#TheMorningTales · English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

#TheMorningTales – I Found What I Wanna Be

“What you want to be in 7 years?”

This question was popped out when I listening to a podcast about spirituality guidance this morning—which is a new thing amidst the business and marketing related podcasts that I usually listening to—and I just stopped, right in the middle of the stairs in the office. Shocked with the fact that I just got the answer myself. Usually I always hate this kind of question in a job interview. But this time I cant help to resonate with it. Finally after years and years and years doubting mysef and frustrating about what I wanna be in life, fulfilling other people’s expectation while being so harsh on myself, I found it. And it feels right.

In 7 years from now, I want to be a coach. I want to be either career, life, or business coach, or even them all at once, and I want to build an entrepreneur academy for young entrepreneurs who struggling to make their wishes come true. I want to guide and help people going through their obstacles in life. I want to share wisdom, experiences, and passion for those in need. Either from me, or from other people to another one.

But before that, I have to do many things and learn so so much more.

Advertisements
Bahasa · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Izin Menggerutu Sedikit, Ya

Saya di waktu kecil dan remaja dulu adalah seorang pembaca yang rakus. Betul. Setiap hari saya baca bukuuuuu terus. Teman-teman sekolah saya hampir nggak pernah lihat saya nggak bawa buku bacaan di tas. Orang-orang rumah saya hampir nggak pernah liat saya pulang sekolah tanpa dilanjutkan dengan baca buku sampe sore (kadang sampai malam, kadang sampai pagi lagi malah). Penjaga perpustakaan di SMP saya hampir nggak pernah nggak ketemu saya tiap minggu, yang selalu bawa pulang minimal 3 buku setiap pinjam dan nanya “Buku segini kamu habis dua hari aja?” dan selalu saya jawab dengan “hahaha, Bu, segini justru kurang malah!”

Perpustakaan selalu jadi tempat favorit saya. Hmm sebenarnya ketika SD nggak juga sih karena memang nggak ada perpustakaan di SD saya dulu. Saat SD, ‘perpustakaan’ saya adalah rumah Tante saya. Tante saya juga hobi baca buku, koleksi serial Lima Sekawan dan Hardy Boys lengkap, ada Laura Ingalls, Little Women, Alfred Hitchock, Agatha Christie, pokoknya banyak deh buku-buku serial barat yang booming di tahun 70-80an. Tinggal sebut saja, Tante saya pasti punya dan saya hampir pasti pernah baca minimal 2 judulnya (meski sekarang sudah lupa karena ingatan saya mirip Dory temannya Nemo).

Baru deh ketika SMP saya jadi merajalela. Saya bisa dengan pede menyatakan bahwa saya udah baca seluruh buku yang ada di perpustakaan SMP Negeri 1 Depok pertahun 2009. Saat itu saya baca apa pun isi perpustakaan, tidak terkecuali. Bahkan buku beternak hamster dan budidaya tanaman hias aglonema. Eh jangan ketawa, betulan lho. Nah ketika SMA, perpustakaannya jauuuuuuuuuh lebih kecil, saya terlalu malas untuk datang duluan ketika masuk siang, sementara setelah masuk pagi, pintunya hampir selalu terkunci setiap saya datangi sepulang sekolah. Jadi bacaan saya saat SMA itu either beli sendiri, pinjam teman, atau pinjam ke peminjaman buku dekat rumah.

Berkat kegilaan saya dengan buku sejak kecil itulah saya sudah mulai menulis novel sejak SD. Kemudian sejak saat itu kerjaan saya tiap hari sekolah, baca buku, tulis novel. Makanya jangan heran kalo lihat saya bisa mengetik dengan 10 jari dan kecepatan yang luar biasa tinggi tanpa perlu lihat keyboard. Itu hasil dari bertahun-tahun ketak-ketik novel di komputer setiap hari.

Tapi sejak kuliah frekuensi baca saya menurun. Begitu juga dengan frekuensi menulis. Meluncur curam sangat drastis. Saya mulai kenal dunia luar dan menyadari bahwa ternyata dunia organisasi kampus seru juga ya, desain itu super asyik ya, fotografi dan videografi itu unik banget ya, fashion dan styling itu super menyenangkan ya, marketing dan bisnis itu keren banget ya. Dan begitulah, saya yang dari dulu minatnya kebanyakan ini selanjutnya mulai menjelajah semakin jauh dan jauh lagi.

