Bahasa · My Chaotic Philosophy

#LearnToday 14: Humor dari Tuhan

“Kalo lo sedang di titik di mana semua aspek hidup lo hancur berantakan, dan kesulitan datang nggak ada hentinya, seringkali untuk menyikapinya ya tinggal diketawain aja.

Lagipula kalau dilihat dari sisi yang tepat, hidup kita yang malang ini sebenarnya lucu kok. Malah lebih lucu dari komedi srimulat.” 

Advertisements
Bahasa · My Chaotic Philosophy

Untuk Semua Hal yang Ditinggalkan Di Belakang

Kehilangan seorang keluarga pasti tidak akan pernah mudah, mau berapa sering pun kau telah mengalaminya. Terutama jika orang tersebut sudah kau anggap sebagai orang tua keduamu, yang tanpanya, kau tak akan mungkin tumbuh jadi dirimu yang sekarang.

Semua hal di dunia pada akhirnya akan kita tinggalkan. Semua harta benda yang sudah bersusah payah kita kumpulkan. Semua orang tercinta yang kadang tidak kita hiraukan. Semua kebanggaan dan posisi yang telah kita elu-elukan. Karena dunia itu sifatnya sekejap mata, dan hal yang seumur hidup menjadi fokus pandangmu suatu hari nanti tak ada lagi artinya.

Tapi toh bagaimanapun, hubungan antara kita dengan makhluk hidup lainnya ternyata sangat mempengaruhi nasib kita, bahkan ketika kita tidak lagi bernyawa. Ketika kau memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya, mereka akan memperlakukan jasadmu sama. Hidup di dunia mungkin fana, tapi dalam kefanaan ini, kita hidup bersama-sama. Walau beberapa mungkin tidak menyadari dan menganggap mereka akan hidup selamanya.

Satu yang aku pelajari hari itu, ketika aku kehilangan seseorang yang sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri beberapa hari lalu: Baik dunia yang fana mau pun yang kekal, aku yakin Tuhan menciptakan hukum keseimbangan untuk keduanya. Ketika kau mengambil, kau akan kehilangan. Ketika kau terjatuh, akan ada aspek dalam hidupmu yang sedang ditinggikan. Ketika kau berlaku buruk maka kau pun akan mendapatkan keburukan. Dan ketika kau memberi kebaikan, kau akan diberi kebaikan pula agar seimbang. Entah sekarang atau esok, hidup atau mati, di alami ini atau alam nanti, karena aku percaya ada alam selanjutnya setelah kita mati.

Singkat kata, kita manusia sebenarnya diciptakan di dunia ini hanya untuk sedikit bekerja, sedikit bersenang-senang, banyak-banyak berinteraksi dan banyak-banyak berbuat baik. Jika tidak, kau akan mati dengan menyedihkan.

Dan untuk semua risaumu hari ini, tenang saja. Dibandingkan ukuran alam semesta ini, kau itu skalanya kecil sekali. Mikro. Nano. Malah mungkin sejuta kali lebih kecil dari itu. Dan ketika kau meninggalkan dunia ini suatu hari, risaumu pun tidak akan kau bawa lagi. Jadi selama kau tidak melanggar hukum-hukum-Nya, jalani saja, jangan banyak dipikirkan.

Karena semuanya toh nanti akan kau tinggalkan.

English · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Things That Left. Things That Dead. Things That Remains Alive.

Of things that I missed out.
Of things that I don’t get it.
Of things that are not meant to be mine.
Of things that I thought unfair.
Of things that I wondered why.
Of places that I don’t belong.
Of people that leaving me.
Of people that I bid farewell to.
Of presents that I will never sent.
Of sounds that just leaving echo.
Of loves that we’ll leave behind.
Of hopes that are doesn’t matter anymore.
English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

02:00

I did it again.

I said I won’t go too hard on myself anymore, I promised myself. I said I will forgive myself. I said I will give myself the time, and chance.

But I screw it up. I ruin it over again.

