Bahasa · My Writer Side

Book Review: Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin

8343444

Title: Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
Author: Tere-Liye
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Well, lucu juga sebenernya bagaimana saya berniat meminjam buku metropop or something-like-that yang bersifat light romance tapi malah membaca dan meresensi buku-buku bergenre lain lebih dulu (Hello, I’m fantasy-mad, nice to meet you :])

Novel ini berkisah tentang Tania, seorang gadis kecil yang cantik dan cerdas dengan nasib yang tidak beruntung, tinggal di rumah kardus bersama ibu dan adik laki-lakinya, terpaksa putus sekolah, dan mengamen dari satu bus ke bus lain demi menyambung hidup. Namun semua berubah ketika negara api menyerang ketika mereka dipertemukan oleh seorang pemuda baik hati bak malaikat yang membangun kembali kehidupan dan merangkai kembali mimpi-mimpi mereka. Hal itu rupanya membuat si gadis kecil jatuh cinta padanya tanpa ia sadari. Tahun-tahun berlalu hingga Tania si pengamen kecil dan adiknya tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan berhasil berkat bantuan si pemuda tersebut, dan begitu pula perasaannya pada si pemuda, meski usia mereka terpaut begitu jauh.

I read it first with the optimism feeling that it would be a great novel because it’s recommended to me.

The cover, nothing special.
The paper, LOVE IT.
The words setting and caption, OMG I’M DIE ♥

Chapter pertama dibuka dengan deskripsi tentang pemandangan kota yang dilihat dari dinding kaca toko buku besar di sebuah kota. At first read the setting description, I just shout “Hey, it’s feels so familiar. It just like Depok, my beloved-currently-living city! All the description is matched!” and ALAKAZAM!! Ternyata kota yang diceritakan itu memang Depok. “Toko buku terbesar di kota kami” itu adalah Gramedia Margonda, yang terletak di samping jalan Margonda!

‘Then, it will be interesting ƪ(˘⌣˘)┐ ┌(˘⌣˘)ʃ’ I think.

The story flowing with fluffyness dan menyenangkan sekali melihat di awal cerita bagaimana kehidupan mereka mulai berubah berkat Oom Danar kemudian tension growing higher ketika Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas dengan cinta yang semakin besar pada sang ‘kakak’, namun menyadari bahwa perasaannya tidak bersambut dan sang ‘kakak’ akan menikah sehingga hidupnya terasa hancur seketika.

Alur lambat, tapi not a big problem. Diksinya menyenangkan. Cara penulis mengungkapkan perasaan-perasaan tokohnya great. Teknik flashback-twist di akhir cerita, saat Tania menemui Danar di pohon Linden; lalu flashback ke saat mengharukan antara Tania, Dede, dan laptop; lalu balik lagi ke pohon Linden; lalu flashback lagi ke adegan di depan laptop; dan begitu seterusnya, bolak-balik hingga akhir cerita, that was impressive!

The character, yeah, saya nggak mau ngejudge terlalu banyak, karena toh semuanya balik lagi ke penokohan, tentang bagaimana keinginan sang penulis mengkarakterisasi para tokohnya, jadi memang ya suka-suka si penulis mau bikin tokoh kayak gimana juga (sekali pun dia egois, kekanak-kanakan, judes, dan bedebah, eh, gegabah, tapi ngaku-ngaku berpikiran lebih dewasa dari anak seusianya, kayak si Tania itu *pfffft*)

Saya cuma mau komplen tentang beberapa kejanggalan dalam endingnya, [SPOILER ALLERT, ANYBODY!!!!!!!!]

1. Tania loves Danar. Danar (surprisingly) loves Tania. Tapi pada akhirnya mereka nggak bisa bersama. Kenapa? Nah, alasannya sama sekali nggak kuat, dan kalau saya nggak salah, bahkan tidak dituliskan mengapa. Jadi haruskah kita menebaknya sendiri?

Lantas, why??
Karena umur, gitu?
Karena Oom Danar udah merasa wise enough to loving and marry the little girl that has 14 years gap with him?
Karena tau diri, nggak mau dicap jadi om-om lolicon?
Karena dia ingin memberikan kesempatan pada Tania untuk berubah jadi ‘normal’ dengan mencintai orang yang seumur dengannya dan bukannya oom-oom 30 tahun-an?
Come on…

Dan pada bagian ketika Danar berubah menjadi pribadi yang berbeda seperti itu, terus terang saya agak ngelag. Perubahan karakter nggak mulus. He’s being craaaaaaaaaaazy mad to his beloved wife! I think that’s not a behave of an angel. Dia seperti punya alter ego. Agak mengerikan juga sebenarnya…. Well, I don’t expecting some “Gary Stu” character, I just want a believable character in some logical plot.

Yah sudahlah, sudahlah. Toh bisa saja dia berubah seperti itu karena cinta kan?

BEWARE: LOVE IS DANGEROUS.

 

2. I still get lost of where the climax take place. Haruskah pohon Linden??? I mean, oh bukankah yang menjadi tempat istimewa mereka itu dinding kaca di “toko buku terbesar di kota kami” (dan kota saya juga) itu? Lantas? mengapa jadi ke pohon? Bukankah pohon Linden itu tidak se-ikonik rumah kardus dan toko buku? Atau pusara sang Ibu, misalnya? Bukankah ketiga tempat terakhir itu lebih logis ketimbang pohon Linden yang, bahkan, saya lupa sebelumnya muncul di bagian mana di cerita ini.

Then, I just get impression that the writer just want to relating it to the title and main moral story. Asal templok, jadilah adegan klimaks di pohon, biar nyambung sama judul dan quotes utama yang ada kata-kata ‘daun’-nya itu.

Boy, please. ===_____===

3. Ada satu hal lagi yang sebenarnya sangat mengganggu saya. Menurut pemahaman saya (yang, well, memang nggak pinter kayak Tania ini… ORZ) ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin’ berarti sedalam apa pun seseorang terpuruk, terhempas, terinjak oleh takdir dan kenyataan di hadapannya, ia tak akan pernah membenci dan menyalahkan siapa pun. Ia akan selalu yakin ada hal baik yang sedang direncanakan di balik itu semua.

Call me idiot, but I don’t feel that title and that main moral story (quote yang sepertinya sang penulis begitu terobsesi ingin sampaikan pada kita semua), have no relations at all with the story and plot, huh?

I mean, ini tentang seorang gadis yang mencintai seorang laki-laki lebih tua yang telah berarti begitu besar bagi kelangsungan hidupnya, tentang pertentangan-pertentangan, kekacauan, dilema, cemburu, dan berbagai hal yang memenuhi hatinya; dikaitkan dengan sebaris quotes tentang “Menerima dengan tulus dan berbaik sangka”

Errr… Explanations please, anybody???

Bahkan di endingnya, di mana (seharusnya) pembaca bisa memaknai itu semua, I still don’t get it.

★★ of ★★★★★ for the setting (MY beloved city and bookstore), and for…. dunno, for being a book, maybe, so I can read it *TROLL*

Ps: Well, after some reason, I do like Fleur more than this. Maybe have to remade up my mind about Fleur’s rating 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s