Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Menjelajah Dimensi yang Lainnya

00840007

Aku selalu percaya kalau makhluk bumi tidak hidup sendirian saja di alam semesta ini. Setidaknya tidak di versi bumi yang kita tempati saat ini. Eh, jangan salah sangka, lho. Aku bukannya mau membicarakan alien atau sejenisnya. Pada kenyataannya toh aku lumayan skeptis terhadap keberadaan entitas-berkepala-besar-dan-berbadan-seperti-anak-kecil-yang-mengendarai-sebuah-mesin-astronautika-berbentuk-gepeng-dengan-sistem-pendorong-turbo-di-bagian-bawahnya itu. Maksudku, manusia itu sangat melebih-lebihkan, ya kan? Kenapa harus digambarkan se-ektraterestrial itu sih? Mana tahu kalau ternyata alien itu bentuknya sama saja seperti kita para manusia? Mana tahu kalau entitas antargalaksi itu juga sama-sama manusia seperti kau dan aku?

Nah, kan, aku malah melantur ke alien.

Kembali ke topik, yang kupercayai tentang ke-tidaksendirian makhluk bumi adalah bahwa ada kemungkinan kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu bukanlah satu-satunya versi kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu yang hidup jagat raya. Ada kemungkinan hidup pula kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu di dimensi yang lainnya. Dan kita semua bergerak secara paralel.

Ngerti maksudku?

Begini, dulu aku pernah menonton kartun Steins: Gate yang bertema tentang mesin waktu dan John Titor (tau kan dia siapa? Jangan bikin gugel nganggur deh), direkomendasikan oleh kakak laki-lakiku yang selera film-nya memang agak berat dan tematik. Aku bukan yang suka-suka amat dengan kartun itu, tapi ada adegan yang sangat aku ingat sampai sekarang. Yaitu ketika sang karakter protagonis cowok ingin menyelamatkan karakter protagonis cewek yang mati di kehidupannya saat itu, namun entah berapa kali pun dia kembali memutar waktu dan bagaimanapun caranya berusaha menyelamatkan si cewek itu dari kematiannya, toh karakter itu tetap mati juga. Karena memang itulah yang telah ditetapkan untuk karakter tersebut di semua sudut waktu yang ada: mati.

Itu membuat aku berpikir—dan mulai mempercaya juga, sebetulnya—bahwa sebenarnya diri kita tidak hanya ada satu. Jangan-jangan jagat raya ini konsepnya seperti beberapa rel kereta api yang diletakkan bersebelahan, namun alih-alih kereta yang berjalan dengan arah yang berlawanan, kereta di rel kita ini berjalan bersamaan ke arah yang sama. Dengan waktu berangkat dan berhenti yang sama pula. Dan rel-rel inilah yang dinamakan “dimensi.”

Aku selalu bertanya-tanya, jika ada lebih dari satu diriku yang hidup secara bersamaan di beberapa dimensi yang berbeda, akan seperti apa ya para diriku-yang-lain itu? Untuk beberapa alasan aku mengasumsikan bahwa segala unsur intrinsik dari diri kita seperti penampilan fisik, mental, intelegensi, dan emosional setiap versi dimensi itu sama. Alasannya? Ya karena dengan begitu di dimensi mana pun kita berada, kita akan selalu menjadi diri kita sendiri. Begitulah cara kerja dimensi paralel seharusnya, dengan memperbanyak kopi dari diri kita. Apabila ada bagian yang berbeda antara diri kita di dimensi yang satu dengan lainnya, itu namanya bukan fotokopi diri kita kan?

Nah, yang kubayangkan berbeda adalah, bagaimana jika kehidupan yang diberikan kepada kita itu tidak sama antara aku di dimensi ini dengan di dimensi tetangga? Misalnya saja aku di dimensi ini hidup di keluarga biasa saja dan yang kulakukan tiap hari adalah bekerja dan kuliah. Apa jangan-jangan aku di dimensi tetangga hidup di keluarga kaya raya yang setiap hari bisa mandi di jacuzzi mewah? Dan jangan-jangan aku yang satunya lagi di dimensi tetangganya-tetangga dilahirkan dengan agama yang berbeda dan hidup di negara yang berbeda? Siapa yang tahu kan?

Mengerikan juga sih, kalau dipikir-pikir. Kemungkinan tidak terbatas bahwa ada versi lain dari diri kita yang memiliki kehidupan yang amat sangat berbeda itu lumayan mengganggu. Apa jadinya kalau aku bertemu dengan diriku di dimensi yang lain dan menemukan bahwa kehidupannya begitu tidak menyenangkan sampai aku mau membantu mengubah hidupnya dan nantinya malah akan mengganggu keseimbangan antardimensi, atau bahkan sungguh-sungguh menyenangkankan sampai aku ingin membunuh dia dan menggantikan posisinya di dimensi tersebut?

Ada tidak ya orang di dunia ini yang memiliki kelebihan untuk bertransportasi antar-dimensi seperti itu? Transdimentional ability. Woah keren kan kedengarannya? Aku yang bikin sendiri lho sebutannya.

Jadi begini, Transdimentional ability atau kemampuan transdimensi adalah salah satu dari kemampuan spiritual Maha Luarbiasa yang diberikan pada manusia. Berbeda prinsipnya dengan transchronical ability (nah, aku yang bikin lagi tuh istilahnya, keren kan), yaitu kemampuan transkronik. Jika cara kerja transdimensi adalah menjelajah satu rel ke rel lainnya secara melintang, transwaktu hanya punya kemampuan dalam lingkup satu rel saja, tapi bisa melompat-lompat ke depan dan belakang.

Nah, tidakkah kau berpikir, setidaknya ada masing-masing satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut? Maksudku, toh Tuhan menciptakan dimensi paralel tersebut bukannya tanpa alasan, kan. Pasti ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan-Nya kepada kita manusia. Selain itu, asal kau tahu saja, Tuhan juga punya selera humor yang seru, lho.

