English · My Blabber Side

Stars and Skies

rps20170919_001844

You’re like million dreams come true.
I don’t even know what have I done to deserve you.
Thank you so much.
Advertisements
English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

I Wondering…

How much mistakes needed until one can get it right?
How much tears needed until one can get the smile?
How much pains needed until one can get a victory?
How much scars needed until one deserve true love?
How much lies needed until one can stay on honesty?
How much jealous needed until one can be at peace?
How much insecurities needed until one can stand proudly?
How much sleepless nights needed until one can have a rest safe and sound?

How much sacrifices do we need?
To be alive.
To feel loved.
To be accepted.
To feel recognized.
To be happy.
To feel like we belong to something.

After all this time, how much sacrifices do we need?
And when will it reach to the end?

 

English · My Chaotic Philosophy

Dear, Allah.

Sometimes I think,
if You want to take my life, please do it right now.
Before I become someone who has other lives depending on me. Before I become someone whom other people feel hard to let go.
Because, afterall, You make it’s hard for me to living my life these days. Also You almost took my live away several times this week.
Because, afterall, me right now has never found someone or somewhere I belong. So it will be easier for everyone, don’t You think, Allah?
#TheMorningTales · English · My Blabber Side · My Writer Side

#TheMorningTales: Reborn.

00840004compress

I’ve been longing the ray of the morning sun.
I’ve been craving for the fragrance of morning tea.
I’ve been missing the voice of Frank Sinatra.
I’ve been waiting everyday to wake up to a content and joyful feeling.
I forgot how it was like to live in a safe and steady state of life.

I can’t remember when was my last time spending time in my balcony, barefeet, Wearing a thin and sheer sleeping gown, naked shoulder, feeling cold yet full of life, waiting for the sun to rise, grasping my camera, capturing the ethereal moment of light embarking the dark.

I want to feel alive.
With a soft morning sun licking my neck,
morning breeze cuddling my arms,
and retro voice of Nat King Cole caressing the atmosphere,
gently and bubbly.

I’ve been wanting to have this feeling once again.
Since forever.

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Menjelajah Dimensi yang Lainnya

00840007

Aku selalu percaya kalau makhluk bumi tidak hidup sendirian saja di alam semesta ini. Setidaknya tidak di versi bumi yang kita tempati saat ini. Eh, jangan salah sangka, lho. Aku bukannya mau membicarakan alien atau sejenisnya. Pada kenyataannya toh aku lumayan skeptis terhadap keberadaan entitas-berkepala-besar-dan-berbadan-seperti-anak-kecil-yang-mengendarai-sebuah-mesin-astronautika-berbentuk-gepeng-dengan-sistem-pendorong-turbo-di-bagian-bawahnya itu. Maksudku, manusia itu sangat melebih-lebihkan, ya kan? Kenapa harus digambarkan se-ektraterestrial itu sih? Mana tahu kalau ternyata alien itu bentuknya sama saja seperti kita para manusia? Mana tahu kalau entitas antargalaksi itu juga sama-sama manusia seperti kau dan aku?

Nah, kan, aku malah melantur ke alien.

Kembali ke topik, yang kupercayai tentang ke-tidaksendirian makhluk bumi adalah bahwa ada kemungkinan kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu bukanlah satu-satunya versi kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu yang hidup jagat raya. Ada kemungkinan hidup pula kau, aku, ibumu, ayahmu, mantan pacarmu, dosen killermu, bos tua bangkamu, dan istri kedua kakekmu di dimensi yang lainnya. Dan kita semua bergerak secara paralel.

Ngerti maksudku?

Begini, dulu aku pernah menonton kartun Steins: Gate yang bertema tentang mesin waktu dan John Titor (tau kan dia siapa? Jangan bikin gugel nganggur deh), direkomendasikan oleh kakak laki-lakiku yang selera film-nya memang agak berat dan tematik. Aku bukan yang suka-suka amat dengan kartun itu, tapi ada adegan yang sangat aku ingat sampai sekarang. Yaitu ketika sang karakter protagonis cowok ingin menyelamatkan karakter protagonis cewek yang mati di kehidupannya saat itu, namun entah berapa kali pun dia kembali memutar waktu dan bagaimanapun caranya berusaha menyelamatkan si cewek itu dari kematiannya, toh karakter itu tetap mati juga. Karena memang itulah yang telah ditetapkan untuk karakter tersebut di semua sudut waktu yang ada: mati.

