Bahasa · My Writer Side

Book Review : Princess, Bajak Laut, & Alien

19545032
Title : Princess, Bajak Laut, & Alien
Author : Clara Ng & Icha Rahmanti
Pages : 355
Publisher : Plotpoint, November 2013

Had been a while since my last book review, it isn’t? Sebenernya udah dari lama saya beli buku ini, but feels like my campus life took all of my own life thus I’m not allowed to have quite space in my mind to think about what I actually want to (Curcol, maap ( ̄~ ̄;)) Jadi mumpung saya punya jumat-sabtu-minggu kosong (di mana hal ini sangat-sangat-sangat-sangat jarang sekali terjadi) and I’m not in mood to go anywhere, why not saya babat semua buku yang belum terbaca?

First time I saw the cover of this book di goodreads, twitter, dan beberapa toko buku online, I was like, “OMG.I.MUST.HAVE.IT.” I mean, look at the addddddorable cover! Well, walau memang bukan yang utama, desain cover selalu jadi salah satu pertimbangan saya dalam memutuskan buku yang ingin dibaca. Heheheh. Kedua, saya tertarik dengan nama penulis yang tertera. Well, I don’t really know Icha Rahmanti TBH, but I had read Clara NG fantasy novel such as Malaikat Jatuh and Jampi-Jampi Varaiya and I LOVE IT. So I thought, why not give this book a try, eh?

Buku ini terbagi menjadi tiga ‘kitab’. Kitab Princess, Kitab Bajak Laut, dan Kitab Alien. Masing-masing dengan pelaku utama, fokus cerita, dan alur yang berbeda. Kitab Princess bercerita tentang Mikal, seorang bocah lelaki yatim yang ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan motor. Suatu hari akibat seseorang bernama Buto, Mikal terperangkap dalam sebuah dunia aneh bernama Son Nokta, di mana ia bertemu Princess dan Troy. Kitab Bajak Laut bercerita tentang masa lalu Agung alis Buto, si orang cebol yang nantinya menjebak Mikal ke dalam Son Nokta lewat sebuah kaleidoskop. Sedangkan Kitab Bajak Laut bercerita tentang masa lalu dan ingatan Troy hingga akhirnya ia terperangkap di Son Nokta, menciptakan Princess, dan bersama-sama mencari jalan keluar dari dunia itu bersama Mikal.

Characters, Plot, Writing, I decided to review it random, okay? Berhubung ini ditulis oleh dua penulis, saya nggak begitu tau gimana sistem mereka. Gantian bab per bab-kah, atau rushing-and-kicking-out together in same time-kah, so, komen saya akan mengesampingkan hal itu.

Kitab pertama, it’s quite reminds me of Alice in Wonderland. Rasanya seperti loncat kesana-kemari dalam lingkup keajaiban yang lebih darkish. But in the same time, rasanya juga seperti mengendarai mobil yang koplingnya diangkat kecepetan. Tersendat-sendat. Saya nggak tahu apakah ini efek fase awal di mana penulis sedang berusaha menyesuaikan diri dan mencari tempo yang tepat atau sedang kebanjiran ide sehingga susah mengontrolnya atau gimana. Tapi perpindahan dari gestur ke gestur, adegan ke adegan, pikiran ke pikiran, semuanya masih belum mulus. Beberapa deskripsi malah membuat saya lost and have no idea. Seakan-akan penulis sudah mempunyai bayangan keren yang sangat-sangat jelas di pikirannya. Tapi saking kerennya malah susah menuangkan dalam bentuk kata-kata sehingga deskripsi malah jadi nggak jelas buat pembaca. Sangat disayangkan sebenarnya, mengingat Kitab pertama ini adalah stage dasar untuk keberlangsungan cerita ke depannya.

Kitab kedua, well well well. Terlepas dari apakah ditulis oleh orang yang sama atau tidak, penulis rasa-rasanya sudah menemukan temponya so it flowing crunchy with bitter-happy-sad-tragic twists. Kalau boleh dikatakan, mungkin Kitab inilah yang alurnya paling mudah diikuti dibanding dua lainnya. Detail, plot, karakterisasi, dan twistnya juga mudah dimengerti. Ada beberapa logika yang miss, tapi saya terlalu malas untuk membahasnya satu persatu jadi mari kita tinggalkan saja. OOT, to be honest, kitab ini sedikit mematahkan hati saya. Sebab saya punya cerpen belum kelar tentang orang cebol yang juga bekerja di sirkus dan juga menjadi bulan-bulanan. It’s like… Oh my God I’m losing the first step…(╥_╥) (curcol lagi, maap.)

Kitab ketiga basically my favorite among all. Karakter Troy, Gwen, dan Mikal terbentuk sempurna di sini, and not to tell benang-benang merah yang mengurai dari bab-bab sebelumnya mulai mengait jelas serta efek Alice in Wonderland yang membawa kita berteleportasi dari satu tempat ke tempat lain. Saya juga selalu suka teknik permainan flashback di main twist. Walau, yeah, jujur saja saya sebenernya mengharapkan penyempurnaan worldbuilding Son Nokta, tapi ternyata hal itu tidak terjadi. So anggap saja Son Nokta memang dunia abu-abu tanpa logika nyata dan nggak perlu dipertanyakan detail demi detail.

Epilog. Err…. jujur aja sih, sebenernya saya ngga terlalu nangkep gimana endingnya. Kesannya seperti banyak dimensi berbeda disatukan di sini. Buto dengan badut-penghibur-yang-bahagia, Mikal dengan pembaharuan-hidup-setelah-ayahnya-meninggal, Troy dengan kembali-ke-masa-kanak-kanak-bersama-Gwen, dan (yang ini yang saya masih nggak ngerti apa fungsinya) Iqbal-dan-Salsa-yang-masih-dalam-perjalanan-ke-rumah-Nenek. See? Beberapa dimensi waktu berbeda dipasangkan secara bersamaan.

Sasarannya anak-anak, tapi saya cukup ragu anak-anak bakal menikmatinya tanpa menanyakan banyak hal. Sudah dibuat filmnya, dan saya bertanya-tanya bagaimana cara memvisualisasikan dimensi-dimensi istimewa buku ini ke dalam film Indonesia yang kualitas efeknya, you know lah… A bit curious about the film, but don’t have any intentions to go forward it.

Even though ketika selesai membaca ini, tak membuat saya lantas lompat ke satu demi satu gelembung imajinasi seperti kebiasaan saya jika selesai membaca buku fantasi yang amazing, saya cukup terkesan dengan keberanian penulis meramu cerita berkonsep surreal-gothic, melakukan permainan dengan twist, karakterisasi yang istimewa (in this book, Gary Stu and Mary Sue JUST A DREAM, FOLKS ヽ( ★ω★)ノ), dan setting dunia yang out-of-the-box.

Tunggu, apa saya udah bilang tentang ilustrasi yang banyak muncul di buku ini? AAAAAAA!! Adorable, bubbly-fluffy drawing!! I.HEART.IT. Saya rasa ilustrasi menjadi faktor yang sangat berperan penting bagi saya dalam memberikan rating buku ini.

★★★ of ★★★★★. That’s for now. Just let see whether If I put the stars up if I could (finally) understand the whole plot, okay?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s