Bahasa · My Writer Side

Book Review: Fleur

13604047

Tittle: Fleur
Author: Fenny Wong
Publisher: Divapress, 2012

Is this the first local book that I review here?! Yaaay! Give me some claps claps! (ノ・ェ・)ノ\(・ェ・\)

Then, start from the synopsis, shall we?

Dibuka dengan potongan kisah fantasi antara dewa-dewa dan peri, Fleur menceritakan tentang kisah cinta antara kakak beradik George dan Florence (di mana kakaknya adalah anak angkat yang nggak memiliki hubungan darah) yang manis dan membara, namun semua berubah ketika negara api menyerang seorang tuan muda penguasa wilayah yang angkuh dan keras hati jatuh cinta pada Florence sejak pandangan pertama dan meminangnya. Hal ini tak akan menjadi terlalu rumit jika Florence menyadari bahwa kisah cintanya mirip dengan buku ajaib yang diwariskan dari mendiang ibunya dan menerima pinangan Alford sang tuan muda. Namun cinta Florence sesungguhnya hanya untuk George, bagaimanapun kerasnya usaha Alford mendapatkan hatinya, bagaimanapun potongan-potongan dari mimpi kehidupan masa lalu mereka menghantuinya.

Haruskah saya memulainya dari cover? Ada satu hal yang sebenernya nggak begitu penting, tapi cukup menggelikan untuk saya. Tulisan kecil, tercetak dengan tinta merah.

FLEUR
….Is a Tale, So is a Life
Sebuah novel.

Yaiyalah novel! Siapa bilang itu sayur?!
(;¬_¬)

Lalu ke tampilan dalam buku. Well, saya cinta dengan tipe-tipe kertas kuning-halus-wangi seperti ini. Tulisannya kecil namun cukup enak dibaca. Tapi dengan kutipan-kutipan pendek yang dibingkai di banyak sudut halaman, apalagi isi kutipan itu sama aja dengan yang ada di buku, terus terang itu sangat mengganggu.

Kemudian, ini dia yang saya tunggu-tunggu, lanjut ke cerita! Banyak yang menggolongkan buku ini ke dalam genre fantasi-romance. Tapi menurut saya ini adalah pure romance, dengan sedikit bumbu-bumbu fantasi. Dan ya, jujur aja, saya sangat-sangat-nggak-menyukai perpaduan antara fantasi dan romance di sini. Potongan-potongan kisah fantasinya yah lumayan, walau sedikit membosankan dan mengingatkan saya pada Tinker Bell dan Stardust. Saya cukup bersyukur setting inti adalah eropa di abad 19an, yang kali ini mengingatkan saya pada Little Woman-nya Louisa May Alcott, di mana perbandingan strata sosial dalam masyarakat di kala itu masih cukup besar, dan kaum borjuis rutin mengadakan nothing-to-celebrate-but-just-spending-money-and-show-off party. Namun saya merasa gagasan tentang “cinta terlarang dan kutukan yang telah ditakdirkan” itu sangat melebih-lebihkan!

Hanya karena cinta segitiga mereka tidak mulus, dan itu juga terjadi pada orangtua salah satu dari mereka maka dengan gampangnya “Oke, fine, ternyata kita kena kutukan nih, guys.”

Funny enough.
(ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻

Oke, Oke, saya ngerti mereka reinkarnasi dari dewa-dewa dan peri itu, kan? Belibis (?) Belidis, Fermio, dan Helras? Sehingga mereka bisa membaca buku ajaib yang tak bisa dibaca orang lain dan mereka mendapatkan mimpi-mimpi aneh tiap malam. Saya hanya merasa hal-hal terakhir ini terasa sangat dipaksakan. Reinkarnasi? It remind me with such Sailormoon and Tuxedo Mask.
Buku ajaib? Mimpi-mimpi? Gagasan ini tidak hidup dan sangat dipaksakan. Seperti hanya tempel-sambung ke cerita, tidak terasa impactnya sama sekali. Saya tersenyum kecut setiap kali saya membaca bagian ini.

Saya nggak mengerti jalan pemikiran Flo. Menerima pinangan Alford begitu saja padahal cinta mati sama George sehingga hidupnya berantakan (siapa suruh (; ̄Д ̄)) kemudian berusaha memperjuangkan hubungannya dengan Alford sembari menghindari George mati-matian karena alasan ingin mematahkan kutukan dan ingin menyelamatkan George (alasan yang menurut saya, entah mau dibawa ke mana, nggak jelas). Lalu setelah sedemikian lama, tiba-tiba saja saat waktunya tidak tepat, George menawarkan untuk kabur berdua lalu menetap di daerah terpencil yang tak bisa ditemui Alford, dan Florence yang tadinya batu tiba-tiba seolah bilang: “Aha! Ide bagus!” dan lantas arah ceritanya berubah begitu saja!

Maksud saya, semudah itukah?
Yeah, it’s even funnier!

Ending? Well, entah mengapa saya mendapati seolah ada dua ending di sini yang bisa dipilih. Alih-alih happy ending dan sad ending, saya lebih suka menyebutnya true ending dan alternate ending, di mana alternate ending bakal kita dapet kalo milihnya zonk (emang gameplay-nya RPG?).

True ending-nya adalah momen menyedihkan antara George yang terbunuh -> Flo jadi gila dan bunuh diri -> Alford ikut bunuh diri. Dan alternate endingnya adalah hasil dari “What if____” yaitu bagaimana jika George tidak jadi terbunuh dan Alford merelakan Flo, happy ending, FIN.

Tapi ada gap yang cukup panjang di antara kedua ending tersebut. Yaitu adegan kelanjutan dari cerita antara Belidis, Fermio, dan Helras serta flashback-flashback dari sudut pandang Alford atas apa yang telah terjadi. Buat saya, kedua topik ini cukup useless. Filler. Sampah.

Bagaimana tidak? Ending tentang Belidis, Fermio, dan Helras sudah diceritakan sebelumnya. Tentang bagaimana Fermio sekarat dalam pelukan Belidis kemudian memberikan sekeping jiwanya agar Belidis dapat tetap hidup, kemudian Helras datang setelah Fermio berubah menjadi butiran cahaya dan meminta Belidis menerima cintanya dan naik bersamanya ke langit untuk menjadi dewi, tapi Belidis tetap menolak dan terbongkar rahasia bahwa Helras-lah yang membunuh Fermio. Itu kan intinya? Haruskah mengulasnya kembali dengan penambahan bumbu-bumbu alot dan kisah yang persis sama?

I’m not pleased even a little.
(◣_◢)

Dan flashback dari sisi Alford itu? Sebetulnya, bahkan saya masih nggak ngerti. Itu cuma pengandaian kah? Atau twist cerita kah? Atau…. keajaiban, mungkin? Haruskah saya baca lagi supaya saya ngerti?

Ask me to read it again and I'll make this face
Ask me to read it again and I’ll make this face

I want to give two star actually, but by writing this, I come up even don’t like it more.

★ of ★★★★★ for Fleur.

Advertisements

One thought on “Book Review: Fleur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s