Bahasa · My Writer Side

Book Review – The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared by Jonas Jonasson

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/3b176-the-100-year-old-cover.jpg?w=355&h=560

Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: PT Bentang Pustaka, 2015
Pages: 508 Pages
Rating: ★★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Setelah resign, saya mengira akan punya banyak waktu luang nanti. Oleh karena itu sebagai antisipasi saya membeli beberapa buku yang memang sudah saya inginkan dari lama sekali untuk mengisi waktu luang tersebut secara lebih berfaedah.

Tapi ya, ternyata hal itu nggak sepenuhnya benar. Ternyata setelah saya resign pun waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan kuliah, dan beberapa untuk pekerjaan freelance, tapi sebagian besar untuk tugas-tugas kuliah. Saya sampai nggak habis pikir, akan bagaimana jadinya kalau saya belum resign. Bisa-bisa rabu-kamis-jumat saya dijatah enggak tidur semaleman demi ngejar tugas.

Oke sudah cukup curcolnya.

Jadi dari beberapa buku yang saya beli tersebut, salah satunya adalah buku ini. Saya ingat memegangnya erat-erat dengan mata nggak berkedip sedikit pun begitu melihat covernya waktu di Gramedia akhir tahun lalu. I mean, lucu sekali kan ya desain sampulnya! Begitu pula dengan judulnya yang panjang tapi tidak kalah nyentriknya.

Sekilas memang terlihat seperti buku self-help gimana gitu sih, tapi setelah dibaca sinopsisnya, ini ternyata buku fiksi, kawan-kawan. Maka ketika beberapa minggu lalu online bookstore favorit saya mengadakan sale dan voucher redemption, segera lah saya manfaatkan untuk membeli buku ini.

 

Main Story

The 100-year-old Who Climbed Out of Window and Disappeared, atau jika dibahasaindonesiakan menjadi “Pria 100 Tahun yang Memanjat Keluar Jendela dan Menghilang” ini bercerita tentang…ya, tentang pria berusia seratus tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang #plak. Allan Karlsson tinggal di Rumah Lansia di kota Malmköping, Swedia. Sore itu tepat hari ulangtahunnya yang keseratus tahun dan Rumah Lansia tersebut, dengan dukungan walikota dan lain-lain, berniat mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Allan. Kejadian menghilangnya Allan kemudian membuat gempar seisi kota dan, bahkan, seisi Swedia. Tapi petualangan Allan selanjutnya serta cerita tentang masa lalunya ternyata lebih menggemparkan lagi.

Kalau ada cara baru untuk belajar sejarah, atau untuk menjabarkan sejarah tanpa terasa seperti belajar sejarah, saya rasa buku ini jawabannya. Sebagian besar buku ini tidak bertempat di Swedia tahun 2005, asal dari si tokoh utama, melainkan di seluruh dunia, berpindah-pindah dari Swedia ke Spanyol, ke Amerika, Tiongkok, Soviet (bahkan, Indonesia!), dan semua negara besar lain baik blok Barat mau pun Blok Timur di masa perang dunia kedua.

Oke, ini salah satu kelebihan mencolok dari buku ini. Risetnya–all hail Jonas Jonasson–sangat luar biasa. Saya pernah buat cerita tentang bioterorisme Soviet di jaman Perang Dunia Kedua, dan walaupun unsur itu sendiri hanya muncul sedikiiiiiit sekali di cerita, saya membutuhkan banyak sekali link dan membaca banyak sekali referensi untuk dapat menuliskannya. Saya nggak bisa lagi membayangkan how much it takes untuk dapat menuliskannya sebanyak satu buku! Cara curangnya, Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis, salah satu dari sedikit profesi yang berisi orang-orang yang tau segala hal, menurut saya. Tapi di luar itu, saya cukup overwhelmed dengan penulisan yang luar biasa detail tentang sejarah perang dunia tersebut. Bahkan seolah Jonas Jonasson mengenal Stallin, Mao Tse-Tsung, dan Truman secara personal.

