English · My Chaotic Philosophy

Dear, Allah.

Sometimes I think,
if You want to take my life, please do it right now.
Before I become someone who has other lives depending on me. Before I become someone whom other people feel hard to let go.
Because, afterall, You make it’s hard for me to living my life these days. Also You almost took my live away several times this week.
Because, afterall, me right now has never found someone or somewhere I belong. So it will be easier for everyone, don’t You think, Allah?
Advertisements
#TheMorningTales · English · My Blabber Side · My Writer Side

#TheMorningTales: Reborn.

00840004compress

I’ve been longing the ray of the morning sun.
I’ve been craving for the fragrance of morning tea.
I’ve been missing the voice of Frank Sinatra.
I’ve been waiting everyday to wake up to a content and joyful feeling.
I forgot how it was like to live in a safe and steady state of life.

I can’t remember when was my last time spending time in my balcony, barefeet, Wearing a thin and sheer sleeping gown, naked shoulder, feeling cold yet full of life, waiting for the sun to rise, grasping my camera, capturing the ethereal moment of light embarking the dark.

I want to feel alive.
With a soft morning sun licking my neck,
morning breeze cuddling my arms,
and retro voice of Nat King Cole caressing the atmosphere,
gently and bubbly.

I’ve been wanting to have this feeling once again.
Since forever.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Menjelajah Dimensi yang Lainnya

00840007

Aku selalu percaya kalau makhluk bumi tidak hidup sendirian saja di alam semesta ini. Setidaknya tidak di versi bumi yang kita tempati saat ini. Eh, jangan salah sangka, lho. Aku bukannya mau membicarakan alien atau sejenisnya. Pada kenyataannya toh aku lumayan skeptis terhadap keberadaan entitas-berkepala-besar-dan-berbadan-seperti-anak-kecil-yang-mengendarai-sebuah-mesin-astronautika-berbentuk-gepeng-dengan-sistem-pendorong-turbo-di-bagian-bawahnya itu. Maksudku, manusia itu sangat melebih-lebihkan, ya kan? Kenapa harus digambarkan se-ektraterestrial itu sih? Mana tahu kalau ternyata alien itu bentuknya sama saja seperti kita para manusia? Mana tahu kalau entitas antargalaksi itu juga sama-sama manusia seperti kau dan aku?

Nah, kan, aku malah melantur ke alien.

Kembali ke topik, yang kupercayai tentang ke-tidaksendirian makhluk bumi adalah bahwa ada kemungkinan kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu bukanlah satu-satunya versi kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu yang hidup jagat raya. Ada kemungkinan hidup pula kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu di dimensi yang lainnya. Dan kita semua bergerak secara paralel.

Ngerti maksudku?

Begini, dulu aku pernah menonton kartun Steins: Gate yang bertema tentang mesin waktu dan John Titor (tau kan dia siapa? Jangan bikin gugel nganggur deh), direkomendasikan oleh kakak laki-lakiku yang selera film-nya memang agak berat dan tematik. Aku bukan yang suka-suka amat dengan kartun itu, tapi ada adegan yang sangat aku ingat sampai sekarang. Yaitu ketika sang karakter protagonis cowok ingin menyelamatkan karakter protagonis cewek yang mati di kehidupannya saat itu, namun entah berapa kali pun dia kembali memutar waktu dan bagaimanapun caranya berusaha menyelamatkan si cewek itu dari kematiannya, toh karakter itu tetap mati juga. Karena memang itulah yang telah ditetapkan untuk karakter tersebut di semua sudut waktu yang ada: mati.

Itu membuat aku berpikir—dan mulai mempercaya juga, sebetulnya—bahwa sebenarnya diri kita tidak hanya ada satu. Jangan-jangan jagat raya ini konsepnya seperti beberapa rel kereta api yang diletakkan bersebelahan, namun alih-alih kereta yang berjalan dengan arah yang berlawanan, kereta di rel kita ini berjalan bersamaan ke arah yang sama. Dengan waktu berangkat dan berhenti yang sama pula. Dan rel-rel inilah yang dinamakan “dimensi.”

