Bahasa · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Wawancara dengan Tuhan

“Aneh ya, aku sering bertanya-bertanya pada diriku sendiri.”

Jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Satu-satunya penerangan di ruang tertutup itu hanya berasal dari layar kaca datar yang menyorot putih terang menyilaukan. Sepasang mata terpancang layar. Jari menari di atas papan ketik.

Tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk.

Langit di luar sana gelap, tanpa keberadaan benda-benda langit. Sunyi dan hampa. Bagai dasar samudera, bagai peraduan bayi yang belum dilahirkan, bagai sisi dalam peti mati dalam liang lahat, bagai tambang batu bara yang ditinggalkan, bagai lubang hitam di luar angkasa—jika memang ada. Bagai….entitas hampa udara.

“Untuk apa manusia diciptakan? Kalau memang untuk membunuh, merusak, merampas, membakar, menghancurkan, melenyapkan, dan semua kata kerja berkonotasi negatif yang tercatat di kamus besar?“

“Kau manusia. Kalau merasa tidak suka diciptakan, iris nadimu saja.”

“Bukan, begini, biar kuperjelas, bukankah kau berpikir ini sangat tidak adil? Maksudku, kita kan tidak menciptakan diri kita sendiri. Tuhan yang menciptakan kita. Tapi Dia lantas menuntut kita untuk berbuat ini-itu dengan mengiming-imingi ganjaran surga atau neraka. Bukankah itu egois?”

“Bagian mananya?”

“Semuanya. Kalau boleh memilih, lebih baik aku tidak usah diciptakan saja. Sulit sekali harus mematuhi ini-itu. Kau tahu, hanya karena suatu entitas memiliki kekuatan yang sangat besar, bukan berarti dia memiliki hak untuk mengendalikan semuanya.”

“Tapi bukankah memang untuk itu suatu entitas berkekuatan besar diciptakan? Untuk mengambil alih kendali?”

“Jangan berpikiran sempit. Kau tahu, baik atau buruk, itu kan pilihan kita sendiri pada akhirnya. Kalau Dia ingin kita bertabiat baik, Dia bisa saja kan membuat kita seperti itu secara mutlak dari awalnya? Itu akan sangat mudah bagi semua pihak. Tapi Dia malah menciptakan kita dengan kemampuan untuk berbuat semau kita. Ya tentu saja akan ada yang buruk juga nantinya. Maksudku, Dia punya kemampuan untuk membuat kita semua MASUK dalam surgaNya. Tapi Dia malah tidak menggunakan kemampuan itu. Mengapa menurutmu? Supaya neraka yang Dia ciptakan bisa ada isinya? Atau apakah terka-menerka mana-yang-akan-masuk-neraka-dan-mana-yang-surga menjadi permainan yang seru untuk-Nya?”

“Hmm… Menurutku Tuhan ingin memberikan kita pilihan.”

“Pilihan kalau berbuat baik masuk surga dan kalau jahat masuk neraka? Itu sih hukum yang Dia buat sendiri. Lihat kan, kita mungkin diberikan pilihan, tapi pada dasarnya kita diperdaya.”

“Kupikir memang hukum seharusnya ada.”

“Kau gampang diperdaya, ya?”

“Ah, kau terlalu liberalis.”

“Terserah. Intinya, kalau yang bisa manusia lakukan adalah merusak dan menghancurkan, mengapa Tuhan menciptakan manusia, kau pikir? Bukankah lebih gampang menciptakan dewi-dewi pelindung alam saja, gitu, misalnya?”

“………….”

“Hei?”

“………….”

“Kau masih di sana?”

“…………”

“Hei, kenapa malah diam?”

“Ketika Tuhan menciptakan manusia, mungkin Ia sedang antara bosan atau punya selera humor yang sangat besar.”

“Apa? Bagaimana? Ceritakan padaku.”

“Menciptakan suatu makhluk yang sudah kau setel apa maunya, itu membosankan, kan.”

“Tidak ada unsur kejutannya, ya?”

“Hm, itu termasuk yang kedua. Selera humor yang baik tentu dapat menerima serangan kejut dengan lebih mudah. Maksudku, tinggal tertawa saja.”

