Bahasa · My Writer Side

Book Review – Wicked by Gregory Maguire

20180324_131141.jpg

Author: Gregory Maguire
Publisher: Harper Collins,
Pages: 519 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Suprise! Setelah post galau-galau tiada akhir, tiba-tiba saja disela oleh review book. Kaget ga? Kaget dong. Saya yang kaget sih sebenernya.

Ok jadi gini, saya seharusnya berbangga diri karena setengah tahun ini ternyata saya membaca buku lebih banyak dari setengah tahun di tahun lalu, dan lalu-lalunya lagi. Kemajuan kan! Masalahnya, walau banyak buku bagus dan tidak bagus yang saya baca (yang mana menjadi sasaran empuk buat disanjung atau dihujat) rasanya kok saya nggak ada selera nulis review sama sekali. Akhirnya kini hati saya tergerak oleh buku ini.

Sudah sejak SMA saya kepengen punya buku ini. Akhirnya beberapa bulan yang lalu kebetulan saya nyasar ke halaman yang menjual buku seken ini dalam bahasa inggris dengan harga yang tidak dapat ditolak. Maka segera saja tiga hari kemudian, buku ini mendarat cantik di rumah. Bergabung dengan buku-buku fantasi lainnya di rak saya. Ah, rejeki memang nggak ke mana.

 

Main Story

Sekitar dua tahun lalu saya pernah mereview The Wizard of Oz-nya L. Frank Baum (yang mana saya benci sekali). Nah buku ini adalah Spin-off dari cerita tersebut.

Wicked menceritakan tentang kehidupan di Negeri OZ dari sudut pandang Elphaba, si Penyihir Jahat dari Barat yang berkulit hijau, serta asal-usul para penyihir-penyihir tersebut, jauh sebelum Dorothy terlempar masuk ke dalamnya.

Ada beban sangat besar ketika seorang penulis membuat cerita spin-off, terutama yang berasal dari cerita populer. Penulis diharapkan mampu membuat sesuatu yang original tanpa terjebak stereotif namun di saat yang sama harus dapat mengimbangi kualitas cerita aslinya. Belum lagi para penggemar fanatik untuk dihadapi. Dan menurut saya, Gregory Maguire exceeds it all. Wicked rupanya mampu menjadi cerita yang populer dan digemari, bahkan hampir menyamai cerita asalnya.

Oke mari bahas plotnya dulu. The Wonderful Wizard of Oz genrenya fantasi, sehingga umumnya Wicked juga bergenre fantasi.

Seharusnya.

Tapi nyatanya alih-alih sihir-sihiran, buku ini justru membahas sisi filosofis, spiritual, politik, dan intrik-intrik kehidupan di The Land of Oz. Tentang sistem kepercayaan mereka yang terdiri dari beberapa ‘agama’, beberapa wilayah berbeda di Oz yang saling head-to-head di bawah kepemimpinan Oz the Great, dan bagaimana agama serta wilayah itu berinteraksi satu sama lain. Serta bagaimana Elphaba (si penyihir yang sebetulnya bukan penyihir dan nggak bisa menyihir sama sekali) sebagai tokoh utama yang adalah makhluk anomali berusaha hidup dengan prinsip-prinsipnya sendiri.

Kalau pun cerita ini harus dikelompokkan ke fantasi, mungkin bukan pure fantasy kali ya. Lebih karena settingnya fantasi saja.

Saya nggak punya komplain untuk plotnya. Saya rasa baik kecepatannya, cara penceritaannya, dan alurnya sendiri oke-oke saja. Kecuali mungkin bagian politik dan filosofisnya itu agak sedikit membosankan buat saya, haha.

