Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Menjelajah Dimensi yang Lainnya

00840007

Aku selalu percaya kalau makhluk bumi tidak hidup sendirian saja di alam semesta ini. Setidaknya tidak di versi bumi yang kita tempati saat ini. Eh, jangan salah sangka, lho. Aku bukannya mau membicarakan alien atau sejenisnya. Pada kenyataannya toh aku lumayan skeptis terhadap keberadaan entitas-berkepala-besar-dan-berbadan-seperti-anak-kecil-yang-mengendarai-sebuah-mesin-astronautika-berbentuk-gepeng-dengan-sistem-pendorong-turbo-di-bagian-bawahnya itu. Maksudku, manusia itu sangat melebih-lebihkan, ya kan? Kenapa harus digambarkan se-ektraterestrial itu sih? Mana tahu kalau ternyata alien itu bentuknya sama saja seperti kita para manusia? Mana tahu kalau entitas antargalaksi itu juga sama-sama manusia seperti kau dan aku?

Nah, kan, aku malah melantur ke alien.

Kembali ke topik, yang kupercayai tentang ke-tidaksendirian makhluk bumi adalah bahwa ada kemungkinan kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu bukanlah satu-satunya versi kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu yang hidup jagat raya. Ada kemungkinan hidup pula kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu di dimensi yang lainnya. Dan kita semua bergerak secara paralel.

Ngerti maksudku?

Begini, dulu aku pernah menonton kartun Steins: Gate yang bertema tentang mesin waktu dan John Titor (tau kan dia siapa? Jangan bikin gugel nganggur deh), direkomendasikan oleh kakak laki-lakiku yang selera film-nya memang agak berat dan tematik. Aku bukan yang suka-suka amat dengan kartun itu, tapi ada adegan yang sangat aku ingat sampai sekarang. Yaitu ketika sang karakter protagonis cowok ingin menyelamatkan karakter protagonis cewek yang mati di kehidupannya saat itu, namun entah berapa kali pun dia kembali memutar waktu dan bagaimanapun caranya berusaha menyelamatkan si cewek itu dari kematiannya, toh karakter itu tetap mati juga. Karena memang itulah yang telah ditetapkan untuk karakter tersebut di semua sudut waktu yang ada: mati.

Itu membuat aku berpikir—dan mulai mempercaya juga, sebetulnya—bahwa sebenarnya diri kita tidak hanya ada satu. Jangan-jangan jagat raya ini konsepnya seperti beberapa rel kereta api yang diletakkan bersebelahan, namun alih-alih kereta yang berjalan dengan arah yang berlawanan, kereta di rel kita ini berjalan bersamaan ke arah yang sama. Dengan waktu berangkat dan berhenti yang sama pula. Dan rel-rel inilah yang dinamakan “dimensi.”

Aku selalu bertanya-tanya, jika ada lebih dari satu diriku yang hidup secara bersamaan di beberapa dimensi yang berbeda, akan seperti apa ya para diriku-yang-lain itu? Untuk beberapa alasan aku mengasumsikan bahwa segala unsur intrinsik dari diri kita seperti penampilan fisik, mental, intelegensi, dan emosional setiap versi dimensi itu sama. Alasannya? Ya karena dengan begitu di dimensi mana pun kita berada, kita akan selalu menjadi diri kita sendiri. Begitulah cara kerja dimensi paralel seharusnya, dengan memperbanyak kopi dari diri kita. Apabila ada bagian yang berbeda antara diri kita di dimensi yang satu dengan lainnya, itu namanya bukan fotokopi diri kita kan?

Nah, yang kubayangkan berbeda adalah, bagaimana jika kehidupan yang diberikan kepada kita itu tidak sama antara aku di dimensi ini dengan di dimensi tetangga? Misalnya saja aku di dimensi ini hidup di keluarga biasa saja dan yang kulakukan tiap hari adalah bekerja dan kuliah. Apa jangan-jangan aku di dimensi tetangga hidup di keluarga kaya raya yang setiap hari bisa mandi di jacuzzi mewah? Dan jangan-jangan aku yang satunya lagi di dimensi tetangganya-tetangga dilahirkan dengan agama yang berbeda dan hidup di negara yang berbeda? Siapa yang tahu kan?