Itu membuat aku berpikir—dan mulai mempercaya juga, sebetulnya—bahwa sebenarnya diri kita tidak hanya ada satu. Jangan-jangan jagat raya ini konsepnya seperti beberapa rel kereta api yang diletakkan bersebelahan, namun alih-alih kereta yang berjalan dengan arah yang berlawanan, kereta di rel kita ini berjalan bersamaan ke arah yang sama. Dengan waktu berangkat dan berhenti yang sama pula. Dan rel-rel inilah yang dinamakan “dimensi.”

Aku selalu bertanya-tanya, jika ada lebih dari satu diriku yang hidup secara bersamaan di beberapa dimensi yang berbeda, akan seperti apa ya para diriku-yang-lain itu? Untuk beberapa alasan aku mengasumsikan bahwa segala unsur intrinsik dari diri kita seperti penampilan fisik, mental, intelegensi, dan emosional setiap versi dimensi itu sama. Alasannya? Ya karena dengan begitu di dimensi mana pun kita berada, kita akan selalu menjadi diri kita sendiri. Begitulah cara kerja dimensi paralel seharusnya, dengan memperbanyak kopi dari diri kita. Apabila ada bagian yang berbeda antara diri kita di dimensi yang satu dengan lainnya, itu namanya bukan fotokopi diri kita kan?

Nah, yang kubayangkan berbeda adalah, bagaimana jika kehidupan yang diberikan kepada kita itu tidak sama antara aku di dimensi ini dengan di dimensi tetangga? Misalnya saja aku di dimensi ini hidup di keluarga biasa saja dan yang kulakukan tiap hari adalah bekerja dan kuliah. Apa jangan-jangan aku di dimensi tetangga hidup di keluarga kaya raya yang setiap hari bisa mandi di jacuzzi mewah? Dan jangan-jangan aku yang satunya lagi di dimensi tetangganya-tetangga dilahirkan dengan agama yang berbeda dan hidup di negara yang berbeda? Siapa yang tahu kan?

Mengerikan juga sih, kalau dipikir-pikir. Kemungkinan tidak terbatas bahwa ada versi lain dari diri kita yang memiliki kehidupan yang amat sangat berbeda itu lumayan mengganggu. Apa jadinya kalau aku bertemu dengan diriku di dimensi yang lain dan menemukan bahwa kehidupannya begitu tidak menyenangkan sampai aku mau membantu mengubah hidupnya dan nantinya malah akan mengganggu keseimbangan antardimensi, atau bahkan sungguh-sungguh menyenangkankan sampai aku ingin membunuh dia dan menggantikan posisinya di dimensi tersebut?

Ada tidak ya orang di dunia ini yang memiliki kelebihan untuk bertransportasi antar-dimensi seperti itu? Transdimentional ability. Woah keren kan kedengarannya? Aku yang bikin sendiri lho sebutannya.

Jadi begini, Transdimentional ability atau kemampuan transdimensi adalah salah satu dari kemampuan spiritual Maha Luarbiasa yang diberikan pada manusia. Berbeda prinsipnya dengan transchronical ability (nah, aku yang bikin lagi tuh istilahnya, keren kan), yaitu kemampuan transkronik. Jika cara kerja transdimensi adalah menjelajah satu rel ke rel lainnya secara melintang, transwaktu hanya punya kemampuan dalam lingkup satu rel saja, tapi bisa melompat-lompat ke depan dan belakang.

Nah, tidakkah kau berpikir, setidaknya ada masing-masing satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut? Maksudku, toh Tuhan menciptakan dimensi paralel tersebut bukannya tanpa alasan, kan. Pasti ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan-Nya kepada kita manusia. Selain itu, asal kau tahu saja, Tuhan juga punya selera humor yang seru, lho.

