#TheMorningTales · My Chaotic Philosophy

#TheMorningTales: I thought I Learnt, and Healed. I’m not.

There’s not a surprise now that people said gloomy weather calls for more depressive feeling. I love it like it always have been giving me a certain, joyful feeling before. But today is kind of different.

This certain weather, certain time, certain circumstances, dances altogether in recalling me of something, a painful one. And it hits me real hard. It just like a sudden thunderstorm came when you strolling on the sunny beachside and then leave just like that within seconds.

I supposed to functioning well today, numerous things to do and life is shouting for an action, but once a wave of depression came even it just a few minutes—a few of TORTURING minutes—it always so hard to get up. And now I can just curling in my bed, wondering why my heart aches so bad.

I thought I healed. But it seems likely I’m not, yet.

Advertisements
English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

02:00

I did it again.

I said I won’t go too hard on myself anymore, I promised myself. I said I will forgive myself. I said I will give myself the time, and chance.

But I screw it up. I ruin it over again.

The atmosphere around me always been so toxic. Everytime and everywhere I go, I feel like diving in the arsenic ocean. I feel saturated. Toxified. Poisoned.

“It’s okay, I’m cleaning up.” Everytime I crawling out of that poisonous ocean. As I’m trying to get rid of my soaked self and make it dry and nice again. But the fact is, I’m keep sliding off the water and drown. All over again.

The poison saturated me. Trapped me in this satanic cycle of anxiety and depression that I don’t even remember why. I can’t remember why it came in the first place, how and when did it happened to me eversince? All I remember now is just, it’s painful. So much painful that I’m torn apart. I’ve been trying to surviving this. I’m trying to be kind to myself. But it’s so hard.

I’m tired.
So much tired.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Sebuah Catatan Untuk Angka 24

Saya pernah berkata pada seorang teman, “Kamu beruntung baru ketemu aku sekarang. Nggak jaman dulu pas aku masih alay korea-koreaan, nggak jaman dulu pas aku masih nggak tau tujuan hidup aku apa dan apa yang mau aku lakukan di masa depan, nggak jaman dulu pas aku masih tantrum dan nggak bisa kendaliin emosi, bahkan nggak jaman dulu pas aku masih lari gaya Naruto.”

Iya serius, Naruto.

Tau kan gaya lari Naruto? Badan agak condong ke depan sekitar 45 derajat, kepala diluruskan dengan punggung, tangan membentang ke belakang, kaki diayunkan lebar-lebar.

1460155122620

Iya, begitu.

Ingat dulu saya pernah lari gaya begitu bikin meringis deh. Super cringe. Ternyata saya pernah se-freak itu, sekaligus se-nggak pedulian itu sama pendapat orang lain tentang pembawaan diri saya. Anehnya, walau saya dihujat sana-sini tapi kok saya bisa tetap stay cool aja ya. Ah mungkin dulu saya memang se-cool dan se-antikemapanan itu ya. Pantes saya banyak dibully :((

Bicara tentang masa depan, lucunya adalah sepertinya saya masih belum berubah, saya masih nggak tau akan jadi apa dan apa yang ingin saya lakukan. Blank. Gelap.

Bedanya hal itu masih wajar jika dikatakan di usia dengan kepala 1 tapi jadi hal yang tabu jika sudah menginjak kepala 2. Ketika mulai menginjak kepala 2, saya menyadari bahwa dunia mengharuskan kita paham dengan apa yang kita lakukan. Nggak boleh ada kata “I have no idea of what I’m doing actually,” yang terucap. Padahal kenyataannya, diri saya di usia dua puluhan masih sama clueless-nya dengan usia belasan dulu.

Sedikit lebih pintar? Oh iya pasti. Lebih good-looking? Eh, ya memang dulu saya belum tau cara merawat diri sih, tapi kayaknya sama aja. Lebih berani? Hm… Saya kira saya memang sudah nekad dan gila dari sananya jadi nggak ada perubahan. Lebih dewasa? Jika dewasa itu dianalogikan dengan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak dengan tepat, pastinya tidak.

