#TheMorningTales · My Chaotic Philosophy

#TheMorningTales: I thought I Learnt, and Healed. I’m not.

There’s not a surprise now that people said gloomy weather calls for more depressive feeling. I love it like it always have been giving me a certain, joyful feeling before. But today is kind of different.

This certain weather, certain time, certain circumstances, dances altogether in recalling me of something, a painful one. And it hits me real hard. It just like a sudden thunderstorm came when you strolling on the sunny beachside and then leave just like that within seconds.

I supposed to functioning well today, numerous things to do and life is shouting for an action, but once a wave of depression came even it just a few minutes—a few of TORTURING minutes—it always so hard to get up. And now I can just curling in my bed, wondering why my heart aches so bad.

I thought I healed. But it seems likely I’m not, yet.

Advertisements
English · My Blabber Side

Currently My Top-5 Phrases

1. "Me and my stupidity."
2. "LOL hahaha"
3. "Uh-oh, that's a problem."
4. "HOWWWWW???"
5. "Can I stop being so stupid, pleaseeee??"

 

Based on that phrases (that I’ve been constantly spewing every single day), could you guess on what state of life I’m currently in?

#TheMorningTales · English · My Blabber Side

#TheMorningTales: A Rarely Beautiful 10AM

rps20180329_105620

Despite that I woke up with a lighthead, dizzy feeling and my eyebags are swolen, it surprisingly a beautiful morning. Let me tell you how it was feel like:
1. A morning in high school when you’ve finished all the exams and attending class meeting where it only contains interclasses mini sport and art tournaments. Like, no stress and no drama. Just an endless fun ahead.
2. A morning when you’ll go to tour or travelling. The only morning that I think the major of us don’t mind.
3. A morning when I have to go to rapat BEM or college organization meeting/events, back when I was in college. The morning when spirit and excitement burst out everywhere and all we can see are faces of happy laugh and determination. That’s it. A truly beautiful morning.

So I grab my keys and wallets and go to the nearest McDonalds just to have a cup of tea and pancakes. Bare-and-lack-of-sleep faced and wearing only my pajama tank top, choosing outdoor table and eating while staring at sun rays.

It was a nightmare on the night before, as always. But nightmare is just a nightmare. A beautiful morning will come after. It will be okay.

Anyway, here some earworm from Indonesian local band called Reality Club. You’re welcome.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Menjelajah Dimensi yang Lainnya

00840007

Aku selalu percaya kalau makhluk bumi tidak hidup sendirian saja di alam semesta ini. Setidaknya tidak di versi bumi yang kita tempati saat ini. Eh, jangan salah sangka, lho. Aku bukannya mau membicarakan alien atau sejenisnya. Pada kenyataannya toh aku lumayan skeptis terhadap keberadaan entitas-berkepala-besar-dan-berbadan-seperti-anak-kecil-yang-mengendarai-sebuah-mesin-astronautika-berbentuk-gepeng-dengan-sistem-pendorong-turbo-di-bagian-bawahnya itu. Maksudku, manusia itu sangat melebih-lebihkan, ya kan? Kenapa harus digambarkan se-ektraterestrial itu sih? Mana tahu kalau ternyata alien itu bentuknya sama saja seperti kita para manusia? Mana tahu kalau entitas antargalaksi itu juga sama-sama manusia seperti kau dan aku?

Nah, kan, aku malah melantur ke alien.

Kembali ke topik, yang kupercayai tentang ke-tidaksendirian makhluk bumi adalah bahwa ada kemungkinan kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu bukanlah satu-satunya versi kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu yang hidup jagat raya. Ada kemungkinan hidup pula kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu di dimensi yang lainnya. Dan kita semua bergerak secara paralel.

Ngerti maksudku?