Ya, kalimat terakhir merupakan kelebihan keduanya. Karakterisasinya kuat sekali. Persfektif Allan sebagai tokoh utama dan pemandu cerita menjadi sarana untuk membangun karakter lainnya, namun karena menurut saya karakter Allan sendiri sudah cukup kuat, sama sekali tidak ada masalah dengan membangun citra karakter lainnya. Tokoh-tokoh klise sih pasti ada, contohnya seperti Bolt dan Bucket serta Caracas yang tipikal stereotip penjahat idiot banget. Tapi toh mereka tidak jadi parasit cerita, malah secara paralel membantu membangun karakterisasi tokoh lainnya.

Kemudian yang ketiga adalah plotnya. Saya nggak berpikir ini sebagai kelebihan atau gimana. Perlu diakui juga walau pun sama sekali tidak gampang memakai alur campuran tapi harus tetap menyeimbangkan antara keduanya, plot cerita maju-mundur yang bercabang akan sangat membantu bagi penulis yang kena writer-block (kalau Anda adalah penulis fiksi, Anda pasti paham), tapi kenyataannya saya merasa cabang cerita ini kadang berat sebelah. Kadang penulis terlalu fokus menceritakan bagaimana cara Allan meledakkan jembatan Tiongkok di Oktober 1945 silam, padahal nasibnya di tahun 2005 sedang dalam keadaan rumit-rumitnya tapi terbengkalai begitu saja. Dan dalam banyak kesempatan, saya berpikir penulis begitu bersemangat menguliahi pembaca dengan proses infiltrasi komunisme di Korea dan perang ideologi blok Barat dan Timur sampai nggak menyadari bahwa tulisannya membosankan. Tapi untungnya sang Penulis punya tokoh keren, Allan Karlsson, dan humor yang bagus untuk memandu audiens agar tetap membaca.

Nah, ini bagian favorit saya, humornya. Saya sempat menebak-nebak apa genre spesifik yang tepat untuk buku ini selama saya membaca. Apakah fiksi petualangan, fiksi historikal, fiksi komedi, akhirnya saya memutuskan sub-genre yang (sepertinya) tepat adalah: Fiksi komedi satir historis. Karena jujur aja, saya kebanyakan ketawa baca buku ini, seringkali sampe nggak bisa berenti. Jonas Jonasson saya akui punya sense of humor yang asik sekali, dan sifat itu diwariskan secara sukses ke tokoh-tokohnya. Namun dengan banyaknya bahasan politik di buku ini, humor itu pun dengan sendirinya bertransformasi jadi satir. Contohnya seperti penggambaran Indonesia yang semuanya bisa dibeli dengan uang dari sudut pandang seorang Swedia, itu satir sekali kan?

Secara umum, plothole yang saya lihat di buku ini justru sama sekali tidak berhubungan dengan plot (kalau pun ada, saya berarti nggak begitu menyimak karena saya keburu pusing duluan dengan perang ideologi antara pejabat soviet dan amerika) tetapi berada di Allan Karlsson sendiri. Maksudnya, dia kan seorang lansia berusia hampir 100 tahun ya, namun melakukan perjalanan lumayan rumit begitu, apa itu nggak berpengaruh bagi kesehatannya? Apa giginya, di usia seratus tahun, masih lengkap sehingga dia masih ngelantur bicara dengan jelas? Apakah dia nggak seharusnya pakai pampers ke-mana mana untuk memudahkan hidup seorang berusia seratus tahun? Apa lutut berusia seabadnya masih sehat sehingga Allan masih bisa memberi makan gajah dan membuatkan kopi untuk inspektur yang mengejarnya kemana-mana? Bagaimana bisa penulis tidak memperhatikan beberapa hal kecil seperti itu ya, karena secara umum, Allan di usia seratus tahun yang saya baca hampir tidak ada bedanya dengan Allan di usia empat puluh tahun yang melintasi pegunungan Himalaya naik unta. Yang mana hal ini bikin partisi antara plot lampau dan plot sekarang jadi kabur.