Kemudian karakternya. Ah, kalau saya cuma boleh puji satu aspek, itu adalah karakterisasinya. Di samping tokoh dari cerita aslinya, banyak juga tokoh original Gregory Maguire sendiri. Dan apa yang bisa saya katakan? Semua tokoh itu luar biasa. Karakterisasinya  tokohnya kuat karena dikupas tuntas dengan cara yang compelling to the story. Dan hebatnya masing-masing perkembangan fisik, psikologis, dan kehidupan mereka diperhatikan dengan baik juga seiring berjalannya cerita. Well-developed, sehingga walau pun sekali duduk kita langsung dijejali dengan banyak sekali tokoh, kita nggak akan lupa si ini yang mana dan si itu yang siapa. Jelas ini bukan perkara mudah untuk seorang penulis.

Favorit saya Elphaba si tokoh utamanya yang cerdas, berprinsip, dan sarcatically-humorous juga.

Lalu settingnya. Saya nggak banyak bicara tentang ini. Di The Wizard of Oz sendiri settingnya sudah cukup jelas dan di sini semakin jelas lagi. Bukan hanya secara pemetaan dan batas-batas wilayahnya saja, tapi karakteristik penduduknya masing-masing, keadaan topografinya, dan interaksinya dengan wilayah lain. Keren deh pokoknya.

Lalu, ini tidak berhubungan dengan cerita sih, tapi saya suka sekali dengan penampilan buku ini. Tepi kertasnya hijau, seakan berniat menegaskan warna kulit Elphaba, dan covernya, ah saya suka! TBH desain covernya itulah yang membuat saya pengin baca buku ini dulu.

Satu-satunya kekurangan buku ini, kalau bisa disebut kekurangan, adalah adanya kutipan-kutipan dari buku-buku Gregory Maguire yang lainnya di akhir, setelah cerita selesai. Buat saya ini lumayan ngeganggu atmosfer ending yang barusan saja kelar. Sebenarnya kalau nggak mau dibaca ya boleh aja sih, tapi saya sedikit OCD untuk halaman-halaman yang belum dibaca jadi ya begitulah.

 

Epilogue

Saya baca buku ini sekitar empat hari, dan nggak lepas-lepas dari tangan. Lumayan menghipnotis walau nggak terlalu bikin hangover.

Saya rasa nggak berlebihan kalau saya kasih bintang 4. Tidak sempurna karena saya bukan yang suka-suka amat sama debat politik dan diskusi perbandingan agama sih. Tapi para pembaca dengan jiwa-jiwa pemberontak dan penggemar diskusi serta debat-debat politik saya rasa akan sangat menikmati buku ini.

Baca juga ya! Saya rekomen lho!

Advertisements
Bahasa · My Chaotic Philosophy

#LearnToday 14: Humor dari Tuhan

“Kalo lo sedang di titik di mana semua aspek hidup lo hancur berantakan, dan kesulitan datang nggak ada hentinya, seringkali untuk menyikapinya ya tinggal diketawain aja.

Lagipula kalau dilihat dari sisi yang tepat, hidup kita yang malang ini sebenarnya lucu kok. Malah lebih lucu dari komedi srimulat.” 

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Untuk Semua Hal yang Ditinggalkan Di Belakang

Kehilangan seorang keluarga pasti tidak akan pernah mudah, mau berapa sering pun kau telah mengalaminya. Terutama jika orang tersebut sudah kau anggap sebagai orang tua keduamu, yang tanpanya, kau tak akan mungkin tumbuh jadi dirimu yang sekarang.

Semua hal di dunia pada akhirnya akan kita tinggalkan. Semua harta benda yang sudah bersusah payah kita kumpulkan. Semua orang tercinta yang kadang tidak kita hiraukan. Semua kebanggaan dan posisi yang telah kita elu-elukan. Karena dunia itu sifatnya sekejap mata, dan hal yang seumur hidup menjadi fokus pandangmu suatu hari nanti tak ada lagi artinya.