Begini, dulu aku pernah menonton kartun Steins: Gate yang bertema tentang mesin waktu dan John Titor (tau kan dia siapa? Jangan bikin gugel nganggur deh), direkomendasikan oleh kakak laki-lakiku yang selera film-nya memang agak berat dan tematik. Aku bukan yang suka-suka amat dengan kartun itu, tapi ada adegan yang sangat aku ingat sampai sekarang. Yaitu ketika sang karakter protagonis cowok ingin menyelamatkan karakter protagonis cewek yang mati di kehidupannya saat itu, namun entah berapa kali pun dia kembali memutar waktu dan bagaimanapun caranya berusaha menyelamatkan si cewek itu dari kematiannya, toh karakter itu tetap mati juga. Karena memang itulah yang telah ditetapkan untuk karakter tersebut di semua sudut waktu yang ada: mati.

Itu membuat aku berpikir—dan mulai mempercaya juga, sebetulnya—bahwa sebenarnya diri kita tidak hanya ada satu. Jangan-jangan jagat raya ini konsepnya seperti beberapa rel kereta api yang diletakkan bersebelahan, namun alih-alih kereta yang berjalan dengan arah yang berlawanan, kereta di rel kita ini berjalan bersamaan ke arah yang sama. Dengan waktu berangkat dan berhenti yang sama pula. Dan rel-rel inilah yang dinamakan “dimensi.”

Aku selalu bertanya-tanya, jika ada lebih dari satu diriku yang hidup secara bersamaan di beberapa dimensi yang berbeda, akan seperti apa ya para diriku-yang-lain itu? Untuk beberapa alasan aku mengasumsikan bahwa segala unsur intrinsik dari diri kita seperti penampilan fisik, mental, intelegensi, dan emosional setiap versi dimensi itu sama. Alasannya? Ya karena dengan begitu di dimensi mana pun kita berada, kita akan selalu menjadi diri kita sendiri. Begitulah cara kerja dimensi paralel seharusnya, dengan memperbanyak kopi dari diri kita. Apabila ada bagian yang berbeda antara diri kita di dimensi yang satu dengan lainnya, itu namanya bukan fotokopi diri kita kan?

Nah, yang kubayangkan berbeda adalah, bagaimana jika kehidupan yang diberikan kepada kita itu tidak sama antara aku di dimensi ini dengan di dimensi tetangga? Misalnya saja aku di dimensi ini hidup di keluarga biasa saja dan yang kulakukan tiap hari adalah bekerja dan kuliah. Apa jangan-jangan aku di dimensi tetangga hidup di keluarga kaya raya yang setiap hari bisa mandi di jacuzzi mewah? Dan jangan-jangan aku yang satunya lagi di dimensi tetangganya-tetangga dilahirkan dengan agama yang berbeda dan hidup di negara yang berbeda? Siapa yang tahu kan?

Mengerikan juga sih, kalau dipikir-pikir. Kemungkinan tidak terbatas bahwa ada versi lain dari diri kita yang memiliki kehidupan yang amat sangat berbeda itu lumayan mengganggu. Apa jadinya kalau aku bertemu dengan diriku di dimensi yang lain dan menemukan bahwa kehidupannya begitu tidak menyenangkan sampai aku mau membantu mengubah hidupnya dan nantinya malah akan mengganggu keseimbangan antardimensi, atau bahkan sungguh-sungguh menyenangkankan sampai aku ingin membunuh dia dan menggantikan posisinya di dimensi tersebut?

Ada tidak ya orang di dunia ini yang memiliki kelebihan untuk bertransportasi antar-dimensi seperti itu? Transdimentional ability. Woah keren kan kedengarannya? Aku yang bikin sendiri lho sebutannya.

Jadi begini, Transdimentional ability atau kemampuan transdimensi adalah salah satu dari kemampuan spiritual Maha Luarbiasa yang diberikan pada manusia. Berbeda prinsipnya dengan transchronical ability (nah, aku yang bikin lagi tuh istilahnya, keren kan), yaitu kemampuan transkronik. Jika cara kerja transdimensi adalah menjelajah satu rel ke rel lainnya secara melintang, transwaktu hanya punya kemampuan dalam lingkup satu rel saja, tapi bisa melompat-lompat ke depan dan belakang.