Nah kan aku malah jadi melantur ke kemampuan transdimensi dan transkronik segala.

Tapi untuk apakah Tuhan menciptakan beberapa dimensi dengan duplikat persona-persona yang sama dari setiap makhluk yang berada di dalamnya dan bukannya beberapa dimensi dengan penghuni yang berbeda saja? Maksudku, bukankah lebih efisien jika kau menciptakan satu rel yang isinya makhluk A, satu rel lain isinya makhluk B, dan rel lainnya berisi makhluk C, D, atau kombinasi semuanya? Lebih seru kan jadinya, setuju?

Eh, atau begini saja, pernah mendengar istilah doppelgaenger? Ada sebuah kepercayaan, aku lupa berasal dari mana, bahwa ada beberapa duplikat diri kita yang diciptakan bersamaan dan disebar di seluruh dunia ini. Tentang berapa jumlah duplikatnya aku juga kurang ingat, antara 7 atau 10 orang, tergantung dari legenda mana kau mempercayainya. Nah, duplikat-duplikat inilah yang disebut doppelgaenger. Konon jika kita bertemu dengan seluruh doppelgaenger kita, ada yang berkata itu berarti kematian kita telah dekat.

Nah, berangkat dari legenda itu, aku hanya berpikir bagaimana jika doppelgaenger tersebut sebenarnya tidak disebar di dunia yang sama dengan kita, melainkan di ‘versi dunia lainnya’? Secara teknis, kita mungkin tidak akan bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi ya sudahlah anggap saja ini versi legenda doppelgaenger yang berbeda.

Mungkin saja Tuhan menciptakan banyak dimensi dengan duplikat diri kita untuk menguji sejauh mana batas ketahanan manusia di dunia yang berbeda. Jika diibaratkan pengujian laboratorium, ini seperti menguji sejauh mana bakteri dapat bertahan di tiga macam suhu: psikrotermik, mesotermik, dan termotermik. Tunggu, istilah terakhir itu—termotermik—rasanya tidak benar, aku sepertinya harus membuka kembali diktat mikrobiologi umumku sebelum menuliskannya, tapi, yah, intinya kau harus menempatkan bakteri yang sama di tiga kondisi yang sama sekali berbeda kemudian menjalani pengujian secara serentak agar bisa memperoleh hasil yang valid dan reliabel.

Jadi, apabila kita mengasumsikan ada banyak versi diri kita di dunia ini, kusimpulkan sebenarnya kita adalah bagian dari bakteri percobaan yang sedang diadu satu sama lain secara tak langsung di sebuah laga pertarungan antar-dimensi. Ini semata karena Tuhan ingin melihat siapa yang paling kuat yang bisa bertahan menjalani kehidupannya. Sehingga ketika kita menyerah, saat itulah kita bukan hanya kalah di laga pertarungan antara diri kita dan kehidupan sekitar, tapi sebenarnya juga di pertarungan dengan beberapa versi lain diri kita di dimensi lain.

Dan apa yang kita dapatkan apabila kita memenangkan pertarungan tersebut?

Sederhana.

Di laboratorium, bakteri nonpatogen yang mempunyai resitensi tinggi yang akan diambil, dikembangkan, dan diberi perlakuan istimewa, karena dirinya sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan dan masalah janggal yang tak terpecahkan.

Mungkin itu pula yang akan Tuhan lakukan pada duplikat yang bertahan: memberi perlakukan istimewa. Di mana langkah selanjutnya hanya Ia yang mengetahuinya.

Berarti sebenarnya semua kutipan dan kata-kata bijak itu benar: rival terbesar kita adalah diri kita sendiri, di dimensi yang lainnya.

Aku bukannya mau mengaitkan hal ini dengan motivasi hidup atau bagaimana, tapi kalau pertarungannya tingkat antar-dimensi, bukankah jadi ‘Pemenang Antardimensi’ sangat keren sekali kedengarannya?

Makanya, kita tidak boleh kalah.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

It started to Smells Like Ramadan (Ep. 2)

Processed with VSCO with g3 preset

Saya menulis post tentang ini di Ramadan tahun lalu, dan saya merasa ingin menuliskannya lagi. Sebagian besar sebagai bentuk syukur dan terima kasih saya pada Tuhan karena diijinkan untuk tetap hidup di satu lagi bulan Ramadan, sebagian lagi karena sebab agar supaya saya tetap semangat berpuasa. ehe.

Bulan Ramadan memang selalu mempunyai aroma tersendiri bagi hidung saya. Namun tidak selalu sama setiap tahun, karena manusia kan selalu berubah, yes?

Nah Ramadan di tahun ini, bagi saya wanginya seperti:

1. Es Sirup Timun Suri. Yang mana di bulan-bulan biasa buah ini akan dicuekin saja, tapi di bulan Ramadan mendadak jadi selebriti. Saya bukan yang suka-suka amat dengan timun suri. Saya kurang suka teksturnya yang agak sandy dan meninggalkan banyak remah-remah di larutan es sirop. Tapi semua setuju kan kalau timun suri memiliki wangi yang sangat khas? Bagi orang lain wangi timun suri itu menyenangkan, seperti…ya seperti timun suri #plak. Tapi hidung random saya mentranslasikan wangi timun suri menjadi letupan kegembiraan di saat-saat berkumpul bersama keluarga di meja makan, menunggu waktu berbuka puasa sambil saling bercerita dan tertawa, persis seperti imej keluarga cemara. Selain itu wangi timun suri juga terasa seperti rangkuman kesibukan dan kebahagiaan di bulan Ramadan, mulai dari lapernya, hausnya, panasnya, tarawih, hingga bangun sahur dini hari. Mulai dari jokes receh bulan Ramadan seperti “Berbukalah dengan yang pasti karena yang manis belum tentu pasti” (duh elah), hingga hawa jalanan di pagi hari kerja yang dipenuhi pengendara yang oleh-oleng karena ngantuk segenap jiwa raga.

