English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

#LearnToday 10: Know Your Shoes

“Don’t let them define you and don’t even try to define them.
For every persona in this earth have their own thoughts, even those which are too peculiar for other to comprehends.”
Advertisements
Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

It started to Smells Like Ramadan (Ep. 2)

Processed with VSCO with g3 preset

Saya menulis post tentang ini di Ramadan tahun lalu, dan saya merasa ingin menuliskannya lagi. Sebagian besar sebagai bentuk syukur dan terima kasih saya pada Tuhan karena diijinkan untuk tetap hidup di satu lagi bulan Ramadan, sebagian lagi karena sebab agar supaya saya tetap semangat berpuasa. ehe.

Bulan Ramadan memang selalu mempunyai aroma tersendiri bagi hidung saya. Namun tidak selalu sama setiap tahun, karena manusia kan selalu berubah, yes?

Nah Ramadan di tahun ini, bagi saya wanginya seperti:

1. Es Sirup Timun Suri. Yang mana di bulan-bulan biasa buah ini akan dicuekin saja, tapi di bulan Ramadan mendadak jadi selebriti. Saya bukan yang suka-suka amat dengan timun suri. Saya kurang suka teksturnya yang agak sandy dan meninggalkan banyak remah-remah di larutan es sirop. Tapi semua setuju kan kalau timun suri memiliki wangi yang sangat khas? Bagi orang lain wangi timun suri itu menyenangkan, seperti…ya seperti timun suri #plak. Tapi hidung random saya mentranslasikan wangi timun suri menjadi letupan kegembiraan di saat-saat berkumpul bersama keluarga di meja makan, menunggu waktu berbuka puasa sambil saling bercerita dan tertawa, persis seperti imej keluarga cemara. Selain itu wangi timun suri juga terasa seperti rangkuman kesibukan dan kebahagiaan di bulan Ramadan, mulai dari lapernya, hausnya, panasnya, tarawih, hingga bangun sahur dini hari. Mulai dari jokes receh bulan Ramadan seperti “Berbukalah dengan yang pasti karena yang manis belum tentu pasti” (duh elah), hingga hawa jalanan di pagi hari kerja yang dipenuhi pengendara yang oleh-oleng karena ngantuk segenap jiwa raga.

2. Wangi sajadah berdebu. Kebetulan rumah saya habis dibongkar dan direnovasi baru-baru ini sehingga meninggalkan perabot yang semuanya berbau debu. Tapi bukan, bukan karena itu sih. Lebih tepatnya saya mengasosiakan dengan sajadah karpet di musholla dan masjid. Baik yang di dekat rumah tempat saya biasa tarawih, hingga musholla kampus tempat solat di waktu siang. Kulit saya lumayan alergi debu, efeknya bisa gatal-gatal, merah-merah, ruam-ruam. Tapi kok ya sealergi-alerginya, tetap saja saya lumayan menyukai wangi sajadah musholla yang berdebu karena alasan yang saya sendiri tidak bisa jelaskan.

3. Petak-petak sinar matahari. Dari kedua wangi harfiah di atas, yang satu ini memang sukar dijelaskan. Tapi matahari selalu menyorot tajam di bulan Ramadan, yes? Banyak orang berkata semakin panas maka semakin baik karena itu berarti dosa kita di dunia sedang dibakar dan dikurangi. Jadi saya yang benci matahari pun sebisa mungkin tidak memprotes bola besar sombong itu kalau di bulan Ramadan. Dan ternyata matahari tidak begitu buruk juga di Bulan Ramadan, karena jika sudah condong ke Barat dan sinarnya menembus kisi-kisi jendela dan lubang angin secara horizontal, akan membentuk pola dan petak yang cantik di lantai. Selain itu matahari yang condong ke Barat itu menandakan semakin dekatnya waktu berbuka puasa, dan mana yang lebih menyenangkan dari waktu buka puasa, betul?

4. Nyamuk keparat tidak tahu aturan yang mendadak punya tambahan bala bantuan. Kemungkinan besar karena musim kemarau memang musimnya nyamuk. Saya kurang paham juga sih aroma nyamuk itu seperti apa. Malah mungkin nggak ada aromanya, siapa tahu, kan. Oke ini memang agak surreal.

Dan sebagian besarnya kurang lebih sama dengan wangi Ramadan di tahun yang lalu. Nonetheless, seperti apa pun wanginya, Bulan Ramadan tetap menjadi bulan yang paling saya sukai dalam setahun.

Selamat berpuasa kembali, teman-teman.

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Reset. Restart. Renew.

00840020

When others are move out in order to work, my case is the opposite: I work in order to move out.

A drastic life comes by a single call, then I packed all my belongings and aimlessly wandered. Not a totally aimeless, though, but still…

It still fresh in my mind: those confusion and anxiety. I’ve always convinced myself that I born with this steel armor attached all over my body, like a legend warrior. So that I could even walk in fire if I want.

But that time was different. A drastic changes completely decayed my armor, left me naked and vulnerable.

And I slowly gathered up everything. Gathered those armor that I’ve always been took pride of, and glued them back with a sort of adaptability and strength that I’ve also took pride of.

Power, a complete and almighty one, maybe my main purpose. The feel of being able to take control of your own life is unbeatable, it reflect a pure strength. And that’s maybe the thing I’ve been looking for.

But sadly, if I thinking about it, from another side of the perspective, gaining power is not my mere motive. I moved out myself in order to runaway. Which, ironically, contradict the whole thing.

I’ve told ya’ I’m merely a humbag contains thousands opposite traits and thoughts, I’ve told ya’.

But, hey, aren’t we all a bunch of pilgrims who runaway from a particular things in life? Am I have to beg forgiveness? It’s not a sin, isn’t?

I don’t know.

Runaway is for a coward. Stay and fight is the only way for those valiant hearts. Maybe I’m not as brave and daring as I always think I am.

Are we lose?
Are we lost?
Or are we just understand our limits too well?

Right after the farewell was bid, the door of another hardness is opened.

Welcome to the wonderland, babe. We’re not mad here. We’re just…insanely struggling. To breath, to life, to eat, to love, to do everything.