Bahasa · My Writer Side

Book Review – The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared by Jonas Jonasson

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/3b176-the-100-year-old-cover.jpg?w=355&h=560

Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: PT Bentang Pustaka, 2015
Pages: 508 Pages
Rating: ★★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Setelah resign, saya mengira akan punya banyak waktu luang nanti. Oleh karena itu sebagai antisipasi saya membeli beberapa buku yang memang sudah saya inginkan dari lama sekali untuk mengisi waktu luang tersebut secara lebih berfaedah.

Tapi ya, ternyata hal itu nggak sepenuhnya benar. Ternyata setelah saya resign pun waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan kuliah, dan beberapa untuk pekerjaan freelance, tapi sebagian besar untuk tugas-tugas kuliah. Saya sampai nggak habis pikir, akan bagaimana jadinya kalau saya belum resign. Bisa-bisa rabu-kamis-jumat saya dijatah enggak tidur semaleman demi ngejar tugas.

Oke sudah cukup curcolnya.

Jadi dari beberapa buku yang saya beli tersebut, salah satunya adalah buku ini. Saya ingat memegangnya erat-erat dengan mata nggak berkedip sedikit pun begitu melihat covernya waktu di Gramedia akhir tahun lalu. I mean, lucu sekali kan ya desain sampulnya! Begitu pula dengan judulnya yang panjang tapi tidak kalah nyentriknya.

Sekilas memang terlihat seperti buku self-help gimana gitu sih, tapi setelah dibaca sinopsisnya, ini ternyata buku fiksi, kawan-kawan. Maka ketika beberapa minggu lalu online bookstore favorit saya mengadakan sale dan voucher redemption, segera lah saya manfaatkan untuk membeli buku ini.

 

Main Story

The 100-year-old Who Climbed Out of Window and Disappeared, atau jika dibahasaindonesiakan menjadi “Pria 100 Tahun yang Memanjat Keluar Jendela dan Menghilang” ini bercerita tentang…ya, tentang pria berusia seratus tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang #plak. Allan Karlsson tinggal di Rumah Lansia di kota Malmköping, Swedia. Sore itu tepat hari ulangtahunnya yang keseratus tahun dan Rumah Lansia tersebut, dengan dukungan walikota dan lain-lain, berniat mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Allan. Kejadian menghilangnya Allan kemudian membuat gempar seisi kota dan, bahkan, seisi Swedia. Tapi petualangan Allan selanjutnya serta cerita tentang masa lalunya ternyata lebih menggemparkan lagi.

Kalau ada cara baru untuk belajar sejarah, atau untuk menjabarkan sejarah tanpa terasa seperti belajar sejarah, saya rasa buku ini jawabannya. Sebagian besar buku ini tidak bertempat di Swedia tahun 2005, asal dari si tokoh utama, melainkan di seluruh dunia, berpindah-pindah dari Swedia ke Spanyol, ke Amerika, Tiongkok, Soviet (bahkan, Indonesia!), dan semua negara besar lain baik blok Barat mau pun Blok Timur di masa perang dunia kedua.

Oke, ini salah satu kelebihan mencolok dari buku ini. Risetnya–all hail Jonas Jonasson–sangat luar biasa. Saya pernah buat cerita tentang bioterorisme Soviet di jaman Perang Dunia Kedua, dan walaupun unsur itu sendiri hanya muncul sedikiiiiiit sekali di cerita, saya membutuhkan banyak sekali link dan membaca banyak sekali referensi untuk dapat menuliskannya. Saya nggak bisa lagi membayangkan how much it takes untuk dapat menuliskannya sebanyak satu buku! Cara curangnya, Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis, salah satu dari sedikit profesi yang berisi orang-orang yang tau segala hal, menurut saya. Tapi di luar itu, saya cukup overwhelmed dengan penulisan yang luar biasa detail tentang sejarah perang dunia tersebut. Bahkan seolah Jonas Jonasson mengenal Stallin, Mao Tse-Tsung, dan Truman secara personal.

Ya, kalimat terakhir merupakan kelebihan keduanya. Karakterisasinya kuat sekali. Persfektif Allan sebagai tokoh utama dan pemandu cerita menjadi sarana untuk membangun karakter lainnya, namun karena menurut saya karakter Allan sendiri sudah cukup kuat, sama sekali tidak ada masalah dengan membangun citra karakter lainnya. Tokoh-tokoh klise sih pasti ada, contohnya seperti Bolt dan Bucket serta Caracas yang tipikal stereotip penjahat idiot banget. Tapi toh mereka tidak jadi parasit cerita, malah secara paralel membantu membangun karakterisasi tokoh lainnya.