2. Wangi sajadah berdebu. Kebetulan rumah saya habis dibongkar dan direnovasi baru-baru ini sehingga meninggalkan perabot yang semuanya berbau debu. Tapi bukan, bukan karena itu sih. Lebih tepatnya saya mengasosiakan dengan sajadah karpet di musholla dan masjid. Baik yang di dekat rumah tempat saya biasa tarawih, hingga musholla kampus tempat solat di waktu siang. Kulit saya lumayan alergi debu, efeknya bisa gatal-gatal, merah-merah, ruam-ruam. Tapi kok ya sealergi-alerginya, tetap saja saya lumayan menyukai wangi sajadah musholla yang berdebu karena alasan yang saya sendiri tidak bisa jelaskan.

3. Petak-petak sinar matahari. Dari kedua wangi harfiah di atas, yang satu ini memang sukar dijelaskan. Tapi matahari selalu menyorot tajam di bulan Ramadan, yes? Banyak orang berkata semakin panas maka semakin baik karena itu berarti dosa kita di dunia sedang dibakar dan dikurangi. Jadi saya yang benci matahari pun sebisa mungkin tidak memprotes bola besar sombong itu kalau di bulan Ramadan. Dan ternyata matahari tidak begitu buruk juga di Bulan Ramadan, karena jika sudah condong ke Barat dan sinarnya menembus kisi-kisi jendela dan lubang angin secara horizontal, akan membentuk pola dan petak yang cantik di lantai. Selain itu matahari yang condong ke Barat itu menandakan semakin dekatnya waktu berbuka puasa, dan mana yang lebih menyenangkan dari waktu buka puasa, betul?

4. Nyamuk keparat tidak tahu aturan yang mendadak punya tambahan bala bantuan. Kemungkinan besar karena musim kemarau memang musimnya nyamuk. Saya kurang paham juga sih aroma nyamuk itu seperti apa. Malah mungkin nggak ada aromanya, siapa tahu, kan. Oke ini memang agak surreal.

Dan sebagian besarnya kurang lebih sama dengan wangi Ramadan di tahun yang lalu. Nonetheless, seperti apa pun wanginya, Bulan Ramadan tetap menjadi bulan yang paling saya sukai dalam setahun.

Selamat berpuasa kembali, teman-teman.

Bahasa · My Writer Side

Book Review – The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared by Jonas Jonasson

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/3b176-the-100-year-old-cover.jpg?w=355&h=560

Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: PT Bentang Pustaka, 2015
Pages: 508 Pages
Rating: ★★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Setelah resign, saya mengira akan punya banyak waktu luang nanti. Oleh karena itu sebagai antisipasi saya membeli beberapa buku yang memang sudah saya inginkan dari lama sekali untuk mengisi waktu luang tersebut secara lebih berfaedah.

Tapi ya, ternyata hal itu nggak sepenuhnya benar. Ternyata setelah saya resign pun waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan kuliah, dan beberapa untuk pekerjaan freelance, tapi sebagian besar untuk tugas-tugas kuliah. Saya sampai nggak habis pikir, akan bagaimana jadinya kalau saya belum resign. Bisa-bisa rabu-kamis-jumat saya dijatah enggak tidur semaleman demi ngejar tugas.

Oke sudah cukup curcolnya.

Jadi dari beberapa buku yang saya beli tersebut, salah satunya adalah buku ini. Saya ingat memegangnya erat-erat dengan mata nggak berkedip sedikit pun begitu melihat covernya waktu di Gramedia akhir tahun lalu. I mean, lucu sekali kan ya desain sampulnya! Begitu pula dengan judulnya yang panjang tapi tidak kalah nyentriknya.

Sekilas memang terlihat seperti buku self-help gimana gitu sih, tapi setelah dibaca sinopsisnya, ini ternyata buku fiksi, kawan-kawan. Maka ketika beberapa minggu lalu online bookstore favorit saya mengadakan sale dan voucher redemption, segera lah saya manfaatkan untuk membeli buku ini.

 

Main Story

The 100-year-old Who Climbed Out of Window and Disappeared, atau jika dibahasaindonesiakan menjadi “Pria 100 Tahun yang Memanjat Keluar Jendela dan Menghilang” ini bercerita tentang…ya, tentang pria berusia seratus tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang #plak. Allan Karlsson tinggal di Rumah Lansia di kota Malmköping, Swedia. Sore itu tepat hari ulangtahunnya yang keseratus tahun dan Rumah Lansia tersebut, dengan dukungan walikota dan lain-lain, berniat mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Allan. Kejadian menghilangnya Allan kemudian membuat gempar seisi kota dan, bahkan, seisi Swedia. Tapi petualangan Allan selanjutnya serta cerita tentang masa lalunya ternyata lebih menggemparkan lagi.

Kalau ada cara baru untuk belajar sejarah, atau untuk menjabarkan sejarah tanpa terasa seperti belajar sejarah, saya rasa buku ini jawabannya. Sebagian besar buku ini tidak bertempat di Swedia tahun 2005, asal dari si tokoh utama, melainkan di seluruh dunia, berpindah-pindah dari Swedia ke Spanyol, ke Amerika, Tiongkok, Soviet (bahkan, Indonesia!), dan semua negara besar lain baik blok Barat mau pun Blok Timur di masa perang dunia kedua.

Oke, ini salah satu kelebihan mencolok dari buku ini. Risetnya–all hail Jonas Jonasson–sangat luar biasa. Saya pernah buat cerita tentang bioterorisme Soviet di jaman Perang Dunia Kedua, dan walaupun unsur itu sendiri hanya muncul sedikiiiiiit sekali di cerita, saya membutuhkan banyak sekali link dan membaca banyak sekali referensi untuk dapat menuliskannya. Saya nggak bisa lagi membayangkan how much it takes untuk dapat menuliskannya sebanyak satu buku! Cara curangnya, Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis, salah satu dari sedikit profesi yang berisi orang-orang yang tau segala hal, menurut saya. Tapi di luar itu, saya cukup overwhelmed dengan penulisan yang luar biasa detail tentang sejarah perang dunia tersebut. Bahkan seolah Jonas Jonasson mengenal Stallin, Mao Tse-Tsung, dan Truman secara personal.

