Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Lifestyle, lagi, pada akhirnya

Udah lama saya nggak nulis kritikan (baca: racauan) absurd lagi di blog dan, ya, saya akui lumayan kangen juga. Keluarga saya memang hanya punya quality time yang sangat-sangat-sangat terbatas. bisa dibilang hanya beberapa waktu saja setahun. Dua kali di dalam mobil saat perjalanan pergi dan pulang ke kampung pada hari raya Idul Fitri, dan yang lainnya juga di dalam mobil, saat pergi dan pulang dari makan bareng di luar rumah. Tapi saya lumayan sangat meng-appreciate waktu-waktu ini, di mana kami biasanya akan sangat saling berbicara dan bercerita tentang banyak sekali hal. Mulai dari yang berkualitas sampe sangat-sangat-enggak-berbobot-sama-sekali.

Kebetulan tadi di saat pulang dan pergi makan malam bareng pun kami masih melakukan hal yang sama. Berawal dari cetusan ibu saya tentang prestasi Sea Games oleh Vietnam yang ngalahin Indonesia, pembicaraan kami pun merembet ke banyak hal (Well, sebenarnya ‘kami’ di sini hanya melibatkan saya dan ibu saya karena adik laki-laki dan ayah saya lagi seru ngomongin Rolls-Royce dan kakak laki-laki saya lagi main Devil May Cry di rumah).

Saya enggak akan panjang lebar di sini, karena toh memang pembicaraannya tidak panjang. Tapi begini, kami sama-sama setuju bahwa Indonesia mengalami kemunduran di berbagai bidang, di banyak sekali hal. Indonesia merdeka (hampir) 70 tahun silam tapi toh beberapa negara ASEAN lain, yang sama luluh-lantak atau bahkan jauh lebih dihancurleburkan keadaannya dari Indonesia pada jaman kolonial dulu, berhasil bangkit lebih cepat dan bahkan menyabet pembangunan dan kesuksesan lebih besar. Oke ini memang hal yang sangat mungkin bagi beberapa negara yang statusnya persemakmuran (Inggris, lagi). Tapi (menurut cerita Ibu saya, karena saya belom lahir hehe *akhirnya berasa muda*) perang Vietnam, yang juga dinamakan perang Indocina, terjadi HANYA sekitar 40 tahun lalu, tahun 70an (tepatnya tahun 1957-1975, yang saya dapet dari google), dengan hasil yang konon lebih parah daripada Indonesia pada jaman penjajahan Jepang (disinyalir ini karena pada masa itu Indonesia lebih kuat jika dibandingkan Vietnam) tapi kini bahkan prestasinya di bidang olahraga toh kini bisa lebih tinggi, berdasarkan perolehan medali SEA GAMES Juni lalu.

Kemudian kami pun membandingkan Indonesia dan Malaysia, kali ini di bidang pendidikannya. Jaman Soeharto dulu, cerita Ibu saya, guru-guru Indonesia diminta dan dikirim ke Malaysia untuk mengajar orang-orang Malaysia, yang saat itu taraf pendidikannya masih jauh-jauh-jauh lebih rendah. Kini, dua ‘kelas’ orang Indonesia pergi ke Malaysia dengan dua alasan yang berbeda. Kelas rendah, untuk menjadi pramubakti. Kelas yang lebih tinggi, untuk menuntut ilmu karena mereka berpendapat ‘toh setidaknya pendidikan Malaysia lebih baik daripada Indonesia’.

Oh dan jangan, tolong jangan, bandingkan dengan Thailand. Kita kalah di banyak hal dengan mereka, suka atau tidak.

SEDIH?

Oh saya juga. Jangan ditanya.

KENAPA?

Hanya itu pertanyaan yang dari dulu menggantung di kepala saya.

Dulu saat masih sekolah, guru-guru saya selalu menyudahi pembicaraan miris ini dengan dua alasan:

  1. Orang Indonesia bodoh.
  2. Pemerintah Indonesia korupsi.

Tapi kini, semakin sering saya malang melintang kurang kerjaan di internet dan berjejaring dengan banyak orang yang latarnya belakangnya berbeda-beda, bidang keahliannya berbeda-beda, saya jadi sadar satu hal.

Orang Indonesia bodoh?

TIDAK SAMA SEKALI.