Kemudian yang ketiga adalah plotnya. Saya nggak berpikir ini sebagai kelebihan atau gimana. Perlu diakui juga walau pun sama sekali tidak gampang memakai alur campuran tapi harus tetap menyeimbangkan antara keduanya, plot cerita maju-mundur yang bercabang akan sangat membantu bagi penulis yang kena writer-block (kalau Anda adalah penulis fiksi, Anda pasti paham), tapi kenyataannya saya merasa cabang cerita ini kadang berat sebelah. Kadang penulis terlalu fokus menceritakan bagaimana cara Allan meledakkan jembatan Tiongkok di Oktober 1945 silam, padahal nasibnya di tahun 2005 sedang dalam keadaan rumit-rumitnya tapi terbengkalai begitu saja. Dan dalam banyak kesempatan, saya berpikir penulis begitu bersemangat menguliahi pembaca dengan proses infiltrasi komunisme di Korea dan perang ideologi blok Barat dan Timur sampai nggak menyadari bahwa tulisannya membosankan. Tapi untungnya sang Penulis punya tokoh keren, Allan Karlsson, dan humor yang bagus untuk memandu audiens agar tetap membaca.

Nah, ini bagian favorit saya, humornya. Saya sempat menebak-nebak apa genre spesifik yang tepat untuk buku ini selama saya membaca. Apakah fiksi petualangan, fiksi historikal, fiksi komedi, akhirnya saya memutuskan sub-genre yang (sepertinya) tepat adalah: Fiksi komedi satir historis. Karena jujur aja, saya kebanyakan ketawa baca buku ini, seringkali sampe nggak bisa berenti. Jonas Jonasson saya akui punya sense of humor yang asik sekali, dan sifat itu diwariskan secara sukses ke tokoh-tokohnya. Namun dengan banyaknya bahasan politik di buku ini, humor itu pun dengan sendirinya bertransformasi jadi satir. Contohnya seperti penggambaran Indonesia yang semuanya bisa dibeli dengan uang dari sudut pandang seorang Swedia, itu satir sekali kan?

Secara umum, plothole yang saya lihat di buku ini justru sama sekali tidak berhubungan dengan plot (kalau pun ada, saya berarti nggak begitu menyimak karena saya keburu pusing duluan dengan perang ideologi antara pejabat soviet dan amerika) tetapi berada di Allan Karlsson sendiri. Maksudnya, dia kan seorang lansia berusia hampir 100 tahun ya, namun melakukan perjalanan lumayan rumit begitu, apa itu nggak berpengaruh bagi kesehatannya? Apa giginya, di usia seratus tahun, masih lengkap sehingga dia masih ngelantur bicara dengan jelas? Apakah dia nggak seharusnya pakai pampers ke-mana mana untuk memudahkan hidup seorang berusia seratus tahun? Apa lutut berusia seabadnya masih sehat sehingga Allan masih bisa memberi makan gajah dan membuatkan kopi untuk inspektur yang mengejarnya kemana-mana? Bagaimana bisa penulis tidak memperhatikan beberapa hal kecil seperti itu ya, karena secara umum, Allan di usia seratus tahun yang saya baca hampir tidak ada bedanya dengan Allan di usia empat puluh tahun yang melintasi pegunungan Himalaya naik unta. Yang mana hal ini bikin partisi antara plot lampau dan plot sekarang jadi kabur.

Epilogue

Tapi sekalipun saya seolah lebih banyak ngeritik, nyatanya saya overwhelmed dengan buku ini yang ditulis hampir seolah effortless dan alami sekali. Bahkan kalau dibaca baik-baik, saya menulis review ini pun dengan bahasa yang dipakai Jonas Jonasson, bukan bahasa khas saya sendiri! Lumayan bikin book-hangover juga ternyata si Jonasson ini, saya pun harus kasih apresiasi besar untuk sang penerjemahnya. He did such a wonderful job, I think.

Untuk Allan Karlsson, saya bersedia kasih bintang lima full, dan sekarang saya sedang dalam proses memburu buku karya Jonas Jonasson yang lain!

My Writer Side

Book Review – The Stonehenge Legacy by Sam Christer

https://s3.bukalapak.com/img/358162441/w-300/60553_f.jpg

Author: Sam Christer
Translator: Shandy Tan
Publisher: PT Elex Media Computindo, 2011
Pages: 450 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

Prologue

Setelah seminggu blog saya nggak terupdate apa-apa selain proyek People Watching, yang mana sungguh sangat berat dan melelahkan karena selain saya yang introvert ini kudu harus mesti mandangin muka orang di jalanan satu persatu, juga karena saya harus posting setiap updates dan experiences-nya secara daily (iya saya ini memang paling lemah kalo disuruh konsisten gimana ya gimana dong 😦 ), akhirnya topiknya berubah juga ya. Seneng ngga? Seneng dong.

Kebetulan hari ini pas banget saya baru selesai baca satu buku yang mana sudah saya beli sejak sekitaran tujuh sampe delapan bulan yang lalu (iya, selama itu) dan saya pikir, why not?