Nah, tidakkah kau berpikir, setidaknya ada masing-masing satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut? Maksudku, toh Tuhan menciptakan dimensi paralel tersebut bukannya tanpa alasan, kan. Pasti ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan-Nya kepada kita manusia. Selain itu, asal kau tahu saja, Tuhan juga punya selera humor yang seru, lho.

Nah kan aku malah jadi melantur ke kemampuan transdimensi dan transkronik segala.

Tapi untuk apakah Tuhan menciptakan beberapa dimensi dengan duplikat persona-persona yang sama dari setiap makhluk yang berada di dalamnya dan bukannya beberapa dimensi dengan penghuni yang berbeda saja? Maksudku, bukankah lebih efisien jika kau menciptakan satu rel yang isinya makhluk A, satu rel lain isinya makhluk B, dan rel lainnya berisi makhluk C, D, atau kombinasi semuanya? Lebih seru kan jadinya, setuju?

Eh, atau begini saja, pernah mendengar istilah doppelgaenger? Ada sebuah kepercayaan, aku lupa berasal dari mana, bahwa ada beberapa duplikat diri kita yang diciptakan bersamaan dan disebar di seluruh dunia ini. Tentang berapa jumlah duplikatnya aku juga kurang ingat, antara 7 atau 10 orang, tergantung dari legenda mana kau mempercayainya. Nah, duplikat-duplikat inilah yang disebut doppelgaenger. Konon jika kita bertemu dengan seluruh doppelgaenger kita, ada yang berkata itu berarti kematian kita telah dekat.

Nah, berangkat dari legenda itu, aku hanya berpikir bagaimana jika doppelgaenger tersebut sebenarnya tidak disebar di dunia yang sama dengan kita, melainkan di ‘versi dunia lainnya’? Secara teknis, kita mungkin tidak akan bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi ya sudahlah anggap saja ini versi legenda doppelgaenger yang berbeda.

Mungkin saja Tuhan menciptakan banyak dimensi dengan duplikat diri kita untuk menguji sejauh mana batas ketahanan manusia di dunia yang berbeda. Jika diibaratkan pengujian laboratorium, ini seperti menguji sejauh mana bakteri dapat bertahan di tiga macam suhu: psikrotermik, mesotermik, dan termotermik. Tunggu, istilah terakhir itu—termotermik—rasanya tidak benar, aku sepertinya harus membuka kembali diktat mikrobiologi umumku sebelum menuliskannya, tapi, yah, intinya kau harus menempatkan bakteri yang sama di tiga kondisi yang sama sekali berbeda kemudian menjalani pengujian secara serentak agar bisa memperoleh hasil yang valid dan reliabel.

Jadi, apabila kita mengasumsikan ada banyak versi diri kita di dunia ini, kusimpulkan sebenarnya kita adalah bagian dari bakteri percobaan yang sedang diadu satu sama lain secara tak langsung di sebuah laga pertarungan antar-dimensi. Ini semata karena Tuhan ingin melihat siapa yang paling kuat yang bisa bertahan menjalani kehidupannya. Sehingga ketika kita menyerah, saat itulah kita bukan hanya kalah di laga pertarungan antara diri kita dan kehidupan sekitar, tapi sebenarnya juga di pertarungan dengan beberapa versi lain diri kita di dimensi lain.

Dan apa yang kita dapatkan apabila kita memenangkan pertarungan tersebut?

Sederhana.

Di laboratorium, bakteri nonpatogen yang mempunyai resitensi tinggi yang akan diambil, dikembangkan, dan diberi perlakuan istimewa, karena dirinya sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan dan masalah janggal yang tak terpecahkan.

Mungkin itu pula yang akan Tuhan lakukan pada duplikat yang bertahan: memberi perlakukan istimewa. Di mana langkah selanjutnya hanya Ia yang mengetahuinya.

