Bahasa · My Writer Side

Book Review – The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared by Jonas Jonasson

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/3b176-the-100-year-old-cover.jpg?w=355&h=560

Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: PT Bentang Pustaka, 2015
Pages: 508 Pages
Rating: ★★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Setelah resign, saya mengira akan punya banyak waktu luang nanti. Oleh karena itu sebagai antisipasi saya membeli beberapa buku yang memang sudah saya inginkan dari lama sekali untuk mengisi waktu luang tersebut secara lebih berfaedah.

Tapi ya, ternyata hal itu nggak sepenuhnya benar. Ternyata setelah saya resign pun waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan kuliah, dan beberapa untuk pekerjaan freelance, tapi sebagian besar untuk tugas-tugas kuliah. Saya sampai nggak habis pikir, akan bagaimana jadinya kalau saya belum resign. Bisa-bisa rabu-kamis-jumat saya dijatah enggak tidur semaleman demi ngejar tugas.

Oke sudah cukup curcolnya.

Jadi dari beberapa buku yang saya beli tersebut, salah satunya adalah buku ini. Saya ingat memegangnya erat-erat dengan mata nggak berkedip sedikit pun begitu melihat covernya waktu di Gramedia akhir tahun lalu. I mean, lucu sekali kan ya desain sampulnya! Begitu pula dengan judulnya yang panjang tapi tidak kalah nyentriknya.

Sekilas memang terlihat seperti buku self-help gimana gitu sih, tapi setelah dibaca sinopsisnya, ini ternyata buku fiksi, kawan-kawan. Maka ketika beberapa minggu lalu online bookstore favorit saya mengadakan sale dan voucher redemption, segera lah saya manfaatkan untuk membeli buku ini.

 

Main Story

The 100-year-old Who Climbed Out of Window and Disappeared, atau jika dibahasaindonesiakan menjadi “Pria 100 Tahun yang Memanjat Keluar Jendela dan Menghilang” ini bercerita tentang…ya, tentang pria berusia seratus tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang #plak. Allan Karlsson tinggal di Rumah Lansia di kota Malmköping, Swedia. Sore itu tepat hari ulangtahunnya yang keseratus tahun dan Rumah Lansia tersebut, dengan dukungan walikota dan lain-lain, berniat mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Allan. Kejadian menghilangnya Allan kemudian membuat gempar seisi kota dan, bahkan, seisi Swedia. Tapi petualangan Allan selanjutnya serta cerita tentang masa lalunya ternyata lebih menggemparkan lagi.

Kalau ada cara baru untuk belajar sejarah, atau untuk menjabarkan sejarah tanpa terasa seperti belajar sejarah, saya rasa buku ini jawabannya. Sebagian besar buku ini tidak bertempat di Swedia tahun 2005, asal dari si tokoh utama, melainkan di seluruh dunia, berpindah-pindah dari Swedia ke Spanyol, ke Amerika, Tiongkok, Soviet (bahkan, Indonesia!), dan semua negara besar lain baik blok Barat mau pun Blok Timur di masa perang dunia kedua.

Oke, ini salah satu kelebihan mencolok dari buku ini. Risetnya–all hail Jonas Jonasson–sangat luar biasa. Saya pernah buat cerita tentang bioterorisme Soviet di jaman Perang Dunia Kedua, dan walaupun unsur itu sendiri hanya muncul sedikiiiiiit sekali di cerita, saya membutuhkan banyak sekali link dan membaca banyak sekali referensi untuk dapat menuliskannya. Saya nggak bisa lagi membayangkan how much it takes untuk dapat menuliskannya sebanyak satu buku! Cara curangnya, Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis, salah satu dari sedikit profesi yang berisi orang-orang yang tau segala hal, menurut saya. Tapi di luar itu, saya cukup overwhelmed dengan penulisan yang luar biasa detail tentang sejarah perang dunia tersebut. Bahkan seolah Jonas Jonasson mengenal Stallin, Mao Tse-Tsung, dan Truman secara personal.

Ya, kalimat terakhir merupakan kelebihan keduanya. Karakterisasinya kuat sekali. Persfektif Allan sebagai tokoh utama dan pemandu cerita menjadi sarana untuk membangun karakter lainnya, namun karena menurut saya karakter Allan sendiri sudah cukup kuat, sama sekali tidak ada masalah dengan membangun citra karakter lainnya. Tokoh-tokoh klise sih pasti ada, contohnya seperti Bolt dan Bucket serta Caracas yang tipikal stereotip penjahat idiot banget. Tapi toh mereka tidak jadi parasit cerita, malah secara paralel membantu membangun karakterisasi tokoh lainnya.

Kemudian yang ketiga adalah plotnya. Saya nggak berpikir ini sebagai kelebihan atau gimana. Perlu diakui juga walau pun sama sekali tidak gampang memakai alur campuran tapi harus tetap menyeimbangkan antara keduanya, plot cerita maju-mundur yang bercabang akan sangat membantu bagi penulis yang kena writer-block (kalau Anda adalah penulis fiksi, Anda pasti paham), tapi kenyataannya saya merasa cabang cerita ini kadang berat sebelah. Kadang penulis terlalu fokus menceritakan bagaimana cara Allan meledakkan jembatan Tiongkok di Oktober 1945 silam, padahal nasibnya di tahun 2005 sedang dalam keadaan rumit-rumitnya tapi terbengkalai begitu saja. Dan dalam banyak kesempatan, saya berpikir penulis begitu bersemangat menguliahi pembaca dengan proses infiltrasi komunisme di Korea dan perang ideologi blok Barat dan Timur sampai nggak menyadari bahwa tulisannya membosankan. Tapi untungnya sang Penulis punya tokoh keren, Allan Karlsson, dan humor yang bagus untuk memandu audiens agar tetap membaca.