Sebaliknya, orang Indonesia itu luar biasa. Ketangkasannya, kecerdasannya, kecermatannya, keuletannya, imajinasinya, kreativitasnya, walau, yah kalau urusan kreativitas memang tidak bisa dibandingkan dengan Jepang yang kreativitasnya sangat tidak manusiawi saking tingginya.

Bakat luar biasa di Indonesia itu banyak sekali. Percayalah, banyak sekali. Dan saat saya bicara bakat, jangan dipikir ini hanya tentang bidang seni kreatif saja. Bakat itu bentuknya banyaaaaak sekali, dan orang-orang Indonesia memiliki hal cemerlang itu dalam diri mereka masing-masing.

Hanya mengapa kita hampir selalu kalah dengan beberapa negara ASEAN secara khusus dan negara Asia lain secara umumnya? Saat ini saya masih berpegang teguh bahwa prinsip “kurang dana.” dan kurang support juga, sebetulnya.

Tapi apakah Indonesia adalah negara miskin?

TIDAK. TIDAK SAMA SEKALI.

Karena setelah saya malang melintang di jejaring internet pula, saya pun mengetahui bahwa kaum borjuis dan sosialita Indonesia itu jauh-jauh-jauh lebih banyak daripada yang anda bayangkan, dan jauh-jauh-jauh lebih hartawan daripada yang anda bayangkan pula.

Iya, saya lumayan berterimakasih sama majalah Harper’s Bazaar Indonesia, yang telah membuka mata saya bahwa di Indonesia ini ada orang  yang rela mengeluarkan kocek seratus dua puluh lima juta rupiah hanya untuk sebongkah tas.

Oke, kembali ke topik.

Saya memang sering denger dari guru Kewarganegaraan saya waktu SMP dan SMA bahwa Indonesia ini tingkat ekonominya tidak merata. Tapi saya nggak sampai berpikir ternyata ketidakmerataan itu sampe SEBEGINI parahnya. Padahal kalau dipikir, dengan sepotong kecil dari ke-‘high-class’-an kaum borjuis itu akan sangat-sangat berguna bagi mereka yang berbakat untuk setidaknya mengangkat derajat Indonesia biar tinggi sedikit, gitu ya.

Saya nggak akan bicara korupsi-korupsi-an lagi, karena itu topik basi yang saking basinya bikin telinga saya muak.

Tapi satu saran dari saya bagi anda yang High-Class: Tolong perhatikan gaya hidup anda.

Berdasarkan dari esai yang saya tulis untuk Transparency International Writing Competition, (yang enggak digubris, padahal saya tau persis pemaparan saya bener T_T *kekeuh*) akar dari mayoritas kejahatan ekonomi, khususnya di Indonesia saat ini, adalah gaya hidup (karena saat ini saya tidak akan bicara tentang sekelompok orang yang berniat menguasai dunia dengan mengendalikan keuangan global, seberapa pun klisenya itu terdengar).

Saya tidak berniat menjudge, karena saya percaya bahwa anda patut menikmati hasil kerja keras anda sendiri. Saya hanya berharap agar anda, dan kita semua sebetulnya, termasuk diri saya sendiri, untuk lebih berhati-hati dengan gaya hidup kita. Budaya dari luar berdatangan banyak sekali, dan terkadang memang terlihat sangat rupawan tapi pada akhirnya, apakah gaya hidup demikian cocok diterapkan untuk keadaan negara ini? Saat ini?

Banyak sekali orang-orang berbakat di luar sana yang dapat membuat terobosan besar bagi kemajuan pembangunan Indonesia dengan support moral dan material yang cukup. Saya yakin kita semua ingin Indonesia lebih maju, begitu kan? Jadi sebelum mengeluarkan cek satu miliar untuk sebuah Porsche yang secara ga langsung berarti menyumbang satu miliar ke negara kaya yang sedang mencoba merambah dunia itu, coba dipikirkan sekali lagi apa yang bisa dilakukan dengan satu miliar tersebut bagi kemajuan bangsa Indonesia?

Cheers.

PS: Saya sadar pengetahuan saya memang sangat-sedikit-sekali, karena itu saya terbuka dengan kritik dan saran bagi racauan saya di atas. Kolom komentar saya terbuka untuk berdiskusi baik bagi anda yang setuju maupun tidak serta bagi anda yang mempunyai ilmu lebih untuk saya pelajari 😉

Advertisements

2 thoughts on “Lifestyle, lagi, pada akhirnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s