Epilogue

Tapi sekalipun saya seolah lebih banyak ngeritik, nyatanya saya overwhelmed dengan buku ini yang ditulis hampir seolah effortless dan alami sekali. Bahkan kalau dibaca baik-baik, saya menulis review ini pun dengan bahasa yang dipakai Jonas Jonasson, bukan bahasa khas saya sendiri! Lumayan bikin book-hangover juga ternyata si Jonasson ini, saya pun harus kasih apresiasi besar untuk sang penerjemahnya. He did such a wonderful job, I think.

Untuk Allan Karlsson, saya bersedia kasih bintang lima full, dan sekarang saya sedang dalam proses memburu buku karya Jonas Jonasson yang lain!

Advertisements
My Writer Side

Book Review – The Stonehenge Legacy by Sam Christer

https://s3.bukalapak.com/img/358162441/w-300/60553_f.jpg

Author: Sam Christer
Translator: Shandy Tan
Publisher: PT Elex Media Computindo, 2011
Pages: 450 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

Prologue

Setelah seminggu blog saya nggak terupdate apa-apa selain proyek People Watching, yang mana sungguh sangat berat dan melelahkan karena selain saya yang introvert ini kudu harus mesti mandangin muka orang di jalanan satu persatu, juga karena saya harus posting setiap updates dan experiences-nya secara daily (iya saya ini memang paling lemah kalo disuruh konsisten gimana ya gimana dong 😦 ), akhirnya topiknya berubah juga ya. Seneng ngga? Seneng dong.

Kebetulan hari ini pas banget saya baru selesai baca satu buku yang mana sudah saya beli sejak sekitaran tujuh sampe delapan bulan yang lalu (iya, selama itu) dan saya pikir, why not?

 

Main Story

Secara singkat, The Stonehenge Legacy bercerita tentang sebuah sekte rahasia pemuja Stonehenge yang mempunyai keyakinan kuat akan Stonehenge, yang mana gugusan batu itu mereka panggil “Sang Kudus”. Sekte ini memiliki tradisi melangsungkan persembahan tumbal manusia dalam waktu-waktu tertentu sesuai perhitungan arkeo-astronomi mereka. Namun upacara persembahan tumbal di titik balik matahari musim panas tahun kali itu berlangsung di luar dugaan semua orang sekte karena melibatkan kasus bunuh diri seorang pemburu harta karun terkenal, penculikan seorang putri wakil presiden, serta pasukan polisi yang ikut campur terlalu dalam.

Ketika mengambil buku ini di rak diskonan saat itu, saya tahu ini bakal jadi macam The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Namun saya turut gambling pada entah berhasil atau tidaknya si penulis satu ini dengan membawanya ke kasir alih-alih mengembalikannya ke tempat semua. Pikir saya saat itu, toh buku diskonan ini, kalau ternyata penulisnya fail ya nothing to lose sih.

Kalau diliat dari cover sih memang nggak meyakinkan ya. Terus terang begitu memandang covernya, di pikiran saya langsung tergambar beberapa alternatif desain cover lainnya yang relatif lebih baik (bukannya bermaksud memuji kemampuan diri sendiri ya tapi gitulah haha #plak), namun berhubung cover versi bahasa aslinya pun sama tidak menariknya, seperti sang desainer berusaha menyesuaikan jadi yaudahlah ya.

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/7e326-thestonehengelegacy1.jpg?w=303&h=475
Cover aslinya lebih membara, mirip desain buku misteri tahun 80an =_=

Begitu kita membuka buku, yang akan menarik perhatian pertama kali adalah surat yang dicetak di belakang cover sebagai prolog, yang mana setelah membaca keseluruhan buku sampai tamat, saya berpikir prolognya adalah kekurangan pertama. Rasanya Sam Christer menyusun bagian yang mau disampaikan secara kurang tepat sehingga gagal merangkul klimaks dari cerita dan efeknya jadi kurang kuat untuk menggugah hati pembaca.