Mengerikan juga sih, kalau dipikir-pikir. Kemungkinan tidak terbatas bahwa ada versi lain dari diri kita yang memiliki kehidupan yang amat sangat berbeda itu lumayan mengganggu. Apa jadinya kalau aku bertemu dengan diriku di dimensi yang lain dan menemukan bahwa kehidupannya begitu tidak menyenangkan sampai aku mau membantu mengubah hidupnya dan nantinya malah akan mengganggu keseimbangan antardimensi, atau bahkan sungguh-sungguh menyenangkankan sampai aku ingin membunuh dia dan menggantikan posisinya di dimensi tersebut?

Ada tidak ya orang di dunia ini yang memiliki kelebihan untuk bertransportasi antar-dimensi seperti itu? Transdimentional ability. Woah keren kan kedengarannya? Aku yang bikin sendiri lho sebutannya.

Jadi begini, Transdimentional ability atau kemampuan transdimensi adalah salah satu dari kemampuan spiritual Maha Luarbiasa yang diberikan pada manusia. Berbeda prinsipnya dengan transchronical ability (nah, aku yang bikin lagi tuh istilahnya, keren kan), yaitu kemampuan transkronik. Jika cara kerja transdimensi adalah menjelajah satu rel ke rel lainnya secara melintang, transwaktu hanya punya kemampuan dalam lingkup satu rel saja, tapi bisa melompat-lompat ke depan dan belakang.

Nah, tidakkah kau berpikir, setidaknya ada masing-masing satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut? Maksudku, toh Tuhan menciptakan dimensi paralel tersebut bukannya tanpa alasan, kan. Pasti ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan-Nya kepada kita manusia. Selain itu, asal kau tahu saja, Tuhan juga punya selera humor yang seru, lho.

Nah kan aku malah jadi melantur ke kemampuan transdimensi dan transkronik segala.

Tapi untuk apakah Tuhan menciptakan beberapa dimensi dengan duplikat persona-persona yang sama dari setiap makhluk yang berada di dalamnya dan bukannya beberapa dimensi dengan penghuni yang berbeda saja? Maksudku, bukankah lebih efisien jika kau menciptakan satu rel yang isinya makhluk A, satu rel lain isinya makhluk B, dan rel lainnya berisi makhluk C, D, atau kombinasi semuanya? Lebih seru kan jadinya, setuju?

Eh, atau begini saja, pernah mendengar istilah doppelgaenger? Ada sebuah kepercayaan, aku lupa berasal dari mana, bahwa ada beberapa duplikat diri kita yang diciptakan bersamaan dan disebar di seluruh dunia ini. Tentang berapa jumlah duplikatnya aku juga kurang ingat, antara 7 atau 10 orang, tergantung dari legenda mana kau mempercayainya. Nah, duplikat-duplikat inilah yang disebut doppelgaenger. Konon jika kita bertemu dengan seluruh doppelgaenger kita, ada yang berkata itu berarti kematian kita telah dekat.

Nah, berangkat dari legenda itu, aku hanya berpikir bagaimana jika doppelgaenger tersebut sebenarnya tidak disebar di dunia yang sama dengan kita, melainkan di ‘versi dunia lainnya’? Secara teknis, kita mungkin tidak akan bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi ya sudahlah anggap saja ini versi legenda doppelgaenger yang berbeda.