Ya, kalimat terakhir merupakan kelebihan keduanya. Karakterisasinya kuat sekali. Persfektif Allan sebagai tokoh utama dan pemandu cerita menjadi sarana untuk membangun karakter lainnya, namun karena menurut saya karakter Allan sendiri sudah cukup kuat, sama sekali tidak ada masalah dengan membangun citra karakter lainnya. Tokoh-tokoh klise sih pasti ada, contohnya seperti Bolt dan Bucket serta Caracas yang tipikal stereotip penjahat idiot banget. Tapi toh mereka tidak jadi parasit cerita, malah secara paralel membantu membangun karakterisasi tokoh lainnya.

Kemudian yang ketiga adalah plotnya. Saya nggak berpikir ini sebagai kelebihan atau gimana. Perlu diakui juga walau pun sama sekali tidak gampang memakai alur campuran tapi harus tetap menyeimbangkan antara keduanya, plot cerita maju-mundur yang bercabang akan sangat membantu bagi penulis yang kena writer-block (kalau Anda adalah penulis fiksi, Anda pasti paham), tapi kenyataannya saya merasa cabang cerita ini kadang berat sebelah. Kadang penulis terlalu fokus menceritakan bagaimana cara Allan meledakkan jembatan Tiongkok di Oktober 1945 silam, padahal nasibnya di tahun 2005 sedang dalam keadaan rumit-rumitnya tapi terbengkalai begitu saja. Dan dalam banyak kesempatan, saya berpikir penulis begitu bersemangat menguliahi pembaca dengan proses infiltrasi komunisme di Korea dan perang ideologi blok Barat dan Timur sampai nggak menyadari bahwa tulisannya membosankan. Tapi untungnya sang Penulis punya tokoh keren, Allan Karlsson, dan humor yang bagus untuk memandu audiens agar tetap membaca.

Nah, ini bagian favorit saya, humornya. Saya sempat menebak-nebak apa genre spesifik yang tepat untuk buku ini selama saya membaca. Apakah fiksi petualangan, fiksi historikal, fiksi komedi, akhirnya saya memutuskan sub-genre yang (sepertinya) tepat adalah: Fiksi komedi satir historis. Karena jujur aja, saya kebanyakan ketawa baca buku ini, seringkali sampe nggak bisa berenti. Jonas Jonasson saya akui punya sense of humor yang asik sekali, dan sifat itu diwariskan secara sukses ke tokoh-tokohnya. Namun dengan banyaknya bahasan politik di buku ini, humor itu pun dengan sendirinya bertransformasi jadi satir. Contohnya seperti penggambaran Indonesia yang semuanya bisa dibeli dengan uang dari sudut pandang seorang Swedia, itu satir sekali kan?

Secara umum, plothole yang saya lihat di buku ini justru sama sekali tidak berhubungan dengan plot (kalau pun ada, saya berarti nggak begitu menyimak karena saya keburu pusing duluan dengan perang ideologi antara pejabat soviet dan amerika) tetapi berada di Allan Karlsson sendiri. Maksudnya, dia kan seorang lansia berusia hampir 100 tahun ya, namun melakukan perjalanan lumayan rumit begitu, apa itu nggak berpengaruh bagi kesehatannya? Apa giginya, di usia seratus tahun, masih lengkap sehingga dia masih ngelantur bicara dengan jelas? Apakah dia nggak seharusnya pakai pampers ke-mana mana untuk memudahkan hidup seorang berusia seratus tahun? Apa lutut berusia seabadnya masih sehat sehingga Allan masih bisa memberi makan gajah dan membuatkan kopi untuk inspektur yang mengejarnya kemana-mana? Bagaimana bisa penulis tidak memperhatikan beberapa hal kecil seperti itu ya, karena secara umum, Allan di usia seratus tahun yang saya baca hampir tidak ada bedanya dengan Allan di usia empat puluh tahun yang melintasi pegunungan Himalaya naik unta. Yang mana hal ini bikin partisi antara plot lampau dan plot sekarang jadi kabur.

Epilogue

Tapi sekalipun saya seolah lebih banyak ngeritik, nyatanya saya overwhelmed dengan buku ini yang ditulis hampir seolah effortless dan alami sekali. Bahkan kalau dibaca baik-baik, saya menulis review ini pun dengan bahasa yang dipakai Jonas Jonasson, bukan bahasa khas saya sendiri! Lumayan bikin book-hangover juga ternyata si Jonasson ini, saya pun harus kasih apresiasi besar untuk sang penerjemahnya. He did such a wonderful job, I think.

Untuk Allan Karlsson, saya bersedia kasih bintang lima full, dan sekarang saya sedang dalam proses memburu buku karya Jonas Jonasson yang lain!

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Personifikasi Waktu

Jika “Waktu” adalah makhluk hidup, tidakkah kau bertanya-tanya seperti apa rupanya? Apakah gendernya wanita atau pria? Tua atau muda? Menyenangkan atau tidak?

Hum, mengingat sikapnya yang sangat keras kepala dan tidak mau mengalah, kutebak dia wanita. Namun berhubung para wanita seringkali mengklaim kaum pria adalah makhluk yang tidak sensitif dan anti-kemapanan, yang mana sangat menggambarkan Waktu secara keseluruhan, kupikir dalam waktu bersamaan Waktu juga adalah seorang pria.

Hei

Tunggu sebentar.

Jika aku memilih bahwa Waktu adalah wanita maupun pria, tidakkah kau berpikir itu membuatnya terdengar sebagai salah satu dari kaum transgender yang masih ramai dijadikan perdebatan antara para liberalis dan fundamentalis? Aku bukannya mau mengambil salah satu sisi antara pro dan kontra itu, aku hanya tidak mau Waktu ikut menjadi bahan perdebatan mereka.