 

Main Story

Secara singkat, The Stonehenge Legacy bercerita tentang sebuah sekte rahasia pemuja Stonehenge yang mempunyai keyakinan kuat akan Stonehenge, yang mana gugusan batu itu mereka panggil “Sang Kudus”. Sekte ini memiliki tradisi melangsungkan persembahan tumbal manusia dalam waktu-waktu tertentu sesuai perhitungan arkeo-astronomi mereka. Namun upacara persembahan tumbal di titik balik matahari musim panas tahun kali itu berlangsung di luar dugaan semua orang sekte karena melibatkan kasus bunuh diri seorang pemburu harta karun terkenal, penculikan seorang putri wakil presiden, serta pasukan polisi yang ikut campur terlalu dalam.

Ketika mengambil buku ini di rak diskonan saat itu, saya tahu ini bakal jadi macam The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Namun saya turut gambling pada entah berhasil atau tidaknya si penulis satu ini dengan membawanya ke kasir alih-alih mengembalikannya ke tempat semua. Pikir saya saat itu, toh buku diskonan ini, kalau ternyata penulisnya fail ya nothing to lose sih.

Kalau diliat dari cover sih memang nggak meyakinkan ya. Terus terang begitu memandang covernya, di pikiran saya langsung tergambar beberapa alternatif desain cover lainnya yang relatif lebih baik (bukannya bermaksud memuji kemampuan diri sendiri ya tapi gitulah haha #plak), namun berhubung cover versi bahasa aslinya pun sama tidak menariknya, seperti sang desainer berusaha menyesuaikan jadi yaudahlah ya.

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/7e326-thestonehengelegacy1.jpg?w=303&h=475
Cover aslinya lebih membara, mirip desain buku misteri tahun 80an =_=

Begitu kita membuka buku, yang akan menarik perhatian pertama kali adalah surat yang dicetak di belakang cover sebagai prolog, yang mana setelah membaca keseluruhan buku sampai tamat, saya berpikir prolognya adalah kekurangan pertama. Rasanya Sam Christer menyusun bagian yang mau disampaikan secara kurang tepat sehingga gagal merangkul klimaks dari cerita dan efeknya jadi kurang kuat untuk menggugah hati pembaca.

Kemudian di beberapa part di bagian pertama, penulisannya terasa seolah dipoles dengan mulus sekali, memakai kosakata-kosakata intelek yang saya sendiri malah nggak tau artinya apa, bahkan sampai saya catat saking bagusnya: silsikasi, kongregasi, devosi, triliton, melanisme, anakronistis, nautikal, trompe le’oeil, beltane.

Sayang di part selanjutnya, kemulusan itu seperti di-cut begitu saja dan tiba-tiba kita sudah membaca dengan bahasa manusia biasa. Saya nggak begitu keberatan jika the rest of the book ditulis dengan gaya intelek macam awal tadi, lumayan buat nambah kosakata. Pun saya bukannya tidak senang dengan penurunan tingkat bahasa yang dipakai karena akhirnya bisa baca tanpa mikir berat-berat. Mungkin penulis atau penerjemah (jika memang di naskah aslinya persis ditulis seperti itu) juga berpikir there’s no way pembaca biasa akan dapat menikmati keseluruhan isi cerita kalau penulisannya pakai gaya textbook kuliah biologi sel molekuler (iya modul biosel saya pakai bahasa Indonesia tapi nggak ada satu pun kata yang saya ngerti 😦 #curhat). Tapi transisinya tidak smooth dan kerasa drastis sekali sampai jetlag. Iya itu kekurangan kedua.

Kemudian as the pages goes by, saya mendapati bahwa penulis ternyata kurang konsisten dalam menuliskan penyebutan tokoh sehingga membingungkan pembaca. Misalnya untuk menyebut tokoh A pada suatu bagian digunakan nama depan dan belakangnya secara lengkap, kemudian di bagian setelahnya cuma disebutkan nama belakangnya saja, lalu di kali lainnya malah nama depannya saja sehingga memberikan ilusi ada tiga tokoh untuk satu orang yang sama. Ini, menurut saya adalah kesalahan lumayan fatal bagi seorang penulis. Terlebih lagi dalam buku ini, satu orang mempunyai dua nama yang berbeda pemakaiannya. Satu adalah nama asli yang digunakan di everyday life, satu nama kode yang digunakan antar sesama anggota sekte. Rasanya penulis seperti menjejali banyak karakter langsung ke muka pembaca halaman demi halaman.

Efeknya? Jelas ini berisiko bikin karakterisasinya gagal total. Biased gitu lah, istilahnya.

Kemudian kekurangan terakhir, saya berusaha keras untuk tidak spoiler, tapi ya saya lumayan kecewa dengan penulisan endingnya sih. Rasanya eksekusinya kurang maksimal untuk tensi yang sudah dibangun sebegitu baiknya, sebegitu susah payahnya.