Kemudian di beberapa part di bagian pertama, penulisannya terasa seolah dipoles dengan mulus sekali, memakai kosakata-kosakata intelek yang saya sendiri malah nggak tau artinya apa, bahkan sampai saya catat saking bagusnya: silsikasi, kongregasi, devosi, triliton, melanisme, anakronistis, nautikal, trompe le’oeil, beltane.

Sayang di part selanjutnya, kemulusan itu seperti di-cut begitu saja dan tiba-tiba kita sudah membaca dengan bahasa manusia biasa. Saya nggak begitu keberatan jika the rest of the book ditulis dengan gaya intelek macam awal tadi, lumayan buat nambah kosakata. Pun saya bukannya tidak senang dengan penurunan tingkat bahasa yang dipakai karena akhirnya bisa baca tanpa mikir berat-berat. Mungkin penulis atau penerjemah (jika memang di naskah aslinya persis ditulis seperti itu) juga berpikir there’s no way pembaca biasa akan dapat menikmati keseluruhan isi cerita kalau penulisannya pakai gaya textbook kuliah biologi sel molekuler (iya modul biosel saya pakai bahasa Indonesia tapi nggak ada satu pun kata yang saya ngerti 😦 #curhat). Tapi transisinya tidak smooth dan kerasa drastis sekali sampai jetlag. Iya itu kekurangan kedua.

Kemudian as the pages goes by, saya mendapati bahwa penulis ternyata kurang konsisten dalam menuliskan penyebutan tokoh sehingga membingungkan pembaca. Misalnya untuk menyebut tokoh A pada suatu bagian digunakan nama depan dan belakangnya secara lengkap, kemudian di bagian setelahnya cuma disebutkan nama belakangnya saja, lalu di kali lainnya malah nama depannya saja sehingga memberikan ilusi ada tiga tokoh untuk satu orang yang sama. Ini, menurut saya adalah kesalahan lumayan fatal bagi seorang penulis. Terlebih lagi dalam buku ini, satu orang mempunyai dua nama yang berbeda pemakaiannya. Satu adalah nama asli yang digunakan di everyday life, satu nama kode yang digunakan antar sesama anggota sekte. Rasanya penulis seperti menjejali banyak karakter langsung ke muka pembaca halaman demi halaman.

Efeknya? Jelas ini berisiko bikin karakterisasinya gagal total. Biased gitu lah, istilahnya.

Kemudian kekurangan terakhir, saya berusaha keras untuk tidak spoiler, tapi ya saya lumayan kecewa dengan penulisan endingnya sih. Rasanya eksekusinya kurang maksimal untuk tensi yang sudah dibangun sebegitu baiknya, sebegitu susah payahnya.

Namun walau dari tadi saya ngomongin kekurangan melulu, nyatanya saya lumayan terpikat dengan buku ini. Penulisannya memakai gaya bercabang yang saling berkaitan dan Sam Christer mampu mempertahankan ketajaman semua cabangnya. Terbukti dari cut tiap part yang selalu menggebrak dan lumayan balance, tidak berat hanya di satu cabang saja.

Kemudian selama membaca buku ini saya sampai nggak terpikir bahwa sekte Stonehenge ini hanya khayalan Sam Christer belaka sebelum membaca catatan akhir dari penulis, hal ini membuktikan bahwa beliau mampu menarik pembaca ke alam fantasinya dan meyakinkan mereka bahwa khayalannnya itu benar-benar nyata dan usahanya lumayan berhasil, setidaknya untuk saya. Memang pada akhirnya itu kan intinya orang-orang membaca novel-novel fiksi konspirasi, untuk bisa berspekulasi?