Kenyataannya, saya nggak tau apa yang sebenarnya saya lakukan sekarang ini. Kehidupan karir saya berantakan, kehidupan percintaan juga berantakan, kesehatan nggak keruan, finansial juga carut-marut, kehidupan sosial apalagi. Jika ini adalah aspek-aspek hidup yang mereka harapkan untuk dapat tercapai dengan stabil dan well-achieved, saya jelas gagal total.

TBH saya nggak tau kenapa saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebelumnya yang secara otomatis membuat finansial saya seperti dilanda topan badai dadakan. Saya memutuskan nggak ingin melakukannya lagi karena saya sudah nggak menikmatinya. Itu, dan tuntutan skripsi yang menunggu untuk diselesaikan. Saya nggak tau kenapa saya menyudahi hubungan itu atau kenapa saya kembali ke rumah untuk menghadapi seluruh anggota keluarga yang judmental setiap hari yang kemudian membuat saya terserang insecurity, anxiety, dan social trauma berkepanjangan. Lalu saya juga nggak tau kenapa dengan semua hal yang terjadi tersebut, saya masih juga mengambil risiko SANGAT BESAR untuk mulai mengembangkan bisnis saya sendiri.

Mungkin jawabannya cuma satu: Insting.

Saya sering sekali bertumpu pada insting untuk memutuskan segala sesuatu. Jika ciri-ciri orang dewasa adalah senantiasa berpikir logis, jelas saya nggak masuk kriteria. I just can’t see any other way. My heart told me so. My instict told me so.

Tapi jika dipikir-pikir lagi, bukankah ini salah satu bentuk dari independensi? Atas diri sendiri mau pun orang lain. Lima atau sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya nggak punya keberanian untuk melakukan hal-hal tersebut. Mungkin saya akan tetap patuh dengan apa yang orang lain tentukan untuk hidup saya. Mungkin saya akan mengikuti kungkungan logika saya, sekalipun saya tersiksa setiap hari.

Oke itu satu skor untuk saya versi 24. Ternyata walau clueless dan hidup carut-marut, saya punya level independensi yang lebih tinggi. Dan sepertinya kemampuan berjudi yang lebih tinggi juga karena, bukankah memutuskan sesuatu berdasarkan insting itu sama saja dengan berjudi? Bingo.

Hidup dengan aman itu mungkin menyenangkan, ya. Tapi jika amannya di dalam penjara dan setiap hari berulang sama, lantas di mana senangnya?

Saya belajar satu atau dua hal dari hal tersebut. Dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan yang saya lakukan seumur hidup saya. Maka ini sedikit catatan untuk saya versi 24 (dan mungkin untuk kamu juga):

  • Jika kamu sudah masuk kepala 2 tapi masih belum tau apa yang ingin kamu lakukan dengan hidup kamu, ternyata banyak yang kepala 4 hingga 5 pun tidak tau apa yang ingin mereka lakukan dengan hidup mereka. Maka list saja dulu keinginanmu lalu kejar satu-persatu. Tiap poin yang kamu coret eventually will bring you to a certain place and certain position. And therefore your story begins without you even notice. Ternyata begitulah cara kerjanya.
  • Kalau kamu merasa sepertinya sekali lagi mengambil keputusan yang salah, yaudah YOLO aja. Kebebasan untuk mengambil keputusan tetap saja adalah kebebasan, sekali pun keputusannya kebetulan salah. You’ve fight to have your own voice and independency this whole 24 years, don’t take it for granted.
  • Kalau ada cowok deketin kamu, tanpa basa-basi langsung aja tanya “Mau nikah atau mau main-main aja? Kalau main-main sih bye aja. Kalau mau nikah emang situ udah punya apa? Saldo di rekening udah berapa?” Karena kamu se-beyond priceless itu dan nggak ada yang layak membuang waktu kamu.
  • Jangan meremehkan insting. Saya punya contoh seseorang yang selalu mengandalkan instingnya tapi mampu berjalan sangat jauh dan mendapat banyak sekali achievement: Ya, dia adalah diri saya sendiri. Dan saya baru menyadarinya sekarang.
  • Lain kali kalau kamu merasa hidupmu berantakan dan memalukan, ingatlah jaman dulu saya pernah lari pake gaya Naruto. Itu jauh lebih memalukan.