Mungkin saja Tuhan menciptakan banyak dimensi dengan duplikat diri kita untuk menguji sejauh mana batas ketahanan manusia di dunia yang berbeda. Jika diibaratkan pengujian laboratorium, ini seperti menguji sejauh mana bakteri dapat bertahan di tiga macam suhu: psikrotermik, mesotermik, dan termotermik. Tunggu, istilah terakhir itu—termotermik—rasanya tidak benar, aku sepertinya harus membuka kembali diktat mikrobiologi umumku sebelum menuliskannya, tapi, yah, intinya kau harus menempatkan bakteri yang sama di tiga kondisi yang sama sekali berbeda kemudian menjalani pengujian secara serentak agar bisa memperoleh hasil yang valid dan reliabel.

Jadi, apabila kita mengasumsikan ada banyak versi diri kita di dunia ini, kusimpulkan sebenarnya kita adalah bagian dari bakteri percobaan yang sedang diadu satu sama lain secara tak langsung di sebuah laga pertarungan antar-dimensi. Ini semata karena Tuhan ingin melihat siapa yang paling kuat yang bisa bertahan menjalani kehidupannya. Sehingga ketika kita menyerah, saat itulah kita bukan hanya kalah di laga pertarungan antara diri kita dan kehidupan sekitar, tapi sebenarnya juga di pertarungan dengan beberapa versi lain diri kita di dimensi lain.

Dan apa yang kita dapatkan apabila kita memenangkan pertarungan tersebut?

Sederhana.

Di laboratorium, bakteri nonpatogen yang mempunyai resitensi tinggi yang akan diambil, dikembangkan, dan diberi perlakuan istimewa, karena dirinya sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan dan masalah janggal yang tak terpecahkan.

Mungkin itu pula yang akan Tuhan lakukan pada duplikat yang bertahan: memberi perlakukan istimewa. Di mana langkah selanjutnya hanya Ia yang mengetahuinya.

Berarti sebenarnya semua kutipan dan kata-kata bijak itu benar: rival terbesar kita adalah diri kita sendiri, di dimensi yang lainnya.

Aku bukannya mau mengaitkan hal ini dengan motivasi hidup atau bagaimana, tapi kalau pertarungannya tingkat antar-dimensi, bukankah jadi ‘Pemenang Antardimensi’ sangat keren sekali kedengarannya?

Makanya, kita tidak boleh kalah.

Advertisements
English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Steel Heart

Because heartbreak is not always about love, not always about a thread (be it red or not) between opposite-sex (or even same) human. Heartbreak, I think, it’s about losing. Hope, dream, stars, dust. You can’t get it, you lose it. The more massive the thing you lose, the stronger your heart supposedly prepared. End of story.

It’s funny that dashing  out of the house and aimlessly wandering the town could be a kind of theraphy, moreover if the town is not your own. But somehow it’s not working tho.

As a child, we could throw on the tantrums on anything, recklessly. Screaming, kicking, crying. But child is child, it will just go on while the grown-ups have much more pins and needles in the head. So deep deep the dark forest, far more dangerous that it seems to be. Therefore the heartbreak is real, it undeniable and unavoidable.

But, I guess, we can’t found armor equipments and installations for the heart no matter how much we willing to pay, are us? As an adults, have to heal it ourselves, aren’t us?

Well, good luck, if so. For the shake of the heart.

And us, who willing to chew and gulp all the sickness inside.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · Uncategorized

Wangi Bedak dan Minyak Kayu Putih

Sore hari, di hari kedua saya di usia yang baru—yang mana nggak akan saya sebutkan berapa-berapanya karena saya masih belum bisa menerima kenyataan—dengan motor saya, Isabella (iya, saya namain motor saya Isabella, tolong jangan ditanya kenapa) sepulang kantor, seperti biasa saya mengambil rute pintas lewat kompleks pemukiman. Hari itu cerah dan banyak warga berkumpul di jalan yang biasanya sepi itu. Di ujung tikungan, saya melihat segerombolan anak kecil dengan kendaraan-kendaraan mungil warna-warni mereka. Sebagian dengan sepeda, otopet, mobil-mobilan plastik yang dikayuh pedal, berpacu dengan sebagian lain yang hanya berlari di atas kaki mereka. Saya melintasi mereka dari arah yang berlawanan di saat angin secara dramatis menghembus dari arah yang tepat membawa wangi-wangian yang, dulu sekali, akrab di hidung saya. Iya, wangi bedak bayi dan minyak kayu putih.