Sekarang setelah bertahun-tahun saya jauh dari dunia tulis-menulis, iseng-iseng saya kepo juga dan cukup kaget menyadari bahwa anak muda jaman sekarang lebih melek sastra dan pemilihan kata-kata dibanding anak-anak muda di jaman saya. Ya saya harap ini bukan cuma karena tuntutan caption di instagram ya.

Tapi setelah saya telaah lagi, ah kok ya pemakaian sastranya untuk hal-hal receh yang remeh temeh gitu lho. Lebih kayak, ah apaan sih, seperti kayak menurunkan derajat bahasa itu sendiri deh kalau dipakai untuk hal yang seperti itu. Ngerti maksudnya nggak? Ya mungkin nggak ngerti ya karena saya juga bingung bagaimana menjelaskannya. Silakan tebak sendiri lah hahaha.

Sekarang, sudah sekitar 5-6 tahun belakangan, saya jadi super picky dan super kritis sama buku yang saya baca. Iya, dulu saya baca apa pun. Tapi hal itu bikin saya jadi paham mana yang berkualitas dan mana yang tidak. Mana yang layak dan mana yang tidak. Mana yang hidden gem dan mana yang cuma bersepuh emas padahal cuma batu biasa. Kalau istilah baratnya mah, “Know the box, then break out of them”. Alias kenalin dulu secara keseluruhan baru bisa kasih aksi.

Saya memang sudah nggak in-touch lagi dengan dunia tulis menulis sih (kecuali penulisan konten yang menurut saya derajatnya jauh di bawahnya karena berkaitan dengan marketing, bukan dengan sastra murni), tapi saya suka pusing kepala lihat kualitas buku lokal di toko sekarang ini.

Contohnya saja, begini lho, menurut saya, untuk jadi seorang penulis yang baik itu bukan cuma butuh plot atau alur cerita. Penulis yang baik itu harus mampu membuat karakterisasi yang kuat dan bagus. Maksudnya bukan yang ‘kuat’ seperti Thor atau yang ‘bagus’ kayak muka cowok korea. Tapi yang real, detail, punya emosi yang nyata, semua sense-nya digali dengan dalam, diungkapkan keadaan psikis dan pemikirannya, punya ciri khas, ada personal developmentnya. Bukan sekadar karakter stereotip yang maha sempurna bisa ini-itu tapi lempeng kayak robot.

Kemudian penulis yang baik harus dapat membuat setting yang se-real mungkin. Karena di sanalah tempat karakter-karakternya hidup. Kalau dunianya dunia buatan, dia harus bayangkan bahwa dunia itu betul-betul ada. Pikirkan sampai ke detail terkecilnya kalau bisa sampai ke suhu, jenis tanah, warna langit, semuanya! Kalau pakai dunia nyata maka RISET! Google map punya fitur google street di mana kita bisa ‘berjalan-jalan’ di dunia maya, manfaatkan hal itu untuk memindahkan isi google map ke tulisan, senyata mungkin.

Itu baru dari dua aspek ya, karakterisasi dan worldbuilding. Masih banyak unsur lainnya.

Dan lagi, saya muak sekali membaca resensi buku yang bertebaran sekarang ini (udah dari dulu sih sebenarnya). Begini mas mba kebanyakan, yang kamu tulis itu bukan RESENSI tapi RANGKUMAN PLOT. Setelah saya jabarkan beberapa poin di atas, harusnya tahu kan kalau karya baik itu bukan cuma dibangun dari plot saja. Kamu harus bisa menilai secara objektif, karakterisasinya bagaimana ya, gaya bahasa sudah tepat belum ya, latarnya bisa kebayang nggak ya, kecepatan alurnya sudah pas atau belum ya, unsur ekstrinsiknya sudah benar belum ya, cara pembukaan dan penutupnya cukup impactful nggak ya, cara penulisannya konsisten dan jelas nggak ya, daaaaaaaan lain-lain.

