Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

It started to Smells Like Ramadan (Ep. 2)

Processed with VSCO with g3 preset

Saya menulis post tentang ini di Ramadan tahun lalu, dan saya merasa ingin menuliskannya lagi. Sebagian besar sebagai bentuk syukur dan terima kasih saya pada Tuhan karena diijinkan untuk tetap hidup di satu lagi bulan Ramadan, sebagian lagi karena sebab agar supaya saya tetap semangat berpuasa. ehe.

Bulan Ramadan memang selalu mempunyai aroma tersendiri bagi hidung saya. Namun tidak selalu sama setiap tahun, karena manusia kan selalu berubah, yes?

Nah Ramadan di tahun ini, bagi saya wanginya seperti:

1. Es Sirup Timun Suri. Yang mana di bulan-bulan biasa buah ini akan dicuekin saja, tapi di bulan Ramadan mendadak jadi selebriti. Saya bukan yang suka-suka amat dengan timun suri. Saya kurang suka teksturnya yang agak sandy dan meninggalkan banyak remah-remah di larutan es sirop. Tapi semua setuju kan kalau timun suri memiliki wangi yang sangat khas? Bagi orang lain wangi timun suri itu menyenangkan, seperti…ya seperti timun suri #plak. Tapi hidung random saya mentranslasikan wangi timun suri menjadi letupan kegembiraan di saat-saat berkumpul bersama keluarga di meja makan, menunggu waktu berbuka puasa sambil saling bercerita dan tertawa, persis seperti imej keluarga cemara. Selain itu wangi timun suri juga terasa seperti rangkuman kesibukan dan kebahagiaan di bulan Ramadan, mulai dari lapernya, hausnya, panasnya, tarawih, hingga bangun sahur dini hari. Mulai dari jokes receh bulan Ramadan seperti “Berbukalah dengan yang pasti karena yang manis belum tentu pasti” (duh elah), hingga hawa jalanan di pagi hari kerja yang dipenuhi pengendara yang oleh-oleng karena ngantuk segenap jiwa raga.

2. Wangi sajadah berdebu. Kebetulan rumah saya habis dibongkar dan direnovasi baru-baru ini sehingga meninggalkan perabot yang semuanya berbau debu. Tapi bukan, bukan karena itu sih. Lebih tepatnya saya mengasosiakan dengan sajadah karpet di musholla dan masjid. Baik yang di dekat rumah tempat saya biasa tarawih, hingga musholla kampus tempat solat di waktu siang. Kulit saya lumayan alergi debu, efeknya bisa gatal-gatal, merah-merah, ruam-ruam. Tapi kok ya sealergi-alerginya, tetap saja saya lumayan menyukai wangi sajadah musholla yang berdebu karena alasan yang saya sendiri tidak bisa jelaskan.

3. Petak-petak sinar matahari. Dari kedua wangi harfiah di atas, yang satu ini memang sukar dijelaskan. Tapi matahari selalu menyorot tajam di bulan Ramadan, yes? Banyak orang berkata semakin panas maka semakin baik karena itu berarti dosa kita di dunia sedang dibakar dan dikurangi. Jadi saya yang benci matahari pun sebisa mungkin tidak memprotes bola besar sombong itu kalau di bulan Ramadan. Dan ternyata matahari tidak begitu buruk juga di Bulan Ramadan, karena jika sudah condong ke Barat dan sinarnya menembus kisi-kisi jendela dan lubang angin secara horizontal, akan membentuk pola dan petak yang cantik di lantai. Selain itu matahari yang condong ke Barat itu menandakan semakin dekatnya waktu berbuka puasa, dan mana yang lebih menyenangkan dari waktu buka puasa, betul?

4. Nyamuk keparat tidak tahu aturan yang mendadak punya tambahan bala bantuan. Kemungkinan besar karena musim kemarau memang musimnya nyamuk. Saya kurang paham juga sih aroma nyamuk itu seperti apa. Malah mungkin nggak ada aromanya, siapa tahu, kan. Oke ini memang agak surreal.

Dan sebagian besarnya kurang lebih sama dengan wangi Ramadan di tahun yang lalu. Nonetheless, seperti apa pun wanginya, Bulan Ramadan tetap menjadi bulan yang paling saya sukai dalam setahun.

Selamat berpuasa kembali, teman-teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s