My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

For Life, Choose One That Matter The Most

IMG_20150924_151128

I came home with such a frustration. I threw away my stilettos, yes that pretty killer (in a literal way) stilettos that broke both of my banks and feet. I started rambling the kitchen, ‘I need coffee’ I said to myself. I need coffee as if I need drugs.

A little teaspoon of sugar, because I still have trauma with my father’s diabetic issue. A perfect pour of hot water. Okay, I got it. Then I brought myself up to the second stair, right into my room. Threw my bag to the corner, change my clothes into the comfort one, and boomed my room with ALL TIME LOW album. ‘Don’t Panic’, the tittle is.

As I fell to the floor and sipped my coffee, I started crying. I consumed so bad that day. It was so many people before, I had to deal with so many talks and eyes and feet that clacked the soft rug beneath me. It was a worst feeling.

But no, that’s not actually the worst, I realized.

People said that Graduation is such a merry happiness. It was all about perfect makeup, photographs, caps, flowers, doll gifts and tons of people say congrats to you. They say it was about celebration. I agree, but also disagree.

It’s true that my makeup was perfect, and my gown, and my stilettos too (except the fact that it killed my feet). I was so proud. So happy. So merry, so joyful. But deep inside I was so scared to death. The fact that I will go to the ‘real’ world, that I don’t ever wanted is killing me. Graduation means facing the new world. But for me, not that way. Not that world.

The red rose that was hand over by my junior, with a pink envelope and note in heart shape said “Happy Graduation.” It was so sweet of her. But apparently, I’m not happy.

I cried hard. My merry feeling went up to the sky, gone. I unactivated my phone, because I couldn’t handle too many social response that time. I torn, buried myself in the corner of my room. No matter how chessy it sounds.

Fast forward, two weeks later, so many of them got accepted by many related companies and starting their own real life. It was so cool of them. I nearly felt envious and jealous and about to lower my pride and started apply too. I want to get the best, like Hanah Montana said, “The Best for Both Worlds”. I wanted this, I wanted that. I wanted to get everything, I was about to be greedily blind.

But it’s about be genuine. I. You. We. Us. Everything in different shapes, comes with different manner. I realized. Let’s start talking about the right proportion, in the most realistic way.

‘If you try to sit on two chairs, you will fall between them. For life, you must choose one chair.’

It slap me, right on the face. Then I decided. I couldn’t get everything. Because we don’t mean to get everything in life. You have to sacrifice, in the most genuine manner to your heart.

Advertisements
Bahasa · My Artist Side · My Blabber Side

PALSU

All my sorrow, sickness, anger, numb, I’ve tried to gather it all but still it so many that this song is not enough yet.

Tittle: Palsu
Written By: Me

Terkalah terka bait duka ini.
Bagaikan sebuah teka-teki emosi.
Terpacu berpacu waktu sebelum semua hilang.
 
Beratnya berat menanggung asamu.
Pudarnya hidup tanpa akan disesali.
Sesaknya sesaknya tercekik gelombang indah imaji.
 
Bawa sebuah senyum palsu ke surga.
Gantungkan indah, tempatnya di sana.
Tutup mata dengarkan ratapan pilu cakrawala.
 
Hidupkan hidupkan sebuah nyawa.
Yang berkedip redup bagai lilin terbadai.
Lepaskan lepaskan baju zirah palsu yang melekatnya.
 
Hancurkan musnahkan semua rasa.
Biar hidup berjalan tanpa ada jiwa.
Hentikan hentikan putaran dunia, tak ada esok.
 
Ketika suara lain datang bernyanyi,
Angkara pilu terdiam terpaku.
Membesit cerita drama bagaikan Cinderella.
 
Terbangkan kepalsuan yang indah.
Lelahkan terselimut ribuan kata-kata?
Lapis demi lapis tak ada habisnya.
Lihatlah awan pun tertawa.
Di balik jeruji dunia yang berbeda.
Sembunyikan matahari yang sesungguhnya.
 
Bertahan bertahan waktu ke waktu.
Diterpa kejamnya kenyataan yang palsu.
Rapuhnya rapuhnya jiwa betapa takdir mengikat erat. 

Keluarkan bujuk rayu yang indah.
Beberkan semua teori yang kau punya.
Membuang waktu tak ada artinya.
Dengarkan permainan nada ini.
Bahkan melupakan susunan seharusnya.
Tergapai lemas di tengah udara hampa.