Bicara tentang fiksi konspirasi, saya jadi ingat Dan Brown yang saya sebut di awal. Dengan berasumsi bahwa Sam Christer adalah Dan Brown-wanna be, saya rasa impiannya masih jauh sih. The Stonehenge Legacy masih kurang detail, kurang menggebrak, kurang manipulatif jika dibandingkan dengan The Da Vinci Code. Namun secara keseluruhan saya pikir Sam Christer bukan sekadar penulis abal pemula yang kepingin jadi Dan Brown. Sam Christer punya gayanya sendiri dan saya cukup bisa mengapresiasi hasilnya.

Bukan yang outstanding gimana sekali sampai saya pingin muji hingga mulut berbusa-busa sih tapi cukup menyenangkan untuk dibaca. Lumayan tidak bikin saya nyesal walau belinya diskonan hehe. Saya rasa 4 bintang seharusnya cukup.

See you in another book, Sam Christer!

Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Child Thief

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSc1TtgG1119a_ZuXKHtl48KJwiMDi7MQTZaO5lTWwaC18fyUw0

Author: Brom
Translator: Tanti Lesmana
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2012
Pages Count: 936 Pages

Prologue

Kapan terakhir saya ngepost review dan buku apa yang terakhir saya review di sini? Saya bahkan nggak ingat lagi saking lamanya. Truth to be told bahwa kemampuan membaca saya makin lama makin menurun drastis. Kadang saya menyalahkan dunia digital karena merasa sudah di-digitalisasi dengan media-media dan platform dunia maya, terbiasa mendapatkan informasi semudah 140 karakter di twitter dan sekrol-menyekroll instagram yang tidak ada habisnya sehingga saya jadi terlalu manja untuk mau membuka halaman buku satu-persatu demi mendapatkan intisarinya.

Well, karena kemampuan membaca yang menurun namun dorongan impulsif untuk membeli (baca: menimbun) buku sudah semakin akut di diri saya (sedikitnya masih ada sembilan buku baru yang belum terbaca di lemari) maka saya paksa diri saya menamatkan salah satunya, yang mana sebenarnya hanya saya jadikan alasan untuk menunda tugas-tugas kuliah aja sih. Hohoho.

 

Main Story

Buku pertama yang saya baca sampai habis di tahun ini lumayan istimewa. Siapa yang tidak tahu cerita Peter Pan? Saya rasa semua orang, minimal yang punya tipi di rumah, pasti tahu. Peter Pan si bocah dari Neverland yang tidak bisa tumbuh dewasa, yang menghabiskan waktunya dengan bermain-main bersama Tinker Bell si peri cemburuan dan bertarung dengan perompak-perompak tolol, kemudian berkeliaran di langit London dan menjerumuskan kakak-beradik Darling untuk bertarung melawan kapten Hook bersama-sama The Lost Boys di negeri Ajaibnya. Begitu versi Disney.

Lho? Iya, versi Disney. Karena setelah saya baca buku ini, ternyata bukan seperti itu naskah Peter Pan yang ditulis author aslinya, J. M. Barrie. Cerita Peter Pan yang asli lebih kelam, lebih jahat, lebih berdarah-darah, dan Peter Pan si bocah ganteng-jahil-jago berantem seperti yang kita ketahui aslinya adalah bocah licik kejam yang suka menculik anak-anak dari dunia manusia dan memanfaatkan mereka untuk bertarung dengan musuh-musuh perompaknya.

Sisi kelam cerita inilah, yang kemudian direkonstruksi Brom sedemikian rupa dalam versinya sendiri.

Sedikit sinopsis, The Child Thief mengambil sudut pandang seorang anak manusia, Nick namanya, dengan segala ketidakberuntungan hidupnya, hampir terbunuh oleh musuh-musuh pengedar narkoba di sekelilingnya sebelumnya akhirnya diselamatkan Peter, meski dengan cara lumayan berdarah-darah. Peter kemudian memikat Nick secara halus untuk pergi bersamanya ke Avalon, negeri muda abadi tempat faerie, elf, dan para monster hidup berdampingan. Merasa dunia manusia bukan tempat aman untuknya lagi, Nick mengikuti Peter melewati kabut yang membatasi Avalon dan dunia Manusia, tanpa tahu bahwa agenda yang disembunyikan bocah itu untuknya jauh sadis dan berbahaya dari kelihatannya.

