Bahasa · My Writer Side

Book Review: Akatsuki

7556893

Title: Akatsuki
Author: Miyazaki Ichigo
Publisher: Mizania, 2009

After a long time struggling (2 days is a long time for me to read a such book), saya berniat hampir menyerah, tapi karena tidak sabar ingin ‘memuji’-nya maka I could finish it finally!! \\(*0*)9

Buku ini bercerita tentang seorang gadis Jepang yang yatim piatu dan diangkat menjadi anak oleh keluarga yang baik hati dan kakak angkat yang begitu menyayanginya. Tanpa ia menyadari, ia jatuh cinta pada Satoshi, teman sekelasnya yang merupakan seorang muslim dan diidolakan banyak murid. Ia pun bertemu Henry yang ternyata memiliki hubungan dengan orangtuanya yang telah meninggal dan merupakan kakaknya lain ayah. Namun semua berubah ketika negara api menyerang saat kak Shun, kakak angkatnya yang selama ini baik hati, berusaha menodainya dan keadaan di rumah keluarga angkatnya yang semula indah jadi bergejolak seketika. Saat itulah Satoshi datang dan memberi pencerahan dengan agama Islam yang dianutnya.

BAH! Siapa peduli dengan cover dan tata letak?!

Langsung ke penulisan, Satu kata ‘pujian’ dari saya: AMATIR.

Jujur saya agak kaget, bahkan sangat kaget. Sudah beberapa lama, entah beberapa bulan, bahkan mungkin tahun, saya terus membaca buku dengan bahasa yang mengalun indah, dan begitu saya membaca buku ini, rasanya seperti sedang berada di atas awan, namun tiba-tiba dijatuhkan secara paksa. Cara penuturannya, teknik penulisannya, ini cara yang saya pakai saat saya baru belajar nulis cerita waktu SD hingga awal SMP lalu! Tersendat, miskin diksi, mentah, kering kerontang, mengerikan.

Penjelasan-penjelasan tentang Jepang dan berbagai hal sebagainya (yang seringkali sebenernya nggak dibutuhkan dan cuma jadi SAMPAH dalam cerita) ketara sekali seperti disambung-tempel dalam cerita. Tolong ya, walaupun sampah, setidaknya poleslah dengan lebih bagus. Satukanlah dalam cerita dan adegan dan mantapkan agar enak dibaca. Ini kan novel, bukan laporan praktikum kimia saya yang penjelasannya harus kaku, aktual, tajam, dan terpercaya (」゜ロ゜)」

Dan satu lagi! Ada banyak sekali potongan-potongan lagu di dalamnya! Menggelikan sekali bagaimana penulis sebetulnya memilih lirik dan makna yang tepat tapi feel-nya kacau balau karena cara penulisan ceritanya GAGAL TOTAL. Sudahlah nggak usah sok-sokan meng’indah’kan cerita pake potongan lagu segala. Indahkan aja dulu penulisan bahasanya. Latihan aja dulu yang banyak sana! \( #`⌂´)/┌┛

Bahkan sebelum chapter pertama selesai, saya sudah harus memaksakan diri untuk tetap tabah alih-alih melemparnya jauh-jauh. Well, saya cukup tersanjung sebenarnya dengan gaya penuturan macam begini sang penulis berhasil memenangkan berbagai lomba penulisan.
Hebaaaaaaaaaaattt.
(ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻

Lalu lanjut ke penokohan. Satu hal yang membuat saya benci Twillight Saga adalah gaya penokohan Bella Swan, yang awalnya diceritakan gadis yang tidak menarik, pecundang, dan tidak terlihat di mata cowok-cowok, tiba-tiba bisa begitu saja punya banyak penggemar tanpa alasan yang jelas. Hal itu juga ternyata saya temukan di sini, tapi dengan versi lebih parah.