Nah, ini bagian favorit saya, humornya. Saya sempat menebak-nebak apa genre spesifik yang tepat untuk buku ini selama saya membaca. Apakah fiksi petualangan, fiksi historikal, fiksi komedi, akhirnya saya memutuskan sub-genre yang (sepertinya) tepat adalah: Fiksi komedi satir historis. Karena jujur aja, saya kebanyakan ketawa baca buku ini, seringkali sampe nggak bisa berenti. Jonas Jonasson saya akui punya sense of humor yang asik sekali, dan sifat itu diwariskan secara sukses ke tokoh-tokohnya. Namun dengan banyaknya bahasan politik di buku ini, humor itu pun dengan sendirinya bertransformasi jadi satir. Contohnya seperti penggambaran Indonesia yang semuanya bisa dibeli dengan uang dari sudut pandang seorang Swedia, itu satir sekali kan?

Secara umum, plothole yang saya lihat di buku ini justru sama sekali tidak berhubungan dengan plot (kalau pun ada, saya berarti nggak begitu menyimak karena saya keburu pusing duluan dengan perang ideologi antara pejabat soviet dan amerika) tetapi berada di Allan Karlsson sendiri. Maksudnya, dia kan seorang lansia berusia hampir 100 tahun ya, namun melakukan perjalanan lumayan rumit begitu, apa itu nggak berpengaruh bagi kesehatannya? Apa giginya, di usia seratus tahun, masih lengkap sehingga dia masih ngelantur bicara dengan jelas? Apakah dia nggak seharusnya pakai pampers ke-mana mana untuk memudahkan hidup seorang berusia seratus tahun? Apa lutut berusia seabadnya masih sehat sehingga Allan masih bisa memberi makan gajah dan membuatkan kopi untuk inpektur yang mengejarnya kemana-mana? Bagaimana bisa penulis tidak memperhatikan beberapa hal kecil seperti itu ya, karena secara umum, Allan di usia seratus tahun yang saya baca hampir tidak ada bedanya dengan Allan di usia empat puluh tahun yang melintasi pegunungan Himalaya naik unta. Yang mana hal ini bikin partisi pemisah antara plot lampau dan plot sekarang jadi kabur.

Epilogue

Tapi sekalipun saya seolah lebih banyak ngeritik, nyatanya saya overwhelmed sekali dengan buku ini yang ditulis hampir seolah effortless dan alami sekali. Bahkan kalau dibaca baik-baik, saya menulis review ini pun dengan bahasa yang dipakai Jonas Jonasson, bukan bahasa khas saya sendiri! Lumayan bikin book-hangover juga ternyata si Jonasson ini, saya pun harus kasih apresiasi besar untuk sang penerjemahnya. She had done such a wonderful job, I think.

Untuk Allan Karlsson, saya bersedia kasih bintang lima full, dan sekarang saya sedang dalam proses memburu buku karya Jonas Jonasson yang lain!

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Personifikasi Waktu

Jika “Waktu” adalah makhluk hidup, tidakkah kau bertanya-tanya seperti apa rupanya? Apakah gendernya wanita atau pria? Tua atau muda? Menyenangkan atau tidak?

Hum, mengingat sikapnya yang sangat keras kepala dan tidak mau mengalah, kutebak dia wanita. Namun berhubung para wanita seringkali mengklaim kaum pria adalah makhluk yang tidak sensitif dan anti-kemapanan, yang mana sangat menggambarkan Waktu secara keseluruhan, kupikir dalam waktu bersamaan Waktu juga adalah seorang pria.

Hei

Tunggu sebentar.

Jika aku memilih bahwa Waktu adalah wanita maupun pria, tidakkah kau berpikir itu membuatnya terdengar sebagai salah satu dari kaum transgender yang masih ramai dijadikan perdebatan antara para liberalis dan fundamentalis? Aku bukannya mau mengambil salah satu sisi antara pro dan kontra itu, aku hanya tidak mau Waktu ikut menjadi bahan perdebatan mereka.

Namun jika Waktu adalah wanita, pasti keturunan Hawa itu akan girang dan melonjak-lonjak setengah mati. Berpikir bahwa dunia benar-benar berada di telapak kaki mereka dan dengan mudah memperbudak kaum lelaki sambil berkata angkuh “Kau mencoba mempermainkanku, hah? Kusuruh Waktu mengutukmu langsung jadi tua bangka, baru tahu rasa kau!” Sementara jika kuputuskan Waktu adalah pria, ah, betapa akan kacaunya dunia ini. Makhluk maskulin berego tinggi itu bisa menyalahgunakannya untuk apa saja. Contohnya, yah, kau taulah apa.

Ah, atau begini saja, kuputuskan bahwa Waktu adalah gender yang baru, tidak berkiblat baik ke wanita atau pun pria. Kita namakan saja gender Waktu tersebut sebagai Gender Baru, dengan huruf kapital untuk “G” dan “B”-nya. Apabila kau sudah menemukan sebutan yang tepat untuk Gender Baru itu, silakan katakan saja ya, biar kita bisa pertimbangkan bersama nanti.

Menurut pikiranku, Waktu adalah makhluk hidup yang dapat bergerak sama normalnya seperti kau dan aku. Dia terdiri dari kepala, badan, tangan, dan kaki. Hum, sebetulnya aku mau saja mengurut ulang komponen-komponen itu menjadi susunan acak, supaya karakter Waktu kita lebih seru jadinya. Namun menurut hemat Tuhan sesuai dengan ilmu ergonomi yang diciptakan-Nya sendiri, setiap komponen tersebut telah terspesialisasi sesuai dengan fungsinya masing-masing dan harus diletakkan di posisi yang tepat untuk menghindarkan gangguan yang mungkin muncul di masa depan. Jadi, yah, lebih baik dituruti sajalah. Tahu sendiri jika Ia sudah marah, lumayan menyeramkan juga kan.

