition from the lecturer and the dean, we have to prepare and make everything all by ourself. From the smallest part into the bigger one, so everyone in the organization is obviously buuuuuuussssy! I’m part of Program Section so, well, my life is really at rush.

My college is type of college that the students always bring home mountains of material to be memorized, books to be learnt, chemical practices report to be written, and many things more that you can’t have a proper sleeptime in the night. And it’s so hard to do even without joining the student organization where you have to sacrificing time and brain and energy and many things.

But hey, I just realize now that I do it both good! My assignments done like what it have to be, and I do well in the organization too! Not to proud myself, I just surprised by how big human’s power to do what they want to do. Sometimes if you think “No, no, I can’t do this.” You just have to go through it then you’ll be surprised by how well you done it already!

You’re strong, no matter what.
Even that sometimes you’re crying and whinning and feel like everything is enough. That just a short ‘pause’ of your life before you press the ‘play’ button and live you life better than before.

Being balanced is hard too. But this is the way: Do everything in the right time.
Do what you have to do, do what you want to do, but everything has it’s time, so your task is just place it on it’s time.

My BEM-J SIde · My Blabber Side

Sun in Between

It’s November already so that’s mean raining has come again. I don’t like sunny day, it make everything hassle and painful in the eye. I loved rain, that you can always see me hanging the Teru-teru Bozu downright.

self-made teru teru bozu :)
self-made teru teru bozu πŸ™‚

But there’s a time I wish for a sun to come and cheer everything around (especially my wet shoes :P). Today in the student council, we’ve been held an outdoor event for all the students, from the lower degree to the high one, but the rain came in thunder. Bit of worried, but fortunately the sun came in the right time. Thanks Ya Allah…


This cute-shaped paper decoration should not be soaked because of the rain, yes?
This cute-shaped paper decoration should not be soaked because of the rain, yes?

Bahasa · My Writer Side

Book Review: Akatsuki


Title: Akatsuki
Author: Miyazaki Ichigo
Publisher: Mizania, 2009

After a long time struggling (2 days is a long time for me to read a such book), saya berniat hampir menyerah, tapi karena tidak sabar ingin ‘memuji’-nya maka I could finish it finally!! \\(*0*)9

Buku ini bercerita tentang seorang gadis Jepang yang yatim piatu dan diangkat menjadi anak oleh keluarga yang baik hati dan kakak angkat yang begitu menyayanginya. Tanpa ia menyadari, ia jatuh cinta pada Satoshi, teman sekelasnya yang merupakan seorang muslim dan diidolakan banyak murid. Ia pun bertemu Henry yang ternyata memiliki hubungan dengan orangtuanya yang telah meninggal dan merupakan kakaknya lain ayah. Namun semua berubah ketika negara api menyerang saat kak Shun, kakak angkatnya yang selama ini baik hati, berusaha menodainya dan keadaan di rumah keluarga angkatnya yang semula indah jadi bergejolak seketika. Saat itulah Satoshi datang dan memberi pencerahan dengan agama Islam yang dianutnya.

BAH! Siapa peduli dengan cover dan tata letak?!

Langsung ke penulisan, Satu kata ‘pujian’ dari saya: AMATIR.

Jujur saya agak kaget, bahkan sangat kaget. Sudah beberapa lama, entah beberapa bulan, bahkan mungkin tahun, saya terus membaca buku dengan bahasa yang mengalun indah, dan begitu saya membaca buku ini, rasanya seperti sedang berada di atas awan, namun tiba-tiba dijatuhkan secara paksa. Cara penuturannya, teknik penulisannya, ini cara yang saya pakai saat saya baru belajar nulis cerita waktu SD hingga awal SMP lalu! Tersendat, miskin diksi, mentah, kering kerontang, mengerikan.

Penjelasan-penjelasan tentang Jepang dan berbagai hal sebagainya (yang seringkali sebenernya nggak dibutuhkan dan cuma jadi SAMPAH dalam cerita) ketara sekali seperti disambung-tempel dalam cerita. Tolong ya, walaupun sampah, setidaknya poleslah dengan lebih bagus. Satukanlah dalam cerita dan adegan dan mantapkan agar enak dibaca. Ini kan novel, bukan laporan praktikum kimia saya yang penjelasannya harus kaku, aktual, tajam, dan terpercaya (γ€γ‚œγƒ­γ‚œ)」