Jadi, tolonglah, saya muak sekali baca review-review buku yang cuma bicara “Overall saya suka sekali dengan buku ini karena endingnya bla bla bla bla…” Aduh please. Pantesan kualitas buku lokal gitu-gitu aja, lha wong mindset pembacanya kayak begini. Iya plot itu memang sangat penting, tapi itu saja belum cukup dipakai jadi dasar apakah sebuah cerita bagus atau tidak dan penulis itu bagus atau tidak. Hargailah penulis lain yang betul-betul melakukan riset segala rupa untuk memikirkan semua detail, unsur intrinsik dan ekstrinsik tulisannya.

Long story short, memang post saya ini lebih bertujuan untuk menyombongkan diri dan nyinyirin pembaca dan reviewer aja sih HAHAHAHAHA. Tapi di tengah kesombongan saya yang biasanya ini, semoga dapat menjadi masukan ya.

Jadi kembali ke masalah baca buku. Tahun lalu sebenarnya adalah semacam kebangkitan buat saya karena di tahun-tahun sebelumnya jumlah buku yang saya baca sangat minim. Keasyikan hidup di dunia nyata dan terjun di bidang minat yang lain sepertinya (#HalahAlasan). Mungkin start dari tahun ini saya perlu baca buku lebih banyak lagi. Atau mungkin setelah ini saya bikin summary buku-buku yang saya baca di tahun 2018 lengkap dengan short review-nya. Ya memang agak telat sih but better than never, right?

Bahasa · My Chaotic Philosophy · Uncategorized

365 Hari yang Penuh Pelajaran

IMG-20190101-WA0003

Di hari ini setahun yang lalu, saya pernah menulis bahwa tahun 2016 adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tapi siapa tahu justru hari itu justru adalah awal dari tahun yang lebih berat yang bakal saya lalui?

Tahun 2018 itu, saya kehilangan banyak sekali hal dalam berbagai macam bentuk:

Saya sempat kehilangan kesehatan. Saya pikir saya akan mati ketika saya dilarikan ke rumah sakit khusus dan selama dua minggu lamanya tinggal sendirian di ruang isolasi, menghadapi jarum suntik, penanganan medis, dan obat-obatan yang tidak ada habisnya.

Saya kehilangan banyak orang. Baik sengaja atau tidak, baik yang saya inginkan atau tidak, baik yang sebenarnya berharga atau tidak. Yang paling menyakitkan adalah ketika Tuhan mengambil kembali Bibi saya, yang sudah seperti Ibu kedua saya, yang tanpa dia, saya tidak akan mampu menjadi saya yang sekarang. Kalau kamu patah hati cuma karena putus sama pacarmu, itu bukan apa-apa, bahkan belum ada seperempatnya. Kehilangan Ibu kedua saya bikin saya hancur lebur, kandas tak bersisa.

Saya kehilangan ekspektasi, hampir seluruh harga diri, dan banyak hal yang sebelumnya saya banggakan. Rasanya seperti bertubi-tubi dihadapkan pada kenyataan bahwa saya bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, dan tidak bisa apa-apa. Satu demi satu baju zirah yang selama ini saya pertahankan seperti dilucuti begitu saja.

Dan itu belum semuanya, nggak sanggup rasanya saya menguraikan semuanya, terlalu memalukan dan menyakitkan.

Tahun 2018 itu, saya masih 24 tahun tapi sudah melalui quarter-life crisis duluan bahkan sebelum menginjak tepat usia 25. Dan ternyata benar seperti yang orang lain bilang, quarter-life crisis itu menyakitkan. Saya dihantui perasaan tidak berharga, kehilangan arah, kehilangan semangat hidup, dan kehilangan keyakinan atas hampir segala hal. Saya tetap tidak suicidal, tapi saat itu saya merasa kalau Tuhan pingin ambil nyawa saya, ya sudah lah ambil saja. Toh saya adalah pengemudi kendaraan, jadi gampang saja cari caranya di jalan raya.

Tahun 2018 itu, pertikaian saya bukan hanya dengan nasib dan sesama manusia, tapi juga dengan Sang Pencipta sendiri. Saya sampai nggak bisa lagi hitung berapa kali saya mengamuk, meradang, menangis meraung-raung, dan meneriaki Tuhan bahwa saya membenci-Nya. Bahwa saya merasa Dia mengkhianati saya, mempermainkan saya sesuka hati-Nya. Dan saya nggak bisa hitung lagi berapa kali saya ‘memboikot’ Tuhan dengan cara berhenti sembahyang lima waktu dengan sengaja, selama 1-2 minggu, beberapa kali dalam tahun itu.