Satu yang sangat notable bagi saya di buku ini adalah worldbuilding-nya dan bagaimana penulis mampu menyambung-tempel, gunting-jahit, dan tambal-menambal antara khayalannya sendiri, dengan gubahan dari cerita asli J. M. Barrie dan mitologi-mitologi yang ada.

Di awal saya seperti membaca Eragon. Ya bukan karena ceritanya mirip Eragon juga sih, tapi klisenya macam-macam itulah. Kemudian beralih seperti membaca Narnia, kemudian ke The Lord of The Ring, lalu lompat serial Salem (series tentang penyihir-penyihir Essex di Salem, silakan gugling kalau mau tau), kemudian—nah, ini paling absurd—ke film The God Must Be Crazy (atau setidaknya, itulah yang saya pikirkan ketika kawanan sang kapten yang berasal dari abad ke-18 terheran-heran dengan elevator dan pintu putar di abad 21).

Brom menggunakan folklore-folklore Old England dan menyatukannya dengan sifat-sifat asli Peter Pan serta imajinasinya sendiri untuk membuat sebuah cerita yang utuh. Maka tidak heran kalau di buku kita akan menemui Avalon, yang dalam kisah celtic berhubungan dengan excalibur, King Arthur, dan para ksatria meja bundarnya (ayolah, saya pikir semua orang sudah tahu cerita ini, kecuali saya mungkin), Dewa bertanduk, Tangnnost si kambing Dewa Thor, dan kaum puritan lengkap dengan kefanatikannya.

Yang menarik adalah, hasil sambung-tempel ini terasa sangat halus sekali. Saya tidak merasa cerita ini merupakan hasil pembajakan dari Narnia-campur-The-Lord-Of-The-Ring karena twist dan flashback-flashbacknya cukup masuk akal untuk menjelaskan kenapa Peter Pan tidak bisa menua, kenapa Avalon tidak bisa terlihat di dunia manusia, kenapa para perompak dan kaptennya bisa jadi jahat, dan kenyataan bahwa tau-tau ada elf muncul segala di cerita, saya sih oke aja asalkan plotnya sudah terpoles rapi.

Walaupun karakternya sangat kurang notable sih, bagi saya pribadi sayang sekali. Seharusnya dengan setting dan plot yang sudah disusun sebegitu lengkapnya, akan lebih seru kalau emosi tokoh-tokohnya dilibatkan semakin dalam, nyatanya yang saya anggap karakterisasinya paling ‘kena’ hanya dua tokoh: Peter dan Nathan. Lalu Nick? Nick siapa? Ada yang namanya Nick? Ah, sudahlah.

Satu yang paling saya sukai, penulis sepertinya tidak terjebak dengan stereotip khas dari cerita Peter Pan yang sudah banyak beredar. Terbukti bahwa figur seorang dengan kaki kayu dan tangan kait ala Kapten Hook di sini ternyata hanyalah pemeran tidak penting yang mati sambil lalu, dan Tinker Bell pun tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Bravo.

Walau pun di akhir cerita saya agak hopeless karena sepertinya tokoh-tokoh manusia ‘betulan’ di dunia manusia ini seperti dilenyapkan begitu saja eksistensinya saat pertarungan antara The lost Boys, kawanan sang Kapten, dan Ulfger (maksud saya, kemana perginya SWAT dan CIA ketika pertempuran makhluk-makhluk bertanduk melawan anak-anak kecil dan bangsa Elf tiba-tiba meletus di taman New York?) yang mana merupakan plot hole SANGAT BESAR buat saya.