Namun walau dari tadi saya ngomongin kekurangan melulu, nyatanya saya lumayan terpikat dengan buku ini. Penulisannya memakai gaya bercabang yang saling berkaitan dan Sam Christer mampu mempertahankan ketajaman semua cabangnya. Terbukti dari cut tiap part yang selalu menggebrak dan lumayan balance, tidak berat hanya di satu cabang saja.

Kemudian selama membaca buku ini saya sampai nggak terpikir bahwa sekte Stonehenge ini hanya khayalan Sam Christer belaka sebelum membaca catatan akhir dari penulis, hal ini membuktikan bahwa beliau mampu menarik pembaca ke alam fantasinya dan meyakinkan mereka bahwa khayalannnya itu benar-benar nyata dan usahanya lumayan berhasil, setidaknya untuk saya. Memang pada akhirnya itu kan intinya orang-orang membaca novel-novel fiksi konspirasi, untuk bisa berspekulasi?

Bicara tentang fiksi konspirasi, saya jadi ingat Dan Brown yang saya sebut di awal. Dengan berasumsi bahwa Sam Christer adalah Dan Brown-wanna be, saya rasa impiannya masih jauh sih. The Stonehenge Legacy masih kurang detail, kurang menggebrak, kurang manipulatif jika dibandingkan dengan The Da Vinci Code. Namun secara keseluruhan saya pikir Sam Christer bukan sekadar penulis abal pemula yang kepingin jadi Dan Brown. Sam Christer punya gayanya sendiri dan saya cukup bisa mengapresiasi hasilnya.

Bukan yang outstanding gimana sekali sampai saya pingin muji hingga mulut berbusa-busa sih tapi cukup menyenangkan untuk dibaca. Lumayan tidak bikin saya nyesal walau belinya diskonan hehe. Saya rasa 4 bintang seharusnya cukup.

See you in another book, Sam Christer!

English · My Writer Side

Book Review: Memories by Lang Leav

memories

Author: Lang Leav
Publisher: Andrews McMeel Publishing, 2015
Pages: 243 Pages
Rating: ★ of ★★★★★

Prologue

I heard Lang Leav a lot before, like, A LOT. Especially on Instagram where all people tend to be so poetic with a cutoff of emotional poem as the caption for some unrelated images (no, I’m not pinpointing on some of Indonesia’s fashion bloggers and instacelebs, believe me, I’m not).

I, as a person who never been into poetry, was hardly impressed and have zero intention to read the real book by Leav. But, well, what to say if I found my office friend have it on her desk and the cover is so beautiful and she sit next to me so I could see the beauty of the book everytime I turn my head? So I borrowed it right away from her.

 

Main Story

Memories basically a book of poetry of thoughts and feelings, of a lost love and deep longing emotions in a girl’s mind. It’s all written down ranging from a few stanzas to flash fiction to some paragraphs of prose .

This is the most beautiful book I’ve ever seen, literally. I talked about the hardcover made of red dove and blue velvet material, with a classical contemporary potrait style and feminine fonts that used in the cover. The layout inside, too, has similar beautiful setup, and not to forget the picture in early book draws you–as a reader.

61ppg5effpl

But let alone the beautiful cover and all because reading this has taught me a lot to never judge the book by it’s cover. You see, although there’s a lot of pieces in every each pages, written in different tittles and forms, they are all tedious and lack of depth. Repeating the same thoughts over and over again with same flawful punctuations and pauses.

Leav use  distinct and non-metaphorical words, without intention to make the readers think a lot, that makes it an easy-read for the teens. But I always fall in love with literature pieces that uses peculiar phrases to draws the specific literal meaning, which, in my opinion, is an essential element of a poetry, which don’t get it here

I’m not an avid reader of poetry nor I know a lot about them so I can’t really depict a precise review of it. But anyway, I’m not feeling impressed.

Epilogue

Nevertheless, Memories by Lang Leav is my first poem book. And I give one star to my first poem books.

Bahasa · My Writer Side

Book Review – Carrie by Stephen King

https://i1.wp.com/media.tumblr.com/24866e211383a7c4066da0205e9a329c/tumblr_inline_mtxkn3jgNP1qb7t48.jpg

Author: Stephen King
Translator: Gita Yuliani K.
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013
Pages: 256 Pages
Rating: ★★ of ★★★★★

Prologue

Paket buku ini baru saya buka tadi pagi, sepulang saya dari luar kota dan langsung saya baca saat itu juga, mengingat nggak ada lagi hal menarik lain yang berniat saya kerjakan hari ini. Surprisingly, ternyata buku ini habis hanya dalam setengah hari saja. Prestasi yang cukup memuaskan sebetulnya, mengingat kecepatan baca saya yang sebetulnya luar biasa tapi kemampuan baca yang berkurang karena lama memanjakan diri dengan enggak baca buku sama sekali (saya biasa nyalahin platform-platform digital untuk ini, padahal sih sebenernya saya aja yang males ). Setidaknya salah satu resolusi saya tahun ini (Re: Read more books) lumayan berhasil di hari pertama 2017.