Tahun 2018, saya beberapa kali memutuskan untuk benar-benar membuat janji temu dengan psikolog atau psikiater atau apalah namanya. Serangan anxiety saya luar biasa parah, tidak kenal waktu dan tempat, dan ketika anxiety itu mulai kelewat batas, gejalanya mulai melipir jadi depresi, di mana di saat-saat depresif itu saya mulai berdelusi aneh-aneh. Dan kecuali di blog ini, saya tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun. Membuka diri tentang kondisi mental saya rasanya sulit, saya takut dengan penilaian orang atas diri saya dan terutama, ketika dibicarakan secara langsung maka akan terdengar makin nyata dan makin mengerikan, saya takut menghadapi itu.

Tapi dari semua ujian demi ujian itu, lambat laun saya mulai paham cara kerja takdir dan Tuhan.

Tuhan itu, semakin kamu ngotot minta seseorang atau sesuatu, semakin Dia tidak berikan. Cuma Dia yang tahu baik atau buruknya suatu hal, jadi kalau kamu minta maksa dan keras kepala, kok kesannya kamu sok sekali ya? Kan belum tentu yang kamu mau itu baik menurut Dia. Kalau kebetulan yang kamu inginkan itu buruk dan Dia terpaksa kabulkan karena kamu mintanya maksa, efeknya akan jadi bumerang untuk hidup kamu. Karena itu kalau mau minta, jangan maksa minta ‘yang ini’ atau ‘yang itu’ tapi gantilah kata-katanya dengn ‘apapun yang terbaik menurut-Mu’ dan serahkan saja sisanya.

Cintanya Tuhan itu unik. Eksentrik. Bisa sangat lembut dan indah sampai mabuk kepayang, tapi bisa juga sangat keras, sangat kasar. Though love, istilahnya. Karena Dia selalu mau kamu jadi pribadi yang lebih baik dan Dia tahu bagaimana caranya. Dan caranya seringkali tidak gampang karena tentu saja besi tidak mungkin bisa jadi pedang kalau tidak ditempa dan dibakar sampai berpijar dulu. Masuk akal, kan?

Hukum equilibrium itu berlaku. Tuhan nggak pernah mau kasih sesuatu secara gratis, selalu ada harga yang harus dibayar. Namun sistem jual belinya Tuhan nggak linear dan jarang sekali dalam bentuk atau bahkan waktu yang bersamaan. Jual-beli antara kita dengan Tuhan itu caranya halusssss sekali, bahkan seringkali disamarkan dengan ilusi-ilusi dan kata-kata surgawi. Tapi tetap aja namanya dagang. Kasih sesuatu untuk dapat sesuatu, atau melakukan sesuatu untuk diganjar dengan sesuatu. Dan ini tidak mengenal batas antara hidup dan mati. Kamu tetap harus membayar apa yang Dia kasih dan Dia juga akan membayar apa yang kamu kasih, baik di dunia ini atau akhirat sana. Tapi jangan khawatir, transaksi dengan Tuhan ini legal kok, dan tentu saja adil seadil-adilnya transaksi jual-beli. Malah bisa dibilang justru kita diciptakan oleh-Nya ya dengan tujuan melakukan transaksi ini. Kebayang kan, ternyata Tuhan itu hobinya bisnis ya. Bisnis kelas tinggi malah.

Saya nggak serta-merta mengerti ini. Setelah berbulan-bulan berperang baik dengan Dia mau pun ujian-ujian-Nya, tepatnya memasuki Desember saya mulai lelah, nyerah, dan mulai mengakui kalau saya kalah. Setelah itu saya mulai ikhlas dan menghadapi apa-apa dengan “Terserah mau-Nya aja lah, saya ngikut aja” karena terlalu capek berdebat. Setelah saya sampai di tahap itu, barulah ketemu titik terang dan barulah Dia buka pintu selebar-lebarnya. Saya lalu akhirnya paham apa-apa saja yang sudah Dia ajarkan kepada saya. Ketika sedang mengalaminya, yang akan kelihatan hanya awan mendung badai halilintar saja, tapi kalau sudah selesai dan melihat ke belakang rupanya banyak sekali pelajarannya.