Tapi toh bagaimanapun, hubungan antara kita dengan makhluk hidup lainnya ternyata sangat mempengaruhi nasib kita, bahkan ketika kita tidak lagi bernyawa. Ketika kau memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya, mereka akan memperlakukan jasadmu sama. Hidup di dunia mungkin fana, tapi dalam kefanaan ini, kita hidup bersama-sama. Walau beberapa mungkin tidak menyadari dan menganggap mereka akan hidup selamanya.

Satu yang aku pelajari hari itu, ketika aku kehilangan seseorang yang sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri beberapa hari lalu: Baik dunia yang fana mau pun yang kekal, aku yakin Tuhan menciptakan hukum keseimbangan untuk keduanya. Ketika kau mengambil, kau akan kehilangan. Ketika kau terjatuh, akan ada aspek dalam hidupmu yang sedang ditinggikan. Ketika kau berlaku buruk maka kau pun akan mendapatkan keburukan. Dan ketika kau memberi kebaikan, kau akan diberi kebaikan pula agar seimbang. Entah sekarang atau esok, hidup atau mati, di alami ini atau alam nanti, karena aku percaya ada alam selanjutnya setelah kita mati.

Singkat kata, kita manusia sebenarnya diciptakan di dunia ini hanya untuk sedikit bekerja, sedikit bersenang-senang, banyak-banyak berinteraksi dan banyak-banyak berbuat baik. Jika tidak, kau akan mati dengan menyedihkan.

Dan untuk semua risaumu hari ini, tenang saja. Dibandingkan ukuran alam semesta ini, kau itu skalanya kecil sekali. Mikro. Nano. Malah mungkin sejuta kali lebih kecil dari itu. Dan ketika kau meninggalkan dunia ini suatu hari, risaumu pun tidak akan kau bawa lagi. Jadi selama kau tidak melanggar hukum-hukum-Nya, jalani saja, jangan banyak dipikirkan.

Karena semuanya toh nanti akan kau tinggalkan.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Sebuah Catatan Untuk Angka 24

Saya pernah berkata pada seorang teman, “Kamu beruntung baru ketemu aku sekarang. Nggak jaman dulu pas aku masih alay korea-koreaan, nggak jaman dulu pas aku masih nggak tau tujuan hidup aku apa dan apa yang mau aku lakukan di masa depan, nggak jaman dulu pas aku masih tantrum dan nggak bisa kendaliin emosi, bahkan nggak jaman dulu pas aku masih lari gaya Naruto.”

Iya serius, Naruto.

Tau kan gaya lari Naruto? Badan agak condong ke depan sekitar 45 derajat, kepala diluruskan dengan punggung, tangan membentang ke belakang, kaki diayunkan lebar-lebar.

1460155122620

Iya, begitu.

Ingat dulu saya pernah lari gaya begitu bikin meringis deh. Super cringe. Ternyata saya pernah se-freak itu, sekaligus se-nggak pedulian itu sama pendapat orang lain tentang pembawaan diri saya. Anehnya, walau saya dihujat sana-sini tapi kok saya bisa tetap stay cool aja ya. Ah mungkin dulu saya memang se-cool dan se-antikemapanan itu ya. Pantes saya banyak dibully :((

Bicara tentang masa depan, lucunya adalah sepertinya saya masih belum berubah, saya masih nggak tau akan jadi apa dan apa yang ingin saya lakukan. Blank. Gelap.

Bedanya hal itu masih wajar jika dikatakan di usia dengan kepala 1 tapi jadi hal yang tabu jika sudah menginjak kepala 2. Ketika mulai menginjak kepala 2, saya menyadari bahwa dunia mengharuskan kita paham dengan apa yang kita lakukan. Nggak boleh ada kata “I have no idea of what I’m doing actually,” yang terucap. Padahal kenyataannya, diri saya di usia dua puluhan masih sama clueless-nya dengan usia belasan dulu.

Sedikit lebih pintar? Oh iya pasti. Lebih good-looking? Eh, ya memang dulu saya belum tau cara merawat diri sih, tapi kayaknya sama aja. Lebih berani? Hm… Saya kira saya memang sudah nekad dan gila dari sananya jadi nggak ada perubahan. Lebih dewasa? Jika dewasa itu dianalogikan dengan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak dengan tepat, pastinya tidak.

