Bahasa · My Writer Side

Book Review – The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared by Jonas Jonasson

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/3b176-the-100-year-old-cover.jpg?w=355&h=560

Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Publisher: PT Bentang Pustaka, 2015
Pages: 508 Pages
Rating: ★★★★★ of ★★★★★

 

Prologue

Setelah resign, saya mengira akan punya banyak waktu luang nanti. Oleh karena itu sebagai antisipasi saya membeli beberapa buku yang memang sudah saya inginkan dari lama sekali untuk mengisi waktu luang tersebut secara lebih berfaedah.

Tapi ya, ternyata hal itu nggak sepenuhnya benar. Ternyata setelah saya resign pun waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan kuliah, dan beberapa untuk pekerjaan freelance, tapi sebagian besar untuk tugas-tugas kuliah. Saya sampai nggak habis pikir, akan bagaimana jadinya kalau saya belum resign. Bisa-bisa rabu-kamis-jumat saya dijatah enggak tidur semaleman demi ngejar tugas.

Oke sudah cukup curcolnya.

Jadi dari beberapa buku yang saya beli tersebut, salah satunya adalah buku ini. Saya ingat memegangnya erat-erat dengan mata nggak berkedip sedikit pun begitu melihat covernya waktu di Gramedia akhir tahun lalu. I mean, lucu sekali kan ya desain sampulnya! Begitu pula dengan judulnya yang panjang tapi tidak kalah nyentriknya.

Sekilas memang terlihat seperti buku self-help gimana gitu sih, tapi setelah dibaca sinopsisnya, ini ternyata buku fiksi, kawan-kawan. Maka ketika beberapa minggu lalu online bookstore favorit saya mengadakan sale dan voucher redemption, segera lah saya manfaatkan untuk membeli buku ini.

 

Main Story

The 100-year-old Who Climbed Out of Window and Disappeared, atau jika dibahasaindonesiakan menjadi “Pria 100 Tahun yang Memanjat Keluar Jendela dan Menghilang” ini bercerita tentang…ya, tentang pria berusia seratus tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang #plak. Allan Karlsson tinggal di Rumah Lansia di kota Malmköping, Swedia. Sore itu tepat hari ulangtahunnya yang keseratus tahun dan Rumah Lansia tersebut, dengan dukungan walikota dan lain-lain, berniat mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Allan. Kejadian menghilangnya Allan kemudian membuat gempar seisi kota dan, bahkan, seisi Swedia. Tapi petualangan Allan selanjutnya serta cerita tentang masa lalunya ternyata lebih menggemparkan lagi.

Kalau ada cara baru untuk belajar sejarah, atau untuk menjabarkan sejarah tanpa terasa seperti belajar sejarah, saya rasa buku ini jawabannya. Sebagian besar buku ini tidak bertempat di Swedia tahun 2005, asal dari si tokoh utama, melainkan di seluruh dunia, berpindah-pindah dari Swedia ke Spanyol, ke Amerika, Tiongkok, Soviet (bahkan, Indonesia!), dan semua negara besar lain baik blok Barat mau pun Blok Timur di masa perang dunia kedua.

Oke, ini salah satu kelebihan mencolok dari buku ini. Risetnya–all hail Jonas Jonasson–sangat luar biasa. Saya pernah buat cerita tentang bioterorisme Soviet di jaman Perang Dunia Kedua, dan walaupun unsur itu sendiri hanya muncul sedikiiiiiit sekali di cerita, saya membutuhkan banyak sekali link dan membaca banyak sekali referensi untuk dapat menuliskannya. Saya nggak bisa lagi membayangkan how much it takes untuk dapat menuliskannya sebanyak satu buku! Cara curangnya, Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis, salah satu dari sedikit profesi yang berisi orang-orang yang tau segala hal, menurut saya. Tapi di luar itu, saya cukup overwhelmed dengan penulisan yang luar biasa detail tentang sejarah perang dunia tersebut. Bahkan seolah Jonas Jonasson mengenal Stallin, Mao Tse-Tsung, dan Truman secara personal.