Dan satu lagi! Ada banyak sekali potongan-potongan lagu di dalamnya! Menggelikan sekali bagaimana penulis sebetulnya memilih lirik dan makna yang tepat tapi feel-nya kacau balau karena cara penulisan ceritanya GAGAL TOTAL. Sudahlah nggak usah sok-sokan meng’indah’kan cerita pake potongan lagu segala. Indahkan aja dulu penulisan bahasanya. Latihan aja dulu yang banyak sana! \( #`βŒ‚Β΄)/β”Œβ”›

Bahkan sebelum chapter pertama selesai, saya sudah harus memaksakan diri untuk tetap tabah alih-alih melemparnya jauh-jauh. Well, saya cukup tersanjung sebenarnya dengan gaya penuturan macam begini sang penulis berhasil memenangkan berbagai lomba penulisan.
(γƒŽΰ² η›Šΰ² )γƒŽε½‘β”»β”β”»

Lalu lanjut ke penokohan. Satu hal yang membuat saya benci Twillight Saga adalah gaya penokohan Bella Swan, yang awalnya diceritakan gadis yang tidak menarik, pecundang, dan tidak terlihat di mata cowok-cowok, tiba-tiba bisa begitu saja punya banyak penggemar tanpa alasan yang jelas. Hal itu juga ternyata saya temukan di sini, tapi dengan versi lebih parah.

Bagaimana tidak? Si Mayumi ini hanya seorang cewek idiot, cengeng, lemah, dan nggak punya pendirian (tapi ya, memang cantik sih, katanya) tapi lihat saja berapa banyak cowok yang memperebutkan dia. Geeeeezzz…. Saya merasa penulis (yang adalah cewek) begitu idealis ingin menumpahkan tipe cewek kesukaannya kepada tokoh utamanya. Jadilah Mayumi cewek sopan, ceria, cerdas (katanya), nggak hobi dandan tapi tetep kece, superior, daaaaaan seterusnya. Padahal tanpa dia sadari, eksekusi di novelnya sama sekali berbeda dengan yang sudah dia rencanakan.

Bukan hanya si tokoh utama, banyak yang mengganjal bagi saya pada tokoh-tokoh lainnya. Kak Shun, misalnya. Kalau memang sejak kecil dia begitu mencintai adik angkatnya, saya kira dia nggak akan bisa melakukan adegan “almost X” itu terhadap adiknya. Sejak kecil mereka dibesarkan bersama-sama, saling melindungi, saling menyayangi, walau yang satu mengganggap seperti keluarga dan yang satunya lagi lebih. Jika benar Kak Shun segitu cintanya sama Mayumi, walau pun bukan sebagai adik, logisnya dia cenderung akan mencintai dengan cara yang lembut, dengan cara mengayomi dan melindungi. Bagaimanapun mereka sudah hidup bersama dalam waktu yang lama, saling memahami, pastilah ada jiwa seorang kakak di dalam Shun, hal itulah yang dapat jadi pertahanannya dari nafsu buta. Dia nggak akan mungkin kehilangan akal sampai segitunya, benar-benar nggak masuk akal. Konyol.

Satu lagi yang bikin saya sebel! Ayah angkatnya Mayumi!! Dalam cerita padahal dikatakan mereka keluarga angkat yang baik dan menyenangkan, tapi tiba-tiba saja di tengah cerita Mayumi berkata bahwa Ibu angkat-nya lah yang baik, sedangkan ayahnya tidak, dan di subklimaks sang ayah angkat ngamuk sama Shun, tapi secara nggak masuk akal malah balik ngamuk sama Mayumi! Di sana ia diproklamasikan sama sekali tidak pernah menerima Mayumi sebagai anggota keluarga! Ya terus selama ini gimance doooonngggg??? Mana bisa orang dengan karakter secengeng dan selemah Mayumi bisa hidup dengan nyamannya di rumah itu kalau ada orang yang nggak pernah menerima dia? Seharusnya walau pun ibunya begitu malaikat dan kakaknya begitu sayang sama dia, dari awal pastilah ada kegundahan di hatinya dan dia pasti sudah menceritakannya ke kita, para pembaca! Kecuali kalau Mayumi emang segitu nggak tau dirinya.