Namun jika Waktu adalah wanita, pasti keturunan Hawa itu akan girang dan melonjak-lonjak setengah mati. Berpikir bahwa dunia benar-benar berada di telapak kaki mereka dan dengan mudah memperbudak kaum lelaki sambil berkata angkuh “Kau mencoba mempermainkanku, hah? Kusuruh Waktu mengutukmu langsung jadi tua bangka, baru tahu rasa kau!” Sementara jika kuputuskan Waktu adalah pria, ah, betapa akan kacaunya dunia ini. Makhluk maskulin berego tinggi itu bisa menyalahgunakannya untuk apa saja. Contohnya, yah, kau taulah apa.

Ah, atau begini saja, kuputuskan bahwa Waktu adalah gender yang baru, tidak berkiblat baik ke wanita atau pun pria. Kita namakan saja gender Waktu tersebut sebagai Gender Baru, dengan huruf kapital untuk “G” dan “B”-nya. Apabila kau sudah menemukan sebutan yang tepat untuk Gender Baru itu, silakan katakan saja ya, biar kita bisa pertimbangkan bersama nanti.

Menurut pikiranku, Waktu adalah makhluk hidup yang dapat bergerak sama normalnya seperti kau dan aku. Dia terdiri dari kepala, badan, tangan, dan kaki. Hum, sebetulnya aku mau saja mengurut ulang komponen-komponen itu menjadi susunan acak, supaya karakter Waktu kita lebih seru jadinya. Namun menurut hemat Tuhan sesuai dengan ilmu ergonomi yang diciptakan-Nya sendiri, setiap komponen tersebut telah terspesialisasi sesuai dengan fungsinya masing-masing dan harus diletakkan di posisi yang tepat untuk menghindarkan gangguan yang mungkin muncul di masa depan. Jadi, yah, lebih baik dituruti sajalah. Tahu sendiri jika Ia sudah marah, lumayan menyeramkan juga kan.

Kubayangkan, Waktu adalah makhluk yang akan semakin tua dan sakit-sakitan apabila makhluk lainnya melanggar aturan jadwal yang telah ditetapkan. Pandangan matanya akan menjadi minus nol koma lima tiap ada anak manusia yang telat bangun pagi, sehelai rambutnya akan berubah menjadi putih tiap ada bangau yang telat bermigrasi musim dingin, satu giginya akan tanggal jika ada presiden yang telat menghadiri upacara kemerdekaan negaranya sendiri.

Oleh karena itu, Waktu sangat membenci makhluk lain–makhluk apa saja selain dirinya–yang suka terlambat dan membuang-buang waktu karena membuatnya semakin hari menjadi renta, sementara ia pun juga menjadi makhluk yang paling dibenci seantero jagat raya ini karena hobinya marah-marah dan menunjuk hidung siapa saja yang ia pikir tidak efisien hidupnya.

Aku membayangkan Waktu memiliki dua mulut dan satu telinga. Orang berkata bahwa kita dianugerahi satu mulut dan dua telinga karena kita diharapkan untuk lebih banyak mendengar dibanding berbicara, namun hal itu tak berlaku untuk Waktu karena ia tak butuh banyak mendengar. Satu mulut Waktu berfungsi layaknya mikrofon khusus jarum jam. Dia selalu berbunyi “Tik, tik, tik, tik….” di setiap detik yang terlewati serta berteriak-teriak “PUKUL DUA TEPAT!!!” ketika kombinasi jarumnya menunjuk angka dua dan dua belas. Satu mulutnya lagi berguna untuk berbicara–atau lebih tepatnya, mengomel–secara normal. Bagi Waktu, bicara itu lebih penting daripada mendengarkan, karena Waktu selalu benar dan aturan-aturannya bersifat absolut, tidak peduli apa kata orang.

Waktu memiliki hidung yang sangat runcing, lebih runcing daripada nenek sihir mana pun yang bisa kau temukan di cerita dongeng (atau mungkin juga dunia nyata, siapa tahu penyihir itu betulan hidup), mungkin ukurannya sekitar dua inci lebih runcing dari hidung teruncing yang kau tahu. Di mana hidung itu berfungsi untuk menambahkan penegasan dramatis ketika ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menatapmu dengan pandangan menyalahkan karena kau bangun pagi 10 detik lebih lama dari yang seharusnya.

Tapi seberapa pun orang-orang menyakiti Waktu baik sadar atau tidak, Waktu tidak akan bisa mati. Jika tubuhnya sudah porak-poranda dan tak memungkinkannya hidup lebih lama, Waktu baru yang masih muda akan menjelma menggantikan Waktu lama yang telah jompo, dengan membawa sifat dan pengetahuan sama persis seperti sosok Waktu yang lama, terus begitu hingga entah sampai kapan.

Waktu sesungguhnya telah berusia tua sekali, bahkan dicurigai Waktu telah ada saat bumi ini masih dalam tahap pembangunan. Oleh karena itulah dapat dikatakan Waktu adalah saksi hidup dari semua peristiwa penting di dunia. Banyak peneliti, arkeolog, ilmuwan, atau orang-orang yang hanya ingin tahu, datang berbondong-bondong ke hadapan Waktu, bertanya ini-itu sampai mulut mereka berbusa-busa. Sayangnya kebanyakan mereka semua akan pulang dengan tangan hampa karena Waktu tidak dapat memberikan jawaban yang mereka harapkan.

Orang-orang seringkali berkata “Biar Waktu yang akan menjawab,” namun kenyataannya, Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan atau akan berakibat pada masa depan. Contohnya, jika kau bertanya apakah Neil Armstrong, Michael Collins, dan Edwin Aldrin benar-benar mendarat di bulan tahun 1969, maka Waktu tidak akan menjawabnya sekalipun ia tahu. Begitu juga dengan kasus kematian Napoleon Bonaparte yang masih diperdebatkan apakah disebabkan racun arsenik atau kanker gastritis, karena dengan diketahuinya kenyataan sebenarnya maka akan ada perdebatan atau pertarungan di masa depan. Hal itulah, sesuatu yang dapat berdampak pada masa depan, yang berada di luar kuasa Waktu. Karena meskipun Waktu memegang kendali atas waktu yang sedang berjalan, ia tidak memiliki kendali atas masa depan.