Aku selalu bertanya-tanya, jika ada lebih dari satu diriku yang hidup secara bersamaan di beberapa dimensi yang berbeda, akan seperti apa ya para diriku-yang-lain itu? Untuk beberapa alasan aku mengasumsikan bahwa segala unsur intrinsik dari diri kita seperti penampilan fisik, mental, intelegensi, dan emosional setiap versi dimensi itu sama. Alasannya? Ya karena dengan begitu di dimensi mana pun kita berada, kita akan selalu menjadi diri kita sendiri. Begitulah cara kerja dimensi paralel seharusnya, dengan memperbanyak kopi dari diri kita. Apabila ada bagian yang berbeda antara diri kita di dimensi yang satu dengan lainnya, itu namanya bukan fotokopi diri kita kan?

Nah, yang kubayangkan berbeda adalah, bagaimana jika kehidupan yang diberikan kepada kita itu tidak sama antara aku di dimensi ini dengan di dimensi tetangga? Misalnya saja aku di dimensi ini hidup di keluarga biasa saja dan yang kulakukan tiap hari adalah bekerja dan kuliah. Apa jangan-jangan aku di dimensi tetangga hidup di keluarga kaya raya yang setiap hari bisa mandi di jacuzzi mewah? Dan jangan-jangan aku yang satunya lagi di dimensi tetangganya-tetangga dilahirkan dengan agama yang berbeda dan hidup di negara yang berbeda? Siapa yang tahu kan?

Mengerikan juga sih, kalau dipikir-pikir. Kemungkinan tidak terbatas bahwa ada versi lain dari diri kita yang memiliki kehidupan yang amat sangat berbeda itu lumayan mengganggu. Apa jadinya kalau aku bertemu dengan diriku di dimensi yang lain dan menemukan bahwa kehidupannya begitu tidak menyenangkan sampai aku mau membantu mengubah hidupnya dan nantinya malah akan mengganggu keseimbangan antardimensi, atau bahkan sungguh-sungguh menyenangkankan sampai aku ingin membunuh dia dan menggantikan posisinya di dimensi tersebut?

Ada tidak ya orang di dunia ini yang memiliki kelebihan untuk bertransportasi antar-dimensi seperti itu? Transdimentional ability. Woah keren kan kedengarannya? Aku yang bikin sendiri lho sebutannya.

Jadi begini, Transdimentional ability atau kemampuan transdimensi adalah salah satu dari kemampuan spiritual Maha Luarbiasa yang diberikan pada manusia. Berbeda prinsipnya dengan transchronical ability (nah, aku yang bikin lagi tuh istilahnya, keren kan), yaitu kemampuan transkronik. Jika cara kerja transdimensi adalah menjelajah satu rel ke rel lainnya secara melintang, transwaktu hanya punya kemampuan dalam lingkup satu rel saja, tapi bisa melompat-lompat ke depan dan belakang.

Nah, tidakkah kau berpikir, setidaknya ada masing-masing satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut? Maksudku, toh Tuhan menciptakan dimensi paralel tersebut bukannya tanpa alasan, kan. Pasti ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan-Nya kepada kita manusia. Selain itu, asal kau tahu saja, Tuhan juga punya selera humor yang seru, lho.

Nah kan aku malah jadi melantur ke kemampuan transdimensi dan transkronik segala.

Tapi untuk apakah Tuhan menciptakan beberapa dimensi dengan duplikat persona-persona yang sama dari setiap makhluk yang berada di dalamnya dan bukannya beberapa dimensi dengan penghuni yang berbeda saja? Maksudku, bukankah lebih efisien jika kau menciptakan satu rel yang isinya makhluk A, satu rel lain isinya makhluk B, dan rel lainnya berisi makhluk C, D, atau kombinasi semuanya? Lebih seru kan jadinya, setuju?

Eh, atau begini saja, pernah mendengar istilah doppelgaenger? Ada sebuah kepercayaan, aku lupa berasal dari mana, bahwa ada beberapa duplikat diri kita yang diciptakan bersamaan dan disebar di seluruh dunia ini. Tentang berapa jumlah duplikatnya aku juga kurang ingat, antara 7 atau 10 orang, tergantung dari legenda mana kau mempercayainya. Nah, duplikat-duplikat inilah yang disebut doppelgaenger. Konon jika kita bertemu dengan seluruh doppelgaenger kita, ada yang berkata itu berarti kematian kita telah dekat.

