Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Menjelajah Dimensi yang Lainnya

00840007

Aku selalu percaya kalau makhluk bumi tidak hidup sendirian saja di alam semesta ini. Setidaknya tidak di versi bumi yang kita tempati saat ini. Eh, jangan salah sangka, lho. Aku bukannya mau membicarakan alien atau sejenisnya. Pada kenyataannya toh aku lumayan skeptis terhadap keberadaan entitas-berkepala-besar-dan-berbadan-seperti-anak-kecil-yang-mengendarai-sebuah-mesin-astronautika-berbentuk-gepeng-dengan-sistem-pendorong-turbo-di-bagian-bawahnya itu. Maksudku, manusia itu sangat melebih-lebihkan, ya kan? Kenapa harus digambarkan se-ektraterestrial itu sih? Mana tahu kalau ternyata alien itu bentuknya sama saja seperti kita para manusia? Mana tahu kalau entitas antargalaksi itu juga sama-sama manusia seperti kau dan aku?

Nah, kan, aku malah melantur ke alien.

Kembali ke topik, yang kupercayai tentang ke-tidaksendirian makhluk bumi adalah bahwa ada kemungkinan kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu bukanlah satu-satunya versi kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu yang hidup jagat raya. Ada kemungkinan hidup pula kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu di dimensi yang lainnya. Dan kita semua bergerak secara paralel.

Ngerti maksudku?

Begini, dulu aku pernah menonton kartun Steins: Gate yang bertema tentang mesin waktu dan John Titor (tau kan dia siapa? Jangan bikin gugel nganggur deh), direkomendasikan oleh kakak laki-lakiku yang selera film-nya memang agak berat dan tematik. Aku bukan yang suka-suka amat dengan kartun itu, tapi ada adegan yang sangat aku ingat sampai sekarang. Yaitu ketika sang karakter protagonis cowok ingin menyelamatkan karakter protagonis cewek yang mati di kehidupannya saat itu, namun entah berapa kali pun dia kembali memutar waktu dan bagaimanapun caranya berusaha menyelamatkan si cewek itu dari kematiannya, toh karakter itu tetap mati juga. Karena memang itulah yang telah ditetapkan untuk karakter tersebut di semua sudut waktu yang ada: mati.

Itu membuat aku berpikir—dan mulai mempercaya juga, sebetulnya—bahwa sebenarnya diri kita tidak hanya ada satu. Jangan-jangan jagat raya ini konsepnya seperti beberapa rel kereta api yang diletakkan bersebelahan, namun alih-alih kereta yang berjalan dengan arah yang berlawanan, kereta di rel kita ini berjalan bersamaan ke arah yang sama. Dengan waktu berangkat dan berhenti yang sama pula. Dan rel-rel inilah yang dinamakan “dimensi.”

Aku selalu bertanya-tanya, jika ada lebih dari satu diriku yang hidup secara bersamaan di beberapa dimensi yang berbeda, akan seperti apa ya para diriku-yang-lain itu? Untuk beberapa alasan aku mengasumsikan bahwa segala unsur intrinsik dari diri kita seperti penampilan fisik, mental, intelegensi, dan emosional setiap versi dimensi itu sama. Alasannya? Ya karena dengan begitu di dimensi mana pun kita berada, kita akan selalu menjadi diri kita sendiri. Begitulah cara kerja dimensi paralel seharusnya, dengan memperbanyak kopi dari diri kita. Apabila ada bagian yang berbeda antara diri kita di dimensi yang satu dengan lainnya, itu namanya bukan fotokopi diri kita kan?

Nah, yang kubayangkan berbeda adalah, bagaimana jika kehidupan yang diberikan kepada kita itu tidak sama antara aku di dimensi ini dengan di dimensi tetangga? Misalnya saja aku di dimensi ini hidup di keluarga biasa saja dan yang kulakukan tiap hari adalah bekerja dan kuliah. Apa jangan-jangan aku di dimensi tetangga hidup di keluarga kaya raya yang setiap hari bisa mandi di jacuzzi mewah? Dan jangan-jangan aku yang satunya lagi di dimensi tetangganya-tetangga dilahirkan dengan agama yang berbeda dan hidup di negara yang berbeda? Siapa yang tahu kan?

