My Writer Side · Bahasa

Book Review – Wicked by Gregory Maguire

20180324_131141.jpg

Author: Gregory Maguire
Publisher: Harper Collins,
Pages: 519 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Suprise! Setelah post galau-galau tiada akhir, tiba-tiba saja disela oleh review book. Kaget ga? Kaget dong. Saya yang kaget sih sebenernya.

Ok jadi gini, saya seharusnya berbangga diri karena setengah tahun ini ternyata saya membaca buku lebih banyak dari setengah tahun di tahun lalu, dan lalu-lalunya lagi. Kemajuan kan! Masalahnya, walau banyak buku bagus dan tidak bagus yang saya baca (yang mana menjadi sasaran empuk buat disanjung atau dihujat) rasanya kok saya nggak ada selera nulis review sama sekali. Akhirnya kini hati saya tergerak oleh buku ini.

Sudah sejak SMA saya kepengen punya buku ini. Akhirnya beberapa bulan yang lalu kebetulan saya nyasar ke halaman yang menjual buku seken ini dalam bahasa inggris dengan harga yang tidak dapat ditolak. Maka segera saja tiga hari kemudian, buku ini mendarat cantik di rumah. Bergabung dengan buku-buku fantasi lainnya di rak saya. Ah, rejeki memang nggak ke mana.

 

Main Story

Sekitar dua tahun lalu saya pernah mereview The Wizard of Oz-nya L. Frank Baum (yang mana saya benci sekali). Nah buku ini adalah Spin-off dari cerita tersebut.

Wicked menceritakan tentang kehidupan di Negeri OZ dari sudut pandang Elphaba, si Penyihir Jahat dari Barat yang berkulit hijau, serta asal-usul para penyihir-penyihir tersebut, jauh sebelum Dorothy terlempar masuk ke dalamnya.

Ada beban sangat besar ketika seorang penulis membuat cerita spin-off, terutama yang berasal dari cerita populer. Penulis diharapkan mampu membuat sesuatu yang original tanpa terjebak stereotif namun di saat yang sama harus dapat mengimbangi kualitas cerita aslinya. Belum lagi para penggemar fanatik untuk dihadapi. Dan menurut saya, Gregory Maguire exceeds it all. Wicked rupanya mampu menjadi cerita yang populer dan digemari, bahkan hampir menyamai cerita asalnya.

Oke mari bahas plotnya dulu. The Wonderful Wizard of Oz genrenya fantasi, sehingga umumnya Wicked juga bergenre fantasi.

Seharusnya.

Tapi nyatanya alih-alih sihir-sihiran, buku ini justru membahas sisi filosofis, spiritual, politik, dan intrik-intrik kehidupan di The Land of Oz. Tentang sistem kepercayaan mereka yang terdiri dari beberapa ‘agama’, beberapa wilayah berbeda di Oz yang saling head-to-head di bawah kepemimpinan Oz the Great, dan bagaimana agama serta wilayah itu berinteraksi satu sama lain. Serta bagaimana Elphaba (si penyihir yang sebetulnya bukan penyihir dan nggak bisa menyihir sama sekali) sebagai tokoh utama yang adalah makhluk anomali berusaha hidup dengan prinsip-prinsipnya sendiri.

Kalau pun cerita ini harus dikelompokkan ke fantasi, mungkin bukan pure fantasy kali ya. Lebih karena settingnya fantasi saja.

Saya nggak punya komplain untuk plotnya. Saya rasa baik kecepatannya, cara penceritaannya, dan alurnya sendiri oke-oke saja. Kecuali mungkin bagian politik dan filosofisnya itu agak sedikit membosankan buat saya, haha.

Kemudian karakternya. Ah, kalau saya cuma boleh puji satu aspek, itu adalah karakterisasinya. Di samping tokoh dari cerita aslinya, banyak juga tokoh original Gregory Maguire sendiri. Dan apa yang bisa saya katakan? Semua tokoh itu luar biasa. Karakterisasinya  tokohnya kuat karena dikupas tuntas dengan cara yang compelling to the story. Dan hebatnya masing-masing perkembangan fisik, psikologis, dan kehidupan mereka diperhatikan dengan baik juga seiring berjalannya cerita. Well-developed, sehingga walau pun sekali duduk kita langsung dijejali dengan banyak sekali tokoh, kita nggak akan lupa si ini yang mana dan si itu yang siapa. Jelas ini bukan perkara mudah untuk seorang penulis.

Favorit saya Elphaba si tokoh utamanya yang cerdas, berprinsip, dan sarcatically-humorous juga.

Lalu settingnya. Saya nggak banyak bicara tentang ini. Di The Wizard of Oz sendiri settingnya sudah cukup jelas dan di sini semakin jelas lagi. Bukan hanya secara pemetaan dan batas-batas wilayahnya saja, tapi karakteristik penduduknya masing-masing, keadaan topografinya, dan interaksinya dengan wilayah lain. Keren deh pokoknya.

Lalu, ini tidak berhubungan dengan cerita sih, tapi saya suka sekali dengan penampilan buku ini. Tepi kertasnya hijau, seakan berniat menegaskan warna kulit Elphaba, dan covernya, ah saya suka! TBH desain covernya itulah yang membuat saya pengin baca buku ini dulu.

Satu-satunya kekurangan buku ini, kalau bisa disebut kekurangan, adalah adanya kutipan-kutipan dari buku-buku Gregory Maguire yang lainnya di akhir, setelah cerita selesai. Buat saya ini lumayan ngeganggu atmosfer ending yang barusan saja kelar. Sebenarnya kalau nggak mau dibaca ya boleh aja sih, tapi saya sedikit OCD untuk halaman-halaman yang belum dibaca jadi ya begitulah.

 

Epilogue

Saya baca buku ini sekitar empat hari, dan nggak lepas-lepas dari tangan. Lumayan menghipnotis walau nggak terlalu bikin hangover.

Saya rasa nggak berlebihan kalau saya kasih bintang 4. Tidak sempurna karena saya bukan yang suka-suka amat sama debat politik dan diskusi perbandingan agama sih. Tapi para pembaca dengan jiwa-jiwa pemberontak dan penggemar diskusi serta debat-debat politik saya rasa akan sangat menikmati buku ini.

Baca juga ya! Saya rekomen lho!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s