Ya, kalimat terakhir merupakan kelebihan keduanya. Karakterisasinya kuat sekali. Persfektif Allan sebagai tokoh utama dan pemandu cerita menjadi sarana untuk membangun karakter lainnya, namun karena menurut saya karakter Allan sendiri sudah cukup kuat, sama sekali tidak ada masalah dengan membangun citra karakter lainnya. Tokoh-tokoh klise sih pasti ada, contohnya seperti Bolt dan Bucket serta Caracas yang tipikal stereotip penjahat idiot banget. Tapi toh mereka tidak jadi parasit cerita, malah secara paralel membantu membangun karakterisasi tokoh lainnya.

Kemudian yang ketiga adalah plotnya. Saya nggak berpikir ini sebagai kelebihan atau gimana. Perlu diakui juga walau pun sama sekali tidak gampang memakai alur campuran tapi harus tetap menyeimbangkan antara keduanya, plot cerita maju-mundur yang bercabang akan sangat membantu bagi penulis yang kena writer-block (kalau Anda adalah penulis fiksi, Anda pasti paham), tapi kenyataannya saya merasa cabang cerita ini kadang berat sebelah. Kadang penulis terlalu fokus menceritakan bagaimana cara Allan meledakkan jembatan Tiongkok di Oktober 1945 silam, padahal nasibnya di tahun 2005 sedang dalam keadaan rumit-rumitnya tapi terbengkalai begitu saja. Dan dalam banyak kesempatan, saya berpikir penulis begitu bersemangat menguliahi pembaca dengan proses infiltrasi komunisme di Korea dan perang ideologi blok Barat dan Timur sampai nggak menyadari bahwa tulisannya membosankan. Tapi untungnya sang Penulis punya tokoh keren, Allan Karlsson, dan humor yang bagus untuk memandu audiens agar tetap membaca.

Nah, ini bagian favorit saya, humornya. Saya sempat menebak-nebak apa genre spesifik yang tepat untuk buku ini selama saya membaca. Apakah fiksi petualangan, fiksi historikal, fiksi komedi, akhirnya saya memutuskan sub-genre yang (sepertinya) tepat adalah: Fiksi komedi satir historis. Karena jujur aja, saya kebanyakan ketawa baca buku ini, seringkali sampe nggak bisa berenti. Jonas Jonasson saya akui punya sense of humor yang asik sekali, dan sifat itu diwariskan secara sukses ke tokoh-tokohnya. Namun dengan banyaknya bahasan politik di buku ini, humor itu pun dengan sendirinya bertransformasi jadi satir. Contohnya seperti penggambaran Indonesia yang semuanya bisa dibeli dengan uang dari sudut pandang seorang Swedia, itu satir sekali kan?

Secara umum, plothole yang saya lihat di buku ini justru sama sekali tidak berhubungan dengan plot (kalau pun ada, saya berarti nggak begitu menyimak karena saya keburu pusing duluan dengan perang ideologi antara pejabat soviet dan amerika) tetapi berada di Allan Karlsson sendiri. Maksudnya, dia kan seorang lansia berusia hampir 100 tahun ya, namun melakukan perjalanan lumayan rumit begitu, apa itu nggak berpengaruh bagi kesehatannya? Apa giginya, di usia seratus tahun, masih lengkap sehingga dia masih ngelantur bicara dengan jelas? Apakah dia nggak seharusnya pakai pampers ke-mana mana untuk memudahkan hidup seorang berusia seratus tahun? Apa lutut berusia seabadnya masih sehat sehingga Allan masih bisa memberi makan gajah dan membuatkan kopi untuk inspektur yang mengejarnya kemana-mana? Bagaimana bisa penulis tidak memperhatikan beberapa hal kecil seperti itu ya, karena secara umum, Allan di usia seratus tahun yang saya baca hampir tidak ada bedanya dengan Allan di usia empat puluh tahun yang melintasi pegunungan Himalaya naik unta. Yang mana hal ini bikin partisi antara plot lampau dan plot sekarang jadi kabur.

Epilogue

Tapi sekalipun saya seolah lebih banyak ngeritik, nyatanya saya overwhelmed dengan buku ini yang ditulis hampir seolah effortless dan alami sekali. Bahkan kalau dibaca baik-baik, saya menulis review ini pun dengan bahasa yang dipakai Jonas Jonasson, bukan bahasa khas saya sendiri! Lumayan bikin book-hangover juga ternyata si Jonasson ini, saya pun harus kasih apresiasi besar untuk sang penerjemahnya. He did such a wonderful job, I think.