The atmosphere around me always been so toxic. Everytime and everywhere I go, I feel like diving in the arsenic ocean. I feel saturated. Toxified. Poisoned.

“It’s okay, I’m cleaning up.” Everytime I crawling out of that poisonous ocean. As I’m trying to get rid of my soaked self and make it dry and nice again. But the fact is, I’m keep sliding off the water and drown. All over again.

The poison saturated me. Trapped me in this satanic cycle of anxiety and depression that I don’t even remember why. I can’t remember why it came in the first place, how and when did it happened to me eversince? All I remember now is just, it’s painful. So much painful that I’m torn apart. I’ve been trying to surviving this. I’m trying to be kind to myself. But it’s so hard.

I’m tired.
So much tired.

English · My Chaotic Philosophy

#LearnToday 13: Mind-guessing Game

“I think if I’m a game, I will be a very-fun-plus-depressing one.

Because my mind is super stochastic that is impossible to be guessed, even for me myself. Because my chronic tendency of spontaneus and surprising actions makes no one able to see what I will and wanna do.

(I even give me myself a heart attack sometimes. Like, today, for example.)”

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Sebuah Catatan Untuk Angka 24

Saya pernah berkata pada seorang teman, “Kamu beruntung baru ketemu aku sekarang. Nggak jaman dulu pas aku masih alay korea-koreaan, nggak jaman dulu pas aku masih nggak tau tujuan hidup aku apa dan apa yang mau aku lakukan di masa depan, nggak jaman dulu pas aku masih tantrum dan nggak bisa kendaliin emosi, bahkan nggak jaman dulu pas aku masih lari gaya Naruto.”

Iya serius, Naruto.

Tau kan gaya lari Naruto? Badan agak condong ke depan sekitar 45 derajat, kepala diluruskan dengan punggung, tangan membentang ke belakang, kaki diayunkan lebar-lebar.

1460155122620

Iya, begitu.

Ingat dulu saya pernah lari gaya begitu bikin meringis deh. Super cringe. Ternyata saya pernah se-freak itu, sekaligus se-nggak pedulian itu sama pendapat orang lain tentang pembawaan diri saya. Anehnya, walau saya dihujat sana-sini tapi kok saya bisa tetap stay cool aja ya. Ah mungkin dulu saya memang se-cool dan se-antikemapanan itu ya. Pantes saya banyak dibully :((

Bicara tentang masa depan, lucunya adalah sepertinya saya masih belum berubah, saya masih nggak tau akan jadi apa dan apa yang ingin saya lakukan. Blank. Gelap.

Bedanya hal itu masih wajar jika dikatakan di usia dengan kepala 1 tapi jadi hal yang tabu jika sudah menginjak kepala 2. Ketika mulai menginjak kepala 2, saya menyadari bahwa dunia mengharuskan kita paham dengan apa yang kita lakukan. Nggak boleh ada kata “I have no idea of what I’m doing actually,” yang terucap. Padahal kenyataannya, diri saya di usia dua puluhan masih sama clueless-nya dengan usia belasan dulu.

Sedikit lebih pintar? Oh iya pasti. Lebih good-looking? Eh, ya memang dulu saya belum tau cara merawat diri sih, tapi kayaknya sama aja. Lebih berani? Hm… Saya kira saya memang sudah nekad dan gila dari sananya jadi nggak ada perubahan. Lebih dewasa? Jika dewasa itu dianalogikan dengan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak dengan tepat, pastinya tidak.

Kenyataannya, saya nggak tau apa yang sebenarnya saya lakukan sekarang ini. Kehidupan karir saya berantakan, kehidupan percintaan juga berantakan, kesehatan nggak keruan, finansial juga carut-marut, kehidupan sosial apalagi. Jika ini adalah aspek-aspek hidup yang mereka harapkan untuk dapat tercapai dengan stabil dan well-achieved, saya jelas gagal total.