Apa yang saya miliki ternyata bukannya hilang, tapi ditukar dengan banyak hal yang berharga. Ternyata sejak dulu Tuhan selalu cinta sama saya, dan saya pun semakin jatuh cinta dengan Dia. Saat ini bahkan saya bisa bilang bahwa saya dan Dia punya hubungan yang sangat dekat. Kami berdialog sepanjang waktu dan saya makin bisa mendengar-Nya dengan jelas di dalam hati dan kepala saya. Walau pun saya masih suka kelewat solat sih, ya kalau ini murni kesalahan saya dan harus segera saya perbaiki tanpa banyak alasan.

Tahun 2018 itu, luar biasa menyakitkan. Tapi berakhir dengan sangat indah dan saya bisa berevolusi menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Iya, memang seperti itu ternyata cara kerja-Nya.

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

20 Things I’ve Accomplished in 2018

I was debating myself back and forth about should or shouldn’t I write this post. 2018 felt like a huge disaster for me. Breakdown after a breakdown after a breakdown, failures in every possible aspects in life. But since I’m getting healed and able to see clearer now, well apparently I did a great job too!

So in order to appreciate what Allah and universe had gave to me, Let’s do THIS!

  1. Recovered from dyptheria disease and being able to breath and live normally until now.
  2. Resigned from my job, again (tho I love the people there, I was not happy so I decided to move out and move on)
  3. Have my graphic design and Adobe Illustrator skill on the next level (I learnt by myself, autodidac-ly. Yeah I know I’m awesome like that 😏)
  4. Gotten into thesis writing and now facing my thesis defence already. What a long journey.
  5. Had my business 80% done (but have to postponed it because, school comes first)
  6. Gotten into a business competition and had my business proposal (that I wrote, calculated, analyzed, and designed ALL BY MYSELF) submitted (not winning it but, you know, lesson learned 😉)
  7. Got a new job on a corporate company
  8. Got a nice number of salary that makes me able to be more financially independent
  9. Travelled to another city with my close friends
  10. My make up skill is now on the next level too!
  11. I don’t need any subtitles anymore to watch american series/movies
  12. Got a one-million dollar business idea which gonna be my next-year resolution
  13. Interviewed and had a photo with doctor Reisa Brotoasmoro (not a fan of celeb photo-taking but apparently my now-job has bringing me this far)
  14. Shopped at H&M sale (and got a really really really nice things)
  15. Brought my dad’s car out (without him knowing) and able to brought it back home safely (except the last-minute part where I crashed it to the garage)
  16. Able to park the car by my own!
  17. I had my friends asking my advices for love, career, and life in general and surprisingly I able to gave them great answer. I think I’ve grown wiser and more knowledgeful now.
  18. Gotten super super super into travelling. Something that I’ve never felt before!
  19. Being closer to Allah more than I’ve ever been before
  20. Discovered a long long journey of self-love and now earned it, completely.

And now I’m debating about whether I should write my goals for the next year here. I always keeping it private but, hmmm… What do you think?

 

Ps: btw the pic above is no, no, not in Japan. Just a thematic japanese cafe on Jakarta and I posted that in relation to my next year goal 😉 *BIG HINT

Bahasa · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

A self-validation is a high level of self-love

Baru baca kata-kata seorang influencer yang berusaha menebarkan positif vibes dengan slogan “You are loved. You are wanted.”

Mungkin ini terdengar relevan buat saya beberapa minggu lalu but now not anymore. Instead sekarang menurut saya hal itu dapat melemahkan mental seseorang, terutama perempuan.

Naturally, what matter the most buat seorang perempuan adalah perasaan ingin diakui eksistensinya, dan dalam hal ini termasuk ingin merasa dicintai dan diinginkan juga. Afirmasi, approval, validasi, dalam berbagai bentuk.

Dalam hal romantic relationship misalnya, sering lihat chat pasangan which was meant to be private or to be sent to one particular person only, malah discreenshoot dan dishare kan? Atau parade yg mempertontonkan kemesraan, misalnya? Itu baru dari satu aspek. Masih banyak contoh di aspek lainnya kalau kamu kepoin komunitas feminisme seperti contohnya platform webmagazine Magdalene.co.

Hal-hal seperti itu kebanyakan dilakukan sama perempuan karena naturally perempuan merasa perlu menunjukkan bahwa mereka diinginkan. Validation of existence.

