Bahasa · My Writer Side

Book Review : The Da Vinci Code

51eqahfvd6l

Tittle : The Da Vinci Code
Author : Dan Brown
Translator : Isma B. Koesalamwardi
Pages : 632 Pages
Publisher : Serambi, Juni 2006

Di tengah marathon laporan praktikum, sempet-sempetnya saya nulis beginian. Saya pernah dapet pertanyaan dari seorang teman yang menjadi stalker blog saya (“Kamu pernah baca buku X? Kok nggak pernah di-review di blog?”). So here I tell you guys, I review a book on random, not every all of books I’ve read.

Ada tiga alasan utama mengapa saya merasa berkewajiban mereview suatu buku. PERTAMA, buku tersebut jeleknya nggak ketulungan sehingga bisa jadi sasaran empuk buat saya maki-maki saya merasa harus memperingatkan orang-orang. KEDUA, buku itu begitu bagus sehingga saking bagusnya saya merasa bersalah jika enggak membaginya dengan orang-orang. KETIGA, saya lagi mood, yah yang akhir itu emang nonsense sih. Heheheh..

Saya nonton The Da Vinci Code like….4 years ago? Or more? Entahlah. Yang jelas, saat itu saya nggak nonton dari awal dan nggak sampai akhir jadi nggak begitu nangkep apa isi cerita fenomenal ini. Tapi begitu nonton Angels and Demons yang merupakan sekuel pertama novel ini, I was like… IT’S TRULY FENOMENAL.

Secara singkat, The Da Vinci Code bercerita tentang seorang peneliti, kriptografer, profesor, sejarawan, dan penulis terkenal, bernama Robert Langdon. Setelah prestasinya yang gemilang dalam pemecahan kasus di Vatikan, ia dihadapkan untuk memecahkan sebuah kasus pembunuhan seorang kurator terkemuka, Jacques Sauniere. Namun tanpa ia ketahui justru dirinyalah yang menjadi tersangka. Bersama seorang kriptografer, Sophie Neveu yang merupakan cucu dari Jacques Sauniere, Langdon yang kini merupakan buronan utama Kepolisian Perancis, melakukan perjalanan demi perjalanan untuk mengungkap kematian Jacques Sauniere dan memecahkan kode-kode yang ia tinggalkan sebelum kematiannya.

Selain fantasi, saya seorang penggila cerita misteri dengan latar legenda atau mitologi. Saya rasa itulah magnet awal buku ini terhadap saya. Saya tidak begitu terkesan dengan tokoh-tokoh dalam buku ini, karakter stereotip cerita-cerita detektif pada umumnya, nothing special so I choose to be neutral. But penjabarannya, Mr. Brown, you hella’ got me for sure.

Setiap titik dalam kalimat ditulis dengan sangat detail dan konsep yang matang. Saya sudah pernah menulis di sini bahwa saya punya proyek tulisan historical fantasy yang nggak jadi-jadi melibatkan maharani jepang di periode Edo, Go-Sakuramachi. And I can tell you the hardness of doing research. Betapa kita harus membaca puluhan buku, menonton puluhan video, dan mencari dokumen elektronik tak terhitung jumlahnya hanya untuk menulis beberapa paragraf pendek atau bahkan mencantumkan sebuah kata.

Well, actually I can’t even diverse which part is fiction and which other is fact. Tapi yang membuat saya terkesan adalah, jika bagian tersebut adalah fiksi, itu brarti kecermatan dalam meramu, namun apabila ternyata fakta, itu berarti ketelitian dalam meriset. So it’s not too much if I give my endless salute for Mr. Brown, right?

And, ah, not to tell the twist. It really….. well just read it yourself, huh?

Anyway, walau pun begitu saya masih merasa ada plothole besar menyangkut Teabing yang ternyata dalang dari semua itu. I mean, HOW? Sungguh nggak bisa diterima akal bagaimana dia bisa melakukan itu sendirian. Bukankah akan lebih believable jika dilakukan sindikat internasional yang memiliki akses tidak terbatas. Dan gelagat Fache di akhir itu juga masih menggantung, tentang bagaimana dia akhirnya tau kalau buronan yang selama ini dia kejar ternyata salah dan dia berpindah ke orang yang lain segitu mudahnya. AAAAAAA I HAVE NO IDEA!!

Dan kalau ada SATU hal yang sangat saya sayangkan di buku ini (yang draftnya pada bagian tersebut pasti akan saya koyak, hancurkan, bakar, dan musnahkan permanen dari muka bumi jika saya penulis buku ini) adalah adegan romantis Langdon dan Sophie sebagai penutup cerita. I MEAN, WHAT-YOU-KIDDING-ME-PLEASE-NOT-AGAIN!! Tolong ya, Female-character-as-a-Side-kick itu sangat sangat sangat SANGAT MEMUAKKAN. Ya Tuhan, bisa nggak sih orang-orang barat membuat novel bagus tanpa konsep ‘Damsel in Distress’ klise dengan karakter side-kick merekaaa??? Padahal saya udah seneng lho di Angels and Demons konsep itu nggak kejadian. Well, Langdon and Vittoria not turns them out into some itchy-kitchy romance relation to ends a dramatic epilogue, ya di filmnya doang sih. EH TERNYATAAAA….

(ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻

Well, karena membahas bagian romance gile-lu-klise-abis itu bikin saya naik pitam, mending kita lupakan sajalah. Mari fokus ke keahlian meramu detail milik sang penulis!

So here you go, I give ★★★★ out of ★★★★★!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s