Kubayangkan, Waktu adalah makhluk yang akan semakin tua dan sakit-sakitan apabila makhluk lainnya melanggar aturan jadwal yang telah ditetapkan. Pandangan matanya akan menjadi minus nol koma lima tiap ada anak manusia yang telat bangun pagi, sehelai rambutnya akan berubah menjadi putih tiap ada bangau yang telat bermigrasi musim dingin, satu giginya akan tanggal jika ada presiden yang telat menghadiri upacara kemerdekaan negaranya sendiri.

Oleh karena itu, Waktu sangat membenci makhluk lain–makhluk apa saja selain dirinya–yang suka terlambat dan membuang-buang waktu karena membuatnya semakin hari menjadi renta, sementara ia pun juga menjadi makhluk yang paling dibenci seantero jagat raya ini karena hobinya marah-marah dan menunjuk hidung siapa saja yang ia pikir tidak efisien hidupnya.

Aku membayangkan Waktu memiliki dua mulut dan satu telinga. Orang berkata bahwa kita dianugerahi satu mulut dan dua telinga karena kita diharapkan untuk lebih banyak mendengar dibanding berbicara, namun hal itu tak berlaku untuk Waktu karena ia tak butuh banyak mendengar. Satu mulut Waktu berfungsi layaknya mikrofon khusus jarum jam. Dia selalu berbunyi “Tik, tik, tik, tik….” di setiap detik yang terlewati serta berteriak-teriak “PUKUL DUA TEPAT!!!” ketika kombinasi jarumnya menunjuk angka dua dan dua belas. Satu mulutnya lagi berguna untuk berbicara–atau lebih tepatnya, mengomel–secara normal. Bagi Waktu, bicara itu lebih penting daripada mendengarkan, karena Waktu selalu benar dan aturan-aturannya bersifat absolut, tidak peduli apa kata orang.

Waktu memiliki hidung yang sangat runcing, lebih runcing daripada nenek sihir mana pun yang bisa kau temukan di cerita dongeng (atau mungkin juga dunia nyata, siapa tahu penyihir itu betulan hidup), mungkin ukurannya sekitar dua inci lebih runcing dari hidung teruncing yang kau tahu. Di mana hidung itu berfungsi untuk menambahkan penegasan dramatis ketika ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menatapmu dengan pandangan menyalahkan karena kau bangun pagi 10 detik lebih lama dari yang seharusnya.

Tapi seberapa pun orang-orang menyakiti Waktu baik sadar atau tidak, Waktu tidak akan bisa mati. Jika tubuhnya sudah porak-poranda dan tak memungkinkannya hidup lebih lama, Waktu baru yang masih muda akan menjelma menggantikan Waktu lama yang telah jompo, dengan membawa sifat dan pengetahuan sama persis seperti sosok Waktu yang lama, terus begitu hingga entah sampai kapan.

Waktu sesungguhnya telah berusia tua sekali, bahkan dicurigai Waktu telah ada saat bumi ini masih dalam tahap pembangunan. Oleh karena itulah dapat dikatakan Waktu adalah saksi hidup dari semua peristiwa penting di dunia. Banyak peneliti, arkeolog, ilmuwan, atau orang-orang yang hanya ingin tahu, datang berbondong-bondong ke hadapan Waktu, bertanya ini-itu sampai mulut mereka berbusa-busa. Sayangnya kebanyakan mereka semua akan pulang dengan tangan hampa karena Waktu tidak dapat memberikan jawaban yang mereka harapkan.

Orang-orang seringkali berkata “Biar Waktu yang akan menjawab,” namun kenyataannya, Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan atau akan berakibat pada masa depan. Contohnya, jika kau bertanya apakah Neil Armstrong, Michael Collins, dan Edwin Aldrin benar-benar mendarat di bulan tahun 1969, maka Waktu tidak akan menjawabnya sekalipun ia tahu. Begitu juga dengan kasus kematian Napoleon Bonaparte yang masih diperdebatkan apakah disebabkan racun arsenik atau kanker gastritis, karena dengan diketahuinya kenyataan sebenarnya maka akan ada perdebatan atau pertarungan di masa depan. Hal itulah, sesuatu yang dapat berdampak pada masa depan, yang berada di luar kuasa Waktu. Karena meskipun Waktu memegang kendali atas waktu yang sedang berjalan, ia tidak memiliki kendali atas masa depan.

Namun apabila kau bertanya tentang seperti apakah hari di mana kau dilahirkan, atau berapakah jumlah tentara salib yang mati akibat perang salib maka dia akan menjawabnya (tentu apabila pertanyaanmu dan jawaban darinya untuk pertanyaanmu itu tidak mengganggunya untuk berteriak mengumumkan jam dan mengomeli kereta yang telat seperlima detik dari jadwal) dengan singkat, padat, dan jelas.

Namun di luar itu semua, seperti yang sudah kukatakan, Waktu memegang kendali atas waktu yang tengah berjalan. Ketika kau merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat atau terlalu lambat, kau tidak sadar bahwa saat itu Waktu memang sedang memainkan kecepatan putaran jamnya. Tujuannya bermacam-macam, dan mungkin beberapa di antaranya tidak dapat kau pahami. Seringkali ia mempercepat waktu untuk mendidikmu bagaimana mengefisiensikan hidup, atau juga memperlambat waktu untuk memberimu kesempatan belajar lebih banyak (atau juga memperlambat jam pulang kerjamu saat kau sedang bosan-bosannya, karena dia kesal segaris kerutan muncul di wajahnya saat kau terlambat mengantarkan anak perempuanmu ke sekolah).