Tentang Satoshi, yang digila-gilai banyak pembaca cewek, not bad. Bahkan kalau boleh dikatakan, dialah satu-satunya tokoh yang benar-benar mempunyai karakter di sini dibanding semua tokoh lainnya yang hanya seperti boneka penulis, tidak hidup, tanpa nyawa, dan tidak dapat membawa cerita.
Masalahnya, sebuah cerita tidak dapat bertopang hanya pada satu tokoh bagus saja. Harus ada hubungan timbal-balik yang tepat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Tokoh bagus pun nggak bisa berbuat apa-apa kalau dikelilingi tokoh dan interaksi yang jelek. Ia akan menjadi sekadar ‘hiasan’. Sayang sekali penulis ternyata nggak bisa memanfaatkan tokoh ini (SATU-SATUNYA tokoh bagus ini) dengan baik.

Dan FINALLY, ini tentang plot.
Ini bukan tentang agamanya (which is, beside, I knew that Islam is absolutely true) tapi tentang cara tokoh-tokoh tersebut menerima itu semua. Saya mendapat kesan yang kental sekali di sini bahwa penulis dengan egoisnya memaksa kita semua, para pembacanya, untuk mempercayai apa yang ia percayai dan tidak memberikan kebebasan untuk memilih apa yang ingin kita percayai. “Tidak usah banyak tanya, memang seharusnya begitu, itulah yang benar!” tanpa mau repot-repot memberikan argumentasi dan penjelasan-penjelasan secara perlahan untuk kita telaah maksudnya. Well, saya seorang muslim, a proud follower of Allah sehingga tentu saja saya yakin semua yang ditulis dalam buku ini adalah benar adanya, namun akan menjadi lain cerita jika buku ini dibaca oleh orang-orang di luar agama Islam. Tentu mereka nggak akan buta melihat adanya sedikit unsur ‘paksaan’ di sini, walau mungkin penulis tidak bermaksud demikian.

Selanjutnya untuk sang mualaf Mayumi, sejak awal saya dibuat kaget dengan perangainya yang segitu mudahnya menerima apa yang sebetulnya adalah hal asing untuk dirinya. Saya sudah pernah melakukan riset kecil-kecilan tentang Shinto dan esensi yang saya dapat adalah, Shinto bukan agama, hanya berfungsi menjadi dasar dan kumpulan hal-hal yang berkenaan dengan spiritual bagi orang Jepang. Mereka tidak menyembah apa pun, tidak ada istilah ‘tuhan’, mereka hanya menghormati apa yang mereka percayai sebagai roh-roh spiritual. Mereka tidak memiliki kitab apa pun yang dapat dijadikan panutan, semua bersumber dari pemikiran mereka sendiri, yang mana lebih bersifat keduniawian.

Memang, tidak semua orang Jepang mengikuti kepercayaan ini, dan Mayumi termasuk salah satu dari mereka. Tapi kalau dia bisa segitu skeptisnya terhadap perayaan kristen (yang notabene-nya sudah ia alami sejak kecil), bahkan sampe ngesearch segala, kenapa dia nggak sama skeptisnya kepada Islam (yang baru dia kenal beberapa jam dari seorang cowok yang nggak begitu dekat sama dia)? Dia menerima semua begitu saja, tanpa babibu, tanpa tanda tanya, titik, dan koma. Bahkan saya menangkap sang karakter seperti sudah kenal lama dengan agama Islam. Sampe dengan fasihnya menerima tentang puasa, ramadhan, mahram, bahkan ia mengucapkan selamat hari raya dan selamat berbuka puasa! I mean, come on! Dia orang jepang tulen, yang tidak punya kitab dan tidak percaya tuhan! Ia seharusnya heran, seharusnya banyak bertanya! Let’s be logical! Jabarkanlah keheranan dan keraguan dia di awal, lalu pertanyaan-pertanyaan, pertentangan, dan pergumulan hatinya di tengah hingga pada akhirnya ia dapat mencapai titik terang dengan keinginannya sendiri, tanpa campur tangan egois dari penulis. Dengan begitu ini akan menjadi cerita tentang seorang mualaf yang sangat menyentuh.

See? Penulis tidak bisa memposisikan dirinya sebagai karakter. Bukan hanya kepada pembaca, penulis juga benar-benar memaksa karakternya mengakui apa yang ia akui tanpa memberikan mereka kebebasan agar cerita mengalir apa adanya. Memang benar penulis adalah tuhan dalam sebuah cerita, tapi sebagai tuhan, ia juga harus dapat membuat karakternya hidup sesuai apa yang mereka yakini.

Ini membuat saya jadi membandingkan dengan cara Jiang Rong dalam buku Wolf Totem menjabarkan apa yang diyakini oleh tokohnya. Seandainya sang penulis membaca buku itu lebih dulu dan mempelajari banyak hal di sana, saya rasa ia akan bisa menulis novel ini dengan penjabaran yang jauh lebih baik.