Tapi saya belajar bahwa, se-naturally naturally-nya hal itu, just dont. Just stop. Mencari pengakuan manusia lain itu melelahkan, karena secara nggak langsung kita akan menggantungkan kebahagiaan kita di tangan orang lain.

Kata-kata “You are loved. You are wanted.” itu nggak relevan karena manusia itu berubah setiap saat. Gimana kalo mereka who loves you and wants you, one day doesn’t love neither want you anymore? Habis sudah eksistensi kamu. Habis sudah kebahagiaan kamu.

Mending ganti aja pola pikir kamu dengan “No matter who does or doesnt want or love you, the most important thing is you loves yourself. Because you are great in your way.” Dengan begitu kamu akan meletakkan kebahagiaan kamu di kaki kamu sendiri dan secara otomatis kamu bakal jadi pribadi yg lebih kuat Nggak peduli siapa siapa cinta sama kamu atau enggak, yang penting KAMU cinta sama diri KAMU sendiri. Dan kamu yakin bahwa Tuhan juga cinta sama kamu. Then you’ll feel complete, whole, and stronger. Like, SUPER SUPER STRONG.

I was struggle with this for months even for year. Dealing with this validation-issues. And what? All i’ve got was depression, neverending anxiety, bumping into one person to another one. It was terrible experience, really.

And what heals me? The true acceptance of myself. The self-validation that I dont need anyone to say that they adore me, or want me, or love me, or trust me. I just need me do it all for myself.

So girls, please, love yourself first, trully, dearly, deeply. Caranya seperti apa? Cuma kamu yang tau karena setiap orang berbeda. So you’ll figure it out yourselves ❤️

English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Something has been opened

This morning is different. The wind, the sky, the road, the ambiences. It somehow feels… lighter. I know its not only because I’ve passed first big step of my thesis, instead it’s because something in the higher world is really happening.

It’s like a new world is opens. The scars and wound still there, but it doesnt hurt anymore. I feel stronger, I feel happier, I feel like reborn.

I still remember the nights I spent on crying and depressed and figuratively heartbleeding, now I feel like those are a tests and exams in order for me to reach this new door that God and the higher world open it for me starting today.

And I pretty much feeling this not just merely for me. It opens for other people who have been healed themselves, and successfully passed the tests. I can see some of my friends and acquaintances are on the next phase too. Some of them married, waiting for first baby, be ready to left their job, get off their past issues, and many more.

So we are in this together, for you who can feel it too, feel the world is migrating into another frequency and therefore feeling the difference, you maybe are one of the reason why it’s happens.

And I can feel The Almighty One is holding a banner that says “CONGRATULATION YOU’RE PASSED THE TEST. WELCOME TO THE NEW WORLD.”

If you can feel it too, hold my hand and we can step into the new door together, with many other lightworkers ❤

English · My Chaotic Philosophy

I’m Getting Better at This

If this happens back in months ago, I might currently be broken or writing some melodrama words here. But this time, all I do is just smirk, laugh, and be like “Okay that was funny—NEXT!!”

F7406FD8-B818-40C7-B788-6F2D7EF74E32

As I realized that, wow wow, what was that? No anxiety? No mental breakdown? No menye-menye teary-cheesy feeling? No anger and hurt feeling at all? And it’s not even a denial! It’s a pure and true content and peaceful feeling! Hmmm, apparently I’m getting better at this, ha? Hehehe.

098450C9-A31D-49D2-970B-BA43FC848BF1

This is of course not happens overnight. Healing process is not easy at all. It’s a long journey of countless painful nights roasting myself, painfully striping the layers of my own feeling one by one, even the most darkest feeling inside that I tried to hide deeply because I dont want anyone (including me) know. I’m grateful I’ve done it all, past it all, because therefore here I am, now I come to love myself better and better everyday, unconditionally.

And I just realized that the more I love myself and the more I close to Allah, I feel whole. I’m completed and I don’t fear anything.

I, once more, got my strength and armor again now. And this one, a very very powerful one.

So guys, gals, ladies, and gentlemens, now The Queen of Awesome *slash* The Magnificent Warior—both are me—has been re-awakened safe and sound again, ready to rule from the throne.

You better be prepared.