Kenyataannya, saya nggak tau apa yang sebenarnya saya lakukan sekarang ini. Kehidupan karir saya berantakan, kehidupan percintaan juga berantakan, kesehatan nggak keruan, finansial juga carut-marut, kehidupan sosial apalagi. Jika ini adalah aspek-aspek hidup yang mereka harapkan untuk dapat tercapai dengan stabil dan well-achieved, saya jelas gagal total.

TBH saya nggak tau kenapa saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebelumnya yang secara otomatis membuat finansial saya seperti dilanda topan badai dadakan. Saya memutuskan nggak ingin melakukannya lagi karena saya sudah nggak menikmatinya. Itu, dan tuntutan skripsi yang menunggu untuk diselesaikan. Saya nggak tau kenapa saya menyudahi hubungan itu atau kenapa saya kembali ke rumah untuk menghadapi seluruh anggota keluarga yang judmental setiap hari yang kemudian membuat saya terserang insecurity, anxiety, dan social trauma berkepanjangan. Lalu saya juga nggak tau kenapa dengan semua hal yang terjadi tersebut, saya masih juga mengambil risiko SANGAT BESAR untuk mulai mengembangkan bisnis saya sendiri.

Mungkin jawabannya cuma satu: Insting.

Saya sering sekali bertumpu pada insting untuk memutuskan segala sesuatu. Jika ciri-ciri orang dewasa adalah senantiasa berpikir logis, jelas saya nggak masuk kriteria. I just can’t see any other way. My heart told me so. My instict told me so.

Tapi jika dipikir-pikir lagi, bukankah ini salah satu bentuk dari independensi? Atas diri sendiri mau pun orang lain. Lima atau sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya nggak punya keberanian untuk melakukan hal-hal tersebut. Mungkin saya akan tetap patuh dengan apa yang orang lain tentukan untuk hidup saya. Mungkin saya akan mengikuti kungkungan logika saya, sekalipun saya tersiksa setiap hari.

Oke itu satu skor untuk saya versi 24. Ternyata walau clueless dan hidup carut-marut, saya punya level independensi yang lebih tinggi. Dan sepertinya kemampuan berjudi yang lebih tinggi juga karena, bukankah memutuskan sesuatu berdasarkan insting itu sama saja dengan berjudi? Bingo.

Hidup dengan aman itu mungkin menyenangkan, ya. Tapi jika amannya di dalam penjara dan setiap hari berulang sama, lantas di mana senangnya?

Saya belajar satu atau dua hal dari hal tersebut. Dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan yang saya lakukan seumur hidup saya. Maka ini sedikit catatan untuk saya versi 24 (dan mungkin untuk kamu juga):

  • Jika kamu sudah masuk kepala 2 tapi masih belum tau apa yang ingin kamu lakukan dengan hidup kamu, ternyata banyak yang kepala 4 hingga 5 pun tidak tau apa yang ingin mereka lakukan dengan hidup mereka. Maka list saja dulu keinginanmu lalu kejar satu-persatu. Tiap poin yang kamu coret eventually will bring you to a certain place and certain position. And therefore your story begins without you even notice. Ternyata begitulah cara kerjanya.
  • Kalau kamu merasa sepertinya sekali lagi mengambil keputusan yang salah, yaudah YOLO aja. Kebebasan untuk mengambil keputusan tetap saja adalah kebebasan, sekali pun keputusannya kebetulan salah. You’ve fight to have your own voice and independency this whole 24 years, don’t take it for granted.
  • Kalau ada cowok deketin kamu, tanpa basa-basi langsung aja tanya “Mau nikah atau mau main-main aja? Kalau main-main sih bye aja. Kalau mau nikah emang situ udah punya apa? Saldo di rekening udah berapa?” Karena kamu se-beyond priceless itu dan nggak ada yang layak membuang waktu kamu.
  • Jangan meremehkan insting. Saya punya contoh seseorang yang selalu mengandalkan instingnya tapi mampu berjalan sangat jauh dan mendapat banyak sekali achievement: Ya, dia adalah diri saya sendiri. Dan saya baru menyadarinya sekarang.
  • Lain kali kalau kamu merasa hidupmu berantakan dan memalukan, ingatlah jaman dulu saya pernah lari pake gaya Naruto. Itu jauh lebih memalukan.