TBH saya nggak tau kenapa saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebelumnya yang secara otomatis membuat finansial saya seperti dilanda topan badai dadakan. Saya memutuskan nggak ingin melakukannya lagi karena saya sudah nggak menikmatinya. Itu, dan tuntutan skripsi yang menunggu untuk diselesaikan. Saya nggak tau kenapa saya menyudahi hubungan itu atau kenapa saya kembali ke rumah untuk menghadapi seluruh anggota keluarga yang judmental setiap hari yang kemudian membuat saya terserang insecurity, anxiety, dan social trauma berkepanjangan. Lalu saya juga nggak tau kenapa dengan semua hal yang terjadi tersebut, saya masih juga mengambil risiko SANGAT BESAR untuk mulai mengembangkan bisnis saya sendiri.

Mungkin jawabannya cuma satu: Insting.

Saya sering sekali bertumpu pada insting untuk memutuskan segala sesuatu. Jika ciri-ciri orang dewasa adalah senantiasa berpikir logis, jelas saya nggak masuk kriteria. I just can’t see any other way. My heart told me so. My instict told me so.

Tapi jika dipikir-pikir lagi, bukankah ini salah satu bentuk dari independensi? Atas diri sendiri mau pun orang lain. Lima atau sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya nggak punya keberanian untuk melakukan hal-hal tersebut. Mungkin saya akan tetap patuh dengan apa yang orang lain tentukan untuk hidup saya. Mungkin saya akan mengikuti kungkungan logika saya, sekalipun saya tersiksa setiap hari.

Oke itu satu skor untuk saya versi 24. Ternyata walau clueless dan hidup carut-marut, saya punya level independensi yang lebih tinggi. Dan sepertinya kemampuan berjudi yang lebih tinggi juga karena, bukankah memutuskan sesuatu berdasarkan insting itu sama saja dengan berjudi? Bingo.

Hidup dengan aman itu mungkin menyenangkan, ya. Tapi jika amannya di dalam penjara dan setiap hari berulang sama, lantas di mana senangnya?

Saya belajar satu atau dua hal dari hal tersebut. Dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan yang saya lakukan seumur hidup saya. Maka ini sedikit catatan untuk saya versi 24 (dan mungkin untuk kamu juga):

  • Jika kamu sudah masuk kepala 2 tapi masih belum tau apa yang ingin kamu lakukan dengan hidup kamu, ternyata banyak yang kepala 4 hingga 5 pun tidak tau apa yang ingin mereka lakukan dengan hidup mereka. Maka list saja dulu keinginanmu lalu kejar satu-persatu. Tiap poin yang kamu coret eventually will bring you to a certain place and certain position. And therefore your story begins without you even notice. Ternyata begitulah cara kerjanya.
  • Kalau kamu merasa sepertinya sekali lagi mengambil keputusan yang salah, yaudah YOLO aja. Kebebasan untuk mengambil keputusan tetap saja adalah kebebasan, sekali pun keputusannya kebetulan salah. You’ve fight to have your own voice and independency this whole 24 years, don’t take it for granted.
  • Kalau ada cowok deketin kamu, tanpa basa-basi langsung aja tanya “Mau nikah atau mau main-main aja? Kalau main-main sih bye aja. Kalau mau nikah emang situ udah punya apa? Saldo di rekening udah berapa?” Karena kamu se-beyond priceless itu dan nggak ada yang layak membuang waktu kamu.
  • Jangan meremehkan insting. Saya punya contoh seseorang yang selalu mengandalkan instingnya tapi mampu berjalan sangat jauh dan mendapat banyak sekali achievement: Ya, dia adalah diri saya sendiri. Dan saya baru menyadarinya sekarang.
  • Lain kali kalau kamu merasa hidupmu berantakan dan memalukan, ingatlah jaman dulu saya pernah lari pake gaya Naruto. Itu jauh lebih memalukan.

Selamat ulang tahun terlambat tiga hari. Selamat menjadi 24, Oka.

20180321_000152

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Mendebat Tuhan

“Aku pernah berbicara dengan Tuhan.”