Untuk Allan Karlsson, saya bersedia kasih bintang lima full, dan sekarang saya sedang dalam proses memburu buku karya Jonas Jonasson yang lain!

Advertisements
My Writer Side

Book Review – The Stonehenge Legacy by Sam Christer

https://s3.bukalapak.com/img/358162441/w-300/60553_f.jpg

Author: Sam Christer
Translator: Shandy Tan
Publisher: PT Elex Media Computindo, 2011
Pages: 450 Pages
Rating: ★★★★ of ★★★★★

Prologue

Setelah seminggu blog saya nggak terupdate apa-apa selain proyek People Watching, yang mana sungguh sangat berat dan melelahkan karena selain saya yang introvert ini kudu harus mesti mandangin muka orang di jalanan satu persatu, juga karena saya harus posting setiap updates dan experiences-nya secara daily (iya saya ini memang paling lemah kalo disuruh konsisten gimana ya gimana dong 😦 ), akhirnya topiknya berubah juga ya. Seneng ngga? Seneng dong.

Kebetulan hari ini pas banget saya baru selesai baca satu buku yang mana sudah saya beli sejak sekitaran tujuh sampe delapan bulan yang lalu (iya, selama itu) dan saya pikir, why not?

 

Main Story

Secara singkat, The Stonehenge Legacy bercerita tentang sebuah sekte rahasia pemuja Stonehenge yang mempunyai keyakinan kuat akan Stonehenge, yang mana gugusan batu itu mereka panggil “Sang Kudus”. Sekte ini memiliki tradisi melangsungkan persembahan tumbal manusia dalam waktu-waktu tertentu sesuai perhitungan arkeo-astronomi mereka. Namun upacara persembahan tumbal di titik balik matahari musim panas tahun kali itu berlangsung di luar dugaan semua orang sekte karena melibatkan kasus bunuh diri seorang pemburu harta karun terkenal, penculikan seorang putri wakil presiden, serta pasukan polisi yang ikut campur terlalu dalam.

Ketika mengambil buku ini di rak diskonan saat itu, saya tahu ini bakal jadi macam The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Namun saya turut gambling pada entah berhasil atau tidaknya si penulis satu ini dengan membawanya ke kasir alih-alih mengembalikannya ke tempat semua. Pikir saya saat itu, toh buku diskonan ini, kalau ternyata penulisnya fail ya nothing to lose sih.

Kalau diliat dari cover sih memang nggak meyakinkan ya. Terus terang begitu memandang covernya, di pikiran saya langsung tergambar beberapa alternatif desain cover lainnya yang relatif lebih baik (bukannya bermaksud memuji kemampuan diri sendiri ya tapi gitulah haha #plak), namun berhubung cover versi bahasa aslinya pun sama tidak menariknya, seperti sang desainer berusaha menyesuaikan jadi yaudahlah ya.

https://wolfcafe.files.wordpress.com/2017/03/7e326-thestonehengelegacy1.jpg?w=303&h=475
Cover aslinya lebih membara, mirip desain buku misteri tahun 80an =_=

Begitu kita membuka buku, yang akan menarik perhatian pertama kali adalah surat yang dicetak di belakang cover sebagai prolog, yang mana setelah membaca keseluruhan buku sampai tamat, saya berpikir prolognya adalah kekurangan pertama. Rasanya Sam Christer menyusun bagian yang mau disampaikan secara kurang tepat sehingga gagal merangkul klimaks dari cerita dan efeknya jadi kurang kuat untuk menggugah hati pembaca.

Kemudian di beberapa part di bagian pertama, penulisannya terasa seolah dipoles dengan mulus sekali, memakai kosakata-kosakata intelek yang saya sendiri malah nggak tau artinya apa, bahkan sampai saya catat saking bagusnya: silsikasi, kongregasi, devosi, triliton, melanisme, anakronistis, nautikal, trompe le’oeil, beltane.

