My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Hormonal Turbulence

“Oh gosh, why it have to be rain right in my lowest state of mind tonight?”

“You said you never hating rain?”

“I currently hating everything.”

“Why are you seems so feed up, darling?”

“Know what? I currently asking and begging so many things to God. Too much, that seems like I messing with His life”

“Like what?”

“I just kept asking Him why He seems like playing my life yet everyone claimed that He loves me. God loves all of His creatures and treat them with undefeatable affection, they say.”

“You say you believe in God yet you kept asking His way to love you. Everyone has a different and slightly eccentrical way to show their affection, I guess. And if it’s God, then we have no choice.”

“Exactly. We never have a choice. In fact.” I grunt.

“So what’s wrong?”

“Everything!”

“Give me example.”

“He always take my beloved one out of me. He cheat on all my hard hard works. He makes me have to do everything and anything all alone. He make me feel left and unwanted. He doesn’t treat every human in the world equally the same. I feel so consumed. I know He care, but why He always makes me go through this hard way. For many years, no one knows exactly how hard I struggled yet it seems like not enough for Him! Can you believe it? What else should I do to please Him?”

“Whoa, careful of what you thinking, Darling. I guess we doesn’t have to continue this talk.”

“Another avoidance that I’m so tired of.”

“You know, I think you are just tired. Physically as human and psychologically as an introvert.”

“Yeah, maybe you’re right.”

Bahasa · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Wawancara dengan Tuhan

“Aneh ya, aku sering bertanya-bertanya pada diriku sendiri.”

Jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Satu-satunya penerangan di ruang tertutup itu hanya berasal dari layar kaca datar yang menyorot putih terang menyilaukan. Sepasang mata terpancang layar. Jari menari di atas papan ketik.

Tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk.

Langit di luar sana gelap, tanpa keberadaan benda-benda langit. Sunyi dan hampa. Bagai dasar samudera, bagai peraduan bayi yang belum dilahirkan, bagai sisi dalam peti mati dalam liang lahat, bagai tambang batu bara yang ditinggalkan, bagai lubang hitam di luar angkasa—jika memang ada. Bagai….entitas hampa udara.

“Untuk apa manusia diciptakan? Kalau memang untuk membunuh, merusak, merampas, membakar, menghancurkan, melenyapkan, dan semua kata kerja berkonotasi negatif yang tercatat di kamus besar?“

“Kau manusia. Kalau merasa tidak suka diciptakan, iris nadimu saja.”

“Bukan, begini, biar kuperjelas, bukankah kau berpikir ini sangat tidak adil? Maksudku, kita kan tidak menciptakan diri kita sendiri. Tuhan yang menciptakan kita. Tapi Dia lantas menuntut kita untuk berbuat ini-itu dengan mengiming-imingi ganjaran surga atau neraka. Bukankah itu egois?”

“Bagian mananya?”

“Semuanya. Kalau boleh memilih, lebih baik aku tidak usah diciptakan saja. Sulit sekali harus mematuhi ini-itu. Kau tahu, hanya karena suatu entitas memiliki kekuatan yang sangat besar, bukan berarti dia memiliki hak untuk mengendalikan semuanya.”

“Tapi bukankah memang untuk itu suatu entitas berkekuatan besar diciptakan? Untuk mengambil alih kendali?”

“Jangan berpikiran sempit. Kau tahu, baik atau buruk, itu kan pilihan kita sendiri pada akhirnya. Kalau Dia ingin kita bertabiat baik, Dia bisa saja kan membuat kita seperti itu secara mutlak dari awalnya? Itu akan sangat mudah bagi semua pihak. Tapi Dia malah menciptakan kita dengan kemampuan untuk berbuat semau kita. Ya tentu saja akan ada yang buruk juga nantinya. Maksudku, Dia punya kemampuan untuk membuat kita semua MASUK dalam surgaNya. Tapi Dia malah tidak menggunakan kemampuan itu. Mengapa menurutmu? Supaya neraka yang Dia ciptakan bisa ada isinya? Atau apakah terka-menerka mana-yang-akan-masuk-neraka-dan-mana-yang-surga menjadi permainan yang seru untuk-Nya?”

“Hmm… Menurutku Tuhan ingin memberikan kita pilihan.”

“Pilihan kalau berbuat baik masuk surga dan kalau jahat masuk neraka? Itu sih hukum yang Dia buat sendiri. Lihat kan, kita mungkin diberikan pilihan, tapi pada dasarnya kita diperdaya.”

“Kupikir memang hukum seharusnya ada.”

“Kau gampang diperdaya, ya?”

“Ah, kau terlalu liberalis.”

