Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · Uncategorized

It Start to Smells like Ramadan

Agak aneh mungkin, tapi saya punya kebiasaan mengidentikkan suatu circumstance dengan aroma. Mungkin karena indera penciuman saya memegang kendali major di tubuh saya atau, saya curiga, hal ini hanya karena saya orangnya random aja sih. Karena sesuai dengan ke-random-an saya, aroma yang kadang saya pakai pun sangat sifatnya absurd dan surealis, bahkan bisa dibilang bukan aroma yang bisa dibaui oleh indera penciuman. (hah?).

Bulan Ramadan sudah tiba sejak persis seminggu lalu, tapi entah kenapa sepertinya saya nggak terserang hype-nya sama sekali selama seminggu ini. Puasa ya puasa saja, sahur ya sahur saja, tarawih ya tarawih saja, eh, enggak ding, saya sudah lima hari bolos tarawih karena sedang diserang musim UAS dan kerjaan kantor yang berjejer rapi menunggu dilirik (iya, iya saya tau itu semua urusan duniawi, tapi ya gimana ya gimana dong)

Kemudian hari ini saat saya berkendara mengarungi jalanan Pamulang-Kebayoran-Sawangan (ini urutannya random, mohon diabaikan) baru terasa bahwa saat ini sudah bulan puasa ternyata. Maksud saya, BENAR-BENAR bulan puasa.

Kenapa ya? Mungkinkah karena jalanan yang lebih kalem? Mungkin karena energi baru terbarukan yang tersuar dari masjid-masjid dan mushala yang tersebar di sepanjang jalan? Mungkin karena lapak-lapak dadakan yang tiba-tiba menjamur di pinggir trotoar ribut menjajakan makanan berbuka? Saya curiga karena yang terakhir sih, tapi selain itu, rasanya saya menghirup aroma yang lain, wangi yang lain. Wangi bulan Ramadan.

Jadi, seperti apa wangi bulan ramadhan itu? Oke, sini biar saya jabarkan. Bagi saya, wangi bulan Ramadan itu seperti:

  1. Tidur di kasur yang sejuk dengan piyama super nyaman, karena keluarga saya punya kebiasaan untuk mengganti seprai, gorden, dan alat makan khusus di bulan Ramadan, dan khusus untuk saya, selalu mengganti seprai dengan bed cover tebal kesayangan warna putih bercorak bunga-bunga biru dengan wangi deterjen laundry dekat rumah.
  2. Udara panas penuh dengan nyamuk keparat berdenging-denging di telinga, saya tidak pernah lupa di masa post-SMA dan Pre-kuliah dulu, ketika saya nggak punya hal lain untuk dikerjakan di bulan ramadan selain ngapal kanji jepang di tengah malam bersuhu 34C dengan tangan sibuk melambai-lambaikan raket nyamuk ke udara hampa.
  3. Sore hari dengan langit oranye cerah di acara buka puasa bersama ketika SMA dulu, TBH, walau saat itu saya sebal setengah mati, sekarang saya kangen ikut pesantren kilat yang rutin diadakan di bulan Ramadan ketika SMA, saya kangen dengan hype buka puasa bersama teman-teman kelas yang diadakan sekolah. Ah, mungkin tahun ini saya harus menyempatkan diri ikut acara mereka.
  4. Wangi kertas Al-Quran, es jelly sirup, dan lumpia udang, oke, ini sangat harfiah. Saya rasa tak perlulah kita bahas benda-benda rutin Ramadan.
  5. Keterpaksaan untuk bangun dari tidur setelah subuh, nggak ada yang tau seperti apa aromanya keterpaksaan? Saya juga sih. Tapi di bulan Ramadan, setiap saya terpaksa bangun pagi untuk pergi ke sekolah (dan kantor, mulai tahun ini) setelah tidur shubuh, saya mencium wangi yang sama. Aromanya seperti embun, seprai bantal, aspal dan debu, serta AC kelas (dan AC kantor) yang bercampur jadi satu. Nyaman tapi mendesak.
  6. Aroma senyum di setiap wajah anggota keluarga, bagaimana cara mendeskripsikan aroma senyum? Mungkin seperti wangi bubble gum dan pisang, dengan sedikit letupan meriah kembang api.
  7. Wangi oven dan kue-kue, menuliskannya saja sudah bikin saya bahagia. Aroma yang muncul paling kuat di penghujung bulan Ramadan ini selalu membuat saya ingin melompat sampai ke bulan saking bahagianya sekaligus terpuruk di pojok kasur saking patah hatinya. Ditinggal bulan Ramadan itu lebih sakit daripada ditinggal pacar (yah maap jadi curhat 😦 )
  8. AC mobil dan hamparan sawah, wangi ini makin kuat tercium ketika Ramadan hampir berakhir, bersamaan dengan wangi nomor 7. Bisa diilustrasikan dengan mobil yang berjajar di jalan alternatif menuju daerah pedalaman Indonesia, masing-masing dengan seabrek perbekalan di bagian luar-dalam-atas-bawah-kanan-kiri-depan-belakang kendaraan mereka. Mudik, tentu.
  9. Dan aroma-yang-tak-terasa-seperti-aroma lainnya yang kalau saya list, mungkin nggak kelar sampe solat tarawih di masjid kubah mas bubaran besok malem.

 

Ah ya, selain aroma, saya juga punya lagu-lagu yang sangat identik untuk bulan Ramadan bagi saya. Bukan karena temanya islami atau apa, sebenarnya hanya karena di Ramadan-Ramadan lalu saya terlalu banyak dengerin lagu-lagu tersebut sih.

Maap, saya memang random. 😦

Advertisements

3 thoughts on “It Start to Smells like Ramadan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s