Sayang di part selanjutnya, kemulusan itu seperti di-cut begitu saja dan tiba-tiba kita sudah membaca dengan bahasa manusia biasa. Saya nggak begitu keberatan jika the rest of the book ditulis dengan gaya intelek macam awal tadi, lumayan buat nambah kosakata. Pun saya bukannya tidak senang dengan penurunan tingkat bahasa yang dipakai karena akhirnya bisa baca tanpa mikir berat-berat. Mungkin penulis atau penerjemah (jika memang di naskah aslinya persis ditulis seperti itu) juga berpikir there’s no way pembaca biasa akan dapat menikmati keseluruhan isi cerita kalau penulisannya pakai gaya textbook kuliah biologi sel molekuler (iya modul biosel saya pakai bahasa Indonesia tapi nggak ada satu pun kata yang saya ngerti 😦 #curhat). Tapi transisinya tidak smooth dan kerasa drastis sekali sampai jetlag. Iya itu kekurangan kedua.

Kemudian as the pages goes by, saya mendapati bahwa penulis ternyata kurang konsisten dalam menuliskan penyebutan tokoh sehingga membingungkan pembaca. Misalnya untuk menyebut tokoh A pada suatu bagian digunakan nama depan dan belakangnya secara lengkap, kemudian di bagian setelahnya cuma disebutkan nama belakangnya saja, lalu di kali lainnya malah nama depannya saja sehingga memberikan ilusi ada tiga tokoh untuk satu orang yang sama. Ini, menurut saya adalah kesalahan lumayan fatal bagi seorang penulis. Terlebih lagi dalam buku ini, satu orang mempunyai dua nama yang berbeda pemakaiannya. Satu adalah nama asli yang digunakan di everyday life, satu nama kode yang digunakan antar sesama anggota sekte. Rasanya penulis seperti menjejali banyak karakter langsung ke muka pembaca halaman demi halaman.

Efeknya? Jelas ini berisiko bikin karakterisasinya gagal total. Biased gitu lah, istilahnya.

Kemudian kekurangan terakhir, saya berusaha keras untuk tidak spoiler, tapi ya saya lumayan kecewa dengan penulisan endingnya sih. Rasanya eksekusinya kurang maksimal untuk tensi yang sudah dibangun sebegitu baiknya, sebegitu susah payahnya.

Namun walau dari tadi saya ngomongin kekurangan melulu, nyatanya saya lumayan terpikat dengan buku ini. Penulisannya memakai gaya bercabang yang saling berkaitan dan Sam Christer mampu mempertahankan ketajaman semua cabangnya. Terbukti dari cut tiap part yang selalu menggebrak dan lumayan balance, tidak berat hanya di satu cabang saja.

Kemudian selama membaca buku ini saya sampai nggak terpikir bahwa sekte Stonehenge ini hanya khayalan Sam Christer belaka sebelum membaca catatan akhir dari penulis, hal ini membuktikan bahwa beliau mampu menarik pembaca ke alam fantasinya dan meyakinkan mereka bahwa khayalannnya itu benar-benar nyata dan usahanya lumayan berhasil, setidaknya untuk saya. Memang pada akhirnya itu kan intinya orang-orang membaca novel-novel fiksi konspirasi, untuk bisa berspekulasi?

Bicara tentang fiksi konspirasi, saya jadi ingat Dan Brown yang saya sebut di awal. Dengan berasumsi bahwa Sam Christer adalah Dan Brown-wanna be, saya rasa impiannya masih jauh sih. The Stonehenge Legacy masih kurang detail, kurang menggebrak, kurang manipulatif jika dibandingkan dengan The Da Vinci Code. Namun secara keseluruhan saya pikir Sam Christer bukan sekadar penulis abal pemula yang kepingin jadi Dan Brown. Sam Christer punya gayanya sendiri dan saya cukup bisa mengapresiasi hasilnya.

Bukan yang outstanding gimana sekali sampai saya pingin muji hingga mulut berbusa-busa sih tapi cukup menyenangkan untuk dibaca. Lumayan tidak bikin saya nyesal walau belinya diskonan hehe. Saya rasa 4 bintang seharusnya cukup.

See you in another book, Sam Christer!

English · My Chaotic Philosophy · People Watching

A Week of People Watching – Day 7

Prologue

I’ve been cheating the day. I should post this yesterday but all kind of social life faint me down and didn’t have that much energy, so, yeah.