Berarti sebenarnya semua kutipan dan kata-kata bijak itu benar: rival terbesar kita adalah diri kita sendiri, di dimensi yang lainnya.

Aku bukannya mau mengaitkan hal ini dengan motivasi hidup atau bagaimana, tapi kalau pertarungannya tingkat antar-dimensi, bukankah jadi ‘Pemenang Antardimensi’ sangat keren sekali kedengarannya?

Makanya, kita tidak boleh kalah.

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Reset. Restart. Renew.

00840020

When others are move out in order to work, my case is the opposite: I work in order to move out.

A drastic life comes by a single call, then I packed all my belongings and aimlessly wandered. Not a totally aimeless, though, but still…

It still fresh in my mind: those confusion and anxiety. I’ve always convinced myself that I born with this steel armor attached all over my body, like a legend warrior. So that I could even walk in fire if I want.

But that time was different. A drastic changes completely decayed my armor, left me naked and vulnerable.

And I slowly gathered up everything. Gathered those armor that I’ve always been took pride of, and glued them back with a sort of adaptability and strength that I’ve also took pride of.

Power, a complete and almighty one, maybe my main purpose. The feel of being able to take control of your own life is unbeatable, it reflect a pure strength. And that’s maybe the thing I’ve been looking for.

But sadly, if I thinking about it, from another side of the perspective, gaining power is not my mere motive. I moved out myself in order to runaway. Which, ironically, contradict the whole thing.

I’ve told ya’ I’m merely a humbag contains thousands opposite traits and thoughts, I’ve told ya’.

But, hey, aren’t we all a bunch of pilgrims who runaway from a particular things in life? Am I have to beg forgiveness? It’s not a sin, isn’t?

I don’t know.

Runaway is for a coward. Stay and fight is the only way for those valiant hearts. Maybe I’m not as brave and daring as I always think I am.

Are we lose?
Are we lost?
Or are we just understand our limits too well?

Right after the farewell was bid, the door of another hardness is opened.

Welcome to the wonderland, babe. We’re not mad here. We’re just…insanely struggling. To breath, to life, to eat, to love, to do everything.

English · My Chaotic Philosophy

I Don’t Need Butterflies Nor Roses

By the time I started fantasize about cotton candy cloud and rainbow bridge, I should zapped myself out of it, immediately. It’s not funny anymore and I’m not a little child anymore. And don’t tell me to grinning like an idiot, because I’m not a little girl anymore.

Warns and precautious spread all over the walls, I have already knew, I just didn’t took them seriously. Oh yeah, we can try endlessly but in the end we are wizards and witches in disguise. We were disgusted and mad and ready to pinpointed the wand on anybody else’s face, but, uh-oh, we ALL have a wand.

Come on, so tired of this game, don’t you too? Why cannot we ended this and pretending you never be a frog and I never be a lizard. We are not a little children playing with play-doh. We are mature witch and wizard with a full-power magical skills playing with each other’s awful emotions.

As it sounds as safe as it never be.

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Steel Heart

Because heartbreak is not always about love, not always about a thread (be it red or not) between opposite-sex (or even same) human. Heartbreak, I think, it’s about losing. Hope, dream, stars, dust. You can’t get it, you lose it. The more massive the thing you lose, the stronger your heart supposedly prepared. End of story.

It’s funny that dashing  out of the house and aimlessly wandering the town could be a kind of theraphy, moreover if the town is not your own. But somehow it’s not working tho.

As a child, we could throw on the tantrums on anything, recklessly. Screaming, kicking, crying. But child is child, it will just go on while the grown-ups have much more pins and needles in the head. So deep deep the dark forest, far more dangerous that it seems to be. Therefore the heartbreak is real, it undeniable and unavoidable.

But, I guess, we can’t found armor equipments and installations for the heart no matter how much we willing to pay, are us? As an adults, have to heal it ourselves, aren’t us?

Well, good luck, if so. For the shake of the heart.

And us, who willing to chew and gulp all the sickness inside.