Hening sejenak menguasai jeda seraya desau badai angin di malam bulan Desember berputar-putar tanpa suara di luar jendela. Panah di monitor bergeming di tempatnya, seolah terlalu mengantuk untuk bergerak. Hanya bunyi jam dinding yang menyusup relung hampa dengan gema sayup dramatis.

Klik. Klik. Klik. Klik.

“Kau bukan setan, kan?”

“Bukan, bukan. Aku tidak berbicara dengan-Nya di dunia akhirat sana.”

“Lantas?”

“Bulan Desember, pukul dua malam, tepat hari ini, dua tahun yang lalu.”

“Dia mengunjungimu di mimpi?”

“Tidak. Aku berbicara dengan-Nya lewat situs obrolan elektronik, seperti kita sekarang.”

“Hahahahaha. Lucu sekali. Tak kusangka kau jago berkelakar.”

“Kau pikir aku bercanda?”

“Baiklah, anggap Dia memang betul-betul Tuhan. Lalu apa yang kalian obrolkan?”

“Lucunya, saat itu aku sedang memprotes habis-habisan tentang logika dan hukum yang diciptakan oleh-Nya.”

“Apa Dia marah?”

“Tidak, Dia tertawa.”

“Ternyata Tuhan punya watak yang lumayan santai juga ya.”

“Sebenarnya, setelah dipikir-pikir, aku berharap punya kesempatan berbicara dengan-Nya lagi.”

“Tentang?”

“Komplain internal.”

“Misalnya?”

“Dipikirnya lucu membuat seseorang jatuh bangun sampai berdarah-darah lalu susah payah menyembuhkan diri namun kemudian dijatuhkan kembali sampai setengah mati? Atau ketika seseorang menggantungkan hidup dan matinya pada sesuatu, namun hal itu dicabut begitu saja darinya? Kau tahu apa yang lebih buruk dari pembunuhan? Yaitu pembunuhan tanpa membunuh. Dibiarkan sekarat hingga mati sendiri. Dipikirnya itu lucu?”

“Mungkin dari persepsi Tuhan itu cukup lucu. Siapa yang tahu?”

“Tidak ada yang lucu dengan mempermainkan hidup orang lain.”

“Tidak ada istilah ‘mempermainkan hidup orang lain’ jika kau adalah Tuhan.”

“Kau terlalu positif.”

“Kau terlalu skeptis.”

“Dan Tuhan terlalu dekonstruktif.”

“Setiap orang menunjukkan afeksinya dengan cara yang berbeda-beda, dan dalam hal ini kau membicarakan Tuhan. Tentu saja sebagai Tuhan, Tuhan sudah sepantasnya punya pola pikir sendiri, bukan?”

“Berarti, kata ‘dekonstruktif’ bukanlah istilah yang tepat. Melainkan ‘sok elitis’.”

“Kau akan sendirinya menjadi elitis jika kau adalah sebuah entitas dengan kekuatan Mahabesar.”

“Jika aku adalah sebuah entitas berkekuatan Mahabesar, aku akan membiarkan makhlukku hidup bahagia dan tidak menciptakan emosi-emosi negatif yang ada. Hidup sudah cukup sulit tanpa perlu Dia tambah dramatis lagi. Kau tahu? Aku berharap Dia dapat sehari saja merasakan jadi manusia biasa tanpa kekuatan super-Nya. Hanya untuk mengetahui betapa sulit rasanya dipermainkan takdir.”

“Ah, jadi daripada ‘menyamar menjadi manusia’, lebih baik ‘menjadi manusia’ saja, begitu?”

“Hanya jika Dia tidak terlalu egois dan sok elitis.”

“Sebenarnya, itu justru ide yang bagus.”

“Yeah, tentu—tunggu, apa maksudmu dengan menyamar? Jangan bilang—”

“Selalu senang bicara denganmu. Sekarang, maupun dua tahun yang lalu.”

Hening tanpa ampun menyela menguasai jeda seraya desau badai angin di malam bulan Desember berputar-putar tanpa suara di luar jendela. Hanya jam dinding yang mengerik melatarbelakangi jantung yang berdetak bukan kepalang.

Dag. Dug. Dag. Dug.