Selamat ulang tahun terlambat tiga hari. Selamat menjadi 24, Oka.

20180321_000152

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Mendebat Tuhan

“Aku pernah berbicara dengan Tuhan.”

Hening sejenak menguasai jeda seraya desau badai angin di malam bulan Desember berputar-putar tanpa suara di luar jendela. Panah di monitor bergeming di tempatnya, seolah terlalu mengantuk untuk bergerak. Hanya bunyi jam dinding yang menyusup relung hampa dengan gema sayup dramatis.

Klik. Klik. Klik. Klik.

“Kau bukan setan, kan?”

“Bukan, bukan. Aku tidak berbicara dengan-Nya di dunia akhirat sana.”

“Lantas?”

“Bulan Desember, pukul dua malam, tepat hari ini, dua tahun yang lalu.”

“Dia mengunjungimu di mimpi?”

“Tidak. Aku berbicara dengan-Nya lewat situs obrolan elektronik, seperti kita sekarang.”

“Hahahahaha. Lucu sekali. Tak kusangka kau jago berkelakar.”

“Kau pikir aku bercanda?”

“Baiklah, anggap Dia memang betul-betul Tuhan. Lalu apa yang kalian obrolkan?”

“Lucunya, saat itu aku sedang memprotes habis-habisan tentang logika dan hukum yang diciptakan oleh-Nya.”

“Apa Dia marah?”

“Tidak, Dia tertawa.”

“Ternyata Tuhan punya watak yang lumayan santai juga ya.”

“Sebenarnya, setelah dipikir-pikir, aku berharap punya kesempatan berbicara dengan-Nya lagi.”

“Tentang?”

“Komplain internal.”

“Misalnya?”

“Dipikirnya lucu membuat seseorang jatuh bangun sampai berdarah-darah lalu susah payah menyembuhkan diri namun kemudian dijatuhkan kembali sampai setengah mati? Atau ketika seseorang menggantungkan hidup dan matinya pada sesuatu, namun hal itu dicabut begitu saja darinya? Kau tahu apa yang lebih buruk dari pembunuhan? Yaitu pembunuhan tanpa membunuh. Dibiarkan sekarat hingga mati sendiri. Dipikirnya itu lucu?”

“Mungkin dari persepsi Tuhan itu cukup lucu. Siapa yang tahu?”

“Tidak ada yang lucu dengan mempermainkan hidup orang lain.”

“Tidak ada istilah ‘mempermainkan hidup orang lain’ jika kau adalah Tuhan.”

“Kau terlalu positif.”

“Kau terlalu skeptis.”

“Dan Tuhan terlalu dekonstruktif.”

“Setiap orang menunjukkan afeksinya dengan cara yang berbeda-beda, dan dalam hal ini kau membicarakan Tuhan. Tentu saja sebagai Tuhan, Tuhan sudah sepantasnya punya pola pikir sendiri, bukan?”

“Berarti, kata ‘dekonstruktif’ bukanlah istilah yang tepat. Melainkan ‘sok elitis’.”

“Kau akan sendirinya menjadi elitis jika kau adalah sebuah entitas dengan kekuatan Mahabesar.”