Mengerikan juga sih, kalau dipikir-pikir. Kemungkinan tidak terbatas bahwa ada versi lain dari diri kita yang memiliki kehidupan yang amat sangat berbeda itu lumayan mengganggu. Apa jadinya kalau aku bertemu dengan diriku di dimensi yang lain dan menemukan bahwa kehidupannya begitu tidak menyenangkan sampai aku mau membantu mengubah hidupnya dan nantinya malah akan mengganggu keseimbangan antardimensi, atau bahkan sungguh-sungguh menyenangkankan sampai aku ingin membunuh dia dan menggantikan posisinya di dimensi tersebut?

Ada tidak ya orang di dunia ini yang memiliki kelebihan untuk bertransportasi antar-dimensi seperti itu? Transdimentional ability. Woah keren kan kedengarannya? Aku yang bikin sendiri lho sebutannya.

Jadi begini, Transdimentional ability atau kemampuan transdimensi adalah salah satu dari kemampuan spiritual Maha Luarbiasa yang diberikan pada manusia. Berbeda prinsipnya dengan transchronical ability (nah, aku yang bikin lagi tuh istilahnya, keren kan), yaitu kemampuan transkronik. Jika cara kerja transdimensi adalah menjelajah satu rel ke rel lainnya secara melintang, transwaktu hanya punya kemampuan dalam lingkup satu rel saja, tapi bisa melompat-lompat ke depan dan belakang.

Nah, tidakkah kau berpikir, setidaknya ada masing-masing satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut? Maksudku, toh Tuhan menciptakan dimensi paralel tersebut bukannya tanpa alasan, kan. Pasti ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan-Nya kepada kita manusia. Selain itu, asal kau tahu saja, Tuhan juga punya selera humor yang seru, lho.

Nah kan aku malah jadi melantur ke kemampuan transdimensi dan transkronik segala.

Tapi untuk apakah Tuhan menciptakan beberapa dimensi dengan duplikat persona-persona yang sama dari setiap makhluk yang berada di dalamnya dan bukannya beberapa dimensi dengan penghuni yang berbeda saja? Maksudku, bukankah lebih efisien jika kau menciptakan satu rel yang isinya makhluk A, satu rel lain isinya makhluk B, dan rel lainnya berisi makhluk C, D, atau kombinasi semuanya? Lebih seru kan jadinya, setuju?

Eh, atau begini saja, pernah mendengar istilah doppelgaenger? Ada sebuah kepercayaan, aku lupa berasal dari mana, bahwa ada beberapa duplikat diri kita yang diciptakan bersamaan dan disebar di seluruh dunia ini. Tentang berapa jumlah duplikatnya aku juga kurang ingat, antara 7 atau 10 orang, tergantung dari legenda mana kau mempercayainya. Nah, duplikat-duplikat inilah yang disebut doppelgaenger. Konon jika kita bertemu dengan seluruh doppelgaenger kita, ada yang berkata itu berarti kematian kita telah dekat.

Nah, berangkat dari legenda itu, aku hanya berpikir bagaimana jika doppelgaenger tersebut sebenarnya tidak disebar di dunia yang sama dengan kita, melainkan di ‘versi dunia lainnya’? Secara teknis, kita mungkin tidak akan bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi ya sudahlah anggap saja ini versi legenda doppelgaenger yang berbeda.

Mungkin saja Tuhan menciptakan banyak dimensi dengan duplikat diri kita untuk menguji sejauh mana batas ketahanan manusia di dunia yang berbeda. Jika diibaratkan pengujian laboratorium, ini seperti menguji sejauh mana bakteri dapat bertahan di tiga macam suhu: psikrotermik, mesotermik, dan termotermik. Tunggu, istilah terakhir itu—termotermik—rasanya tidak benar, aku sepertinya harus membuka kembali diktat mikrobiologi umumku sebelum menuliskannya, tapi, yah, intinya kau harus menempatkan bakteri yang sama di tiga kondisi yang sama sekali berbeda kemudian menjalani pengujian secara serentak agar bisa memperoleh hasil yang valid dan reliabel.

Jadi, apabila kita mengasumsikan ada banyak versi diri kita di dunia ini, kusimpulkan sebenarnya kita adalah bagian dari bakteri percobaan yang sedang diadu satu sama lain secara tak langsung di sebuah laga pertarungan antar-dimensi. Ini semata karena Tuhan ingin melihat siapa yang paling kuat yang bisa bertahan menjalani kehidupannya. Sehingga ketika kita menyerah, saat itulah kita bukan hanya kalah di laga pertarungan antara diri kita dan kehidupan sekitar, tapi sebenarnya juga di pertarungan dengan beberapa versi lain diri kita di dimensi lain.

Dan apa yang kita dapatkan apabila kita memenangkan pertarungan tersebut?