Namun apabila kau bertanya tentang seperti apakah hari di mana kau dilahirkan, atau berapakah jumlah tentara salib yang mati akibat perang salib maka dia akan menjawabnya (tentu apabila pertanyaanmu dan jawaban darinya untuk pertanyaanmu itu tidak mengganggunya untuk berteriak mengumumkan jam dan mengomeli kereta yang telat seperlima detik dari jadwal) dengan singkat, padat, dan jelas.

Namun di luar itu semua, seperti yang sudah kukatakan, Waktu memegang kendali atas waktu yang tengah berjalan. Ketika kau merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat atau terlalu lambat, kau tidak sadar bahwa saat itu Waktu memang sedang memainkan kecepatan putaran jamnya. Tujuannya bermacam-macam, dan mungkin beberapa di antaranya tidak dapat kau pahami. Seringkali ia mempercepat waktu untuk mendidikmu bagaimana mengefisiensikan hidup, atau juga memperlambat waktu untuk memberimu kesempatan belajar lebih banyak (atau juga memperlambat jam pulang kerjamu saat kau sedang bosan-bosannya, karena dia kesal segaris kerutan muncul di wajahnya saat kau terlambat mengantarkan anak perempuanmu ke sekolah).

Sesungguhnya, di luar perangainya yang menyebalkan dan tidak kenal toleransi itu, Waktu adalah makhluk yang sangat baik hati. Ini hanya tentang bagaimana caramu memperlakukannya dan memperlakukan dirimu sendiri. Karena ketika kau melukai Waktu, secara tak langsung kau sedang melukai dirimu dan masa depanmu sendiri.

Jika “Waktu” adalah makhluk hidup, humm, sepertinya hidup ini akan cukup menyusahkan juga jadinya.

Bahasa · My Writer Side

Book Review – Carrie by Stephen King

https://i1.wp.com/media.tumblr.com/24866e211383a7c4066da0205e9a329c/tumblr_inline_mtxkn3jgNP1qb7t48.jpg

Author: Stephen King
Translator: Gita Yuliani K.
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013
Pages: 256 Pages
Rating: ★★ of ★★★★★

Prologue

Paket buku ini baru saya buka tadi pagi, sepulang saya dari luar kota dan langsung saya baca saat itu juga, mengingat nggak ada lagi hal menarik lain yang berniat saya kerjakan hari ini. Surprisingly, ternyata buku ini habis hanya dalam setengah hari saja. Prestasi yang cukup memuaskan sebetulnya, mengingat kecepatan baca saya yang sebetulnya luar biasa tapi kemampuan baca yang berkurang karena lama memanjakan diri dengan enggak baca buku sama sekali (saya biasa nyalahin platform-platform digital untuk ini, padahal sih sebenernya saya aja yang males ). Setidaknya salah satu resolusi saya tahun ini (Re: Read more books) lumayan berhasil di hari pertama 2017.

Back to topic.

Sudah lama saya mengincar buku ini. Well, sebetulnya bahkan sudah lama saya mengincar karya-karya Stephen King ketika tahu beliau sering disanding-sandingkan dengan Edgar Allan Poe dan Neil Gaiman sebagai The King of Horror and Thriller Stories.

Walau mengaku sebagai thriller novel freak, lumayan malu juga mengakui saya belum pernah baca satu pun karya The King yang satu ini. Pernah saya coba baca Rose Madder, namun menyerah di tengah jalan. Entahlah, mungkin ceritanya terlalu berat dan membosankan bagi saya yang masih berusia tiga belas tahun saat itu.

Maka, pikir saya, Carrie akan jadi pembuka yang sempurna mengingat bahwa karya ini termasuk satu karya King yang paling populer sepanjang masa.

 

Main Story

Singkatnya, Carrie bercerita tentang seorang gadis SMA yang pendiam dan sering menjadi korban bully di sekolahnya. Carrie memiliki ibu penganut agama kristen orthodox cukup ekstrim yang sangat berpengaruh pada perkembangan psikisnya. Ia memiliki kemampuan telekinesis yang kerap muncul saat dirinya berada dalam posisi tertekan atau tersudut. Kemampuan ini rupanya menjadi sumber mimpi buruk kota Chamberlain ketika penindasan yang dilakukan teman-temannya di acara Pesta Dansa Sekolah semakin kelewat batas.

It won’t be long, I promise.

Alasan saya me-review buku ini di sini bukan karena buku ini bagus atau gimana. Intinya saya hanya ingin menghujat penerjemahnya saja kok. Bahkan di kalimat pertama di bagian pertamanya saja, I’m so done with this book.

Saya pernah bilang di review buku terakhir bahwa terjemahan The Wizard of Oz itu jeleknya kayak ditranslet pakai gugel translet berbasis jaman Soekarno-Hatta, nah ternyata ada yang lebih parah dari itu.

Carrie, karya termashyur dari Stephen King; salah satu yang membuat topik telekinesis menjadi populer di masyarakat tahun itu; karya pertama King yang diangkat ke layar kaca di tahun 1976; karya yang saking populernya bahkan dibuat versi remake-nya dengan dibintangin Chloe Moretz di tahun 2013; namun begitu saya baca, embel-embel luar biasa itu hilang semua.

Saya nggak tau apa yang sebenarnya dipikirkan si penerjemah. Apakah segitu terjepitnya beliau dengan deadline? Apa beliau pernah baca kembali hasil terjemahannya? Dan kalau iya, apakah beliau menyadari kebusukan dalam hasil terjemahannya ini? Pun saya nggak paham apa yang dipikirkan penerbit besar sekelas Gramedia Pustaka Utama, aduh, tolonglah, kalau belum punya pengalaman dan belum bisa menerjemah dengan bagus, setidaknya janganlah dikasih buku populer begini. Karena membaca ini, alih-alih menikmati Stephen King, yang ada saya cuma misuh-misuh berusaha menerjemahkan sendiri padanan kata yang sangat non-literal ini.

