#TheMorningTales · My Chaotic Philosophy

#TheMorningTales: I thought I Learnt, and Healed. I’m not.

There’s not a surprise now that people said gloomy weather calls for more depressive feeling. I love it like it always have been giving me a certain, joyful feeling before. But today is kind of different.

This certain weather, certain time, certain circumstances, dances altogether in recalling me of something, a painful one. And it hits me real hard. It just like a sudden thunderstorm came when you strolling on the sunny beachside and then leave just like that within seconds.

I supposed to functioning well today, numerous things to do and life is shouting for an action, but once a wave of depression came even it just a few minutes—a few of TORTURING minutes—it always so hard to get up. And now I can just curling in my bed, wondering why my heart aches so bad.

I thought I healed. But it seems likely I’m not, yet.

Advertisements
English · My Chaotic Philosophy

There’s a Demon in My Head, and It Won’t Go away

 

20180505_164248

The fact that depression always crawling over and revisiting you once in a while, I think there will nothing ever the same with the fact that you keep on losing what is and who is important to you. Even Ramadan didn’t feel like it is as always, since I losing my dear aunt who has been like my second mother.

I started to feel like not being myself. I signed out from so many social circles, shut myself up in my room, being ill-mannered to people around me, shoved so many people out of my sight while at the same time crying for help.

I guess nothing will ever be the same since this state of mental illness comes to me regularly. Panicking over little things and have a neverending phase of separation anxiety is just a common circumstance nowadays. Last night, I dreamt of having everyone leaving me. I don’t know where they’re gone. What I know is, it left my sight blurred and blackout, and the next thing I know is I wake up crying.

I considered myself is an expert of life surviving through harsh reality and fate. I always had that kind of armor that I always boasting of. I forged it through the arduous years of a cycle of broke down-cried-got up-struggling-broke down again-cried again-got up again. I didn’t even need anyone back then. I was so strong that I could held myself all alone.

But apparently not this time. I still struggling to recover even after months and months and it never gets better. It’s always a constant feeling of stunted, resented, and unwanted. Even a short getaway or a meetup with friends are no longer healing, it merely a little distraction before those demons and toxic feelings caught me again.

“Recovery won’t take a long time.” A friend said to me.

Apparently, not this time.

I wondering why it creeps me in the first time, and I still can’t find the answer myself. I prefer to think that some of us will get caught in this phase called rock bottom for once in a while. Because listening to podcasts and reading about people who cope with depression almost entire time of their life makes me startled and shivering. Just a few months and I can’t seem to bear with it. How it feels like to deal with it for 25 years?

Maybe it’s my bad sleeping habit?
Maybe it’s my even worst food intake?
Maybe I’m too cruel on myself?
Or maybe I just take it the wrong way?

I tried to fix what I can fix. The majority of people doesn’t have their life put together, I’m aware. Hence maybe it just a quarter-life crisis starting too early and, definitely, too extreme. I still doesn’t belong anywhere and anyone and I can’t bring myself to trust those mental helpers enough to tell them what exactly my problems are but I guess I have to try.

And I guess I should life longer.

And I guess, there’s business to be grown and taken care of, thesis to be finished, graduation to be attend, people to be fell in love with, and rejections to be winged.

Along with those demons that I should learn how to get along with.

 

My Writer Side · Bahasa

Book Review – Wicked by Gregory Maguire

20180324_131141.jpg

Author: Gregory Maguire
Publisher: Harper Collins,
Pages: 519 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Suprise! Setelah post galau-galau tiada akhir, tiba-tiba saja disela oleh review book. Kaget ga? Kaget dong. Saya yang kaget sih sebenernya.

Ok jadi gini, saya seharusnya berbangga diri karena setengah tahun ini ternyata saya membaca buku lebih banyak dari setengah tahun di tahun lalu, dan lalu-lalunya lagi. Kemajuan kan! Masalahnya, walau banyak buku bagus dan tidak bagus yang saya baca (yang mana menjadi sasaran empuk buat disanjung atau dihujat) rasanya kok saya nggak ada selera nulis review sama sekali. Akhirnya kini hati saya tergerak oleh buku ini.

Sudah sejak SMA saya kepengen punya buku ini. Akhirnya beberapa bulan yang lalu kebetulan saya nyasar ke halaman yang menjual buku seken ini dalam bahasa inggris dengan harga yang tidak dapat ditolak. Maka segera saja tiga hari kemudian, buku ini mendarat cantik di rumah. Bergabung dengan buku-buku fantasi lainnya di rak saya. Ah, rejeki memang nggak ke mana.

 

Main Story

Sekitar dua tahun lalu saya pernah mereview The Wizard of Oz-nya L. Frank Baum (yang mana saya benci sekali). Nah buku ini adalah Spin-off dari cerita tersebut.