Sederhana.

Di laboratorium, bakteri nonpatogen yang mempunyai resitensi tinggi yang akan diambil, dikembangkan, dan diberi perlakuan istimewa, karena dirinya sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan dan masalah janggal yang tak terpecahkan.

Mungkin itu pula yang akan Tuhan lakukan pada duplikat yang bertahan: memberi perlakukan istimewa. Di mana langkah selanjutnya hanya Ia yang mengetahuinya.

Berarti sebenarnya semua kutipan dan kata-kata bijak itu benar: rival terbesar kita adalah diri kita sendiri, di dimensi yang lainnya.

Aku bukannya mau mengaitkan hal ini dengan motivasi hidup atau bagaimana, tapi kalau pertarungannya tingkat antar-dimensi, bukankah jadi ‘Pemenang Antardimensi’ sangat keren sekali kedengarannya?

Makanya, kita tidak boleh kalah.

Bahasa · My Writer Side

Book Review – The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared by Jonas Jonasson

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/3b176-the-100-year-old-cover.jpg?w=355&h=560

Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: PT Bentang Pustaka, 2015
Pages: 508 Pages
Rating: ★★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Setelah resign, saya mengira akan punya banyak waktu luang nanti. Oleh karena itu sebagai antisipasi saya membeli beberapa buku yang memang sudah saya inginkan dari lama sekali untuk mengisi waktu luang tersebut secara lebih berfaedah.

Tapi ya, ternyata hal itu nggak sepenuhnya benar. Ternyata setelah saya resign pun waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan kuliah, dan beberapa untuk pekerjaan freelance, tapi sebagian besar untuk tugas-tugas kuliah. Saya sampai nggak habis pikir, akan bagaimana jadinya kalau saya belum resign. Bisa-bisa rabu-kamis-jumat saya dijatah enggak tidur semaleman demi ngejar tugas.

Oke sudah cukup curcolnya.

Jadi dari beberapa buku yang saya beli tersebut, salah satunya adalah buku ini. Saya ingat memegangnya erat-erat dengan mata nggak berkedip sedikit pun begitu melihat covernya waktu di Gramedia akhir tahun lalu. I mean, lucu sekali kan ya desain sampulnya! Begitu pula dengan judulnya yang panjang tapi tidak kalah nyentriknya.

Sekilas memang terlihat seperti buku self-help gimana gitu sih, tapi setelah dibaca sinopsisnya, ini ternyata buku fiksi, kawan-kawan. Maka ketika beberapa minggu lalu online bookstore favorit saya mengadakan sale dan voucher redemption, segera lah saya manfaatkan untuk membeli buku ini.

 

Main Story

The 100-year-old Who Climbed Out of Window and Disappeared, atau jika dibahasaindonesiakan menjadi “Pria 100 Tahun yang Memanjat Keluar Jendela dan Menghilang” ini bercerita tentang…ya, tentang pria berusia seratus tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang #plak. Allan Karlsson tinggal di Rumah Lansia di kota Malmköping, Swedia. Sore itu tepat hari ulangtahunnya yang keseratus tahun dan Rumah Lansia tersebut, dengan dukungan walikota dan lain-lain, berniat mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Allan. Kejadian menghilangnya Allan kemudian membuat gempar seisi kota dan, bahkan, seisi Swedia. Tapi petualangan Allan selanjutnya serta cerita tentang masa lalunya ternyata lebih menggemparkan lagi.

Kalau ada cara baru untuk belajar sejarah, atau untuk menjabarkan sejarah tanpa terasa seperti belajar sejarah, saya rasa buku ini jawabannya. Sebagian besar buku ini tidak bertempat di Swedia tahun 2005, asal dari si tokoh utama, melainkan di seluruh dunia, berpindah-pindah dari Swedia ke Spanyol, ke Amerika, Tiongkok, Soviet (bahkan, Indonesia!), dan semua negara besar lain baik blok Barat mau pun Blok Timur di masa perang dunia kedua.

Oke, ini salah satu kelebihan mencolok dari buku ini. Risetnya–all hail Jonas Jonasson–sangat luar biasa. Saya pernah buat cerita tentang bioterorisme Soviet di jaman Perang Dunia Kedua, dan walaupun unsur itu sendiri hanya muncul sedikiiiiiit sekali di cerita, saya membutuhkan banyak sekali link dan membaca banyak sekali referensi untuk dapat menuliskannya. Saya nggak bisa lagi membayangkan how much it takes untuk dapat menuliskannya sebanyak satu buku! Cara curangnya, Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis, salah satu dari sedikit profesi yang berisi orang-orang yang tau segala hal, menurut saya. Tapi di luar itu, saya cukup overwhelmed dengan penulisan yang luar biasa detail tentang sejarah perang dunia tersebut. Bahkan seolah Jonas Jonasson mengenal Stallin, Mao Tse-Tsung, dan Truman secara personal.