Saya yang saat itu nggak memakai masker motor pun langsung terhempas nostalgia seketika. Dengan seenaknya, saya berhentikan motor saya di tengah jalan dan menengok kembali ke belakang. Ke tempat sekumpulan anak itu, dengan wajah putih belepotan bedak tabur dan rambut basah lepek habis mandi, ribut berteriak dan tertawa-tawa memperdebatkan siapa yang duluan sampai garis finish.

Pikir saya, waduh, sayang sekali nggak bawa kamera analog, karena pemandangan ini sangat berpotensi jadi foto ciamik ala-ala street photography yang tengah digandrungi pecinta analog masa kini. Berhubung apabila dipotret dengan kamera handphone maka nilai estetikanya akan menurun drastis, saya pasrah saja dengan momen photograph-able itu dan lebih memilih memperhatikan mereka lebih lanjut. Beruntung saat itu jalan sedang sepi kendaraan, jadi nggak ada yang akan menggerung-gerungi saya karena berhenti persis di tengah jalan.

Anehnya, semakin memperhatikan mereka, justru bukan mereka yang saya lihat. Bayangan mereka jadi kabur, dan digantikan oleh bayangan saya sendiri. Saya dari belasan tahun yang lalu. Saya yang waktu itu juga suka main sore-sore dengan kakak dan anak-anak tetangga sehabis mandi, dengan muka putih belepotan bedak dan badan wangi minyak kayu putih.

Saya jadi bertanya-tanya, anak macam apakah saya di masa kecil belasan tahun lalu itu? Apa saya lebih sering tertawa? Apa saya lebih jujur dan vokal? Apa saya jauh lebih murah hati? Atau justru jauh lebih menyebalkan karena emosi saya yang sedari dulu memang sangat sulit dikendalikan?

Orang-orang selalu mengasosiasikan ‘kekanak-kanakkan’ dengan sebuah istilah yang terdengar sangat negatif. Tapi di saat saya memandang gelak tawa anak-anak kecil itu saling bersahutan, saya jadi bertanya-tanya, di bagian mananya yang negatif?

Semakin dewasa, kehidupan seorang manusia terasa semakin absurd buat saya. Mungkin inilah yang membuat sindrom anxiety terparah menyerang saya setiap bulan April, di setiap tahun sejak usia saya menginjak 20 tahun. Begitu banyak tuntutan tidak masuk akal, di mana semua orang dipaksa memiliki topeng dengan warna dan bentuk berbeda-beda dan tahu kapan harus memakainya di saat bergantian.

Lucu, padahal topeng warna-warni itu justru identik dengan mainan anak-anak, ya kan?

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sepertinya jadi anak-anak juga tidak mudah, ya. Anak kecil memang tidak diharuskan punya koleksi topeng berbagai macam selayaknya orang dewasa, tapi mengetahui fakta bahwa dunia ini dikuasai oleh dominasi orang dewasa saja sudah cukup buruk sebenarnya, untuk seorang anak kecil.

Memang sih, hidup tidak akan pernah terasa mudah bagi spesies manusia. Tua atau muda, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, dulu atau sekarang. Hal inilah yang membuat saya cenderung lebih kepingin jadi kucing daripada jadi manusia lainnya (bahkan Ratu Elizabeth sekali pun) ketika mental saya sedang digempur habis-habisan oleh kenyataan di dunia luar.

Belum sempat saya menemukan titik terang (atau faedahnya, jika memang ada) dari pikiran random saya di tengah jalan, saya dikejutkan dengan suara klakson nyaring garang beringas dari mobil SUV yang tahu-tahu sudah ada di hadapan saya, ribut menuntut hak atas jalan. Anak-anak tadi pun sudah buyar, mereka sudah melesat lebih jauh ke ujung tikungan. Maka saya pun terpaksa memacu kembali motor dan melanjutkan perjalanan pulang.