Tapi berhubung cerita sepanjang hampir seribu halaman ini nggak membuat saya bosan sama sekali (saya perlu beri apresiasi juga bagi sang penerjemah, dengan gayanya yang rada ‘bold’ di awal tapi kembali jadi mainstream lagi di akhir, tapi gapapa) saya rasa bintang empat cukup lah.

Bravo Mr. BROM, karena sudah membuat saya penasaran mau baca karya asli dari James Barrie ★★★★

 

Epilogue

Anyway, seharusnya sekarang saya lagi nulis paper untuk tugas biokimia, bukannya nulis review novel fantasi.

My Writer Side

January Book Mini-Haul

Prologue

My loves for shopping art supplies is always a big one, and somehow now it goes for clothes and shoes too. But guess I always genuinely a nerd person inside so this impulsive disease for buying (and hoarding) books is undefeated.

Now that my books been borrowed by some of friends, I find my bookshelf kinda less densed than ever and somehow makes me feels having not enough book supplies. So I went bookstore this afternoon after the class (YES, I have classes on SUNDAY).

GOOD NEWS: I found this books in such a great deal of price, not even half of the actual price was! And I had to struggle for not buying too many (Thanks God I didn’t bring enough cash LOL).

 

Main Story

1. The Child Thief by Brom

rps20160124_230925_723

 

2. The Magic Thief by Sarah Pineas

rps20160124_231114_473

 

3. The Wonderful Wizard of Oz by L. Frank Baum

rps20160124_231139_179

 

Will eat (you what I mean huh?) all of these as fast as I can, stay tune for the reviews! ❤

Epilogue

Still feel like to buy Nightshade and Black Beauty though, maybe I should come again to the bookstore tomorrow?

My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

So That is All About

The complexity of high ability, multitalented and creative people shows up in many ways, such as enjoying – and being challenged by – many interests and passions.

-Douglas Eby in Developing Multiple Talents

Apparently I’m not a so-called unstable and ever-changing person. I’m just…. multitalented.

🙂

Bahasa · My Writer Side

Book Review : The Night Circus

17563814

Tittle : The Night Circus
Author : Erin Morgenstern
Translator : Berliani M. Nugrahani
Publisher : Mizan, Januari 2013
Pages : 610 pages

Buku termahal yang saya beli di Jakarta Book Fair kemarin, (iya termahal, cuma 30K :D). Actually I was finished it kinda soooo yesterday, tapi saya lagi mood jadi akhirnya saya review juga.

The Night Circus bercerita tentang sebuah sirkus ajaib, mengagumkan, mempesona yang datang tanpa pemberitahuan di mana saja, kapan saja, dan hanya dibuka mulai matahari terbenam hingga terbitnya. Berbeda dengan yang terlihat oleh para pengunjung sebagai sirkus dengan tenda-tenda ajaib, atmosfer seperti dunia mimpi, dan penampil sirkus laksana penyihir imajinasi, pada kenyataannya sirkus tersebut adalah ajang sebuah permainan berbahaya. Celia dan Marco adalah dua orang yang ditakdirkan untuk bertarung satu sama lain melalui sihir dengan samaran trik sulap dan ilusi. Namun ketika kedua lawan yang seharusnya saling menjatuhkan itu malah kemudian saling jatuh cinta, bukan hanya nyawa mereka berdua, tapi nyawa semua orang dipertaruhkan di sana.

Satu hal yang menarik saya untuk mengincar (dan akhirnya kebeli juga yaaaayy!!) buku ini adalah nama sirkusnya, Le Cirque des Reeves, yang KEBETULAN juga adalah nama yang saya pakai untuk cerita saya tentang sirkus dengan si cebol sebagai tokoh utamanya. Sangat menyedihkan sebetulnya, karena saya keduluan (walau dalam kasus ini, yang duluan terbit emang buku ini sih, tapi saya kan taunya belakangan T_T, COME ON!! MASA SAYA MESTI NGALAH TERUS NGUBAH NAMA SIRKUS SAYA SEEH??).