Ya, kalimat terakhir merupakan kelebihan keduanya. Karakterisasinya kuat sekali. Persfektif Allan sebagai tokoh utama dan pemandu cerita menjadi sarana untuk membangun karakter lainnya, namun karena menurut saya karakter Allan sendiri sudah cukup kuat, sama sekali tidak ada masalah dengan membangun citra karakter lainnya. Tokoh-tokoh klise sih pasti ada, contohnya seperti Bolt dan Bucket serta Caracas yang tipikal stereotip penjahat idiot banget. Tapi toh mereka tidak jadi parasit cerita, malah secara paralel membantu membangun karakterisasi tokoh lainnya.

Kemudian yang ketiga adalah plotnya. Saya nggak berpikir ini sebagai kelebihan atau gimana. Perlu diakui juga walau pun sama sekali tidak gampang memakai alur campuran tapi harus tetap menyeimbangkan antara keduanya, plot cerita maju-mundur yang bercabang akan sangat membantu bagi penulis yang kena writer-block (kalau Anda adalah penulis fiksi, Anda pasti paham), tapi kenyataannya saya merasa cabang cerita ini kadang berat sebelah. Kadang penulis terlalu fokus menceritakan bagaimana cara Allan meledakkan jembatan Tiongkok di Oktober 1945 silam, padahal nasibnya di tahun 2005 sedang dalam keadaan rumit-rumitnya tapi terbengkalai begitu saja. Dan dalam banyak kesempatan, saya berpikir penulis begitu bersemangat menguliahi pembaca dengan proses infiltrasi komunisme di Korea dan perang ideologi blok Barat dan Timur sampai nggak menyadari bahwa tulisannya membosankan. Tapi untungnya sang Penulis punya tokoh keren, Allan Karlsson, dan humor yang bagus untuk memandu audiens agar tetap membaca.

Nah, ini bagian favorit saya, humornya. Saya sempat menebak-nebak apa genre spesifik yang tepat untuk buku ini selama saya membaca. Apakah fiksi petualangan, fiksi historikal, fiksi komedi, akhirnya saya memutuskan sub-genre yang (sepertinya) tepat adalah: Fiksi komedi satir historis. Karena jujur aja, saya kebanyakan ketawa baca buku ini, seringkali sampe nggak bisa berenti. Jonas Jonasson saya akui punya sense of humor yang asik sekali, dan sifat itu diwariskan secara sukses ke tokoh-tokohnya. Namun dengan banyaknya bahasan politik di buku ini, humor itu pun dengan sendirinya bertransformasi jadi satir. Contohnya seperti penggambaran Indonesia yang semuanya bisa dibeli dengan uang dari sudut pandang seorang Swedia, itu satir sekali kan?

Secara umum, plothole yang saya lihat di buku ini justru sama sekali tidak berhubungan dengan plot (kalau pun ada, saya berarti nggak begitu menyimak karena saya keburu pusing duluan dengan perang ideologi antara pejabat soviet dan amerika) tetapi berada di Allan Karlsson sendiri. Maksudnya, dia kan seorang lansia berusia hampir 100 tahun ya, namun melakukan perjalanan lumayan rumit begitu, apa itu nggak berpengaruh bagi kesehatannya? Apa giginya, di usia seratus tahun, masih lengkap sehingga dia masih ngelantur bicara dengan jelas? Apakah dia nggak seharusnya pakai pampers ke-mana mana untuk memudahkan hidup seorang berusia seratus tahun? Apa lutut berusia seabadnya masih sehat sehingga Allan masih bisa memberi makan gajah dan membuatkan kopi untuk inspektur yang mengejarnya kemana-mana? Bagaimana bisa penulis tidak memperhatikan beberapa hal kecil seperti itu ya, karena secara umum, Allan di usia seratus tahun yang saya baca hampir tidak ada bedanya dengan Allan di usia empat puluh tahun yang melintasi pegunungan Himalaya naik unta. Yang mana hal ini bikin partisi antara plot lampau dan plot sekarang jadi kabur.