Kalau saya editornya, mungkin sudah saya koyak habis naskah terjemahan ini tepat di depan wajah sang penerjemah dan saya minta ganti penerjemah lain. Saya curiga ini benar-benar diterjemahkan pakai gugel translet dan sang penerjemah cuma makan gaji buta.

Satu lagi yang saya bingungkan, sepertinya cara penulisannya agak aneh. Ada banyak kalimat dalam kurung di sepanjang cerita, yang saya kurang paham apa relasinya. Jika kata-kata itu adalah monolog dari batin tokoh, kenapa ditandai dengan kurung di paragraf terpisah dan bukannya dimiringkan saja? Lalu kalau benar itu memang monolog batin tokoh, kenapa saya merasa tidak ada hubungannya dengan konteks paragraf secara keseluruhan? Ah, sepertinya saya harus baca buku aslinya saja agar jelas.

Tapi dibalik kesebalan saya terhadap sang penerjemah, toh akhirnya buku ini berhasil saya tamatkan juga. Mungkin tertolong dengan genrenya atau plotnya sendiri, mengingat saya lumayan freak kalau urusan psychological thriller.

 

Epilogue

Pada akhirnya, ternyata yang saya lakukan bukan mereview unsur intrinsik buku ini secara keseluruhan seperti yang biasa saya lakukan, melainkan benar-benar cuma menghujat penerjemahnya saja.

Soal rating, saya rasa dua bintang sudah cukup, keduanya untuk aspek psikologis Carrie dan cara penjabaran dengan artikel berkesinambungan di sepanjang cerita.

Time to go for another reads 🙂

Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Wizard of Oz

The Wonderful Wizard of Oz

Author: L. Frank Baum
Translator: A. Dzaka
Publisher: PT Tangga Pustaka, 2013
Pages Count: 224 Pages

Prologue

The Wizard of Oz, cerita klasik L. Frank Baum yang sebegitu terkenalnya, yang sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan diadaptasi ke baik ke teater maupun layar kaca di seluruh dunia, belum pernah sekali pun saya baca dan saya tonton filmnya.

Empat tahun lalu saya sempat buat list life goals, yang salah satunya adalah membaca karya-karya klasik mancanegara minimal 50 buku, yang mana seharusnya termasuk Wizard of Oz juga. Tapi, ya, gitulah, kadang saya memang suka ngomong doang =_=

Maka ketika nemu buku ini di bazaar lima bulan yang lalu (iya, memang udah lama =_=) tanpa pikir dua kali langsung saya samber aja begitu.

Main Story

The Wizard of Oz menceritakan tentang seorang gadis kecil yang tinggal di Kansas bersama Paman dan Bibi serta anjingnya namun sebuah topan badai aneh menerbangkan Dorothy bersama anjingnya ke sebuah negeri asing yang aneh. Tujuan mereka kini hanya satu: pulang.

Enough said, I kinda had a hard hard time to finish.

Bahasanya bikin saya bosan. Kaku sekali, seperti ditranslate pakai gugel berbasis jaman soekarno-Hatta. Saya kurang paham apakah gaya begini adalah karena sang translator yang kurang luwes atau memang bawaan dari naskah aslinya. Tapi rasa-rasanya saya malas juga kalau harus baca naskah aslinya hanya untuk memastikan apakah gaya bahasanya juga sama jeleknya atau tidak. Saya ngerti sih, ini memang bacaan anak-anak, tapi daripada ‘sederhana’ rasanya malah lebih pas dibilang ‘kacau’. Saya kurang yakin apakah anak-anak juga akan mengerti kekacauan padanan kata-kata di buku ini.

Karakterisasinya bikin saya sebel. Jujur sih, saya malah menangkap bahwa si Dorothy ini karakter yang mengerikan, bahkan jauh lebih harus diwaspadai daripada penyihir jahat dari Negeri Barat. Dorothy terkesan sebagai gadis kecil keras kepala yang hanya memanfaatkan teman-teman hopelessnya untuk mencapai tujuannya sendiri. Berhasil membunuh para penyihir jahat hanya karena keberuntungan yang datang entah dari mana.

Alurnya kebanyakan filler yang ditarik ulur nggak jelas. Dan ternyata, tidak kalah mengerikannya dari Dorothy si karakter utama. Sebagai cerita anak-anak, saya lumayan kaget dengan banyaknya adegan kekerasan yang dijalankan dengan lancar-lancar saja oleh para tokoh di dalamnya seakan itu bukan sebuah kekerasan. Yang lainnya, saya masih ingat dengan adegan Bayung dan Penebang kaleng yang meninggalkan singa tertidur di ladang opium hingga mati. Walau pun si singa tidak mati pada akhirnya, tapi bahkan gagasan adanya ladang opium itu pun sudah cukup mengerikan sebetulnya, untuk sebuah cerita anak-anak.

Untung settingnya, yah lumayanlah. Barriernya lumayan jelas dan deskripsinya rada meyakinkan. Saya rasa dibanding aspek-aspek lainnya yang minus besar, mungkin worldbuildingnya bisa dikasih nilai netral lebih sedikit.

Belum sampai genap delapan bab saya baca (total ada 24 bab), saya sudah siap melemparkan buku ini jauh-jauh. Tapi saya tetap bertahan dengan harapan bahwa pertanyaan saya tentang mengapa cerita ini bisa sangat populer, akan terjawab. Tapi ternyata tidak juga. Kenapa cerita ini bisa sangat populer, saya masih belum tahu dan catatan panjang lebar dari penerbit sebagai penutup juga rasanya jadi nonsense.

Epilogue.

Soal stars rating, cukup ★, satu bintang hanya untuk settingnya saja. Yang lainnya nol besar.