Sesungguhnya, di luar perangainya yang menyebalkan dan tidak kenal toleransi itu, Waktu adalah makhluk yang sangat baik hati. Ini hanya tentang bagaimana caramu memperlakukannya dan memperlakukan dirimu sendiri. Karena ketika kau melukai Waktu, secara tak langsung kau sedang melukai dirimu dan masa depanmu sendiri.

Jika “Waktu” adalah makhluk hidup, humm, sepertinya hidup ini akan cukup menyusahkan juga jadinya.

Bahasa · My Writer Side

Book Review – Carrie by Stephen King

https://i1.wp.com/media.tumblr.com/24866e211383a7c4066da0205e9a329c/tumblr_inline_mtxkn3jgNP1qb7t48.jpg

Author: Stephen King
Translator: Gita Yuliani K.
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013
Pages: 256 Pages
Rating: ★★ of ★★★★★

Prologue

Paket buku ini baru saya buka tadi pagi, sepulang saya dari luar kota dan langsung saya baca saat itu juga, mengingat nggak ada lagi hal menarik lain yang berniat saya kerjakan hari ini. Surprisingly, ternyata buku ini habis hanya dalam setengah hari saja. Prestasi yang cukup memuaskan sebetulnya, mengingat kecepatan baca saya yang sebetulnya luar biasa tapi kemampuan baca yang berkurang karena lama memanjakan diri dengan enggak baca buku sama sekali (saya biasa nyalahin platform-platform digital untuk ini, padahal sih sebenernya saya aja yang males ). Setidaknya salah satu resolusi saya tahun ini (Re: Read more books) lumayan berhasil di hari pertama 2017.

Back to topic.

Sudah lama saya mengincar buku ini. Well, sebetulnya bahkan sudah lama saya mengincar karya-karya Stephen King ketika tahu beliau sering disanding-sandingkan dengan Edgar Allan Poe dan Neil Gaiman sebagai The King of Horror and Thriller Stories.

Walau mengaku sebagai thriller novel freak, lumayan malu juga mengakui saya belum pernah baca satu pun karya The King yang satu ini. Pernah saya coba baca Rose Madder, namun menyerah di tengah jalan. Entahlah, mungkin ceritanya terlalu berat dan membosankan bagi saya yang masih berusia tiga belas tahun saat itu.

Maka, pikir saya, Carrie akan jadi pembuka yang sempurna mengingat bahwa karya ini termasuk satu karya King yang paling populer sepanjang masa.

 

Main Story

Singkatnya, Carrie bercerita tentang seorang gadis SMA yang pendiam dan sering menjadi korban bully di sekolahnya. Carrie memiliki ibu penganut agama kristen orthodox cukup ekstrim yang sangat berpengaruh pada perkembangan psikisnya. Ia memiliki kemampuan telekinesis yang kerap muncul saat dirinya berada dalam posisi tertekan atau tersudut. Kemampuan ini rupanya menjadi sumber mimpi buruk kota Chamberlain ketika penindasan yang dilakukan teman-temannya di acara Pesta Dansa Sekolah semakin kelewat batas.

It won’t be long, I promise.

Alasan saya me-review buku ini di sini bukan karena buku ini bagus atau gimana. Intinya saya hanya ingin menghujat penerjemahnya saja kok. Bahkan di kalimat pertama di bagian pertamanya saja, I’m so done with this book.

Saya pernah bilang di review buku terakhir bahwa terjemahan The Wizard of Oz itu jeleknya kayak ditranslet pakai gugel translet berbasis jaman Soekarno-Hatta, nah ternyata ada yang lebih parah dari itu.

Carrie, karya termashyur dari Stephen King; salah satu yang membuat topik telekinesis menjadi populer di masyarakat tahun itu; karya pertama King yang diangkat ke layar kaca di tahun 1976; karya yang saking populernya bahkan dibuat versi remake-nya dengan dibintangin Chloe Moretz di tahun 2013; namun begitu saya baca, embel-embel luar biasa itu hilang semua.

Saya nggak tau apa yang sebenarnya dipikirkan si penerjemah. Apakah segitu terjepitnya beliau dengan deadline? Apa beliau pernah baca kembali hasil terjemahannya? Dan kalau iya, apakah beliau menyadari kebusukan dalam hasil terjemahannya ini? Pun saya nggak paham apa yang dipikirkan penerbit besar sekelas Gramedia Pustaka Utama, aduh, tolonglah, kalau belum punya pengalaman dan belum bisa menerjemah dengan bagus, setidaknya janganlah dikasih buku populer begini. Karena membaca ini, alih-alih menikmati Stephen King, yang ada saya cuma misuh-misuh berusaha menerjemahkan sendiri padanan kata yang sangat non-literal ini.

Kalau saya editornya, mungkin sudah saya koyak habis naskah terjemahan ini tepat di depan wajah sang penerjemah dan saya minta ganti penerjemah lain. Saya curiga ini benar-benar diterjemahkan pakai gugel translet dan sang penerjemah cuma makan gaji buta.

Satu lagi yang saya bingungkan, sepertinya cara penulisannya agak aneh. Ada banyak kalimat dalam kurung di sepanjang cerita, yang saya kurang paham apa relasinya. Jika kata-kata itu adalah monolog dari batin tokoh, kenapa ditandai dengan kurung di paragraf terpisah dan bukannya dimiringkan saja? Lalu kalau benar itu memang monolog batin tokoh, kenapa saya merasa tidak ada hubungannya dengan konteks paragraf secara keseluruhan? Ah, sepertinya saya harus baca buku aslinya saja agar jelas.

Tapi dibalik kesebalan saya terhadap sang penerjemah, toh akhirnya buku ini berhasil saya tamatkan juga. Mungkin tertolong dengan genrenya atau plotnya sendiri, mengingat saya lumayan freak kalau urusan psychological thriller.

 

Epilogue

Pada akhirnya, ternyata yang saya lakukan bukan mereview unsur intrinsik buku ini secara keseluruhan seperti yang biasa saya lakukan, melainkan benar-benar cuma menghujat penerjemahnya saja.