Selamat ulang tahun terlambat tiga hari. Selamat menjadi 24, Oka.

20180321_000152

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

To The Better Days Before

When I was younger, about 19 to 21, curing anxiety is always been that easy. Either it’s books, or drawing, watching movies, or severe band fangirling, any of that and around will works. Eventhough those three years are the hardest, used to be the hardest.

Now it doesnt work anymore. And I just realized, everytime the massive wave of anxiety and frustrations hit me, my stomach will react with the same stress. Causing pain and producing acidity in a level that my body can’t hold on anymore. I think that’s why I got ulcer, and in the same time, having my immunity goes down hence all the diseases and illness comes in a neverending series.

I just wondering, why it never be the same? I suffer the same anxiety and frustration on the older days, why it was easy to escape before? Why it doesn’t work now?

English · My Blabber Side

Night.

Processed with VSCO with t1 preset

I hate this.

I hate when the clock strikes 2 AM yet still I can’t close my eyes. I hate when this familiar yet frustrating feeling coming upon and attacking me. I hate this sense of separation anxiety, loneliness, insecurity, inferiority complex, envy, and hatred comes altogether in undeniable package. I hate them all.

I hate this familiar feeling as if my throat is choked, holding uncontrolably sobs that will come upon me. I hate when my head is panickly turning around, searching for help, or any person to hold on to. Anyone, please.

I hate this even more since it happens every night, over a month.

I hate when my body acting strange whenever I’m up a little bit too long. I hate of being both mentally and physically sick at the same time.

I hate when I have to questioning every night, about when will it comes to end.

English · My Chaotic Philosophy

You’re Not Alone. I’m Holding You. It’s Gonna be Okay.

rps20180228_144038

You know what really toxic is? When you’re already on an excruciation yet you’re grieving that misery and sorrow. You can’t help it. You’re poisoning yourself.

I’m trying to rationalizing.

But you failed.

I always failing afterall.

And I’m trying to help. When first we met, I didnt know your name but I called you ‘Matahari’. A sun. Remember?

Because I’m really loud and overly excited when I talking about something I love and it’s annoyed you. Because sun is annoying as well.

You’re really loud, it’s true. A lil’ bit annoying, it’s also true. But I don’t think sun is annoying.

Well, at least for me it is.

You’re shining, full of life, radiant across the room. That’s you when I see you. That’s why I’m instantly attached. But when you’re grieving and mourning, you’ll lose your sparks.

Sun is not my favorite tho and I’m not asking you to be attached.

You know? I did remember when I was, too, as bitter as you.

And you’ve overcome that?

I past it all.

How?

By joking myself, laughing at my misfortunes, and even draw some caricatures based on it. First: my caricatures got appreciated, some even sold for a t-shirt, and second: I learnt to not taking seriously my despairs. Life is life. We’re happy and we’re depressed. They have their own turns.

First: I can’t draw caricatures and not even in a mood for drawing. Second: I’m alone, so leave me alone.

I won’t.

Why?

Because you need someone to sit you or else you’ll harm yourself.

I’m not a suicidal person, don’t worry.

But you still mentally poisoning yourself. Like I said, it’s toxic. Equal to suicide, in an indirect and slower way.

Okay.

Okay what?

You’re right.

I knew it.

Just watch over me while I drowning in my agony and slowly gathering my broken pieces altogether, okay?

I will, don’t worry. You’re not alone. I’m with you. You’ll be okay.

Promise me.