“Terserah. Intinya, kalau yang bisa manusia lakukan adalah merusak dan menghancurkan, mengapa Tuhan menciptakan manusia, kau pikir? Bukankah lebih gampang menciptakan dewi-dewi pelindung alam saja, gitu, misalnya?”

“………….”

“Hei?”

“………….”

“Kau masih di sana?”

“…………”

“Hei, kenapa malah diam?”

“Ketika Tuhan menciptakan manusia, mungkin Ia sedang antara bosan atau punya selera humor yang sangat besar.”

“Apa? Bagaimana? Ceritakan padaku.”

“Menciptakan suatu makhluk yang sudah kau setel apa maunya, itu membosankan, kan.”

“Tidak ada unsur kejutannya, ya?”

“Hm, itu termasuk yang kedua. Selera humor yang baik tentu dapat menerima serangan kejut dengan lebih mudah. Maksudku, tinggal tertawa saja.”

“Seperti: ‘Hahahaha aku sudah tau si A ini akan membuat sumber energi nuklir dan meledakkan chernobyl, seru kan? Seru kan?’ atau ‘Hahaha aku sudah tahu sekte rahasia ini sebenarnya berusaha mengendalikan dunia dengan mencoba mengadu-domba umat-umat tak-rahasia yang ada tapi nantinya malah akan menghancurkan dirinya sendiri. Bagaimana? Tidak tertebak kan endingnya?’ Begitu?”

“Yah, kurang lebih.”

“Seperti anak kecil yang memutar jukebox dan tertawa ketika ia dikejutkan oleh badut yang keluar dari dalamnya?”

“Persis.”

“Ih, egois sekali.”

“Egois?”

“Membuat makhluk ciptaan-Nya memainkan permainan yang sangat lucu untuk-Nya sendiri. Menurutmu bagaimana?”

“Bagaimana?”

“Kalau jadi Dia, aku tentu saja akan tertawa terbahak-bahak melihat manusia bahkan saling membunuh untuk memperebutkan harta karun yang sebenarnya milikku. Lalu saat atmosfirnya mulai membosankan, aku bisa saja tiba-tiba mengambilnya kembali dan menjatuhkannya untuk orang lain. Maka permainan akan kembali menarik.”

“Hahahahaha!”

“Kenapa malah tertawa?”

“Kau tahu? Kurasa ada benarnya juga. Teorimu itu, maksudku.”

“Nah, nah, rupanya kau mulai berpikiran sama denganku kan, ha!”

 “Yah, bagaimana ya membalasnya? Tapi sini, kuberikan pengakuan resmi.”

“Pengakuan? Pengakuan apa?”

“Kau tahu, Aku pikir Aku memang egois.”

Satu-satunya penerangan di ruang tertutup itu hanya berasal dari layar kaca datar yang menyorot putih terang menyilaukan. Sepasang mata terpancang layar. Jari terpaku di atas papan ketik sementara jarum jam menunjuk pukul dua tiga puluh dini hari, suaranya keras menggema sunyi.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik.

My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

For Life, Choose One That Matter The Most

I came home with such a frustration. I threw away my stilettos, yes that pretty killer (in a literal way) stilettos that broke both of my banks and feet. I started rambling the kitchen, ‘I need coffee’ I said to myself. I need coffee as if I need drugs. A little teaspoon of sugar, because… Continue reading For Life, Choose One That Matter The Most

My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Recover and Preach

I’ve been wondering lately, what friend actually is. Is that as simple as ‘people who say hi for you constantly’ or ‘people who follows you and likes your posts on social medias’ or ‘people who telling nice things for you always’ or what. What else? Suddenly the profound things becomes shallow and vague. I’ve made… Continue reading Recover and Preach

Music · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy · My Music Geek Side

Someday When I Grown Up to Someone I’ve Always Been Dreaming of, Would I Laugh When Remembering These Present Times?

Between take care of proposal this and that, meeting here and there, analysis practical now and then, and report assignments one after (or even before) another, I’m curious how could I still manage to breathe. Thus as a climax, season of practical exams come again like life doesn’t allow me to take even few minutes… Continue reading Someday When I Grown Up to Someone I’ve Always Been Dreaming of, Would I Laugh When Remembering These Present Times?

My Artist Side · My Blabber Side · My Writer Side

Die In The Name Of Roses

May die, may die, thou díere Princess. By thy rósen thou slaept. May rósen, may rósen, thou díere Princess. By thy petals thou téars swept. REST IN PEACE, PRINCESS. PS: When both the lecture and lecturer start to piss you off and you can’t take it anymore and decide to not pay attention anymore and… Continue reading Die In The Name Of Roses