Bagaimana tidak? Si Mayumi ini hanya seorang cewek idiot, cengeng, lemah, dan nggak punya pendirian (tapi ya, memang cantik sih, katanya) tapi lihat saja berapa banyak cowok yang memperebutkan dia. Geeeeezzz…. Saya merasa penulis (yang adalah cewek) begitu idealis ingin menumpahkan tipe cewek kesukaannya kepada tokoh utamanya. Jadilah Mayumi cewek sopan, ceria, cerdas (katanya), nggak hobi dandan tapi tetep kece, superior, daaaaaan seterusnya. Padahal tanpa dia sadari, eksekusi di novelnya sama sekali berbeda dengan yang sudah dia rencanakan.

Bukan hanya si tokoh utama, banyak yang mengganjal bagi saya pada tokoh-tokoh lainnya. Kak Shun, misalnya. Kalau memang sejak kecil dia begitu mencintai adik angkatnya, saya kira dia nggak akan bisa melakukan adegan “almost X” itu terhadap adiknya. Sejak kecil mereka dibesarkan bersama-sama, saling melindungi, saling menyayangi, walau yang satu mengganggap seperti keluarga dan yang satunya lagi lebih. Jika benar Kak Shun segitu cintanya sama Mayumi, walau pun bukan sebagai adik, logisnya dia cenderung akan mencintai dengan cara yang lembut, dengan cara mengayomi dan melindungi. Bagaimanapun mereka sudah hidup bersama dalam waktu yang lama, saling memahami, pastilah ada jiwa seorang kakak di dalam Shun, hal itulah yang dapat jadi pertahanannya dari nafsu buta. Dia nggak akan mungkin kehilangan akal sampai segitunya, benar-benar nggak masuk akal. Konyol.

Satu lagi yang bikin saya sebel! Ayah angkatnya Mayumi!! Dalam cerita padahal dikatakan mereka keluarga angkat yang baik dan menyenangkan, tapi tiba-tiba saja di tengah cerita Mayumi berkata bahwa Ibu angkat-nya lah yang baik, sedangkan ayahnya tidak, dan di subklimaks sang ayah angkat ngamuk sama Shun, tapi secara nggak masuk akal malah balik ngamuk sama Mayumi! Di sana ia diproklamasikan sama sekali tidak pernah menerima Mayumi sebagai anggota keluarga! Ya terus selama ini gimance doooonngggg??? Mana bisa orang dengan karakter secengeng dan selemah Mayumi bisa hidup dengan nyamannya di rumah itu kalau ada orang yang nggak pernah menerima dia? Seharusnya walau pun ibunya begitu malaikat dan kakaknya begitu sayang sama dia, dari awal pastilah ada kegundahan di hatinya dan dia pasti sudah menceritakannya ke kita, para pembaca! Kecuali kalau Mayumi emang segitu nggak tau dirinya.

Tentang Satoshi, yang digila-gilai banyak pembaca cewek, not bad. Bahkan kalau boleh dikatakan, dialah satu-satunya tokoh yang benar-benar mempunyai karakter di sini dibanding semua tokoh lainnya yang hanya seperti boneka penulis, tidak hidup, tanpa nyawa, dan tidak dapat membawa cerita.
Masalahnya, sebuah cerita tidak dapat bertopang hanya pada satu tokoh bagus saja. Harus ada hubungan timbal-balik yang tepat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Tokoh bagus pun nggak bisa berbuat apa-apa kalau dikelilingi tokoh dan interaksi yang jelek. Ia akan menjadi sekadar ‘hiasan’. Sayang sekali penulis ternyata nggak bisa memanfaatkan tokoh ini (SATU-SATUNYA tokoh bagus ini) dengan baik.