I’m promise.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Tentang Transisi Hari dan Semua yang Terjadi di Antaranya

rps20180102_182654

Saya masih ingat detik detik menjelang pergantian tahun di tahun lalu. Saya terduduk di mobil kijang yang berlari kencang menuju Jakarta dari kampung halaman di Wates. Hari itu juga 31 Desember, malam tahun baru. Malam terakhir saya ambil izin dari kantor, unpaid leave, bahasa kerennya, untuk mengambil napas di kota kecil yang tenang tempat ayah saya dilahirkan.

Saat itu workload saya sedang hectic-hecticnya, klien saya sedang gila-gilanya, hampir tiap 10 menit saya harus handle issue yang urgent bahkan saya sampai harus cari kursi lalu buka laptop ketika sedang pelesir di Malioboro. Ironis. Syukurlah itu semua sudah terlewati.

Tahun yang lalu, 31 desember 2016, di dalam mobil yang tengah ayah saya kendarai, tiba-tiba saya mau meledak. Mau menangis menjerit-jerit. Tiba-tiba merasa sedih dan sakit hati yang tidak ada duanya. Entah kenapa, saya juga nggak tahu sampai sekarang. Sepertinya campuran antara stress pekerjaan dengan beban ekspektasi hidup yang tidak kesampaian. Khas orang dewasa, ya kan? Saat itu saya sampai serius berpikir untuk membuat janji konseling dengan psikolog atau psikiater. Alasannya karena saya mencurigai diri saya punya anxiety (social anxiety, mungkin lebih tepatnya) yang parah atau mungkin bipolar disorder tipe II (karena mood swing saya memang luar biasa ekstrim dari sananya) atau depresi ringan (ternyata bukan ini, karena baru-baru ini saya merasakan seperti apa namanya depresi ringan itu, dan rasanya sungguh berbeda. Jauh jauh jauh lebih buruk, sungguh, rasanya seperti mimpi buruk yang jadi nyata, hanya saja tidak hilang ketika kita bangun). Tapi hati kecil saya tau, saya sebenarnya hanya menginginkan obat-obat antidepresan dari ahli medis secara legal saja. Beberapa bilang gangguan mental mereka jadi lebih baik dengan adanya antidepresan tersebut (ya asal tidak ketergantungan saja sih).

Tapi bagaimana pun, toh saya tidak jadi melakukannya saat itu, konseling ke psikiater maksud saya. Saya memang sudah simpan beberapa kontak klinik dan rumah sakit yang kelihatannya cukup terpercaya, tapi saya tetap tidak sanggup memaksa diri saya pergi. Pertama, sepertinya biayanya mahal sekali. Saya harus bayar kuliah, itu lebih penting. Kedua, saya tidak mampu berhadapan dengan orang untuk membicarakan masalah saya, penyakit di pikiran saya, gangguan di hati saya, ketidakstabilan emosi saya, dan lain-lainnya. Mereka tidak bakal anggap saya serius, dan terutama saya tidak pernah bisa bercerita tentang ini dengan siapa pun. Saya terlalu takut dengan apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya.

Maka, dengan asumsi jika saya bisa memikirkan alasan pertama (biaya kuliah lebih penting), berarti saya masih belum sesakit itu dan masih bisa menyembuhkan diri saya sendiri, saya urung membuat janji konseling. Alih-alih saya habiskan hari berikutnya dengan membaca buku, makan makanan tidak sehat, dan menulis review tentang buku tersebut di blog. Syukurlah saya kemudian lebih baik hari demi hari.

Tahun 2016 adalah tahun yang sangat sulit. Emosi saya diaduk hingga terkuras, diguncang-guncangkan hingga saya muak, diombang-ambing sampai rasanya mau gila. Oleh karena itu pula saya tidak terpikir untuk menulis post tahunan tentang 20 pencapaian saya di tahun tersebut. Karena boro-boro kepikiran posting, masih bisa bertahan hidup pun sudah syukur. (Yah walaupun setelah saya pikir-pikir lagi, pencapaian saya di 2016 toh lumayan fantastis juga, sebanding lah dengan berdarah-darahnya).