Epilogue

Tapi sekalipun saya seolah lebih banyak ngeritik, nyatanya saya overwhelmed dengan buku ini yang ditulis hampir seolah effortless dan alami sekali. Bahkan kalau dibaca baik-baik, saya menulis review ini pun dengan bahasa yang dipakai Jonas Jonasson, bukan bahasa khas saya sendiri! Lumayan bikin book-hangover juga ternyata si Jonasson ini, saya pun harus kasih apresiasi besar untuk sang penerjemahnya. He did such a wonderful job, I think.

Untuk Allan Karlsson, saya bersedia kasih bintang lima full, dan sekarang saya sedang dalam proses memburu buku karya Jonas Jonasson yang lain!

My Writer Side

Book Review – The Stonehenge Legacy by Sam Christer

https://s3.bukalapak.com/img/358162441/w-300/60553_f.jpg

Author: Sam Christer
Translator: Shandy Tan
Publisher: PT Elex Media Computindo, 2011
Pages: 450 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

Prologue

Setelah seminggu blog saya nggak terupdate apa-apa selain proyek People Watching, yang mana sungguh sangat berat dan melelahkan karena selain saya yang introvert ini kudu harus mesti mandangin muka orang di jalanan satu persatu, juga karena saya harus posting setiap updates dan experiences-nya secara daily (iya saya ini memang paling lemah kalo disuruh konsisten gimana ya gimana dong 😦 ), akhirnya topiknya berubah juga ya. Seneng ngga? Seneng dong.

Kebetulan hari ini pas banget saya baru selesai baca satu buku yang mana sudah saya beli sejak sekitaran tujuh sampe delapan bulan yang lalu (iya, selama itu) dan saya pikir, why not?

 

Main Story

Secara singkat, The Stonehenge Legacy bercerita tentang sebuah sekte rahasia pemuja Stonehenge yang mempunyai keyakinan kuat akan Stonehenge, yang mana gugusan batu itu mereka panggil “Sang Kudus”. Sekte ini memiliki tradisi melangsungkan persembahan tumbal manusia dalam waktu-waktu tertentu sesuai perhitungan arkeo-astronomi mereka. Namun upacara persembahan tumbal di titik balik matahari musim panas tahun kali itu berlangsung di luar dugaan semua orang sekte karena melibatkan kasus bunuh diri seorang pemburu harta karun terkenal, penculikan seorang putri wakil presiden, serta pasukan polisi yang ikut campur terlalu dalam.

Ketika mengambil buku ini di rak diskonan saat itu, saya tahu ini bakal jadi macam The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Namun saya turut gambling pada entah berhasil atau tidaknya si penulis satu ini dengan membawanya ke kasir alih-alih mengembalikannya ke tempat semua. Pikir saya saat itu, toh buku diskonan ini, kalau ternyata penulisnya fail ya nothing to lose sih.

Kalau diliat dari cover sih memang nggak meyakinkan ya. Terus terang begitu memandang covernya, di pikiran saya langsung tergambar beberapa alternatif desain cover lainnya yang relatif lebih baik (bukannya bermaksud memuji kemampuan diri sendiri ya tapi gitulah haha #plak), namun berhubung cover versi bahasa aslinya pun sama tidak menariknya, seperti sang desainer berusaha menyesuaikan jadi yaudahlah ya.

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/7e326-thestonehengelegacy1.jpg?w=303&h=475
Cover aslinya lebih membara, mirip desain buku misteri tahun 80an =_=

Begitu kita membuka buku, yang akan menarik perhatian pertama kali adalah surat yang dicetak di belakang cover sebagai prolog, yang mana setelah membaca keseluruhan buku sampai tamat, saya berpikir prolognya adalah kekurangan pertama. Rasanya Sam Christer menyusun bagian yang mau disampaikan secara kurang tepat sehingga gagal merangkul klimaks dari cerita dan efeknya jadi kurang kuat untuk menggugah hati pembaca.

Kemudian di beberapa part di bagian pertama, penulisannya terasa seolah dipoles dengan mulus sekali, memakai kosakata-kosakata intelek yang saya sendiri malah nggak tau artinya apa, bahkan sampai saya catat saking bagusnya: silsikasi, kongregasi, devosi, triliton, melanisme, anakronistis, nautikal, trompe le’oeil, beltane.