Dan FINALLY, ini tentang plot.
Ini bukan tentang agamanya (which is, beside, I knew that Islam is absolutely true) tapi tentang cara tokoh-tokoh tersebut menerima itu semua. Saya mendapat kesan yang kental sekali di sini bahwa penulis dengan egoisnya memaksa kita semua, para pembacanya, untuk mempercayai apa yang ia percayai dan tidak memberikan kebebasan untuk memilih apa yang ingin kita percayai. “Tidak usah banyak tanya, memang seharusnya begitu, itulah yang benar!” tanpa mau repot-repot memberikan argumentasi dan penjelasan-penjelasan secara perlahan untuk kita telaah maksudnya. Well, saya seorang muslim, a proud follower of Allah sehingga tentu saja saya yakin semua yang ditulis dalam buku ini adalah benar adanya, namun akan menjadi lain cerita jika buku ini dibaca oleh orang-orang di luar agama Islam. Tentu mereka nggak akan buta melihat adanya sedikit unsur ‘paksaan’ di sini, walau mungkin penulis tidak bermaksud demikian.

Selanjutnya untuk sang mualaf Mayumi, sejak awal saya dibuat kaget dengan perangainya yang segitu mudahnya menerima apa yang sebetulnya adalah hal asing untuk dirinya. Saya sudah pernah melakukan riset kecil-kecilan tentang Shinto dan esensi yang saya dapat adalah, Shinto bukan agama, hanya berfungsi menjadi dasar dan kumpulan hal-hal yang berkenaan dengan spiritual bagi orang Jepang. Mereka tidak menyembah apa pun, tidak ada istilah ‘tuhan’, mereka hanya menghormati apa yang mereka percayai sebagai roh-roh spiritual. Mereka tidak memiliki kitab apa pun yang dapat dijadikan panutan, semua bersumber dari pemikiran mereka sendiri, yang mana lebih bersifat keduniawian.

Memang, tidak semua orang Jepang mengikuti kepercayaan ini, dan Mayumi termasuk salah satu dari mereka. Tapi kalau dia bisa segitu skeptisnya terhadap perayaan kristen (yang notabene-nya sudah ia alami sejak kecil), bahkan sampe ngesearch segala, kenapa dia nggak sama skeptisnya kepada Islam (yang baru dia kenal beberapa jam dari seorang cowok yang nggak begitu dekat sama dia)? Dia menerima semua begitu saja, tanpa babibu, tanpa tanda tanya, titik, dan koma. Bahkan saya menangkap sang karakter seperti sudah kenal lama dengan agama Islam. Sampe dengan fasihnya menerima tentang puasa, ramadhan, mahram, bahkan ia mengucapkan selamat hari raya dan selamat berbuka puasa! I mean, come on! Dia orang jepang tulen, yang tidak punya kitab dan tidak percaya tuhan! Ia seharusnya heran, seharusnya banyak bertanya! Let’s be logical! Jabarkanlah keheranan dan keraguan dia di awal, lalu pertanyaan-pertanyaan, pertentangan, dan pergumulan hatinya di tengah hingga pada akhirnya ia dapat mencapai titik terang dengan keinginannya sendiri, tanpa campur tangan egois dari penulis. Dengan begitu ini akan menjadi cerita tentang seorang mualaf yang sangat menyentuh.

See? Penulis tidak bisa memposisikan dirinya sebagai karakter. Bukan hanya kepada pembaca, penulis juga benar-benar memaksa karakternya mengakui apa yang ia akui tanpa memberikan mereka kebebasan agar cerita mengalir apa adanya. Memang benar penulis adalah tuhan dalam sebuah cerita, tapi sebagai tuhan, ia juga harus dapat membuat karakternya hidup sesuai apa yang mereka yakini.

Ini membuat saya jadi membandingkan dengan cara Jiang Rong dalam buku Wolf Totem menjabarkan apa yang diyakini oleh tokohnya. Seandainya sang penulis membaca buku itu lebih dulu dan mempelajari banyak hal di sana, saya rasa ia akan bisa menulis novel ini dengan penjabaran yang jauh lebih baik.

Soal rating, sudikah saya??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s