Soal rating, sudikah saya??

Bahasa · My Writer Side

Book Review: Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin


Title: Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
Author: Tere-Liye
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Well, lucu juga sebenernya bagaimana saya berniat meminjam buku metropop or something-like-that yang bersifat light romance tapi malah membaca dan meresensi buku-buku bergenre lain lebih dulu (Hello, I’m fantasy-mad, nice to meet you :])

Novel ini berkisah tentang Tania, seorang gadis kecil yang cantik dan cerdas dengan nasib yang tidak beruntung, tinggal di rumah kardus bersama ibu dan adik laki-lakinya, terpaksa putus sekolah, dan mengamen dari satu bus ke bus lain demi menyambung hidup. Namun semua berubah ketika negara api menyerang ketika mereka dipertemukan oleh seorang pemuda baik hati bak malaikat yang membangun kembali kehidupan dan merangkai kembali mimpi-mimpi mereka. Hal itu rupanya membuat si gadis kecil jatuh cinta padanya tanpa ia sadari. Tahun-tahun berlalu hingga Tania si pengamen kecil dan adiknya tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan berhasil berkat bantuan si pemuda tersebut, dan begitu pula perasaannya pada si pemuda, meski usia mereka terpaut begitu jauh.

I read it first with the optimism feeling that it would be a great novel because it’s recommended to me.

The cover, nothing special.
The paper, LOVE IT.
The words setting and caption, OMG I’M DIE β™₯

Chapter pertama dibuka dengan deskripsi tentang pemandangan kota yang dilihat dari dinding kaca toko buku besar di sebuah kota. At first read the setting description, I just shout “Hey, it’s feels so familiar. It just like Depok, my beloved-currently-living city! All the description is matched!” and ALAKAZAM!! Ternyata kota yang diceritakan itu memang Depok. “Toko buku terbesar di kota kami” itu adalah Gramedia Margonda, yang terletak di samping jalan Margonda!

‘Then, it will be interesting Ζͺ(˘⌣˘)┐ β”Œ(˘⌣˘)Κƒ’ I think.

The story flowing with fluffyness dan menyenangkan sekali melihat di awal cerita bagaimana kehidupan mereka mulai berubah berkat Oom Danar kemudian tension growing higher ketika Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas dengan cinta yang semakin besar pada sang ‘kakak’, namun menyadari bahwa perasaannya tidak bersambut dan sang ‘kakak’ akan menikah sehingga hidupnya terasa hancur seketika.

Alur lambat, tapi not a big problem. Diksinya menyenangkan. Cara penulis mengungkapkan perasaan-perasaan tokohnya great. Teknik flashback-twist di akhir cerita, saat Tania menemui Danar di pohon Linden; lalu flashback ke saat mengharukan antara Tania, Dede, dan laptop; lalu balik lagi ke pohon Linden; lalu flashback lagi ke adegan di depan laptop; dan begitu seterusnya, bolak-balik hingga akhir cerita, that was impressive!

The character, yeah, saya nggak mau ngejudge terlalu banyak, karena toh semuanya balik lagi ke penokohan, tentang bagaimana keinginan sang penulis mengkarakterisasi para tokohnya, jadi memang ya suka-suka si penulis mau bikin tokoh kayak gimana juga (sekali pun dia egois, kekanak-kanakan, judes, dan bedebah, eh, gegabah, tapi ngaku-ngaku berpikiran lebih dewasa dari anak seusianya, kayak si Tania itu *pfffft*)

Saya cuma mau komplen tentang beberapa kejanggalan dalam endingnya, [SPOILER ALLERT, ANYBODY!!!!!!!!]

1. Tania loves Danar. Danar (surprisingly) loves Tania. Tapi pada akhirnya mereka nggak bisa bersama. Kenapa? Nah, alasannya sama sekali nggak kuat, dan kalau saya nggak salah, bahkan tidak dituliskan mengapa. Jadi haruskah kita menebaknya sendiri?

Lantas, why??
Karena umur, gitu?
Karena Oom Danar udah merasa wise enough to loving and marry the little girl that has 14 years gap with him?
Karena tau diri, nggak mau dicap jadi om-om lolicon?
Karena dia ingin memberikan kesempatan pada Tania untuk berubah jadi ‘normal’ dengan mencintai orang yang seumur dengannya dan bukannya oom-oom 30 tahun-an?
Come on…

Dan pada bagian ketika Danar berubah menjadi pribadi yang berbeda seperti itu, terus terang saya agak ngelag. Perubahan karakter nggak mulus. He’s being craaaaaaaaaaazy mad to his beloved wife! I think that’s not a behave of an angel. Dia seperti punya alter ego. Agak mengerikan juga sebenarnya…. Well, I don’t expecting some “Gary Stu” character, I just want a believable character in some logical plot.

