Bahasa · My Writer Side

Book Review: Sang Pemimpi

url

Title: Sang Pemimpi
Author: Andrea Hirata
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Ketiga April 2012

I guess I can’t really do such hiatus thing…. ORZ
Well, I coincidentally use the gap of the practical exams to… READ NOVELS! (Beside blogging and browsing of course…) Just to relax my mind and soul in case they’re dryyyyyy…….

My lil’ brother bought this book for his assignment. He had to write such review or literature analysis with one of Andrea Hirata’s work. Well to be honest, I don’t have much intention to read this. Somehow the genre of the story is really not my type. Believe it or not, I’m not even read Laskar Pelangi yet, nor watched it. But these days I feel so tolerant on many genres of literature that I deal to read all type of book.

Just realized! I used full english?! Since it’s Indonesian book so let’s mixed it with Bahasa Indonesia and let’s I reveal you some synopsis!

Sang Pemimpi bercerita tentang Ikal, Arai, dan Jimbron, tiga sahabat dari Pulau Belitong. Di pulau yang amat akrab dengan kehidupan keras seorang nelayan inilah mereka bertiga membangun cita-cita mereka hingga pada akhirnya fase demi fase kehidupan mereka lalui. Terkungkung di gubuk kontrakan kecil, membanting tulang sambil menuntut ilmu, dihempas ke sana kemari oleh kejamnya hidup hingga akhirnya perjuangan mereka menemukan takdirnya sendiri. Sangat menginspirasi.

Saya bukan orang yang suka ikutan arus. Saya hanya membaca apa yang benar-benar menarik minat saya, bukan karena kepopuleran atau rating atau rekomendasi yang diberikan orang-orang. Saat Laskar Pelangi mem-booming sampai rasanya semua orang di Indonesia membeli dan membacanya, I have no intention so I.HAVE.NO.INTENTION. But now reading it, saya jadi mengerti mengapa Andrea Hirata dan karya-karyanya bisa begitu tersohor hingga ke belahan dunia lainnya.

Cara penulisan adalah cerminan dari sang penulis sendiri. Dan sang penulis adalah orang yang sangat sangat sangat cerdas, if I say, seriously. Tercermin jelas dari caranya memilih diksi. Begitu jeli, cermat, pintar, dan jelas bahwa beliau adalah seorang seniman sejati. I can feel art and passion in every words, and not to mention the widest range of knowledge, oh, and all the details. Setiap kata dipilah dengan cerdas, indah, dan santun, tentu saja. Dari sini saya pun mengerti kenapa sang penulis mampu menembus pasar Internasional. Karena cara pembawaannya benar-benar mencerminkan sikap santun ketimuran seorang Indonesia. He is not trying to being accepted by the universe, but he’s being himself so the universe accept him.

Dan setiap penokohannya, I really can’t ask for more. Semua, bahkan sampai ke tokoh-tokoh figuran terkecil paling nggak penting sekalipun, dibentuk dengan sangat kuat. As I could see them alive here in front of my eyes and mind. And what interest me is, bagaimana penulis membuat sang tokoh utama tidak berada di garis utama cerita. Alih-alih egois berputar dengan penceritaan terhadap hidupnya sendiri, Ikal secara proklamatis membangun dan menjalankan cerita dari tiap sudut secara keseluruhan. With his modesty, ia tidak cuma membangun dirinya sendiri, melainkan membangun semua tokohnya.
But somehow, entah bagaimana saya merasa secara implisit tokoh utamanya bukanlah Ikal, tapi Arai. Well, if that’s true so it’s being more amazing! Bagaimana penulis menceritakan tokoh utama dari mata tokoh pembantu namun tak ada yang dianaktirikan. Semua punya porsi yang seimbang di cerita, sama-sama kuat. Or…. jangan-jangan keduanya adalah tokoh utama? Arai dan Ikal? Well, it’s being confusing then….

Plotnya, well, nggak terlalu menggebrak sebetulnya. Mengingat ada banyak sekali buku bertopik sama. Tapi yang membuatnya istimewa mungkin terletak pada kekuatan penyampaian settingnya. It’s really reminding me of Matahari di Atas Gili yang dulu pernah saya baca waktu SMP. Setting solid yang bisa tersampaikan tanpa membutuhkan paragraf deskripsi panjang ala buku geografi.

Well, OOT then, mother did read it too dan kami terlibat diskusi seru tentang buku ini setelah membacanya. Mother said, this is masterpiece. Karya sastra intelek yang mengingatkannya dengan karya-karya Ike Supomo, N. H. Dini, dan Maryana Katopo di jamannya. I don’t know them, but I don’t think different. “karya sastra intelek” saya rasa cukup pantas untuk menggambarkan buku ini. Dan kenyataan bahwa buku ini termasuk best seller di Indonesia, it kinda relieve me because, apparently, still many Indonesia people understand true masterpiece of literature. GO TO HELL, YOU, KOREAN-ROMANCE NOVELS AND SIMILAR THINGS!!! }=]

About the rating, sejujurnya memang susah menemukan karya yang sempurna. Somehow I feel the ending is too fast-paced, yes? Mungkin akan lebih menarik lagi jika bagian ending, khususnya ketika Arai dan Ikal sudah mencapai Jakarta, diceritakan dengan detail lagi, seperti halnya penceritaan tentang kehidupan mereka di Pulau Belitong. And I kinda feeling iritated karena sampe sekarang saya masih nggak tau apa jurusan yang Arai ambil di universitasnya šŸ˜¦

Benar juga kalau buku seperti ini bukan tipe saya. Tapi saya nggak melihat alasan yang benar-benar kuat untuk nggak memberikan nilai sempurna.

So, there you go, ā˜…ā˜…ā˜…ā˜…ā˜… A.K.A PERFECTO! šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s