Sayang di part selanjutnya, kemulusan itu seperti di-cut begitu saja dan tiba-tiba kita sudah membaca dengan bahasa manusia biasa. Saya nggak begitu keberatan jika the rest of the book ditulis dengan gaya intelek macam awal tadi, lumayan buat nambah kosakata. Pun saya bukannya tidak senang dengan penurunan tingkat bahasa yang dipakai karena akhirnya bisa baca tanpa mikir berat-berat. Mungkin penulis atau penerjemah (jika memang di naskah aslinya persis ditulis seperti itu) juga berpikir there’s no way pembaca biasa akan dapat menikmati keseluruhan isi cerita kalau penulisannya pakai gaya textbook kuliah biologi sel molekuler (iya modul biosel saya pakai bahasa Indonesia tapi nggak ada satu pun kata yang saya ngerti 😦 #curhat). Tapi transisinya tidak smooth dan kerasa drastis sekali sampai jetlag. Iya itu kekurangan kedua.

Kemudian as the pages goes by, saya mendapati bahwa penulis ternyata kurang konsisten dalam menuliskan penyebutan tokoh sehingga membingungkan pembaca. Misalnya untuk menyebut tokoh A pada suatu bagian digunakan nama depan dan belakangnya secara lengkap, kemudian di bagian setelahnya cuma disebutkan nama belakangnya saja, lalu di kali lainnya malah nama depannya saja sehingga memberikan ilusi ada tiga tokoh untuk satu orang yang sama. Ini, menurut saya adalah kesalahan lumayan fatal bagi seorang penulis. Terlebih lagi dalam buku ini, satu orang mempunyai dua nama yang berbeda pemakaiannya. Satu adalah nama asli yang digunakan di everyday life, satu nama kode yang digunakan antar sesama anggota sekte. Rasanya penulis seperti menjejali banyak karakter langsung ke muka pembaca halaman demi halaman.

Efeknya? Jelas ini berisiko bikin karakterisasinya gagal total. Biased gitu lah, istilahnya.

Kemudian kekurangan terakhir, saya berusaha keras untuk tidak spoiler, tapi ya saya lumayan kecewa dengan penulisan endingnya sih. Rasanya eksekusinya kurang maksimal untuk tensi yang sudah dibangun sebegitu baiknya, sebegitu susah payahnya.

Namun walau dari tadi saya ngomongin kekurangan melulu, nyatanya saya lumayan terpikat dengan buku ini. Penulisannya memakai gaya bercabang yang saling berkaitan dan Sam Christer mampu mempertahankan ketajaman semua cabangnya. Terbukti dari cut tiap part yang selalu menggebrak dan lumayan balance, tidak berat hanya di satu cabang saja.

Kemudian selama membaca buku ini saya sampai nggak terpikir bahwa sekte Stonehenge ini hanya khayalan Sam Christer belaka sebelum membaca catatan akhir dari penulis, hal ini membuktikan bahwa beliau mampu menarik pembaca ke alam fantasinya dan meyakinkan mereka bahwa khayalannnya itu benar-benar nyata dan usahanya lumayan berhasil, setidaknya untuk saya. Memang pada akhirnya itu kan intinya orang-orang membaca novel-novel fiksi konspirasi, untuk bisa berspekulasi?

Bicara tentang fiksi konspirasi, saya jadi ingat Dan Brown yang saya sebut di awal. Dengan berasumsi bahwa Sam Christer adalah Dan Brown-wanna be, saya rasa impiannya masih jauh sih. The Stonehenge Legacy masih kurang detail, kurang menggebrak, kurang manipulatif jika dibandingkan dengan The Da Vinci Code. Namun secara keseluruhan saya pikir Sam Christer bukan sekadar penulis abal pemula yang kepingin jadi Dan Brown. Sam Christer punya gayanya sendiri dan saya cukup bisa mengapresiasi hasilnya.

Bukan yang outstanding gimana sekali sampai saya pingin muji hingga mulut berbusa-busa sih tapi cukup menyenangkan untuk dibaca. Lumayan tidak bikin saya nyesal walau belinya diskonan hehe. Saya rasa 4 bintang seharusnya cukup.

See you in another book, Sam Christer!

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Strive, Conquer, and Else

19a2efe1e928aa7c5bf885d0586772e8

Just everytime. I gets too emotional. Flood of Emotions.

A mental breakdown. Huge disappointment. Tired. Fear. Excite. Anger. Laugh. Perplexed.

Coward. Swirling. Comes gliding across the sky. Swim in the terrace. Knocking in. Bash the door.

Somehow a revelation. Awakening. Bright. Like a sun. Dancing. Shining. Shimmering.

The hope. The dreams. A good visualization in the head and mind. Flowing through the veins. Bringing all the life. Soul gets pumped. Energized.