“Jika aku adalah sebuah entitas berkekuatan Mahabesar, aku akan membiarkan makhlukku hidup bahagia dan tidak menciptakan emosi-emosi negatif yang ada. Hidup sudah cukup sulit tanpa perlu Dia tambah dramatis lagi. Kau tahu? Aku berharap Dia dapat sehari saja merasakan jadi manusia biasa tanpa kekuatan super-Nya. Hanya untuk mengetahui betapa sulit rasanya dipermainkan takdir.”

“Ah, jadi daripada ‘menyamar menjadi manusia’, lebih baik ‘menjadi manusia’ saja, begitu?”

“Hanya jika Dia tidak terlalu egois dan sok elitis.”

“Sebenarnya, itu justru ide yang bagus.”

“Yeah, tentu—tunggu, apa maksudmu dengan menyamar? Jangan bilang—”

“Selalu senang bicara denganmu. Sekarang, maupun dua tahun yang lalu.”

Hening tanpa ampun menyela menguasai jeda seraya desau badai angin di malam bulan Desember berputar-putar tanpa suara di luar jendela. Hanya jam dinding yang mengerik melatarbelakangi jantung yang berdetak bukan kepalang.

Dag. Dug. Dag. Dug.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Tentang Transisi Hari dan Semua yang Terjadi di Antaranya

rps20180102_182654

Saya masih ingat detik detik menjelang pergantian tahun di tahun lalu. Saya terduduk di mobil kijang yang berlari kencang menuju Jakarta dari kampung halaman di Wates. Hari itu juga 31 Desember, malam tahun baru. Malam terakhir saya ambil izin dari kantor, unpaid leave, bahasa kerennya, untuk mengambil napas di kota kecil yang tenang tempat ayah saya dilahirkan.

Saat itu workload saya sedang hectic-hecticnya, klien saya sedang gila-gilanya, hampir tiap 10 menit saya harus handle issue yang urgent bahkan saya sampai harus cari kursi lalu buka laptop ketika sedang pelesir di Malioboro. Ironis. Syukurlah itu semua sudah terlewati.

Tahun yang lalu, 31 desember 2016, di dalam mobil yang tengah ayah saya kendarai, tiba-tiba saya mau meledak. Mau menangis menjerit-jerit. Tiba-tiba merasa sedih dan sakit hati yang tidak ada duanya. Entah kenapa, saya juga nggak tahu sampai sekarang. Sepertinya campuran antara stress pekerjaan dengan beban ekspektasi hidup yang tidak kesampaian. Khas orang dewasa, ya kan? Saat itu saya sampai serius berpikir untuk membuat janji konseling dengan psikolog atau psikiater. Alasannya karena saya mencurigai diri saya punya anxiety (social anxiety, mungkin lebih tepatnya) yang parah atau mungkin bipolar disorder tipe II (karena mood swing saya memang luar biasa ekstrim dari sananya) atau depresi ringan (ternyata bukan ini, karena baru-baru ini saya merasakan seperti apa namanya depresi ringan itu, dan rasanya sungguh berbeda. Jauh jauh jauh lebih buruk, sungguh, rasanya seperti mimpi buruk yang jadi nyata, hanya saja tidak hilang ketika kita bangun). Tapi hati kecil saya tau, saya sebenarnya hanya menginginkan obat-obat antidepresan dari ahli medis secara legal saja. Beberapa bilang gangguan mental mereka jadi lebih baik dengan adanya antidepresan tersebut (ya asal tidak ketergantungan saja sih).

Tapi bagaimana pun, toh saya tidak jadi melakukannya saat itu, konseling ke psikiater maksud saya. Saya memang sudah simpan beberapa kontak klinik dan rumah sakit yang kelihatannya cukup terpercaya, tapi saya tetap tidak sanggup memaksa diri saya pergi. Pertama, sepertinya biayanya mahal sekali. Saya harus bayar kuliah, itu lebih penting. Kedua, saya tidak mampu berhadapan dengan orang untuk membicarakan masalah saya, penyakit di pikiran saya, gangguan di hati saya, ketidakstabilan emosi saya, dan lain-lainnya. Mereka tidak bakal anggap saya serius, dan terutama saya tidak pernah bisa bercerita tentang ini dengan siapa pun. Saya terlalu takut dengan apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya.