Soal rating, saya rasa dua bintang sudah cukup, keduanya untuk aspek psikologis Carrie dan cara penjabaran dengan artikel berkesinambungan di sepanjang cerita.

Time to go for another reads 🙂

Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Wizard of Oz

The Wonderful Wizard of Oz

Author: L. Frank Baum
Translator: A. Dzaka
Publisher: PT Tangga Pustaka, 2013
Pages Count: 224 Pages

Prologue

The Wizard of Oz, cerita klasik L. Frank Baum yang sebegitu terkenalnya, yang sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan diadaptasi ke baik ke teater maupun layar kaca di seluruh dunia, belum pernah sekali pun saya baca dan saya tonton filmnya.

Empat tahun lalu saya sempat buat list life goals, yang salah satunya adalah membaca karya-karya klasik mancanegara minimal 50 buku, yang mana seharusnya termasuk Wizard of Oz juga. Tapi, ya, gitulah, kadang saya memang suka ngomong doang =_=

Maka ketika nemu buku ini di bazaar lima bulan yang lalu (iya, memang udah lama =_=) tanpa pikir dua kali langsung saya samber aja begitu.

Main Story

The Wizard of Oz menceritakan tentang seorang gadis kecil yang tinggal di Kansas bersama Paman dan Bibi serta anjingnya namun sebuah topan badai aneh menerbangkan Dorothy bersama anjingnya ke sebuah negeri asing yang aneh. Tujuan mereka kini hanya satu: pulang.

Enough said, I kinda had a hard hard time to finish.

Bahasanya bikin saya bosan. Kaku sekali, seperti ditranslate pakai gugel berbasis jaman soekarno-Hatta. Saya kurang paham apakah gaya begini adalah karena sang translator yang kurang luwes atau memang bawaan dari naskah aslinya. Tapi rasa-rasanya saya malas juga kalau harus baca naskah aslinya hanya untuk memastikan apakah gaya bahasanya juga sama jeleknya atau tidak. Saya ngerti sih, ini memang bacaan anak-anak, tapi daripada ‘sederhana’ rasanya malah lebih pas dibilang ‘kacau’. Saya kurang yakin apakah anak-anak juga akan mengerti kekacauan padanan kata-kata di buku ini.

Karakterisasinya bikin saya sebel. Jujur sih, saya malah menangkap bahwa si Dorothy ini karakter yang mengerikan, bahkan jauh lebih harus diwaspadai daripada penyihir jahat dari Negeri Barat. Dorothy terkesan sebagai gadis kecil keras kepala yang hanya memanfaatkan teman-teman hopelessnya untuk mencapai tujuannya sendiri. Berhasil membunuh para penyihir jahat hanya karena keberuntungan yang datang entah dari mana.

Alurnya kebanyakan filler yang ditarik ulur nggak jelas. Dan ternyata, tidak kalah mengerikannya dari Dorothy si karakter utama. Sebagai cerita anak-anak, saya lumayan kaget dengan banyaknya adegan kekerasan yang dijalankan dengan lancar-lancar saja oleh para tokoh di dalamnya seakan itu bukan sebuah kekerasan. Yang lainnya, saya masih ingat dengan adegan Bayung dan Penebang kaleng yang meninggalkan singa tertidur di ladang opium hingga mati. Walau pun si singa tidak mati pada akhirnya, tapi bahkan gagasan adanya ladang opium itu pun sudah cukup mengerikan sebetulnya, untuk sebuah cerita anak-anak.

Untung settingnya, yah lumayanlah. Barriernya lumayan jelas dan deskripsinya rada meyakinkan. Saya rasa dibanding aspek-aspek lainnya yang minus besar, mungkin worldbuildingnya bisa dikasih nilai netral lebih sedikit.

Belum sampai genap delapan bab saya baca (total ada 24 bab), saya sudah siap melemparkan buku ini jauh-jauh. Tapi saya tetap bertahan dengan harapan bahwa pertanyaan saya tentang mengapa cerita ini bisa sangat populer, akan terjawab. Tapi ternyata tidak juga. Kenapa cerita ini bisa sangat populer, saya masih belum tahu dan catatan panjang lebar dari penerbit sebagai penutup juga rasanya jadi nonsense.

Epilogue.

Soal stars rating, cukup ★, satu bintang hanya untuk settingnya saja. Yang lainnya nol besar.

Dear pembaca, kalau Anda punya argumen yang bagus untuk menjelaskan kepada saya mengapa cerita ini bisa jadi salah satu karya klasik yang sangat digemari, tolong dijabarkan di kolom komentar agar dapat mencerahkan hidup kita semua, terutama hidup saya, karena buku ini berhasil bikin saya badmood dua hari.

xx,
Kyokazuchan.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · Uncategorized

It Start to Smells like Ramadan

Agak aneh mungkin, tapi saya punya kebiasaan mengidentikkan suatu circumstance dengan aroma. Mungkin karena indera penciuman saya memegang kendali major di tubuh saya atau, saya curiga, hal ini hanya karena saya orangnya random aja sih. Karena sesuai dengan ke-random-an saya, aroma yang kadang saya pakai pun sangat sifatnya absurd dan surealis, bahkan bisa dibilang bukan aroma yang bisa dibaui oleh indera penciuman. (hah?).

Bulan Ramadan sudah tiba sejak persis seminggu lalu, tapi entah kenapa sepertinya saya nggak terserang hype-nya sama sekali selama seminggu ini. Puasa ya puasa saja, sahur ya sahur saja, tarawih ya tarawih saja, eh, enggak ding, saya sudah lima hari bolos tarawih karena sedang diserang musim UAS dan kerjaan kantor yang berjejer rapi menunggu dilirik (iya, iya saya tau itu semua urusan duniawi, tapi ya gimana ya gimana dong)

Kemudian hari ini saat saya berkendara mengarungi jalanan Pamulang-Kebayoran-Sawangan (ini urutannya random, mohon diabaikan) baru terasa bahwa saat ini sudah bulan puasa ternyata. Maksud saya, BENAR-BENAR bulan puasa.