Back to topic.

Sudah lama saya mengincar buku ini. Well, sebetulnya bahkan sudah lama saya mengincar karya-karya Stephen King ketika tahu beliau sering disanding-sandingkan dengan Edgar Allan Poe dan Neil Gaiman sebagai The King of Horror and Thriller Stories.

Walau mengaku sebagai thriller novel freak, lumayan malu juga mengakui saya belum pernah baca satu pun karya The King yang satu ini. Pernah saya coba baca Rose Madder, namun menyerah di tengah jalan. Entahlah, mungkin ceritanya terlalu berat dan membosankan bagi saya yang masih berusia tiga belas tahun saat itu.

Maka, pikir saya, Carrie akan jadi pembuka yang sempurna mengingat bahwa karya ini termasuk satu karya King yang paling populer sepanjang masa.

 

Main Story

Singkatnya, Carrie bercerita tentang seorang gadis SMA yang pendiam dan sering menjadi korban bully di sekolahnya. Carrie memiliki ibu penganut agama kristen orthodox cukup ekstrim yang sangat berpengaruh pada perkembangan psikisnya. Ia memiliki kemampuan telekinesis yang kerap muncul saat dirinya berada dalam posisi tertekan atau tersudut. Kemampuan ini rupanya menjadi sumber mimpi buruk kota Chamberlain ketika penindasan yang dilakukan teman-temannya di acara Pesta Dansa Sekolah semakin kelewat batas.

It won’t be long, I promise.

Alasan saya me-review buku ini di sini bukan karena buku ini bagus atau gimana. Intinya saya hanya ingin menghujat penerjemahnya saja kok. Bahkan di kalimat pertama di bagian pertamanya saja, I’m so done with this book.

Saya pernah bilang di review buku terakhir bahwa terjemahan The Wizard of Oz itu jeleknya kayak ditranslet pakai gugel translet berbasis jaman Soekarno-Hatta, nah ternyata ada yang lebih parah dari itu.

Carrie, karya termashyur dari Stephen King; salah satu yang membuat topik telekinesis menjadi populer di masyarakat tahun itu; karya pertama King yang diangkat ke layar kaca di tahun 1976; karya yang saking populernya bahkan dibuat versi remake-nya dengan dibintangin Chloe Moretz di tahun 2013; namun begitu saya baca, embel-embel luar biasa itu hilang semua.

Saya nggak tau apa yang sebenarnya dipikirkan si penerjemah. Apakah segitu terjepitnya beliau dengan deadline? Apa beliau pernah baca kembali hasil terjemahannya? Dan kalau iya, apakah beliau menyadari kebusukan dalam hasil terjemahannya ini? Pun saya nggak paham apa yang dipikirkan penerbit besar sekelas Gramedia Pustaka Utama, aduh, tolonglah, kalau belum punya pengalaman dan belum bisa menerjemah dengan bagus, setidaknya janganlah dikasih buku populer begini. Karena membaca ini, alih-alih menikmati Stephen King, yang ada saya cuma misuh-misuh berusaha menerjemahkan sendiri padanan kata yang sangat non-literal ini.

Kalau saya editornya, mungkin sudah saya koyak habis naskah terjemahan ini tepat di depan wajah sang penerjemah dan saya minta ganti penerjemah lain. Saya curiga ini benar-benar diterjemahkan pakai gugel translet dan sang penerjemah cuma makan gaji buta.

Satu lagi yang saya bingungkan, sepertinya cara penulisannya agak aneh. Ada banyak kalimat dalam kurung di sepanjang cerita, yang saya kurang paham apa relasinya. Jika kata-kata itu adalah monolog dari batin tokoh, kenapa ditandai dengan kurung di paragraf terpisah dan bukannya dimiringkan saja? Lalu kalau benar itu memang monolog batin tokoh, kenapa saya merasa tidak ada hubungannya dengan konteks paragraf secara keseluruhan? Ah, sepertinya saya harus baca buku aslinya saja agar jelas.

Tapi dibalik kesebalan saya terhadap sang penerjemah, toh akhirnya buku ini berhasil saya tamatkan juga. Mungkin tertolong dengan genrenya atau plotnya sendiri, mengingat saya lumayan freak kalau urusan psychological thriller.

 

Epilogue

Pada akhirnya, ternyata yang saya lakukan bukan mereview unsur intrinsik buku ini secara keseluruhan seperti yang biasa saya lakukan, melainkan benar-benar cuma menghujat penerjemahnya saja.