Wicked menceritakan tentang kehidupan di Negeri OZ dari sudut pandang Elphaba, si Penyihir Jahat dari Barat yang berkulit hijau, serta asal-usul para penyihir-penyihir tersebut, jauh sebelum Dorothy terlempar masuk ke dalamnya.

Ada beban sangat besar ketika seorang penulis membuat cerita spin-off, terutama yang berasal dari cerita populer. Penulis diharapkan mampu membuat sesuatu yang original tanpa terjebak stereotif namun di saat yang sama harus dapat mengimbangi kualitas cerita aslinya. Belum lagi para penggemar fanatik untuk dihadapi. Dan menurut saya, Gregory Maguire exceeds it all. Wicked rupanya mampu menjadi cerita yang populer dan digemari, bahkan hampir menyamai cerita asalnya.

Oke mari bahas plotnya dulu. The Wonderful Wizard of Oz genrenya fantasi, sehingga umumnya Wicked juga bergenre fantasi.

Seharusnya.

Tapi nyatanya alih-alih sihir-sihiran, buku ini justru membahas sisi filosofis, spiritual, politik, dan intrik-intrik kehidupan di The Land of Oz. Tentang sistem kepercayaan mereka yang terdiri dari beberapa ‘agama’, beberapa wilayah berbeda di Oz yang saling head-to-head di bawah kepemimpinan Oz the Great, dan bagaimana agama serta wilayah itu berinteraksi satu sama lain. Serta bagaimana Elphaba (si penyihir yang sebetulnya bukan penyihir dan nggak bisa menyihir sama sekali) sebagai tokoh utama yang adalah makhluk anomali berusaha hidup dengan prinsip-prinsipnya sendiri.

Kalau pun cerita ini harus dikelompokkan ke fantasi, mungkin bukan pure fantasy kali ya. Lebih karena settingnya fantasi saja.

Saya nggak punya komplain untuk plotnya. Saya rasa baik kecepatannya, cara penceritaannya, dan alurnya sendiri oke-oke saja. Kecuali mungkin bagian politik dan filosofisnya itu agak sedikit membosankan buat saya, haha.

Kemudian karakternya. Ah, kalau saya cuma boleh puji satu aspek, itu adalah karakterisasinya. Di samping tokoh dari cerita aslinya, banyak juga tokoh original Gregory Maguire sendiri. Dan apa yang bisa saya katakan? Semua tokoh itu luar biasa. Karakterisasinya  tokohnya kuat karena dikupas tuntas dengan cara yang compelling to the story. Dan hebatnya masing-masing perkembangan fisik, psikologis, dan kehidupan mereka diperhatikan dengan baik juga seiring berjalannya cerita. Well-developed, sehingga walau pun sekali duduk kita langsung dijejali dengan banyak sekali tokoh, kita nggak akan lupa si ini yang mana dan si itu yang siapa. Jelas ini bukan perkara mudah untuk seorang penulis.

Favorit saya Elphaba si tokoh utamanya yang cerdas, berprinsip, dan sarcatically-humorous juga.

Lalu settingnya. Saya nggak banyak bicara tentang ini. Di The Wizard of Oz sendiri settingnya sudah cukup jelas dan di sini semakin jelas lagi. Bukan hanya secara pemetaan dan batas-batas wilayahnya saja, tapi karakteristik penduduknya masing-masing, keadaan topografinya, dan interaksinya dengan wilayah lain. Keren deh pokoknya.

Lalu, ini tidak berhubungan dengan cerita sih, tapi saya suka sekali dengan penampilan buku ini. Tepi kertasnya hijau, seakan berniat menegaskan warna kulit Elphaba, dan covernya, ah saya suka! TBH desain covernya itulah yang membuat saya pengin baca buku ini dulu.

Satu-satunya kekurangan buku ini, kalau bisa disebut kekurangan, adalah adanya kutipan-kutipan dari buku-buku Gregory Maguire yang lainnya di akhir, setelah cerita selesai. Buat saya ini lumayan ngeganggu atmosfer ending yang barusan saja kelar. Sebenarnya kalau nggak mau dibaca ya boleh aja sih, tapi saya sedikit OCD untuk halaman-halaman yang belum dibaca jadi ya begitulah.

 

Epilogue

Saya baca buku ini sekitar empat hari, dan nggak lepas-lepas dari tangan. Lumayan menghipnotis walau nggak terlalu bikin hangover.

Saya rasa nggak berlebihan kalau saya kasih bintang 4. Tidak sempurna karena saya bukan yang suka-suka amat sama debat politik dan diskusi perbandingan agama sih. Tapi para pembaca dengan jiwa-jiwa pemberontak dan penggemar diskusi serta debat-debat politik saya rasa akan sangat menikmati buku ini.

Baca juga ya! Saya rekomen lho!