Kenapa ya? Mungkinkah karena jalanan yang lebih kalem? Mungkin karena energi baru terbarukan yang tersuar dari masjid-masjid dan mushala yang tersebar di sepanjang jalan? Mungkin karena lapak-lapak dadakan yang tiba-tiba menjamur di pinggir trotoar ribut menjajakan makanan berbuka? Saya curiga karena yang terakhir sih, tapi selain itu, rasanya saya menghirup aroma yang lain, wangi yang lain. Wangi bulan Ramadan.

Jadi, seperti apa wangi bulan ramadhan itu? Oke, sini biar saya jabarkan. Bagi saya, wangi bulan Ramadan itu seperti:

  1. Tidur di kasur yang sejuk dengan piyama super nyaman, karena keluarga saya punya kebiasaan untuk mengganti seprai, gorden, dan alat makan khusus di bulan Ramadan, dan khusus untuk saya, selalu mengganti seprai dengan bed cover tebal kesayangan warna putih bercorak bunga-bunga biru dengan wangi deterjen laundry dekat rumah.
  2. Udara panas penuh dengan nyamuk keparat berdenging-denging di telinga, saya tidak pernah lupa di masa post-SMA dan Pre-kuliah dulu, ketika saya nggak punya hal lain untuk dikerjakan di bulan ramadan selain ngapal kanji jepang di tengah malam bersuhu 34C dengan tangan sibuk melambai-lambaikan raket nyamuk ke udara hampa.
  3. Sore hari dengan langit oranye cerah di acara buka puasa bersama ketika SMA dulu, TBH, walau saat itu saya sebal setengah mati, sekarang saya kangen ikut pesantren kilat yang rutin diadakan di bulan Ramadan ketika SMA, saya kangen dengan hype buka puasa bersama teman-teman kelas yang diadakan sekolah. Ah, mungkin tahun ini saya harus menyempatkan diri ikut acara mereka.
  4. Wangi kertas Al-Quran, es jelly sirup, dan lumpia udang, oke, ini sangat harfiah. Saya rasa tak perlulah kita bahas benda-benda rutin Ramadan.
  5. Keterpaksaan untuk bangun dari tidur setelah subuh, nggak ada yang tau seperti apa aromanya keterpaksaan? Saya juga sih. Tapi di bulan Ramadan, setiap saya terpaksa bangun pagi untuk pergi ke sekolah (dan kantor, mulai tahun ini) setelah tidur shubuh, saya mencium wangi yang sama. Aromanya seperti embun, seprai bantal, aspal dan debu, serta AC kelas (dan AC kantor) yang bercampur jadi satu. Nyaman tapi mendesak.
  6. Aroma senyum di setiap wajah anggota keluarga, bagaimana cara mendeskripsikan aroma senyum? Mungkin seperti wangi bubble gum dan pisang, dengan sedikit letupan meriah kembang api.
  7. Wangi oven dan kue-kue, menuliskannya saja sudah bikin saya bahagia. Aroma yang muncul paling kuat di penghujung bulan Ramadan ini selalu membuat saya ingin melompat sampai ke bulan saking bahagianya sekaligus terpuruk di pojok kasur saking patah hatinya. Ditinggal bulan Ramadan itu lebih sakit daripada ditinggal pacar (yah maap jadi curhat 😦 )
  8. AC mobil dan hamparan sawah, wangi ini makin kuat tercium ketika Ramadan hampir berakhir, bersamaan dengan wangi nomor 7. Bisa diilustrasikan dengan mobil yang berjajar di jalan alternatif menuju daerah pedalaman Indonesia, masing-masing dengan seabrek perbekalan di bagian luar-dalam-atas-bawah-kanan-kiri-depan-belakang kendaraan mereka. Mudik, tentu.
  9. Dan aroma-yang-tak-terasa-seperti-aroma lainnya yang kalau saya list, mungkin nggak kelar sampe solat tarawih di masjid kubah mas bubaran besok malem.

 

Ah ya, selain aroma, saya juga punya lagu-lagu yang sangat identik untuk bulan Ramadan bagi saya. Bukan karena temanya islami atau apa, sebenarnya hanya karena di Ramadan-Ramadan lalu saya terlalu banyak dengerin lagu-lagu tersebut sih.

Maap, saya memang random. 😦

Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Child Thief

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSc1TtgG1119a_ZuXKHtl48KJwiMDi7MQTZaO5lTWwaC18fyUw0

Author: Brom
Translator: Tanti Lesmana
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2012
Pages Count: 936 Pages

Prologue

Kapan terakhir saya ngepost review dan buku apa yang terakhir saya review di sini? Saya bahkan nggak ingat lagi saking lamanya. Truth to be told bahwa kemampuan membaca saya makin lama makin menurun drastis. Kadang saya menyalahkan dunia digital karena merasa sudah di-digitalisasi dengan media-media dan platform dunia maya, terbiasa mendapatkan informasi semudah 140 karakter di twitter dan sekrol-menyekroll instagram yang tidak ada habisnya sehingga saya jadi terlalu manja untuk mau membuka halaman buku satu-persatu demi mendapatkan intisarinya.

Well, karena kemampuan membaca yang menurun namun dorongan impulsif untuk membeli (baca: menimbun) buku sudah semakin akut di diri saya (sedikitnya masih ada sembilan buku baru yang belum terbaca di lemari) maka saya paksa diri saya menamatkan salah satunya, yang mana sebenarnya hanya saya jadikan alasan untuk menunda tugas-tugas kuliah aja sih. Hohoho.