Soal rating, saya rasa dua bintang sudah cukup, keduanya untuk aspek psikologis Carrie dan cara penjabaran dengan artikel berkesinambungan di sepanjang cerita.

Time to go for another reads 🙂

Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Wizard of Oz

The Wonderful Wizard of Oz

Author: L. Frank Baum
Translator: A. Dzaka
Publisher: PT Tangga Pustaka, 2013
Pages Count: 224 Pages

Prologue

The Wizard of Oz, cerita klasik L. Frank Baum yang sebegitu terkenalnya, yang sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan diadaptasi ke baik ke teater maupun layar kaca di seluruh dunia, belum pernah sekali pun saya baca dan saya tonton filmnya.

Empat tahun lalu saya sempat buat list life goals, yang salah satunya adalah membaca karya-karya klasik mancanegara minimal 50 buku, yang mana seharusnya termasuk Wizard of Oz juga. Tapi, ya, gitulah, kadang saya memang suka ngomong doang =_=

Maka ketika nemu buku ini di bazaar lima bulan yang lalu (iya, memang udah lama =_=) tanpa pikir dua kali langsung saya samber aja begitu.

Main Story

The Wizard of Oz menceritakan tentang seorang gadis kecil yang tinggal di Kansas bersama Paman dan Bibi serta anjingnya namun sebuah topan badai aneh menerbangkan Dorothy bersama anjingnya ke sebuah negeri asing yang aneh. Tujuan mereka kini hanya satu: pulang.

Enough said, I kinda had a hard hard time to finish.

Bahasanya bikin saya bosan. Kaku sekali, seperti ditranslate pakai gugel berbasis jaman soekarno-Hatta. Saya kurang paham apakah gaya begini adalah karena sang translator yang kurang luwes atau memang bawaan dari naskah aslinya. Tapi rasa-rasanya saya malas juga kalau harus baca naskah aslinya hanya untuk memastikan apakah gaya bahasanya juga sama jeleknya atau tidak. Saya ngerti sih, ini memang bacaan anak-anak, tapi daripada ‘sederhana’ rasanya malah lebih pas dibilang ‘kacau’. Saya kurang yakin apakah anak-anak juga akan mengerti kekacauan padanan kata-kata di buku ini.

Karakterisasinya bikin saya sebel. Jujur sih, saya malah menangkap bahwa si Dorothy ini karakter yang mengerikan, bahkan jauh lebih harus diwaspadai daripada penyihir jahat dari Negeri Barat. Dorothy terkesan sebagai gadis kecil keras kepala yang hanya memanfaatkan teman-teman hopelessnya untuk mencapai tujuannya sendiri. Berhasil membunuh para penyihir jahat hanya karena keberuntungan yang datang entah dari mana.

Alurnya kebanyakan filler yang ditarik ulur nggak jelas. Dan ternyata, tidak kalah mengerikannya dari Dorothy si karakter utama. Sebagai cerita anak-anak, saya lumayan kaget dengan banyaknya adegan kekerasan yang dijalankan dengan lancar-lancar saja oleh para tokoh di dalamnya seakan itu bukan sebuah kekerasan. Yang lainnya, saya masih ingat dengan adegan Bayung dan Penebang kaleng yang meninggalkan singa tertidur di ladang opium hingga mati. Walau pun si singa tidak mati pada akhirnya, tapi bahkan gagasan adanya ladang opium itu pun sudah cukup mengerikan sebetulnya, untuk sebuah cerita anak-anak.

Untung settingnya, yah lumayanlah. Barriernya lumayan jelas dan deskripsinya rada meyakinkan. Saya rasa dibanding aspek-aspek lainnya yang minus besar, mungkin worldbuildingnya bisa dikasih nilai netral lebih sedikit.

Belum sampai genap delapan bab saya baca (total ada 24 bab), saya sudah siap melemparkan buku ini jauh-jauh. Tapi saya tetap bertahan dengan harapan bahwa pertanyaan saya tentang mengapa cerita ini bisa sangat populer, akan terjawab. Tapi ternyata tidak juga. Kenapa cerita ini bisa sangat populer, saya masih belum tahu dan catatan panjang lebar dari penerbit sebagai penutup juga rasanya jadi nonsense.

Epilogue.

Soal stars rating, cukup ★, satu bintang hanya untuk settingnya saja. Yang lainnya nol besar.

Dear pembaca, kalau Anda punya argumen yang bagus untuk menjelaskan kepada saya mengapa cerita ini bisa jadi salah satu karya klasik yang sangat digemari, tolong dijabarkan di kolom komentar agar dapat mencerahkan hidup kita semua, terutama hidup saya, karena buku ini berhasil bikin saya badmood dua hari.

xx,
Kyokazuchan.