 
My Blabber Side · My Fangirl Side · My Fashion Madness Side

Just for You Know…

That I’m Currently into:

    1. Boots

page

    2. Coat

page

    3. Socks

IMG_5117

    4. Tribals and Floral Pattern (especially in Black and White ♥)

19482046-aztec-seamless-pattern-tribal-black-and-white-backgroundseamless-floral-pattern-background-white-flowers-black-background-30644230

    5. Roman and Biography Novels

    6. Bass

Especially this Fender's sweetie ♥
Especially this Fender’s sweetie ♥

    7. Blogging

    8. Chiffon Fabric

Chiffon

    9. Designing

    10. ASOS

1136899_300

And I’m not into:

    1. Zalora.co.id

    2. Crocs

dull

    3. Korean-romance novel (NO BASH ;])

page

    4. Study (Especially, oh-God-please, Chemical.)

    5. Flat Shoes

dull

    6. Casual Style (Yes, I mean that boring style…)

page

    7. Varsity Jacket (Even if it comes from Pull&Bear)

9713300401_2_4_2

    8. Silly-Bubbly-Cut Sweater

vandal-wear-underground-sweater-schwarz-1420

Warn: NEVER wear something like this! It makes you looks fat and so volumed and I don’t care even if it comes from Forever21!

My Blabber Side

When I Write Back in Diary

So here it goes.
Everyone that I considering as my important people, persons who are my place to tell about many things, are currently busy right now. Don’t intend to disturb them, but I REALLY HAVE TO SAY IT TO SOMEONE. But I’m type of person who can’t take other people easily as my best friends, a person who I feel comfortable to tell about personal things.

But once again, I HAVE TO TELL IT TO SOMEONE.

So after many years passed, I grab my diary book and write. Not too much. But I can feel kind of funny feeling. It was about four to five years ago, when I was in Junior High school, when last I write in the diary and found that I’ve been wrote about many embarrassing things. And now I’ve been already a college student and I.WRITE.IN.DIARY.

Image099

The time flies so fast…

My Blabber Side · My Writer Side

What The “Magical Me” ….. ????

hotter-potter-logo-1

    “Menurut kamu siapa karakter yang paling menyebalkan dalam seri Harry Potter? Alasannya?”

Karakter yang paling menyebalkan di sekuel Harry Potter??

Well, I can’t really decide one, actually. Ada banyak toko yang patut dimaki dan patut dijejalkan kacang segala rasa bertie bott rasa kotoran telinga (atau ada yang punya ide rasa-rasa ‘dahsyat’ lainnya?) dalam-dalam ke mulutnya. Mulai dari yang mainstream yang hampir pasti disebelin semua orang seperti Dolores, keluarga Malfoy plus antek-anteknya, keluarga Dursley, daaaan lain-lain.

Namun, untuk menjawab pertanyaan di atas, hati saya telah menetapkan:

CI_58023_1329327232

Siapa dia?

Gilderoy Lockhart!

Siapa lagi coba?

Alasan saya memilih beliau?

Tentu saja karena saya muak dengan kenarsisannya, kesombongannya, dan kepengecutannya.
Well dia emang nggak nyebelin-nyebelin amat dibanding beberapa tokoh yang pantas disebelin lainnya, tapi kok saya malah milih dia ya? Simpel aja, karena saya paling sebel sama seorang pengecut yang suka omong besar.

Saya bingung dari mana dia bisa dapet penghargaan seperti Order of Merlin, anggota kehormatan Liga Pertahanan Ilmu Hitam, atau Witch Weekly’s Most Charming Smile Award??? Oh, okelah itu karena kenarsisannya.

Selain (mengaku) sebel-riti eh, seleb-riti, dia juga ternyata adalah seorang penulis. Ini dia buku-bukunya.

Duel dengan Dracula oleh Gilderoy Lockhart
Gaul dengan Goblin oleh Gilderoy Lockhart
Heboh dengan Hantu oleh Gilderoy Lockhart
Tamasya dengan Troll oleh Gilderoy Lockhart
Vakansi dengan Vampir oleh Gilderoy Lockhart
Mengembara dengan Manusia Serigala oleh Gilderoy Lockhart
Yakin dengan Yeti oleh Gilderoy Lockhart

Ada yang berminat membakarnya membacanya?

Errr…. Hermione mungkin??

Gilderoy-Lockhart-Hermione-Granger-gilderoy-lockhart-5327258-312-372

Yang jelas bukan mereka berdua…

Gilderoy-Lockhart-harry-potter

Mungkin dia menghipnotis Dumbledore dengan senyuman saktinya sampe Dumbledore luluh dan menerimanya di Hogwarts sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam

gilderoy-lockhart

Entah apa yang dipikirkan Dumbledore, yang jelas begitu liat senyuman kayak gini sih, boro-boro luluh, yang ada bakal langsung saya tinju.

Serius.

Dan yang lebih annoying dari itu adalah ketika ia tertangkap basah mau melarikan diri karena merasa nggak sanggup membereskan huru-hara klimaks di Hogwarts pada buku kedua, lalu dia akhirnya ngaku dia mengarang (beneran mengarang, dalam arti mengarang, bukan menuliskan fakta) semua buku-buku sensasional itu dan jampi memorinya pun turut andil.