Nah, berangkat dari legenda itu, aku hanya berpikir bagaimana jika doppelgaenger tersebut sebenarnya tidak disebar di dunia yang sama dengan kita, melainkan di ‘versi dunia lainnya’? Secara teknis, kita mungkin tidak akan bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi ya sudahlah anggap saja ini versi legenda doppelgaenger yang berbeda.

Mungkin saja Tuhan menciptakan banyak dimensi dengan duplikat diri kita untuk menguji sejauh mana batas ketahanan manusia di dunia yang berbeda. Jika diibaratkan pengujian laboratorium, ini seperti menguji sejauh mana bakteri dapat bertahan di tiga macam suhu: psikrotermik, mesotermik, dan termotermik. Tunggu, istilah terakhir itu—termotermik—rasanya tidak benar, aku sepertinya harus membuka kembali diktat mikrobiologi umumku sebelum menuliskannya, tapi, yah, intinya kau harus menempatkan bakteri yang sama di tiga kondisi yang sama sekali berbeda kemudian menjalani pengujian secara serentak agar bisa memperoleh hasil yang valid dan reliabel.

Jadi, apabila kita mengasumsikan ada banyak versi diri kita di dunia ini, kusimpulkan sebenarnya kita adalah bagian dari bakteri percobaan yang sedang diadu satu sama lain secara tak langsung di sebuah laga pertarungan antar-dimensi. Ini semata karena Tuhan ingin melihat siapa yang paling kuat yang bisa bertahan menjalani kehidupannya. Sehingga ketika kita menyerah, saat itulah kita bukan hanya kalah di laga pertarungan antara diri kita dan kehidupan sekitar, tapi sebenarnya juga di pertarungan dengan beberapa versi lain diri kita di dimensi lain.

Dan apa yang kita dapatkan apabila kita memenangkan pertarungan tersebut?

Sederhana.

Di laboratorium, bakteri nonpatogen yang mempunyai resitensi tinggi yang akan diambil, dikembangkan, dan diberi perlakuan istimewa, karena dirinya sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan dan masalah janggal yang tak terpecahkan.

Mungkin itu pula yang akan Tuhan lakukan pada duplikat yang bertahan: memberi perlakukan istimewa. Di mana langkah selanjutnya hanya Ia yang mengetahuinya.

Berarti sebenarnya semua kutipan dan kata-kata bijak itu benar: rival terbesar kita adalah diri kita sendiri, di dimensi yang lainnya.

Aku bukannya mau mengaitkan hal ini dengan motivasi hidup atau bagaimana, tapi kalau pertarungannya tingkat antar-dimensi, bukankah jadi ‘Pemenang Antardimensi’ sangat keren sekali kedengarannya?

Makanya, kita tidak boleh kalah.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

It started to Smells Like Ramadan (Ep. 2)

Processed with VSCO with g3 preset

Saya menulis post tentang ini di Ramadan tahun lalu, dan saya merasa ingin menuliskannya lagi. Sebagian besar sebagai bentuk syukur dan terima kasih saya pada Tuhan karena diijinkan untuk tetap hidup di satu lagi bulan Ramadan, sebagian lagi karena sebab agar supaya saya tetap semangat berpuasa. ehe.

Bulan Ramadan memang selalu mempunyai aroma tersendiri bagi hidung saya. Namun tidak selalu sama setiap tahun, karena manusia kan selalu berubah, yes?