Bahasa · My Writer Side

Book Review: The Child Thief

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSc1TtgG1119a_ZuXKHtl48KJwiMDi7MQTZaO5lTWwaC18fyUw0

Author: Brom
Translator: Tanti Lesmana
Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2012
Pages Count: 936 Pages

Prologue

Kapan terakhir saya ngepost review dan buku apa yang terakhir saya review di sini? Saya bahkan nggak ingat lagi saking lamanya. Truth to be told bahwa kemampuan membaca saya makin lama makin menurun drastis. Kadang saya menyalahkan dunia digital karena merasa sudah di-digitalisasi dengan media-media dan platform dunia maya, terbiasa mendapatkan informasi semudah 140 karakter di twitter dan sekrol-menyekroll instagram yang tidak ada habisnya sehingga saya jadi terlalu manja untuk mau membuka halaman buku satu-persatu demi mendapatkan intisarinya.

Well, karena kemampuan membaca yang menurun namun dorongan impulsif untuk membeli (baca: menimbun) buku sudah semakin akut di diri saya (sedikitnya masih ada sembilan buku baru yang belum terbaca di lemari) maka saya paksa diri saya menamatkan salah satunya, yang mana sebenarnya hanya saya jadikan alasan untuk menunda tugas-tugas kuliah aja sih. Hohoho.

 

Main Story

Buku pertama yang saya baca sampai habis di tahun ini lumayan istimewa. Siapa yang tidak tahu cerita Peter Pan? Saya rasa semua orang, minimal yang punya tipi di rumah, pasti tahu. Peter Pan si bocah dari Neverland yang tidak bisa tumbuh dewasa, yang menghabiskan waktunya dengan bermain-main bersama Tinker Bell si peri cemburuan dan bertarung dengan perompak-perompak tolol, kemudian berkeliaran di langit London dan menjerumuskan kakak-beradik Darling untuk bertarung melawan kapten Hook bersama-sama The Lost Boys di negeri Ajaibnya. Begitu versi Disney.

Lho? Iya, versi Disney. Karena setelah saya baca buku ini, ternyata bukan seperti itu naskah Peter Pan yang ditulis author aslinya, J. M. Barrie. Cerita Peter Pan yang asli lebih kelam, lebih jahat, lebih berdarah-darah, dan Peter Pan si bocah ganteng-jahil-jago berantem seperti yang kita ketahui aslinya adalah bocah licik kejam yang suka menculik anak-anak dari dunia manusia dan memanfaatkan mereka untuk bertarung dengan musuh-musuh perompaknya.

Sisi kelam cerita inilah, yang kemudian direkonstruksi Brom sedemikian rupa dalam versinya sendiri.

Sedikit sinopsis, The Child Thief mengambil sudut pandang seorang anak manusia, Nick namanya, dengan segala ketidakberuntungan hidupnya, hampir terbunuh oleh musuh-musuh pengedar narkoba di sekelilingnya sebelumnya akhirnya diselamatkan Peter, meski dengan cara lumayan berdarah-darah. Peter kemudian memikat Nick secara halus untuk pergi bersamanya ke Avalon, negeri muda abadi tempat faerie, elf, dan para monster hidup berdampingan. Merasa dunia manusia bukan tempat aman untuknya lagi, Nick mengikuti Peter melewati kabut yang membatasi Avalon dan dunia Manusia, tanpa tahu bahwa agenda yang disembunyikan bocah itu untuknya jauh sadis dan berbahaya dari kelihatannya.

Satu yang sangat notable bagi saya di buku ini adalah worldbuilding-nya dan bagaimana penulis mampu menyambung-tempel, gunting-jahit, dan tambal-menambal antara khayalannya sendiri, dengan gubahan dari cerita asli J. M. Barrie dan mitologi-mitologi yang ada.

Di awal saya seperti membaca Eragon. Ya bukan karena ceritanya mirip Eragon juga sih, tapi klisenya macam-macam itulah. Kemudian beralih seperti membaca Narnia, kemudian ke The Lord of The Ring, lalu lompat serial Salem (series tentang penyihir-penyihir Essex di Salem, silakan gugling kalau mau tau), kemudian—nah, ini paling absurd—ke film The God Must Be Crazy (atau setidaknya, itulah yang saya pikirkan ketika kawanan sang kapten yang berasal dari abad ke-18 terheran-heran dengan elevator dan pintu putar di abad 21).

Brom menggunakan folklore-folklore Old England dan menyatukannya dengan sifat-sifat asli Peter Pan serta imajinasinya sendiri untuk membuat sebuah cerita yang utuh. Maka tidak heran kalau di buku kita akan menemui Avalon, yang dalam kisah celtic berhubungan dengan excalibur, King Arthur, dan para ksatria meja bundarnya (ayolah, saya pikir semua orang sudah tahu cerita ini, kecuali saya mungkin), Dewa bertanduk, Tangnnost si kambing Dewa Thor, dan kaum puritan lengkap dengan kefanatikannya.