Tahun 2017 ini lebih kalem, dengan beberapa hal yang sebelumnya cuma ada di imajinasi liar saya, tahu-tahu jadi nyata. Hard, but not that hard, but still hard. Mungkin karena itulah malam tahun baru ini, walau pun saya ada di situasi yang sama, bersama orang yang sama, menaiki mobil yang sama, dan mengarungi jalan yang sepertinya juga sama, saya tidak lagi frustrasi dan menangis histeris. Saya lebih tenang dan stabil. Yah walau dua-tiga ada saja masalah di sana-sini (dua-tiga masalah yang kebetulan LUMAYAN besar) tapi sepertinya tahun 2017 saya sudah ditempa untuk jadi lebih dewasa. Lebih matang dengan pikiran bahwa tidak semua yang kita inginkan akan terwujudkan. Pikiran untuk mengontrol ekspektasi dan berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dengan orang lain.

Saya masih belajar. Saya rasa kita semua pada dasarnya adalah anak kecil. Manja, egois, dan penuh cita-cita. Yang membuat kita jadi ‘sedikit’ lebih dewasa adalah mental yang stabil, yang tetap mampu mempertahankan letaknya walau diterjang badai realita. Bohong kalau saya bilang saya sudah tidak pernah merasakan mental breakdown seperti itu lagi. Kenyataannya sering, sering sekali. Saya seringkali berpikir pasrah, kalau Tuhan mau ambil saya, silakan sajalah, saya toh belum punya tanggungan apa-apa, belum punya pencapaian apa-apa. Tapi sungguh tidak pernah diwarnai dengan suicidal thoughts atau pikiran-pikiran bunuh diri. Saya rasa frustrasi saya masih normal, atau mungkin juga saya terlalu pengecut? Ah entahlah. Jadi ya karena kasus bunuh diri sedang marak-maraknya, tenang saja teman-teman, saya tidak termasuk satu yang harus kalian waspadai. Saya terlalu pengecut dan terlalu cinta dengan diri saya sendiri.

Jadi, apa yang bisa saya bawa untuk mengarungi buku kosong selanjutnya, di tahun yang baru? Ah entah. Manusia itu seperti bunglon, kita berubah setiap saatnya. Belum tentu saya di tahun lalu akan sama dengan di tahun ini sehingga pikiran untuk membawa pengalaman lalu menjadi pelajaran hari ini sepertinya akan sia-sia saja. Siapa pun yang membuat quotes experience is the best teacher pasti bukanlah seseorang yang sifat dan pemikirannya selalu berubah seperti saya. Tapi ya, balik lagi, mengontrol ekspektasi itu sangat penting. Karena, sungguh, disakiti oleh kenyataan, itu luar biasa mengerikan.

Saya tidak terlalu suka bertukar ucapan selamat tahun baru atau sejenisnya, karena buat saya itu fana. Tapi saya punya beberapa target yang harus saya capai tahun ini, yang menjadi alasan agar saya tetap hidup. Karena, apalah artinya hidup kalau kita tidak punya cita-cita untuk diwujudkan?

Tahun ini pun sepertinya saya tidak akan terlalu sering menulis di sini. Tahun ini pun sepertinya saya akan banyak berada di dunia nyata. Tahun ini pun sepertinya saya tetap akan menjadi saya yang emosian, panikan, impulsif, dan ambisius. Tahun ini pun, kalau saya masih ada usia, akan banyak hal yang akan dipelajari, yang nantinya akan saya tuliskan dan bagikan juga di sini kala senggang. Tahun ini pun akan ada orang-orang yang datang dan pergi, entah siapa dan kapan.

Kenyataan bahwa kita tidak tahu apa pun tentang masa depan dan ketidakmampuan kita untuk mengontrol hidup kita sendiri memang mengerikan. Tapi itulah manusia. Pada akhirnya, semua hanya Tuhan yang tahu, kan. Kita hanya bisa berdoa saja. Lagipula, Tuhan adalah penulis skenario paling handal yang ada di seluruh alam semesta.

Tuhan, aku titipkan cita dan cintaku pada-Mu. Silakan bawa ke mana Kau mau.