Bahasa · My Writer Side

Book Review : The Night Circus

17563814

Tittle : The Night Circus
Author : Erin Morgenstern
Translator : Berliani M. Nugrahani
Publisher : Mizan, Januari 2013
Pages : 610 pages

Buku termahal yang saya beli di Jakarta Book Fair kemarin, (iya termahal, cuma 30K :D). Actually I was finished it kinda soooo yesterday, tapi saya lagi mood jadi akhirnya saya review juga.

The Night Circus bercerita tentang sebuah sirkus ajaib, mengagumkan, mempesona yang datang tanpa pemberitahuan di mana saja, kapan saja, dan hanya dibuka mulai matahari terbenam hingga terbitnya. Berbeda dengan yang terlihat oleh para pengunjung sebagai sirkus dengan tenda-tenda ajaib, atmosfer seperti dunia mimpi, dan penampil sirkus laksana penyihir imajinasi, pada kenyataannya sirkus tersebut adalah ajang sebuah permainan berbahaya. Celia dan Marco adalah dua orang yang ditakdirkan untuk bertarung satu sama lain melalui sihir dengan samaran trik sulap dan ilusi. Namun ketika kedua lawan yang seharusnya saling menjatuhkan itu malah kemudian saling jatuh cinta, bukan hanya nyawa mereka berdua, tapi nyawa semua orang dipertaruhkan di sana.

Satu hal yang menarik saya untuk mengincar (dan akhirnya kebeli juga yaaaayy!!) buku ini adalah nama sirkusnya, Le Cirque des Reeves, yang KEBETULAN juga adalah nama yang saya pakai untuk cerita saya tentang sirkus dengan si cebol sebagai tokoh utamanya. Sangat menyedihkan sebetulnya, karena saya keduluan (walau dalam kasus ini, yang duluan terbit emang buku ini sih, tapi saya kan taunya belakangan T_T, COME ON!! MASA SAYA MESTI NGALAH TERUS NGUBAH NAMA SIRKUS SAYA SEEH??).

Saya sukaaaaa sekali covernya. Metalic red, my favorite kind of red, dengan motif awan-awan Akatsuki di situ. Walau pun setelah melihat sampul aslinya, bagus juga. Ya sudahlah sama-sama bagus kok.

Me kinda likey the characters. Walau pun masih jauh lebih kuat karakterisasi Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata, tapi saya suka gagasan memadukan kemisteriusan, kekuatan, dan keajaiban secara elegan di tiap tokoh. Agak kurang variasi sebetulnya. Mereka unik dan kuat, namun hampir mirip. Tak ada yang benar-benar stand behind or ahead, tapi mungkin ini semacam kriteria yang diinginkan sirkus ya, bolehlah. Saya jatuh cintaaaaa sama tokoh Poppet dan Widget. They just seems like Kagamine Len and Rin twin for me!! But of course with red hair and non-singing ability and they live in circus.

credits: by chiki5542.devianart.com
credits: by chiki5542.devianart.com

Alurnya campuran, dan agak sulit dicerna juga sebetulnya karena tidak ada efek ‘future’ atau ‘past’-nya serta tahun yang tertulis di tiap awal bab sangat mudah terlupakan. Dan lumayan lambat, oke, kalau boleh dikatakan, malah lambaaaaaaaaat sekali (saking lambatnya saya takut keburu tua =_=). Tapi penggambaran settingnya oke. Benar-benar terlihat penulis punya bayangan solid tentang sirkus tersebut dalam pikirannya. Bahkan mungkin banget dia sudah punya model cetak biru nyata dari Le Circue De Reeves itu sendiri.

Yang mengagumkan (dan rada menyebalkan juga, sebetulnya), adalah cara penyampaian ceritanya yang sangat membully pembaca, terutama di bagian dialog. Bukan tipe penyampaian yang dapat dipahami jika otak kita sedang tidak pada tempatnya. Penuh ungkapan, idiom, metafora, dan secara tidak langsung mengandung banyak arti tertentu yang sangat menentukan kelangsungan cerita. Makanya seringkali sambil bersungut-sungut saya terpaksa baca ulang bagian-bagian tertentu (otak saya emang suka minggat seenaknya =_=) untuk bisa mengerti apa maksud perkataan si tokoh.

Lalu, dear pembaca yang budiman, don’t be fool by the synopsis. Kalo baca di sinopsis, ceritanya cuma bakal seputar cinta terlarang or something, tapi begitu membaca isinya, aslinya sangat-sangat rumit. Berkaitan tiap halaman ke halaman dengan begitu banyak tokoh, latar, konsep, dan emosi yang dilibatkan. It’s not recommended for people who are easy-reader, anda bisa migren setelahnya.

Ada satu lagi yang mengagumkan buat saya. Sepanjang ingatan saya, melahap banyak cerita fantasi yang berbeda, baru pertama kali saya temukan yang seperti ini. Logikanya nyata, jelas, benar-benar masuk akal, believable, acceptable. Bahkan lebih logis dibanding cerita non-fantasi mana pun yang pernah saya baca. Premisnya bukan hanya A → B, A → C, C → D, seperti kebanyakan. Melainkan secara berurutan A → B, B → C, C → D, D → E, sehingga tidak D → tidak E, tapi tetap A → D. Macam itulah. Agak rumit, tapi sangat amat logis sekali. Dan saya suka pengeksekusian akhirnya, dengan prinsip Bailey as not-the-chosen-one-but-anyone-can-be. It’s special.

It’s kinda book-hangover after I put this book down due to finished. Atmosfer sirkusnya masih terbawa-bawa, berikut penampil-penampil sirkusnya, walau pun Bailey agak mudah dilupakan. Mungkin kalau Le Cirque des Reeves ada di dunia nyata, saya juga akan menjadi Reveurs.

So, how many stars? Walau agak confusing but it’s too beautiful and genius to be true. Say ★★★★★ of ★★★★★! See a good job Mrs. Erin Morgenstern!! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s