Yang menarik adalah, hasil sambung-tempel ini terasa sangat halus sekali. Saya tidak merasa cerita ini merupakan hasil pembajakan dari Narnia-campur-The-Lord-Of-The-Ring karena twist dan flashback-flashbacknya cukup masuk akal untuk menjelaskan kenapa Peter Pan tidak bisa menua, kenapa Avalon tidak bisa terlihat di dunia manusia, kenapa para perompak dan kaptennya bisa jadi jahat, dan kenyataan bahwa tau-tau ada elf muncul segala di cerita, saya sih oke aja asalkan plotnya sudah terpoles rapi.

Walaupun karakternya sangat kurang notable sih, bagi saya pribadi sayang sekali. Seharusnya dengan setting dan plot yang sudah disusun sebegitu lengkapnya, akan lebih seru kalau emosi tokoh-tokohnya dilibatkan semakin dalam, nyatanya yang saya anggap karakterisasinya paling ‘kena’ hanya dua tokoh: Peter dan Nathan. Lalu Nick? Nick siapa? Ada yang namanya Nick? Ah, sudahlah.

Satu yang paling saya sukai, penulis sepertinya tidak terjebak dengan stereotip khas dari cerita Peter Pan yang sudah banyak beredar. Terbukti bahwa figur seorang dengan kaki kayu dan tangan kait ala Kapten Hook di sini ternyata hanyalah pemeran tidak penting yang mati sambil lalu, dan Tinker Bell pun tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Bravo.

Walau pun di akhir cerita saya agak hopeless karena sepertinya tokoh-tokoh manusia ‘betulan’ di dunia manusia ini seperti dilenyapkan begitu saja eksistensinya saat pertarungan antara The lost Boys, kawanan sang Kapten, dan Ulfger (maksud saya, kemana perginya SWAT dan CIA ketika pertempuran makhluk-makhluk bertanduk melawan anak-anak kecil dan bangsa Elf tiba-tiba meletus di taman New York?) yang mana merupakan plot hole SANGAT BESAR buat saya.

Tapi berhubung cerita sepanjang hampir seribu halaman ini nggak membuat saya bosan sama sekali (saya perlu beri apresiasi juga bagi sang penerjemah, dengan gayanya yang rada ‘bold’ di awal tapi kembali jadi mainstream lagi di akhir, tapi gapapa) saya rasa bintang empat cukup lah.

Bravo Mr. BROM, karena sudah membuat saya penasaran mau baca karya asli dari James Barrie ★★★★

 

Epilogue

Anyway, seharusnya sekarang saya lagi nulis paper untuk tugas biokimia, bukannya nulis review novel fantasi.

My Blabber Side · My Writer Side

Movie Review: Amelie

Amelie

Rating: 4.2/5
Genre: Comedy, Drama, Romance
Cast: Audrey Tautou (Amelie), Mathiew Kassovitz (Nino), Serge Merlin (Dufayel)
Director: Jean-Pierre Jeunet
Music: Yann Tiersen
Releases: 2001

 

I’m definitely not an ace of a movie critic, honestly, I know nothing. But since I never review any movie here and I just watched such a good one, I thought, why not?

Setted in a wonderful sephia tone of Paris, Amelie lives as a eccentric-shy-introverted young woman. The charm lies in her affection towards details and little things people do not giving attention, that she leap troughout the city of dream like a fairy. Spreading hope and happiness towards her dazzling whimsicality. And the “dazzling whimsicality” by any chance meaning a whimsical–quirky–way on playing an indirect game with people heart and mind to give them joy.

One day, Amelie fall in love with Nino, a unusual man with completely nonsense hobbies but she is not a straighforward person, instead she play with another game of cat-and-mouse chasing around the city, including photograph album and a mysterious man inside.

The jokes are practical yet ambiguous, not as straight as the one you can see in ordinary sitcom tho, you can just laugh right away and after that you’ll wondering what are you actually laughing at. The characters itself are sumptuous, especially those who swirl around Amelie, and the good thing? They played it alive in the audiences mind. The plot flowing like a spectrum graphic rate, it can go very slow then very fast then whatever. It gives me hangover, like Lewis Caroll’s Alice in Wonderland.

And the things that drag me to this movie basically because Yann Tiersen. I’ve been listening Yann Tiersen’s whimsical works for several ambiguous moments of my life and his pieces here are literally the best. It blends well with the Paris-scape and 1970’s fashion, Coco Channel definitely leave some of them freedom of expression.

At the end, happy ending is my favorite kind of ending (after alternative ending, because alternate endings gives more exploreable feelings, people who play RPGs must understand this) and I loved this from start to end. Tho it should rated D–Dangerous, hahah–for the explicit contents, I think this movie is worth to watch.

And guys, since this review based on my subjective view–as always–so another thoughts in the comment section are welcome!