Nah Ramadan di tahun ini, bagi saya wanginya seperti:

1. Es Sirup Timun Suri. Yang mana di bulan-bulan biasa buah ini akan dicuekin saja, tapi di bulan Ramadan mendadak jadi selebriti. Saya bukan yang suka-suka amat dengan timun suri. Saya kurang suka teksturnya yang agak sandy dan meninggalkan banyak remah-remah di larutan es sirop. Tapi semua setuju kan kalau timun suri memiliki wangi yang sangat khas? Bagi orang lain wangi timun suri itu menyenangkan, seperti…ya seperti timun suri #plak. Tapi hidung random saya mentranslasikan wangi timun suri menjadi letupan kegembiraan di saat-saat berkumpul bersama keluarga di meja makan, menunggu waktu berbuka puasa sambil saling bercerita dan tertawa, persis seperti imej keluarga cemara. Selain itu wangi timun suri juga terasa seperti rangkuman kesibukan dan kebahagiaan di bulan Ramadan, mulai dari lapernya, hausnya, panasnya, tarawih, hingga bangun sahur dini hari. Mulai dari jokes receh bulan Ramadan seperti “Berbukalah dengan yang pasti karena yang manis belum tentu pasti” (duh elah), hingga hawa jalanan di pagi hari kerja yang dipenuhi pengendara yang oleh-oleng karena ngantuk segenap jiwa raga.

2. Wangi sajadah berdebu. Kebetulan rumah saya habis dibongkar dan direnovasi baru-baru ini sehingga meninggalkan perabot yang semuanya berbau debu. Tapi bukan, bukan karena itu sih. Lebih tepatnya saya mengasosiakan dengan sajadah karpet di musholla dan masjid. Baik yang di dekat rumah tempat saya biasa tarawih, hingga musholla kampus tempat solat di waktu siang. Kulit saya lumayan alergi debu, efeknya bisa gatal-gatal, merah-merah, ruam-ruam. Tapi kok ya sealergi-alerginya, tetap saja saya lumayan menyukai wangi sajadah musholla yang berdebu karena alasan yang saya sendiri tidak bisa jelaskan.

3. Petak-petak sinar matahari. Dari kedua wangi harfiah di atas, yang satu ini memang sukar dijelaskan. Tapi matahari selalu menyorot tajam di bulan Ramadan, yes? Banyak orang berkata semakin panas maka semakin baik karena itu berarti dosa kita di dunia sedang dibakar dan dikurangi. Jadi saya yang benci matahari pun sebisa mungkin tidak memprotes bola besar sombong itu kalau di bulan Ramadan. Dan ternyata matahari tidak begitu buruk juga di Bulan Ramadan, karena jika sudah condong ke Barat dan sinarnya menembus kisi-kisi jendela dan lubang angin secara horizontal, akan membentuk pola dan petak yang cantik di lantai. Selain itu matahari yang condong ke Barat itu menandakan semakin dekatnya waktu berbuka puasa, dan mana yang lebih menyenangkan dari waktu buka puasa, betul?

4. Nyamuk keparat tidak tahu aturan yang mendadak punya tambahan bala bantuan. Kemungkinan besar karena musim kemarau memang musimnya nyamuk. Saya kurang paham juga sih aroma nyamuk itu seperti apa. Malah mungkin nggak ada aromanya, siapa tahu, kan. Oke ini memang agak surreal.

Dan sebagian besarnya kurang lebih sama dengan wangi Ramadan di tahun yang lalu. Nonetheless, seperti apa pun wanginya, Bulan Ramadan tetap menjadi bulan yang paling saya sukai dalam setahun.

Selamat berpuasa kembali, teman-teman.

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Reset. Restart. Renew.

00840020

When others are move out in order to work, my case is the opposite: I work in order to move out.

A drastic life comes by a single call, then I packed all my belongings and aimlessly wandered. Not a totally aimeless, though, but still…

It still fresh in my mind: those confusion and anxiety. I’ve always convinced myself that I born with this steel armor attached all over my body, like a legend warrior. So that I could even walk in fire if I want.

But that time was different. A drastic changes completely decayed my armor, left me naked and vulnerable.

And I slowly gathered up everything. Gathered those armor that I’ve always been took pride of, and glued them back with a sort of adaptability and strength that I’ve also took pride of.

Power, a complete and almighty one, maybe my main purpose. The feel of being able to take control of your own life is unbeatable, it reflect a pure strength. And that’s maybe the thing I’ve been looking for.

But sadly, if I thinking about it, from another side of the perspective, gaining power is not my mere motive. I moved out myself in order to runaway. Which, ironically, contradict the whole thing.