Main Story

If you think the closest person to you would never bring you down, PFFFTTTT–TALK TO MY HANDS. When I saw a contempt eyes that looking at me from my closest one (hint: a family) I just thought, Uh-Oh, I forgot we can’t trust human.

That’s all, I guess. I ought to warn you to be careful everytime because you definitely can trust no one. Except your pet cat or dog, I thought they are far more sincere and faithful than any human-being.

But, hey, just a warn though.

 

Epilogue

So this remarks the end of my people-watching week (which I pretty sure will not going to the end as I’ll continue doing it everyday, minus the report as a daily post).

 

People Watching

A Week of People Watching – Day 6

Main Story

Blog this from my phone while lying on my bed, too exhausted to open my laptop.

Not a particular person today, but I realized that sometimes if a face stays constantly flat and neutral, it’s either burying numerous secrets inside, or maybe not a single feeling at all.

Because afterall human psychology is not a one-day study (or, in my case, a seven-days study), instead it’s a lifetime study. Because human is as complicated as it is.

People Watching

A Week of People Watching – Day 5

https://i1.wp.com/cdn.iphonephotographyschool.com/wp-content/uploads/Instameet-iPhone-Photography-1.jpg

Main Story

Nothing really amusing today except I explored the expressions of lust and flirt. From a random people on the street towards another one or towards me (which is so disgusting, seriously).

Apparently no matter how developed a country and how intelligent the people are, a primitive mind of an animal always stays inside a human. That’s how nature’s works, I believe.

 

Images credits to: Pexels.com

My Chaotic Philosophy · People Watching

A Week of People Watching – Day 4

https://static.pexels.com/photos/9816/pexels-photo-9816.jpeg

Main Story

I never knew before that we can easily find upset and miserable people in mall, a place where it supposedly a happy place, like those executive property developers acclaimed.

And in the groceries there, I met an old woman, maybe 55 to early 60, with a wry face and squinted eyes, walked down the aisle of cleaning fluid by herself, pushed a shopping trolley without anyone else.

At first I thought that face shows pain, which is shocked me. An upset face, it’s quite common since so many people throwing money here in mall when some people don’t like that idea (for example, husbands who accompanying their wife). A doubtful face, so understandable with many people relying their income here to pay their miserable bills. But pain? In the face of an old woman who go shopping by herself? No, there’s must be something wrong with her that must be anticipated.

Feeling intrigued, I left my mother behind (she was too busy paid more attention to the price of cleaning fluids to realized that I’m not by her side anymore) and sneakingly followed her, aisle to aisle. Even to cashier, where I sat on the bench nearby while eyeing on her.

Turns out the face which I mistaken as a pain, is actually a sad face, a deep sadness. A face of sorrow and grief. That squinted eyes? Probably she has myopic eyes. I knew this because my eyes are both myopic and if I don’t wear my glasses on, I have to squint my eyes in order to have clearer sight. She didn’t wear glasses so it supposedly explain it all.

But what about that constant sorrow? It’s haunting me somehow. I nearly bump over her and ask what can I do or how could I help her because she looks so sad. But I may look like a freak stranger and might frightening her as well so I keep my mouth shut and walk in a required distance.

And in the end, I could do nothing more than observe.

 

Image credits to: Pexels.com

English · My Chaotic Philosophy · People Watching

A Week of People Watching – Day 3

Screen Shot 2017-03-04 at 8.50.52 PM.png

Main Story

I have a lecturer who appear emotionless. His jokes and sense of humour are the most dying thing in the whole world, his voice tone is like a flat line in heart pacemaker monitor, the one that everyone afraid of. I can’t guess what’s in his mind and yet I still predicting, but before I can scan him (like I able to do that), he gave us—the students—a surprise surprise!

I always wondering whether human can born that way, with flat expression and inability to express emotions. Or it just something that we learnt along the way?

Hence thinking about this, is it so painful to not being able to laugh when we’re happy, cry when we’re sad, get mad when we’re angry, thrilled when we’re afraid, scream when we’re surprised? Eventhough it can be overwhelming sometimes, they are all precious feelings, aren’t they?

Epilogue

Going out of home and meeting people becoming so fun since I started doing this.