Well sebenernya saya malah berharap dia berakhir di perut Basilik aja sekalian. Tapi mungkin nggak buruk juga dia kena kutukan memori-nya sendiri dan bertingkah bodoh sebagaimana mestinya. Ya memang seperti itu mestinya kan? Secara emang dia nggak pinter-pinter amat…

Kalo bertemu dengannya… Kalo boleh milih ya mendingan nggak usah ketemu. Ntar dosa saya nambah gara-gara mulut saya otomatis mengeluarkan sumpah serapah atau tangan dan kaki saya otomatis ‘bersenam-ria’ di wajahnya.

However, Kenneth Branagh sukses banget memerankan si amasing Lockhart ini. At least, kita juga harus berterima kasih sama Lockhart lho. Kalo nggak ada dia, nggak ada tokoh baru yang bisa dimaki di buku kedua kan?

NB: Saya memakai email Kyuukouokami@gmail.com untuk mensubscribe blog Ndari

Bahasa · My Blabber Side · My Writer Side

Ketika Majalah Remaja Indonesia Justru Mengacaukan Mindset Para Remaja Indonesia

Ini serius lho.

Udah lama saya nggak tertarik buat beli majalah apa pun lagi, kira-kira satu tahun, mungkin. Saya lebih memfokuskan diri pada novel dan textbook bahasa asing sekarang. Tapi dengan keadaan saya baru diangkat (baca: didaulat secara sepihak =3=) jadi penanggung jawab mading jurusan kampus oleh sang bos koordinator departemen, tiba-tiba saja saya kepengen lagi buka-buka majalah remaja (yes, majalah remaja, bukan majalah anime) lagi.

Dan ternyata saya menemukan hal-hal lucu yang tidak saya temukan sebelumnya di sana.

Mayoritas majalah remaja menggembar-gemborkan tentang anti-bullying, tentang pentingnya persahabatan, dan petuah-petuah untuk menyamaratakan teman tanpa memilih-milih. Tapi yang lucu adalah, di saat yang sama mereka dengan giatnya memproklamasikan istilah ‘geng’ dan ‘klik’ dan sebagainya, di mana kita tahu hal itu biasanya membuat kita mengelompokkan teman dan menyusun strata yang sesuai dengan tiap kelompok tersebut.

Apa itu adil?

Selanjutnya, mereka selalu ramai membahas tentang pentingnya menjadi diri sendiri. namun di saat yang sama rubrik make over mereka sibuk menjadikan seseorang yang memang pada dasarnya good-looking menjadi lebih good-looking menggunakan make up dengan merek mendunia.

Lalu, nah ini yang paling lucu, mereka berisik sekali berkampanye tentang kepedulian terhadap sekitar tapi coba balik ke halaman fashion mereka dan perhatikan baju serta aksesoris yang dipakai model mereka. Semuanya membahas gaya terkini dengan perlengkapan berharga selangit dan buah pikiran para desainer hebat dengan merek terkenal.

Kenapa nggak mereka hapus aja statement mereka terdahulu dan menggantinya dengan caption: “Jadilah dirimu sendiri dan wujudkan kepedulianmu pada karya Jeffrey Campbell dengan ‘harga dewa’ ini. Yang nggak cantik ke laut aja. Yang nggak mampu bodo amat.”

Apa itu adil?

Yang jadi masalah adalah, hal-hal seperti inilah yang men-setting pemikiran para remaja bahwa status sosial dan keindahan fisik adalah segalanya. Di mana yang kaya dijilat sana-sini, yang gaul jungkir-balik dikejar orang, yang cantik dan ganteng dipuja-puja, yang genius and nerd dimanfaatkan, yang kurang enak dilihat diinjak-injak, dan yang berkemampuan finansial terbatas nggak diakui.

Mau bukti?

Coba datengin sendiri SMP, SMA, SMK, dan sekolah-sekolah menengah terdekat anda, lalu hubungi saya kalo anda lihat hal itu nggak terbukti.

Jujur, saat saya masih di sekolah menengah, ketika pikiran saya mungkin masih terlalu mainstream, belum terbuka, dan nggak critical, saya nggak melihat ada yang aneh dengan semua aspek itu. Well, I’m nerd and I love it. Tapi kini saya baru menyadarinya, ketika di perjalanan bolak-balik kampus di mana saya selalu naik angkutan umum dan ketemu banyak orang, saya mulai lebih memperhatikan lagi bagaimana anak-anak sekolah itu berperilaku.

Sayang ya? Padahal majalah remaja adalah salah satu (kalau nggak bisa disebut SATU-SATUNYA) media cetak yang bisa menjadi patokan mindset remaja Indonesia yang hobi bacanya minim banget.

My wish is simple, I just want that teenage magazine gain more awareness of how much they influenced the youth, could be more clever to choose what they had to do to make them (the youth) more intelligent and lead them (the youth) to create the brighter future. Thus, this developing-claimed-but-not-so-develop country can move into the better country.

Because the future of this country is depend in the hands of youth, isn’t it?