Dear pembaca, kalau Anda punya argumen yang bagus untuk menjelaskan kepada saya mengapa cerita ini bisa jadi salah satu karya klasik yang sangat digemari, tolong dijabarkan di kolom komentar agar dapat mencerahkan hidup kita semua, terutama hidup saya, karena buku ini berhasil bikin saya badmood dua hari.

xx,
Kyokazuchan.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · Uncategorized

It Start to Smells like Ramadan

Agak aneh mungkin, tapi saya punya kebiasaan mengidentikkan suatu circumstance dengan aroma. Mungkin karena indera penciuman saya memegang kendali major di tubuh saya atau, saya curiga, hal ini hanya karena saya orangnya random aja sih. Karena sesuai dengan ke-random-an saya, aroma yang kadang saya pakai pun sangat sifatnya absurd dan surealis, bahkan bisa dibilang bukan aroma yang bisa dibaui oleh indera penciuman. (hah?).

Bulan Ramadan sudah tiba sejak persis seminggu lalu, tapi entah kenapa sepertinya saya nggak terserang hype-nya sama sekali selama seminggu ini. Puasa ya puasa saja, sahur ya sahur saja, tarawih ya tarawih saja, eh, enggak ding, saya sudah lima hari bolos tarawih karena sedang diserang musim UAS dan kerjaan kantor yang berjejer rapi menunggu dilirik (iya, iya saya tau itu semua urusan duniawi, tapi ya gimana ya gimana dong)

Kemudian hari ini saat saya berkendara mengarungi jalanan Pamulang-Kebayoran-Sawangan (ini urutannya random, mohon diabaikan) baru terasa bahwa saat ini sudah bulan puasa ternyata. Maksud saya, BENAR-BENAR bulan puasa.

Kenapa ya? Mungkinkah karena jalanan yang lebih kalem? Mungkin karena energi baru terbarukan yang tersuar dari masjid-masjid dan mushala yang tersebar di sepanjang jalan? Mungkin karena lapak-lapak dadakan yang tiba-tiba menjamur di pinggir trotoar ribut menjajakan makanan berbuka? Saya curiga karena yang terakhir sih, tapi selain itu, rasanya saya menghirup aroma yang lain, wangi yang lain. Wangi bulan Ramadan.

Jadi, seperti apa wangi bulan ramadhan itu? Oke, sini biar saya jabarkan. Bagi saya, wangi bulan Ramadan itu seperti:

  1. Tidur di kasur yang sejuk dengan piyama super nyaman, karena keluarga saya punya kebiasaan untuk mengganti seprai, gorden, dan alat makan khusus di bulan Ramadan, dan khusus untuk saya, selalu mengganti seprai dengan bed cover tebal kesayangan warna putih bercorak bunga-bunga biru dengan wangi deterjen laundry dekat rumah.
  2. Udara panas penuh dengan nyamuk keparat berdenging-denging di telinga, saya tidak pernah lupa di masa post-SMA dan Pre-kuliah dulu, ketika saya nggak punya hal lain untuk dikerjakan di bulan ramadan selain ngapal kanji jepang di tengah malam bersuhu 34C dengan tangan sibuk melambai-lambaikan raket nyamuk ke udara hampa.
  3. Sore hari dengan langit oranye cerah di acara buka puasa bersama ketika SMA dulu, TBH, walau saat itu saya sebal setengah mati, sekarang saya kangen ikut pesantren kilat yang rutin diadakan di bulan Ramadan ketika SMA, saya kangen dengan hype buka puasa bersama teman-teman kelas yang diadakan sekolah. Ah, mungkin tahun ini saya harus menyempatkan diri ikut acara mereka.
  4. Wangi kertas Al-Quran, es jelly sirup, dan lumpia udang, oke, ini sangat harfiah. Saya rasa tak perlulah kita bahas benda-benda rutin Ramadan.
  5. Keterpaksaan untuk bangun dari tidur setelah subuh, nggak ada yang tau seperti apa aromanya keterpaksaan? Saya juga sih. Tapi di bulan Ramadan, setiap saya terpaksa bangun pagi untuk pergi ke sekolah (dan kantor, mulai tahun ini) setelah tidur shubuh, saya mencium wangi yang sama. Aromanya seperti embun, seprai bantal, aspal dan debu, serta AC kelas (dan AC kantor) yang bercampur jadi satu. Nyaman tapi mendesak.
  6. Aroma senyum di setiap wajah anggota keluarga, bagaimana cara mendeskripsikan aroma senyum? Mungkin seperti wangi bubble gum dan pisang, dengan sedikit letupan meriah kembang api.
  7. Wangi oven dan kue-kue, menuliskannya saja sudah bikin saya bahagia. Aroma yang muncul paling kuat di penghujung bulan Ramadan ini selalu membuat saya ingin melompat sampai ke bulan saking bahagianya sekaligus terpuruk di pojok kasur saking patah hatinya. Ditinggal bulan Ramadan itu lebih sakit daripada ditinggal pacar (yah maap jadi curhat 😦 )
  8. AC mobil dan hamparan sawah, wangi ini makin kuat tercium ketika Ramadan hampir berakhir, bersamaan dengan wangi nomor 7. Bisa diilustrasikan dengan mobil yang berjajar di jalan alternatif menuju daerah pedalaman Indonesia, masing-masing dengan seabrek perbekalan di bagian luar-dalam-atas-bawah-kanan-kiri-depan-belakang kendaraan mereka. Mudik, tentu.
  9. Dan aroma-yang-tak-terasa-seperti-aroma lainnya yang kalau saya list, mungkin nggak kelar sampe solat tarawih di masjid kubah mas bubaran besok malem.

 

Ah ya, selain aroma, saya juga punya lagu-lagu yang sangat identik untuk bulan Ramadan bagi saya. Bukan karena temanya islami atau apa, sebenarnya hanya karena di Ramadan-Ramadan lalu saya terlalu banyak dengerin lagu-lagu tersebut sih.

Maap, saya memang random. 😦