Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

The Art of Finding A Purpose

Jadi sekarang, setelah sekian lama, biarkan saya curcol nonsense lagi di sini (yang walau memang udah sering saya lakukan) tapi dengan bahasa Ibu saya sendiri. Awalnya, saya agak ragu mengungkapkannya, bahkan saat menulis ini pun saya masih ragu. Tapi sedikit banyak saya mulai percaya. Walau hanya setitik, tidak jadi soal.

Mungkin sudah begitu seringnya saya curcol galau di sini. Galau tentang masa depan saya, galau tentang tujuan hidup saya, galau tentang mengartikan apa itu egois dan apa itu logis, dan bagaimana membedakannya dengan panggilan hati.

Cieh, suka dramatis emang saya ini.

Sejujurnya, saya masih nggak tau apakah ini hanya bersifat sementara atau tidak, pemikiran tentang tujuan ini. Saya orang yang paling susah fokus. Jika saya pernah nulis di sini ada seorang teman yang bilang saya punya ‘talent’ di berbagai bidang, saya justru menganggap lain. Bukan talent, tapi ketertarikan. Saya punya ‘ketertarikan’ di banyak bidang. Itu jelas berbeda, tapi saya lebih suka gagasan saya sendiri.

Namun karena itulah fokus menjadi hal yang sangat mustahil buat saya, labil gitulah istilahnya. One day saya bermimpi jadi singer-songwriter yang mencabik gitar atau bass sambil menyanyikan lagu buatan saya sendiri di depan banyak orang, then the next day saya kepengen jadi freelance author-translator yang berkecimpung di dunia penulisan bergenre fantasi atau misteri, lalu the other day saya kepengen jadi designer yang melengkapi benda bernama ‘pakaian’ dengan sentuhan passion dan seni, lalu saya kepengen jadi profesional di bidang lingkungan untuk membantu melindungi harta negara berupa sumber daya alam yang tidak ada duanya ini. Selalu berubah-ubah.

Pernah saya mengungkapkan ini sama seorang temen, hanya celetukan sambil lalu sih, tapi temen saya lantas mengerutkan kening dan menjawab bingung “Banyak banget pengennya, sebenernya yang mana sih?”

Semuanya, to be honest. Itu terdengar mustahil memang, tapi saya ingin melakukan semua itu. So memang jelas saya ini manusia dengan banyak ketertarikan.

Tapi satu hal yang pasti, datang ke kantor jam sekian, duduk di meja kerja menghadap komputer dan menangani sejumlah data hingga jam sekian, pulang pada jam sekian, meeting pada jam sekian, dan besoknya semua akan berjalan sama lagi, bisa membuat saya gila. Rutinitas dan monotonis bukan untuk saya. Setidaknya rutinitas yang mengharuskan saya bekerja dengan tujuan mencari uang, bukan bekerja karena memang saya menyukainya.

Yah, anggaplah saya seorang idealis yang sombong. Tapi saya tipe yang terlalu tinggi hati untuk melakukan hal yang nggak saya sukai.

Nggak instan memang, tapi akhirnya saya memutuskan, saya ingin menjadi entrepreneur. Dalam hal apa tepatnya, I won’t reveal it yet, tapi yang pasti adalah industri kreatif. Karena di sanalah passion saya berada. Seni dan sastra adalah bagian dari hidup saya sejak lama.

Mengapa entrepreneur? Jujur aja, saya agak kurang klik dengan istilah itu, karena sampe sekarang jika mendengar kata ‘entrepreneur’ dan ‘pengusaha’ yang muncul di bayangan saya adalah bapak-bapak atau oom-oom karismatik dengan jas dan dasi yang rapi jali, duduk di belakang meja kerja dan menjalankan sebuah perusahaan bonafid.

Walau saya tau jelas itu salah. Memang, pemikiran dan penggambaran saya suka absurd.

Tapi setelah malang melintang di internet, ‘bertemu’ dan ‘menemukan’ orang-orang baru, belajar hal baru, melihat ke kenyataan, berpikir lalu menemukan hal baru lagi, saya baru sadar kalau itu salah. Saya menemukan paradigma baru.

Entrepreneur adalah jalan lain untuk mewujudkan idealisme kita. Kita porosnya, kita yang menentukan semuanya hingga detail terkecil. Apa yang lebih baik dari itu, menciptakan dunia kita sendiri? Lalu, kebetulan, saya lagi baca Nasional.Is.Me karya Pandji Pragiwaksono dan saya menemukan ini:

“Untuk pemerataan, strategi yang paling efektif menurut @revolutia adalah dengan investasi pada bidang industri. Dengan menjadi negara industri kita akan menyerap banyak tenaga kerja karena memang jumlah penduduk kita tinggi.”

Yang kalau boleh saya artikan, semakin banyak penduduk yang membuka usaha mandiri di Indonesia maka semakin sedikit angka pengangguran yang ada.

I mean, ini cara yang tepat! Alih-alih mengkritik dan nyinyir sama negara sendiri, we can stand making it up by our hands.

Ketika saya akhirnya memutuskan ini sebagai tujuan saya, beberapa hal secara ajaib menjadi lebih benar, hidup saya jadi terasa lebih masuk akal. Bagi saya, hati nurani adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Jika hati nurani mengatakan sesuatu, bukan tidak mungkin hal itu datang dari Tuhan, berbeda dengan logika yang berasal dari diri kita sendiri. Karena itu saya percaya bahwa hati kita selalu tau lebih baik dari logika kita. Heart knows best, logic only knows way.

Sejujurnya, saya nggak yakin kenapa saya menulis ini secara panjang lebar di sini. Saya bukan orang yang terbuka dan dalam keadaan biasa saya akan menganggap ini self-over-expose. Tapi entah bagaimana saya punya keyakinan tentang ini, dan sebagai orang verbal, saya harus menuliskan pemikiran saya jika tidak mau membiarkannya buyar berantakan.

Welcome world, I will ride on the right wheel, when the time is come.

Advertisements

2 thoughts on “The Art of Finding A Purpose

  1. Wahaha akupun punya banyak interest dan mimpi yang kebanyakan di ‘underestimate’ sama orang-orang. Tapi ya tutup telinga aja sih dan lanjutin apa yang emang jadi ketertarikan kita. Fighting lalskyyy! 😉

    Like

    1. Novskyyy~!!!! Iyeh, some people are so shallow to measure the other’s success dengan ukuran tingginya jabatan atau derajat yang diraih. However, as for me, the real success is about work what we love and loving our job sincerity. Insya Allah sukses itu sesimpel mencintai pekerjaan kita. That’s all.

      Thank yooooouuu for visit and commenting Novsk ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s