 

Main Story

Buku pertama yang saya baca sampai habis di tahun ini lumayan istimewa. Siapa yang tidak tahu cerita Peter Pan? Saya rasa semua orang, minimal yang punya tipi di rumah, pasti tahu. Peter Pan si bocah dari Neverland yang tidak bisa tumbuh dewasa, yang menghabiskan waktunya dengan bermain-main bersama Tinker Bell si peri cemburuan dan bertarung dengan perompak-perompak tolol, kemudian berkeliaran di langit London dan menjerumuskan kakak-beradik Darling untuk bertarung melawan kapten Hook bersama-sama The Lost Boys di negeri Ajaibnya. Begitu versi Disney.

Lho? Iya, versi Disney. Karena setelah saya baca buku ini, ternyata bukan seperti itu naskah Peter Pan yang ditulis author aslinya, J. M. Barrie. Cerita Peter Pan yang asli lebih kelam, lebih jahat, lebih berdarah-darah, dan Peter Pan si bocah ganteng-jahil-jago berantem seperti yang kita ketahui aslinya adalah bocah licik kejam yang suka menculik anak-anak dari dunia manusia dan memanfaatkan mereka untuk bertarung dengan musuh-musuh perompaknya.

Sisi kelam cerita inilah, yang kemudian direkonstruksi Brom sedemikian rupa dalam versinya sendiri.

Sedikit sinopsis, The Child Thief mengambil sudut pandang seorang anak manusia, Nick namanya, dengan segala ketidakberuntungan hidupnya, hampir terbunuh oleh musuh-musuh pengedar narkoba di sekelilingnya sebelumnya akhirnya diselamatkan Peter, meski dengan cara lumayan berdarah-darah. Peter kemudian memikat Nick secara halus untuk pergi bersamanya ke Avalon, negeri muda abadi tempat faerie, elf, dan para monster hidup berdampingan. Merasa dunia manusia bukan tempat aman untuknya lagi, Nick mengikuti Peter melewati kabut yang membatasi Avalon dan dunia Manusia, tanpa tahu bahwa agenda yang disembunyikan bocah itu untuknya jauh sadis dan berbahaya dari kelihatannya.

Satu yang sangat notable bagi saya di buku ini adalah worldbuilding-nya dan bagaimana penulis mampu menyambung-tempel, gunting-jahit, dan tambal-menambal antara khayalannya sendiri, dengan gubahan dari cerita asli J. M. Barrie dan mitologi-mitologi yang ada.

Di awal saya seperti membaca Eragon. Ya bukan karena ceritanya mirip Eragon juga sih, tapi klisenya macam-macam itulah. Kemudian beralih seperti membaca Narnia, kemudian ke The Lord of The Ring, lalu lompat serial Salem (series tentang penyihir-penyihir Essex di Salem, silakan gugling kalau mau tau), kemudian—nah, ini paling absurd—ke film The God Must Be Crazy (atau setidaknya, itulah yang saya pikirkan ketika kawanan sang kapten yang berasal dari abad ke-18 terheran-heran dengan elevator dan pintu putar di abad 21).

Brom menggunakan folklore-folklore Old England dan menyatukannya dengan sifat-sifat asli Peter Pan serta imajinasinya sendiri untuk membuat sebuah cerita yang utuh. Maka tidak heran kalau di buku kita akan menemui Avalon, yang dalam kisah celtic berhubungan dengan excalibur, King Arthur, dan para ksatria meja bundarnya (ayolah, saya pikir semua orang sudah tahu cerita ini, kecuali saya mungkin), Dewa bertanduk, Tangnnost si kambing Dewa Thor, dan kaum puritan lengkap dengan kefanatikannya.

Yang menarik adalah, hasil sambung-tempel ini terasa sangat halus sekali. Saya tidak merasa cerita ini merupakan hasil pembajakan dari Narnia-campur-The-Lord-Of-The-Ring karena twist dan flashback-flashbacknya cukup masuk akal untuk menjelaskan kenapa Peter Pan tidak bisa menua, kenapa Avalon tidak bisa terlihat di dunia manusia, kenapa para perompak dan kaptennya bisa jadi jahat, dan kenyataan bahwa tau-tau ada elf muncul segala di cerita, saya sih oke aja asalkan plotnya sudah terpoles rapi.

Walaupun karakternya sangat kurang notable sih, bagi saya pribadi sayang sekali. Seharusnya dengan setting dan plot yang sudah disusun sebegitu lengkapnya, akan lebih seru kalau emosi tokoh-tokohnya dilibatkan semakin dalam, nyatanya yang saya anggap karakterisasinya paling ‘kena’ hanya dua tokoh: Peter dan Nathan. Lalu Nick? Nick siapa? Ada yang namanya Nick? Ah, sudahlah.

Satu yang paling saya sukai, penulis sepertinya tidak terjebak dengan stereotip khas dari cerita Peter Pan yang sudah banyak beredar. Terbukti bahwa figur seorang dengan kaki kayu dan tangan kait ala Kapten Hook di sini ternyata hanyalah pemeran tidak penting yang mati sambil lalu, dan Tinker Bell pun tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Bravo.

Walau pun di akhir cerita saya agak hopeless karena sepertinya tokoh-tokoh manusia ‘betulan’ di dunia manusia ini seperti dilenyapkan begitu saja eksistensinya saat pertarungan antara The lost Boys, kawanan sang Kapten, dan Ulfger (maksud saya, kemana perginya SWAT dan CIA ketika pertempuran makhluk-makhluk bertanduk melawan anak-anak kecil dan bangsa Elf tiba-tiba meletus di taman New York?) yang mana merupakan plot hole SANGAT BESAR buat saya.