I’ve told ya’ I’m merely a humbag contains thousands opposite traits and thoughts, I’ve told ya’.

But, hey, aren’t we all a bunch of pilgrims who runaway from a particular things in life? Am I have to beg forgiveness? It’s not a sin, isn’t?

I don’t know.

Runaway is for a coward. Stay and fight is the only way for those valiant hearts. Maybe I’m not as brave and daring as I always think I am.

Are we lose?
Are we lost?
Or are we just understand our limits too well?

Right after the farewell was bid, the door of another hardness is opened.

Welcome to the wonderland, babe. We’re not mad here. We’re just…insanely struggling. To breath, to life, to eat, to love, to do everything.

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Happy Birthday, A Clumsy 22-Year-Old Girl

00840002

The 22-year-old me is an introvert, an acute one. A random MBTI tests all over internet said either she is 84% or 96% introvert. If it’s true then it’s not a shocking fact as she suffered a lot from her social anxiety. She was even hide in the restroom just to catch a breath at least twice a day during her the first three months of work life.

The 22-year-old me would be a national champion of overthinking competition, if it’s any. She is a B-type which people would called a happy-go-lucky type. So basically her nature is a mix-up. An overthinker B-type, she would declare. It’s quite not easy to live in kind of state of mind which contains thousands of opposite traits and behaviours. She has to dealing with voices in her head that arguing each another everytime. That’s why practical thinking is not her style, hence it doubles up the hardness of life for her. Poor soul.

The 22-year-old me still avoiding phone calls, messages, people; glitching from responsibilities; and escaping from real life. The 15-year-old her was ever composed a song titled “Escapist”, it tells about a person who doesn’t belong anywhere and can’t handle real life, and she still think that song compatible for her personal self even until now.

The 22-year-old me was longing for a perfect romance life, everyday, everytime, tho she never verbally admit it. Being in touch with the other one whom she considered as ‘boy’ or ‘guy’ makes her awkward hence this traits often translated as a ‘cold-and-cool-and-not-interested’ trait by the person she deeply longing. What an irony.

The 22 year-old me was ever felt so depressed that she nearly got her hands to alcohol can in the groceries and even keep eyes on which cigarettes to smoke. She never drink neither smoke before as it’s encounter her principles of life. But that depression almost eat her up to bones. Luckily, she then considered yoghurt and glico pocky tastes better than alcohol and cigarettes, so, well, attempt of rebellion: failed.

The 22-year-old me still speak to her imaginary friends. Yes, she has. And not only one but SIX instead. One of them is a wolf named Pandemonium and one other is Sora from Kingdom Hearts game. People might said that she is a schizoid because she talks to herself a lot as if she actually talks to a ‘friends’. And she refused to called them ‘imaginary friends’. “They are my guardian angels”, instead she replied.

Birthday is not her thing since 5 years ago. She loves a quiet and lonely birthday where everybody forget about it and behave like usual to her. She hates surprise or party or other kind of celebration because spotlight freaking her out and make her anxious.

And this birthday, too. Except she finally leaked it out by revealing her big wish on her instagram account, which her friends apparently recognized and makes it not a ‘quiet-birthday’ anymore. But this time, no problemo.

The 22-year-old me now have become a 23-year-old me today. As the 23-year-old approaching, she anxious a LOT. She hasn’t obtain a big and meaningful thing that she thought every 23’s people has to. “I will be 23 yet I’m still an useless potato, what should I do?!”, she mumbled panickly everyday since April began. But when the day come, peculiarly everything happens just like that. It’s not painful at all. Being 23-year-old feels strangely not different as being 22-year-old.

Being 23-year-old doesn’t mean that she have to evolved to become an extroverted, and stable, and rich, and wise either. I think, she will just stay this way. People change and her, too, will unnoticedly changes. It doesn’t matter the age. Age is just a number. But the process to be a mature person can’t be started or paused right away as if you’re installing a phone app. It happens as the time goes, slowly.

Happy Birthday to her.

She has a lot and numerous cool dreams to give up now so, 23, please be nice to her.