Maka, dengan asumsi jika saya bisa memikirkan alasan pertama (biaya kuliah lebih penting), berarti saya masih belum sesakit itu dan masih bisa menyembuhkan diri saya sendiri, saya urung membuat janji konseling. Alih-alih saya habiskan hari berikutnya dengan membaca buku, makan makanan tidak sehat, dan menulis review tentang buku tersebut di blog. Syukurlah saya kemudian lebih baik hari demi hari.

Tahun 2016 adalah tahun yang sangat sulit. Emosi saya diaduk hingga terkuras, diguncang-guncangkan hingga saya muak, diombang-ambing sampai rasanya mau gila. Oleh karena itu pula saya tidak terpikir untuk menulis post tahunan tentang 20 pencapaian saya di tahun tersebut. Karena boro-boro kepikiran posting, masih bisa bertahan hidup pun sudah syukur. (Yah walaupun setelah saya pikir-pikir lagi, pencapaian saya di 2016 toh lumayan fantastis juga, sebanding lah dengan berdarah-darahnya).

Tahun 2017 ini lebih kalem, dengan beberapa hal yang sebelumnya cuma ada di imajinasi liar saya, tahu-tahu jadi nyata. Hard, but not that hard, but still hard. Mungkin karena itulah malam tahun baru ini, walau pun saya ada di situasi yang sama, bersama orang yang sama, menaiki mobil yang sama, dan mengarungi jalan yang sepertinya juga sama, saya tidak lagi frustrasi dan menangis histeris. Saya lebih tenang dan stabil. Yah walau dua-tiga ada saja masalah di sana-sini (dua-tiga masalah yang kebetulan LUMAYAN besar) tapi sepertinya tahun 2017 saya sudah ditempa untuk jadi lebih dewasa. Lebih matang dengan pikiran bahwa tidak semua yang kita inginkan akan terwujudkan. Pikiran untuk mengontrol ekspektasi dan berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dengan orang lain.

Saya masih belajar. Saya rasa kita semua pada dasarnya adalah anak kecil. Manja, egois, dan penuh cita-cita. Yang membuat kita jadi ‘sedikit’ lebih dewasa adalah mental yang stabil, yang tetap mampu mempertahankan letaknya walau diterjang badai realita. Bohong kalau saya bilang saya sudah tidak pernah merasakan mental breakdown seperti itu lagi. Kenyataannya sering, sering sekali. Saya seringkali berpikir pasrah, kalau Tuhan mau ambil saya, silakan sajalah, saya toh belum punya tanggungan apa-apa, belum punya pencapaian apa-apa. Tapi sungguh tidak pernah diwarnai dengan suicidal thoughts atau pikiran-pikiran bunuh diri. Saya rasa frustrasi saya masih normal, atau mungkin juga saya terlalu pengecut? Ah entahlah. Jadi ya karena kasus bunuh diri sedang marak-maraknya, tenang saja teman-teman, saya tidak termasuk satu yang harus kalian waspadai. Saya terlalu pengecut dan terlalu cinta dengan diri saya sendiri.

Jadi, apa yang bisa saya bawa untuk mengarungi buku kosong selanjutnya, di tahun yang baru? Ah entah. Manusia itu seperti bunglon, kita berubah setiap saatnya. Belum tentu saya di tahun lalu akan sama dengan di tahun ini sehingga pikiran untuk membawa pengalaman lalu menjadi pelajaran hari ini sepertinya akan sia-sia saja. Siapa pun yang membuat quotes experience is the best teacher pasti bukanlah seseorang yang sifat dan pemikirannya selalu berubah seperti saya. Tapi ya, balik lagi, mengontrol ekspektasi itu sangat penting. Karena, sungguh, disakiti oleh kenyataan, itu luar biasa mengerikan.