Tapi berhubung cerita sepanjang hampir seribu halaman ini nggak membuat saya bosan sama sekali (saya perlu beri apresiasi juga bagi sang penerjemah, dengan gayanya yang rada ‘bold’ di awal tapi kembali jadi mainstream lagi di akhir, tapi gapapa) saya rasa bintang empat cukup lah.

Bravo Mr. BROM, karena sudah membuat saya penasaran mau baca karya asli dari James Barrie ★★★★

 

Epilogue

Anyway, seharusnya sekarang saya lagi nulis paper untuk tugas biokimia, bukannya nulis review novel fantasi.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · Uncategorized

Wangi Bedak dan Minyak Kayu Putih

Sore hari, di hari kedua saya di usia yang baru—yang mana nggak akan saya sebutkan berapa-berapanya karena saya masih belum bisa menerima kenyataan—dengan motor saya, Isabella (iya, saya namain motor saya Isabella, tolong jangan ditanya kenapa) sepulang kantor, seperti biasa saya mengambil rute pintas lewat kompleks pemukiman. Hari itu cerah dan banyak warga berkumpul di jalan yang biasanya sepi itu. Di ujung tikungan, saya melihat segerombolan anak kecil dengan kendaraan-kendaraan mungil warna-warni mereka. Sebagian dengan sepeda, otopet, mobil-mobilan plastik yang dikayuh pedal, berpacu dengan sebagian lain yang hanya berlari di atas kaki mereka. Saya melintasi mereka dari arah yang berlawanan di saat angin secara dramatis menghembus dari arah yang tepat membawa wangi-wangian yang, dulu sekali, akrab di hidung saya. Iya, wangi bedak bayi dan minyak kayu putih.

Saya yang saat itu nggak memakai masker motor pun langsung terhempas nostalgia seketika. Dengan seenaknya, saya berhentikan motor saya di tengah jalan dan menengok kembali ke belakang. Ke tempat sekumpulan anak itu, dengan wajah putih belepotan bedak tabur dan rambut basah lepek habis mandi, ribut berteriak dan tertawa-tawa memperdebatkan siapa yang duluan sampai garis finish.

Pikir saya, waduh, sayang sekali nggak bawa kamera analog, karena pemandangan ini sangat berpotensi jadi foto ciamik ala-ala street photography yang tengah digandrungi pecinta analog masa kini. Berhubung apabila dipotret dengan kamera handphone maka nilai estetikanya akan menurun drastis, saya pasrah saja dengan momen photograph-able itu dan lebih memilih memperhatikan mereka lebih lanjut. Beruntung saat itu jalan sedang sepi kendaraan, jadi nggak ada yang akan menggerung-gerungi saya karena berhenti persis di tengah jalan.

Anehnya, semakin memperhatikan mereka, justru bukan mereka yang saya lihat. Bayangan mereka jadi kabur, dan digantikan oleh bayangan saya sendiri. Saya dari belasan tahun yang lalu. Saya yang waktu itu juga suka main sore-sore dengan kakak dan anak-anak tetangga sehabis mandi, dengan muka putih belepotan bedak dan badan wangi minyak kayu putih.

Saya jadi bertanya-tanya, anak macam apakah saya di masa kecil belasan tahun lalu itu? Apa saya lebih sering tertawa? Apa saya lebih jujur dan vokal? Apa saya jauh lebih murah hati? Atau justru jauh lebih menyebalkan karena emosi saya yang sedari dulu memang sangat sulit dikendalikan?

Orang-orang selalu mengasosiasikan ‘kekanak-kanakkan’ dengan sebuah istilah yang terdengar sangat negatif. Tapi di saat saya memandang gelak tawa anak-anak kecil itu saling bersahutan, saya jadi bertanya-tanya, di bagian mananya yang negatif?

Semakin dewasa, kehidupan seorang manusia terasa semakin absurd buat saya. Mungkin inilah yang membuat sindrom anxiety terparah menyerang saya setiap bulan April, di setiap tahun sejak usia saya menginjak 20 tahun. Begitu banyak tuntutan tidak masuk akal, di mana semua orang dipaksa memiliki topeng dengan warna dan bentuk berbeda-beda dan tahu kapan harus memakainya di saat bergantian.

Lucu, padahal topeng warna-warni itu justru identik dengan mainan anak-anak, ya kan?

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sepertinya jadi anak-anak juga tidak mudah, ya. Anak kecil memang tidak diharuskan punya koleksi topeng berbagai macam selayaknya orang dewasa, tapi mengetahui fakta bahwa dunia ini dikuasai oleh dominasi orang dewasa saja sudah cukup buruk sebenarnya, untuk seorang anak kecil.

Memang sih, hidup tidak akan pernah terasa mudah bagi spesies manusia. Tua atau muda, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, dulu atau sekarang. Hal inilah yang membuat saya cenderung lebih kepingin jadi kucing daripada jadi manusia lainnya (bahkan Ratu Elizabeth sekali pun) ketika mental saya sedang digempur habis-habisan oleh kenyataan di dunia luar.

Belum sempat saya menemukan titik terang (atau faedahnya, jika memang ada) dari pikiran random saya di tengah jalan, saya dikejutkan dengan suara klakson nyaring garang beringas dari mobil SUV yang tahu-tahu sudah ada di hadapan saya, ribut menuntut hak atas jalan. Anak-anak tadi pun sudah buyar, mereka sudah melesat lebih jauh ke ujung tikungan. Maka saya pun terpaksa memacu kembali motor dan melanjutkan perjalanan pulang.

Di sepanjang jalan pulang, tak habis-habisnya tercium di hidung saya wangi yang polos namun memikat dari anak-anak tadi. Perpaduan wangi yang mungkin tidak akan bisa saya lupakan bahkan walau saya sudah jadi tua dan renta nanti.

Wangi bedak bayi dan minyak kayu putih.