I can’t really describe, nor giving example and illustration. It just…. something. Not losing nor gaining. Or maybe both losing and gaining.

I’m not talk in rhymes, not even trying. I just can’t figured out the order of the words. It’s messy right here. Everything is mixed. The colors blend into one. I’m blackout. Either full or blank. Or in between. Or none of those.

I listen to some songs. Not to facilitating the emotional conditions. Just needed some melodical tones. To make the colors less dark, to saturating. Merely as backsound. Eventho an unrelated backsound. The score director must be a worst one. I am the worst one.

Thus we catch the breath. Living in vacumm space. We scream, we light up. It’s undesirable, this kind of roaller coaster. All I can feel is just a banging head. Beating motion.

I’m in the middle of vertigo. Your eyes moves diagonally. Your voice draw a circular shape in the air. Try to catch it up, the hands grasp in between of tremors. I can’t, I said to you.

And I cry.

And I cry.

And I cry.

And the sea formed, hence we sail upon it.

Row, row, row.

Row, row, row.

 

 

 

 

Image credits to Jenny at Flickr.com

English · My Writer Side

Book Review: Memories by Lang Leav

memories

Author: Lang Leav
Publisher: Andrews McMeel Publishing, 2015
Pages: 243 Pages
Rating: ★ of ★★★★★

Prologue

I heard Lang Leav a lot before, like, A LOT. Especially on Instagram where all people tend to be so poetic with a cutoff of emotional poem as the caption for some unrelated images (no, I’m not pinpointing on some of Indonesia’s fashion bloggers and instacelebs, believe me, I’m not).

I, as a person who never been into poetry, was hardly impressed and have zero intention to read the real book by Leav. But, well, what to say if I found my office friend have it on her desk and the cover is so beautiful and she sit next to me so I could see the beauty of the book everytime I turn my head? So I borrowed it right away from her.

 

Main Story

Memories basically a book of poetry of thoughts and feelings, of a lost love and deep longing emotions in a girl’s mind. It’s all written down ranging from a few stanzas to flash fiction to some paragraphs of prose .

This is the most beautiful book I’ve ever seen, literally. I talked about the hardcover made of red dove and blue velvet material, with a classical contemporary potrait style and feminine fonts that used in the cover. The layout inside, too, has similar beautiful setup, and not to forget the picture in early book draws you–as a reader.

61ppg5effpl

But let alone the beautiful cover and all because reading this has taught me a lot to never judge the book by it’s cover. You see, although there’s a lot of pieces in every each pages, written in different tittles and forms, they are all tedious and lack of depth. Repeating the same thoughts over and over again with same flawful punctuations and pauses.

Leav use  distinct and non-metaphorical words, without intention to make the readers think a lot, that makes it an easy-read for the teens. But I always fall in love with literature pieces that uses peculiar phrases to draws the specific literal meaning, which, in my opinion, is an essential element of a poetry, which don’t get it here

I’m not an avid reader of poetry nor I know a lot about them so I can’t really depict a precise review of it. But anyway, I’m not feeling impressed.

Epilogue

Nevertheless, Memories by Lang Leav is my first poem book. And I give one star to my first poem books.

Bahasa · My Writer Side

Book Review – Carrie by Stephen King

https://i1.wp.com/media.tumblr.com/24866e211383a7c4066da0205e9a329c/tumblr_inline_mtxkn3jgNP1qb7t48.jpg

Author: Stephen King
Translator: Gita Yuliani K.
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013
Pages: 256 Pages
Rating: ★★ of ★★★★★

Prologue

Paket buku ini baru saya buka tadi pagi, sepulang saya dari luar kota dan langsung saya baca saat itu juga, mengingat nggak ada lagi hal menarik lain yang berniat saya kerjakan hari ini. Surprisingly, ternyata buku ini habis hanya dalam setengah hari saja. Prestasi yang cukup memuaskan sebetulnya, mengingat kecepatan baca saya yang sebetulnya luar biasa tapi kemampuan baca yang berkurang karena lama memanjakan diri dengan enggak baca buku sama sekali (saya biasa nyalahin platform-platform digital untuk ini, padahal sih sebenernya saya aja yang males ). Setidaknya salah satu resolusi saya tahun ini (Re: Read more books) lumayan berhasil di hari pertama 2017.

Back to topic.

Sudah lama saya mengincar buku ini. Well, sebetulnya bahkan sudah lama saya mengincar karya-karya Stephen King ketika tahu beliau sering disanding-sandingkan dengan Edgar Allan Poe dan Neil Gaiman sebagai The King of Horror and Thriller Stories.