Di sepanjang jalan pulang, tak habis-habisnya tercium di hidung saya wangi yang polos namun memikat dari anak-anak tadi. Perpaduan wangi yang mungkin tidak akan bisa saya lupakan bahkan walau saya sudah jadi tua dan renta nanti.

Wangi bedak bayi dan minyak kayu putih.

My Blabber Side · My Photography Junkie

Recently I:

  • I addicted to: SMOOTHIE!!

Especially apple-banana-combine-with-everything smoothies! Yummy!

  • Looking for A Job

A great full-time job related to e-commerce bussiness would be nice! (Especially the one which related to fashion, makeup, lifestyle, and homeliving)

  • Addicted to Death Note Live Action Drama!

Though it has a different characterizing of the characters than the movies and anime did, different plot and execution twists and all, it’s truly RECOMMENDED! Please watch it!

  • Digging Over Matcha Latte

Because, WHY NOT?

  • Learning Various Foreign Languages

Or so I thought I would. Demanding myself to learn Japanese, Germany and polishing my English in the same time, scheduled in a week but end up in a most EPIC fails. Poor me ha-ha-hah.

Extra: Anyway my phone is dead and I dying of taking photos and play with camera. So here I am, opening my old folders and uploading my old picture. Pity, I know.

DSC04340COMPRESS

My Blabber Side

Parsley, Sage, Rosemary, and Thyme

Yesterday I marathoned this particular miniseries by Cartoon Network called Over the Garden Wall.

YZ9XgU-B558.market_maxres

Ok, it may sounds weird despite that I’m a tragedic-and-gore story freak some years ago but now I hate hate hate sad and depressing and tragedic story. It’s good that it didn’t have sad ending (if that case, I can hate it more), but it still creepy and feels like… the tales of unfortunate events by Lemony Snickets, seriously. Absolutely not that it copying or something, it just have a similar weird and creepy atmosphere inside and I can’t take it. It’s too dangerous 😦

But I don’t know why I fall in love by the simple artwork. It’s classical and dark I love.

By the way, I practically been singing and humming this song a lot for the past few days. From the time that my mother love it ’till the point that she has been sick and told me to be quiet LOL

A life updates: My final paper has reach the climax stage, my final paper assembly will happen around three weeks ahead, which is, arround the corner and I’m stressing a lot but also fangirling a lot.

Another life updates: Ramadhan has been coming, thank You Allah. Thank You so so much. I always loved it.

My Blabber Side · My Fangirl Side · My Fashion Madness Side

Just for You Know…

That I’m Currently into:

    1. Boots

page

    2. Coat

page

    3. Socks

IMG_5117

    4. Tribals and Floral Pattern (especially in Black and White ♥)

19482046-aztec-seamless-pattern-tribal-black-and-white-backgroundseamless-floral-pattern-background-white-flowers-black-background-30644230

    5. Roman and Biography Novels

    6. Bass

Especially this Fender's sweetie ♥
Especially this Fender’s sweetie ♥

    7. Blogging

    8. Chiffon Fabric

Chiffon

    9. Designing

    10. ASOS

1136899_300

And I’m not into:

    1. Zalora.co.id

    2. Crocs

dull

    3. Korean-romance novel (NO BASH ;])

page

    4. Study (Especially, oh-God-please, Chemical.)

    5. Flat Shoes

dull

    6. Casual Style (Yes, I mean that boring style…)

page

    7. Varsity Jacket (Even if it comes from Pull&Bear)

9713300401_2_4_2

    8. Silly-Bubbly-Cut Sweater

vandal-wear-underground-sweater-schwarz-1420

Warn: NEVER wear something like this! It makes you looks fat and so volumed and I don’t care even if it comes from Forever21!