Saya sukaaaaa sekali covernya. Metalic red, my favorite kind of red, dengan motif awan-awan Akatsuki di situ. Walau pun setelah melihat sampul aslinya, bagus juga. Ya sudahlah sama-sama bagus kok.

Me kinda likey the characters. Walau pun masih jauh lebih kuat karakterisasi Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata, tapi saya suka gagasan memadukan kemisteriusan, kekuatan, dan keajaiban secara elegan di tiap tokoh. Agak kurang variasi sebetulnya. Mereka unik dan kuat, namun hampir mirip. Tak ada yang benar-benar stand behind or ahead, tapi mungkin ini semacam kriteria yang diinginkan sirkus ya, bolehlah. Saya jatuh cintaaaaa sama tokoh Poppet dan Widget. They just seems like Kagamine Len and Rin twin for me!! But of course with red hair and non-singing ability and they live in circus.

credits: by chiki5542.devianart.com
credits: by chiki5542.devianart.com

Alurnya campuran, dan agak sulit dicerna juga sebetulnya karena tidak ada efek ‘future’ atau ‘past’-nya serta tahun yang tertulis di tiap awal bab sangat mudah terlupakan. Dan lumayan lambat, oke, kalau boleh dikatakan, malah lambaaaaaaaaat sekali (saking lambatnya saya takut keburu tua =_=). Tapi penggambaran settingnya oke. Benar-benar terlihat penulis punya bayangan solid tentang sirkus tersebut dalam pikirannya. Bahkan mungkin banget dia sudah punya model cetak biru nyata dari Le Circue De Reeves itu sendiri.

Yang mengagumkan (dan rada menyebalkan juga, sebetulnya), adalah cara penyampaian ceritanya yang sangat membully pembaca, terutama di bagian dialog. Bukan tipe penyampaian yang dapat dipahami jika otak kita sedang tidak pada tempatnya. Penuh ungkapan, idiom, metafora, dan secara tidak langsung mengandung banyak arti tertentu yang sangat menentukan kelangsungan cerita. Makanya seringkali sambil bersungut-sungut saya terpaksa baca ulang bagian-bagian tertentu (otak saya emang suka minggat seenaknya =_=) untuk bisa mengerti apa maksud perkataan si tokoh.

Lalu, dear pembaca yang budiman, don’t be fool by the synopsis. Kalo baca di sinopsis, ceritanya cuma bakal seputar cinta terlarang or something, tapi begitu membaca isinya, aslinya sangat-sangat rumit. Berkaitan tiap halaman ke halaman dengan begitu banyak tokoh, latar, konsep, dan emosi yang dilibatkan. It’s not recommended for people who are easy-reader, anda bisa migren setelahnya.

Ada satu lagi yang mengagumkan buat saya. Sepanjang ingatan saya, melahap banyak cerita fantasi yang berbeda, baru pertama kali saya temukan yang seperti ini. Logikanya nyata, jelas, benar-benar masuk akal, believable, acceptable. Bahkan lebih logis dibanding cerita non-fantasi mana pun yang pernah saya baca. Premisnya bukan hanya A → B, A → C, C → D, seperti kebanyakan. Melainkan secara berurutan A → B, B → C, C → D, D → E, sehingga tidak D → tidak E, tapi tetap A → D. Macam itulah. Agak rumit, tapi sangat amat logis sekali. Dan saya suka pengeksekusian akhirnya, dengan prinsip Bailey as not-the-chosen-one-but-anyone-can-be. It’s special.

It’s kinda book-hangover after I put this book down due to finished. Atmosfer sirkusnya masih terbawa-bawa, berikut penampil-penampil sirkusnya, walau pun Bailey agak mudah dilupakan. Mungkin kalau Le Cirque des Reeves ada di dunia nyata, saya juga akan menjadi Reveurs.

So, how many stars? Walau agak confusing but it’s too beautiful and genius to be true. Say ★★★★★ of ★★★★★! See a good job Mrs. Erin Morgenstern!! 😀