“Seperti: ‘Hahahaha aku sudah tau si A ini akan membuat sumber energi nuklir dan meledakkan chernobyl, seru kan? Seru kan?’ atau ‘Hahaha aku sudah tahu sekte rahasia ini sebenarnya berusaha mengendalikan dunia dengan mencoba mengadu-domba umat-umat tak-rahasia yang ada tapi nantinya malah akan menghancurkan dirinya sendiri. Bagaimana? Tidak tertebak kan endingnya?’ Begitu?”

“Yah, kurang lebih.”

“Seperti anak kecil yang memutar jukebox dan tertawa ketika ia dikejutkan oleh badut yang keluar dari dalamnya?”

“Persis.”

“Ih, egois sekali.”

“Egois?”

“Membuat makhluk ciptaan-Nya memainkan permainan yang sangat lucu untuk-Nya sendiri. Menurutmu bagaimana?”

“Bagaimana?”

“Kalau jadi Dia, aku tentu saja akan tertawa terbahak-bahak melihat manusia bahkan saling membunuh untuk memperebutkan harta karun yang sebenarnya milikku. Lalu saat atmosfirnya mulai membosankan, aku bisa saja tiba-tiba mengambilnya kembali dan menjatuhkannya untuk orang lain. Maka permainan akan kembali menarik.”

“Hahahahaha!”

“Kenapa malah tertawa?”

“Kau tahu? Kurasa ada benarnya juga. Teorimu itu, maksudku.”

“Nah, nah, rupanya kau mulai berpikiran sama denganku kan, ha!”

 “Yah, bagaimana ya membalasnya? Tapi sini, kuberikan pengakuan resmi.”

“Pengakuan? Pengakuan apa?”

“Kau tahu, Aku pikir Aku memang egois.”

Satu-satunya penerangan di ruang tertutup itu hanya berasal dari layar kaca datar yang menyorot putih terang menyilaukan. Sepasang mata terpancang layar. Jari terpaku di atas papan ketik sementara jarum jam menunjuk pukul dua tiga puluh dini hari, suaranya keras menggema sunyi.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik.

Advertisements
My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Crawling Out of Insecurity


In the perspective where saying “Hi” is equivalent with saying “I still love you” to the long-missing Ex, eye-contact resemble the feeling of wearing black Abaya in the environment where people walking nude, and make a social approach giving similar nerves like a junior matador trying to conquer his first bull in the world campionship, I’m still unsure if the terms “Insecure” and “Introvert” are all the same.

Yes, I’ve been linger this kind of perspective for my lifelong 21-almost-22 years. The first sentence labelled to me when I was a little girl was “shy”, tho it’s proclaimed as expired now as I’m much more sociable in the family gatherings and other kinds of human gathering. But deep inside I’m still the same.

Now as I growing up, the definition of insecurity evolve not just revolving social tendencies, but also emotional. Tho I still debating myself whether insecurity and introversion is one unseparatable pack, I am both of it.

Am I proud? Because it sounds like that, huh? After reading a lot of books about introvert-extrovert matter, yes I am. But once I have obligation to get along with people new or diving into some new worlds, those sentences of introvert superiorities just evaporate from my brain’s dictionary. I could feel only fear. I could think only rejection, pretention, opression, anything with similar negative vibes.

Maybe because I’m too egoistic, because I think the world revolve around me thus people, too, will threat me as an only primary object to defect. What a narrow-mind it would sound.

Unfortunately, my siblings suffer the same. Meetings and gatherings and bands of people never been our cup of tea. My lil’ brother even feared the pizza man arrive in our door (believe me, because it happen just by now I writing this) as for me, my insecurities mainly come in the shape of being vulnerable and anxious.

But the world rotating in the way that you can’t comprehend, sometimes. It won’t bother to approve your insecurity or anxiety attitude. Now, now, if what you looking for are tips or solutions, here I serve you neither. Instead go to your psychologist because they aren’t hired for no reason. Here’s a little secret: I often immerse myself to the packs of human and naturally being a sociable creature then escaping myself to the restroom or toilet in certain time to talking with myself, to give myself some private room because otherwise I’ll go insane.

Beside that, I don’t have any hacks to spread to the fellow anxiety-sufferers. I think you should find yourselves or simply just locked yourself on your room and ask the pizza man to leave yours on the doormat because you’re too afraid of seeing him face-to-face.

Oh, well, apparently I have some suitable tunes to be your soundtrack as you reading this long post.