Walau mengaku sebagai thriller novel freak, lumayan malu juga mengakui saya belum pernah baca satu pun karya The King yang satu ini. Pernah saya coba baca Rose Madder, namun menyerah di tengah jalan. Entahlah, mungkin ceritanya terlalu berat dan membosankan bagi saya yang masih berusia tiga belas tahun saat itu.

Maka, pikir saya, Carrie akan jadi pembuka yang sempurna mengingat bahwa karya ini termasuk satu karya King yang paling populer sepanjang masa.

 

Main Story

Singkatnya, Carrie bercerita tentang seorang gadis SMA yang pendiam dan sering menjadi korban bully di sekolahnya. Carrie memiliki ibu penganut agama kristen orthodox cukup ekstrim yang sangat berpengaruh pada perkembangan psikisnya. Ia memiliki kemampuan telekinesis yang kerap muncul saat dirinya berada dalam posisi tertekan atau tersudut. Kemampuan ini rupanya menjadi sumber mimpi buruk kota Chamberlain ketika penindasan yang dilakukan teman-temannya di acara Pesta Dansa Sekolah semakin kelewat batas.

It won’t be long, I promise.

Alasan saya me-review buku ini di sini bukan karena buku ini bagus atau gimana. Intinya saya hanya ingin menghujat penerjemahnya saja kok. Bahkan di kalimat pertama di bagian pertamanya saja, I’m so done with this book.

Saya pernah bilang di review buku terakhir bahwa terjemahan The Wizard of Oz itu jeleknya kayak ditranslet pakai gugel translet berbasis jaman Soekarno-Hatta, nah ternyata ada yang lebih parah dari itu.

Carrie, karya termashyur dari Stephen King; salah satu yang membuat topik telekinesis menjadi populer di masyarakat tahun itu; karya pertama King yang diangkat ke layar kaca di tahun 1976; karya yang saking populernya bahkan dibuat versi remake-nya dengan dibintangin Chloe Moretz di tahun 2013; namun begitu saya baca, embel-embel luar biasa itu hilang semua.

Saya nggak tau apa yang sebenarnya dipikirkan si penerjemah. Apakah segitu terjepitnya beliau dengan deadline? Apa beliau pernah baca kembali hasil terjemahannya? Dan kalau iya, apakah beliau menyadari kebusukan dalam hasil terjemahannya ini? Pun saya nggak paham apa yang dipikirkan penerbit besar sekelas Gramedia Pustaka Utama, aduh, tolonglah, kalau belum punya pengalaman dan belum bisa menerjemah dengan bagus, setidaknya janganlah dikasih buku populer begini. Karena membaca ini, alih-alih menikmati Stephen King, yang ada saya cuma misuh-misuh berusaha menerjemahkan sendiri padanan kata yang sangat non-literal ini.

Kalau saya editornya, mungkin sudah saya koyak habis naskah terjemahan ini tepat di depan wajah sang penerjemah dan saya minta ganti penerjemah lain. Saya curiga ini benar-benar diterjemahkan pakai gugel translet dan sang penerjemah cuma makan gaji buta.

Satu lagi yang saya bingungkan, sepertinya cara penulisannya agak aneh. Ada banyak kalimat dalam kurung di sepanjang cerita, yang saya kurang paham apa relasinya. Jika kata-kata itu adalah monolog dari batin tokoh, kenapa ditandai dengan kurung di paragraf terpisah dan bukannya dimiringkan saja? Lalu kalau benar itu memang monolog batin tokoh, kenapa saya merasa tidak ada hubungannya dengan konteks paragraf secara keseluruhan? Ah, sepertinya saya harus baca buku aslinya saja agar jelas.

Tapi dibalik kesebalan saya terhadap sang penerjemah, toh akhirnya buku ini berhasil saya tamatkan juga. Mungkin tertolong dengan genrenya atau plotnya sendiri, mengingat saya lumayan freak kalau urusan psychological thriller.

 

Epilogue

Pada akhirnya, ternyata yang saya lakukan bukan mereview unsur intrinsik buku ini secara keseluruhan seperti yang biasa saya lakukan, melainkan benar-benar cuma menghujat penerjemahnya saja.

Soal rating, saya rasa dua bintang sudah cukup, keduanya untuk aspek psikologis Carrie dan cara penjabaran dengan artikel berkesinambungan di sepanjang cerita.

Time to go for another reads 🙂