Saya tidak terlalu suka bertukar ucapan selamat tahun baru atau sejenisnya, karena buat saya itu fana. Tapi saya punya beberapa target yang harus saya capai tahun ini, yang menjadi alasan agar saya tetap hidup. Karena, apalah artinya hidup kalau kita tidak punya cita-cita untuk diwujudkan?

Tahun ini pun sepertinya saya tidak akan terlalu sering menulis di sini. Tahun ini pun sepertinya saya akan banyak berada di dunia nyata. Tahun ini pun sepertinya saya tetap akan menjadi saya yang emosian, panikan, impulsif, dan ambisius. Tahun ini pun, kalau saya masih ada usia, akan banyak hal yang akan dipelajari, yang nantinya akan saya tuliskan dan bagikan juga di sini kala senggang. Tahun ini pun akan ada orang-orang yang datang dan pergi, entah siapa dan kapan.

Kenyataan bahwa kita tidak tahu apa pun tentang masa depan dan ketidakmampuan kita untuk mengontrol hidup kita sendiri memang mengerikan. Tapi itulah manusia. Pada akhirnya, semua hanya Tuhan yang tahu, kan. Kita hanya bisa berdoa saja. Lagipula, Tuhan adalah penulis skenario paling handal yang ada di seluruh alam semesta.

Tuhan, aku titipkan cita dan cintaku pada-Mu. Silakan bawa ke mana Kau mau.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

How To Upgrade Your Life

Prologue

I had the feeling that today would be a great day. Didn’t know why and how. I just had that feeling. And apparently, so it is.

 

Main Story

If you started speculating this and that happened today, NOPE, you wrong. Because what? Because today is surprisingly, extremely nothing spectacular. On the contrary of that, it actually pretty sucks if I think about it now. I mean, it CAN BE suck, but guess what, I make it not.

And It isn’t because SOMETHING HAPPENED. It’s because I, myself, MAKE IT HAPPEN.

Today I learnt that, to upgrade your life into a better one actually don’t require series of happiness or extraordinary events. You just have to make the most of your time, make yourself useful, and as simple as that.

And what I did today were:

  1. I crossed all of my to-do list in work today. Like, I crossed EVERYTHING. And it means, I did A LOT. Just knew that it could be the best feeling EVER. Like the combination of satisfication for yourself and the thought of you being a valuable and dedicated worker. Plus, a proud feeling that you used your time wisely. If your day-to-day jobdesk is as sporadical as me (means you have to do this and that, here and there, and most of them don’t related each other) nothing beats that, believe me.
  2. I only ate two times today, and both are vegan, healthy meals! I usually have a massive appetite, I can eat 4-5 times a day, and most of them are junkfoods. So when I choose to be healthy and normal (a normal appetite, I mean) it feels euphoric!
  3. I did my college homework done. It actually due on Saturday, and it just Monday today. Adios, the mistress-of-procrastination me!
  4. I practicing 2 of 4 song material of my piano class in Saturday. I actually had to do it since last week, whereas why I have to get my ass out now. Last week I was a lazy girl who procrastinated too much and now, no more excuse.
  5. I always did something non-stop today. And by the way I said that, it means I always had something I do. No time for laying around scrolling instagram or online window shopping or other useless things that kills my time, no. It actually pretty hard, as I always forget everything, I always forget things that I suppose to do because I have a short-term memory, a real-life Dory. So it kind of hard to repeating and mumbling something to myself over and over again “After this, I have to do A, then B, then C. Don’t forget, do A then B then C, do A then B then C, ….” but it’s works, and it worth!

And by the way I able to optimizing my time, my day becomes great by itself. I didn’t have something that happen , I MADE something happen.

As the digital world went big nowadays, it so easy to have our time consumed, and social media life apparently can be quite toxic. But I learnt today that doing a REAL thing could balance it.

 

Epilogue

Oh, and by the way, I write on blog today, after dissapeared for a long time.

A big plus, isn’t it?