Nah kan aku malah jadi melantur ke kemampuan transdimensi dan transkronik segala.

Tapi untuk apakah Tuhan menciptakan beberapa dimensi dengan duplikat persona-persona yang sama dari setiap makhluk yang berada di dalamnya dan bukannya beberapa dimensi dengan penghuni yang berbeda saja? Maksudku, bukankah lebih efisien jika kau menciptakan satu rel yang isinya makhluk A, satu rel lain isinya makhluk B, dan rel lainnya berisi makhluk C, D, atau kombinasi semuanya? Lebih seru kan jadinya, setuju?

Eh, atau begini saja, pernah mendengar istilah doppelgaenger? Ada sebuah kepercayaan, aku lupa berasal dari mana, bahwa ada beberapa duplikat diri kita yang diciptakan bersamaan dan disebar di seluruh dunia ini. Tentang berapa jumlah duplikatnya aku juga kurang ingat, antara 7 atau 10 orang, tergantung dari legenda mana kau mempercayainya. Nah, duplikat-duplikat inilah yang disebut doppelgaenger. Konon jika kita bertemu dengan seluruh doppelgaenger kita, ada yang berkata itu berarti kematian kita telah dekat.

Nah, berangkat dari legenda itu, aku hanya berpikir bagaimana jika doppelgaenger tersebut sebenarnya tidak disebar di dunia yang sama dengan kita, melainkan di ‘versi dunia lainnya’? Secara teknis, kita mungkin tidak akan bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi ya sudahlah anggap saja ini versi legenda doppelgaenger yang berbeda.

Mungkin saja Tuhan menciptakan banyak dimensi dengan duplikat diri kita untuk menguji sejauh mana batas ketahanan manusia di dunia yang berbeda. Jika diibaratkan pengujian laboratorium, ini seperti menguji sejauh mana bakteri dapat bertahan di tiga macam suhu: psikrotermik, mesotermik, dan termotermik. Tunggu, istilah terakhir itu—termotermik—rasanya tidak benar, aku sepertinya harus membuka kembali diktat mikrobiologi umumku sebelum menuliskannya, tapi, yah, intinya kau harus menempatkan bakteri yang sama di tiga kondisi yang sama sekali berbeda kemudian menjalani pengujian secara serentak agar bisa memperoleh hasil yang valid dan reliabel.

Jadi, apabila kita mengasumsikan ada banyak versi diri kita di dunia ini, kusimpulkan sebenarnya kita adalah bagian dari bakteri percobaan yang sedang diadu satu sama lain secara tak langsung di sebuah laga pertarungan antar-dimensi. Ini semata karena Tuhan ingin melihat siapa yang paling kuat yang bisa bertahan menjalani kehidupannya. Sehingga ketika kita menyerah, saat itulah kita bukan hanya kalah di laga pertarungan antara diri kita dan kehidupan sekitar, tapi sebenarnya juga di pertarungan dengan beberapa versi lain diri kita di dimensi lain.

Dan apa yang kita dapatkan apabila kita memenangkan pertarungan tersebut?

Sederhana.

Di laboratorium, bakteri nonpatogen yang mempunyai resitensi tinggi yang akan diambil, dikembangkan, dan diberi perlakuan istimewa, karena dirinya sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban dari beberapa pertanyaan dan masalah janggal yang tak terpecahkan.

Mungkin itu pula yang akan Tuhan lakukan pada duplikat yang bertahan: memberi perlakukan istimewa. Di mana langkah selanjutnya hanya Ia yang mengetahuinya.

Berarti sebenarnya semua kutipan dan kata-kata bijak itu benar: rival terbesar kita adalah diri kita sendiri, di dimensi yang lainnya.

Aku bukannya mau mengaitkan hal ini dengan motivasi hidup atau bagaimana, tapi kalau pertarungannya tingkat antar-dimensi, bukankah jadi ‘Pemenang Antardimensi’ sangat keren sekali kedengarannya?

Makanya, kita tidak boleh kalah.