Yah sudahlah, sudahlah. Toh bisa saja dia berubah seperti itu karena cinta kan?



2. I still get lost of where the climax take place. Haruskah pohon Linden??? I mean, oh bukankah yang menjadi tempat istimewa mereka itu dinding kaca di “toko buku terbesar di kota kami” (dan kota saya juga) itu? Lantas? mengapa jadi ke pohon? Bukankah pohon Linden itu tidak se-ikonik rumah kardus dan toko buku? Atau pusara sang Ibu, misalnya? Bukankah ketiga tempat terakhir itu lebih logis ketimbang pohon Linden yang, bahkan, saya lupa sebelumnya muncul di bagian mana di cerita ini.

Then, I just get impression that the writer just want to relating it to the title and main moral story. Asal templok, jadilah adegan klimaks di pohon, biar nyambung sama judul dan quotes utama yang ada kata-kata ‘daun’-nya itu.

Boy, please. ===_____===

3. Ada satu hal lagi yang sebenarnya sangat mengganggu saya. Menurut pemahaman saya (yang, well, memang nggak pinter kayak Tania ini… ORZ) ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin’ berarti sedalam apa pun seseorang terpuruk, terhempas, terinjak oleh takdir dan kenyataan di hadapannya, ia tak akan pernah membenci dan menyalahkan siapa pun. Ia akan selalu yakin ada hal baik yang sedang direncanakan di balik itu semua.

Call me idiot, but I don’t feel that title and that main moral story (quote yang sepertinya sang penulis begitu terobsesi ingin sampaikan pada kita semua), have no relations at all with the story and plot, huh?

I mean, ini tentang seorang gadis yang mencintai seorang laki-laki lebih tua yang telah berarti begitu besar bagi kelangsungan hidupnya, tentang pertentangan-pertentangan, kekacauan, dilema, cemburu, dan berbagai hal yang memenuhi hatinya; dikaitkan dengan sebaris quotes tentang “Menerima dengan tulus dan berbaik sangka”

Errr… Explanations please, anybody???

Bahkan di endingnya, di mana (seharusnya) pembaca bisa memaknai itu semua, I still don’t get it.

β˜…β˜… of β˜…β˜…β˜…β˜…β˜… for the setting (MY beloved city and bookstore), and for…. dunno, for being a book, maybe, so I can read it *TROLL*

Ps: Well, after some reason, I do like Fleur more than this. Maybe have to remade up my mind about Fleur’s rating πŸ˜›

Bahasa · My Writer Side

Book Review: [A Series of Unfortunate Events] Ruang Reptil


Title: [A Series of Unfortunate Events] Ruang Reptil
Author: Lemoni Snicket
Translator: Novia Stephani
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, 2005

Errr… don’t know what to say…

I don’t know how to classified it either!

Untuk buku anak-anak, saya kaget melihat beberapa aspek tentang kematian terasa begitu mudah di sini. Paman Montgomery meninggal. It shit but it’s told as an easy thing! Somehow, it reminds me of Edgar & Ellen dan The Addams Family. Tapi dibanding kedua terakhir itu, yang ini berhasil membuat saya bergidik. Saya membayangkan gimana anak-anak kecil yang membaca buku ini mendengarkan seksama tentang kelakuan Count Olaf dengan alat-alat tajamnya, dan tentang bagaimana ia dengan mudahnya membunuh Paman Monty, dan bagaimana mereka dengan mudahnya melakukan all the stuff sementara mayat paman mereka terbaring kaku di mobil dokter?! Call me weird, but it’s make me feel worst. Childs should not read this.

Tapi untuk buku remaja-dewasa, yeah, it back to the plot bunnies. It’s not well organized, but maybe that’s the way the writer want to told. Tapi saya suka banget halaman 145-146 di mana ada kata ‘sangat sangat sangat sangat sangat sangat …………….” hingga sepanjang satu halaman. It’s really catch the focus. I want to write something like that somehow in somewhere story.


I said I don’t know what to say!
I don’t know how I rate it either!
First time I feel so blank.

Yeah, rate it yourself.