English · Music · My Chaotic Philosophy

it’s like coming back home

everytime i listens to Nico Touches The Walls old albums. Like revisiting memories, tracing back all the sweat and tears to climb out of the high, high walls. it’s like im grasping back my old, little, frightened self.

im stronger now, finer now. more established version of myself. so looking back to my old self is like saying “thank you for all of your hardwork. we did it now. we’re flying high. and all of this because of you were never stop fighting.”

English · My Chaotic Philosophy

Things that makes me happy

or to escapes from reality (either way is basically the same):

 

1. Fangirling.

SPYAIR, COLDRAIN, [ALEXANDROS], DAY6, any great bands with eyecandy face boys.

2. Read a book.

Preferably fantasy, more preferably fiction. Non-fiction is fine as long as it including stars, galaxy, solar system, world history, and anything but self-help book, please.

3. Painting

I have 3 mini 15 x 15 canvases that are left unused. I should make use of it, this is the right time, yea?

4. Dress-up and make-up.

Like, really, I still curious of how playing make up and dressing up can makes me happy. Clothes and make up is like, a rocket to get out of this real world.

5. Taking photos and videos.

Preferably of myself.  Using my new favorite dresses, with a killer make up. Better with some concept. Alice in Wonderland, can you hear me??

6. Talking with my otherworldly-minded best friend.

Have you ever heard of it? Otherworldly-minded best friend means a best friend who has an otherworldly mind like you. Who instead of grasping you to stay in this painful, painful real life, they will soar with you by the time you need to go out. Instead of talking about real life, they talking to you using completely new language about how to use Discord because Whatsapp is boring, how to put wings to your roller skates, and having conversation about setting up a galaxy projector in your room to feel like you sleeping in the middle of the space. It’s like March Hare to Mad Hatter and vice versa. Both are insane but both are living the insane life happily. Yea, that kind of friend. So far in my 26-years old living, I just barely found one otherworldly-minded best friend among other real-life minded best friends. I suggest you should have at least one. Really. Recommended.

 

In the spirit of searching from another one to be added to the list, at least I made this crucial 6-points list. I’m in the happy-go-lucky challenge, in case there’s somebody wondering why.

Bahasa · My Writer Side

Pasar

Coba lihat jam yang menjerit-jerit minta dibelikan madu. Butuh asupan tambahan untuk menambah daya tahannya menghadapi matahari yang panas, panas sekali. Ah, sungguh seandainya kau tahu berapa banyak hitam gelap berdansa setiap malamnya, berputar-putar diiringi lagu Kat DeLuna. Penasaran kan? Padahal keanehan yang sama selalu kau lihat setiap harinya.

Contohnya, mengapa kita percaya Dalton menciptakan proton, elektron, dan netron padahal kita tidak ada di jaman yang sama untuk membuktikannya. Padahal kita tidak punya mata mikroskopik untuk melihatnya. Bukan, bukan mikroskopis! Lebih kecil lagi! Lebih kecil lagi kata Dalton! Padahal siapa tahu justru dia sedang mabuk dan bertukar ingatan dengan Blaise Pascal?

Contoh lainnya, apa benar kita hidup di galaksi Bimasakti? Bagaimana kalau ternyata bulan adalah matahari versi lebih jinak? Bagaimana kalau ternyata planet tetangga kita adalah Atlantis yang memisahkan diri? Tenggelam hingga tembus ke bagian bumi lainnya lalu terus, terus, membumbung tinggi ke angkasa?

Tahukah kau kalau di saat kita rasanya mau gila, kewaspadaan akan bertambah tapi kesehatan akan berkurang. Apa jadinya kalau waspada tapi hampir mati? Apakah waspada bikin kita tetap hidup? Mau diapakan ya sisa usia? Ah, aku tahu, mari kita menari, berputar-putar sampai pagi.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Longing

morning 2

Oh, how much I long for a slow morning walk. Without numbers, ticking clock, graphical bars.

How much I want to breathe thin, light air. Fresh dew, 10 AM sun, a tea, and pancakes in McDonald’s outdoor space. So simple yet unpretentious.

How I miss spending my whole quiet morning in the couch, read and read and read. Travelling the worlds and realms and periods of humankind.

How I wish to go back to my father’s hometown. Drifting apart the hustles, where everything quietly festive. Hospitable kindness.

How I yearn for a pine tree, green leaves, the smell of grass. Running freely, laugh happily, bare feet, hands in the air.

How the more we achieve, the more we understand that’s not the point of living.

There’s no use of piling up money, we need a mindful mind.

We don’t need ambitions, we need purpose.

We don’t need to rush, we need to be alive.

English · My Chaotic Philosophy

An anwer to a “Will you…” question

There are times when I have no idea whatsoever to answer this kind of question. Maybe part of me still scared by the idea of intimate relationship, maybe I still love being a free-willy, maybe I’m not mature enough, and another “maybe’s” that will never going to an end.

So I answered “Give me a week, to think.” And yet I still have no clue of which path should I take. Hence out of the dilemma, I asked to God, and universe “If I should say yes and do it, God, please show me a wolf. In picture, in video, in film, in any form. But if I should say no and reject it, please show me a squirrel.”

Why wolf? Why squirrel? I have no idea. I just blurted out what crossed on my mind that time.

I made that requisition in Tuesday and day by day no clue have given to me. No wolf nor squirrel appeared.

Until today, Saturday noon, I surfing on Instagram stories and watched the instagram stories of one of my favorite fashion influencer, an Indonesian that lives in Birmingham, she always shares a beautiful Birmingham scenery in her account. This time she shoot a video about squirrel eating a nut in the tree in her way to the groceries.

“That’s a cute squirrel!” I said.

Wait.

Squirrel.

Squirrel is a no.

So that’s that. I should says no, huh? It’s kind of sad to think about this. Knowing that my heart parts into fifty : fifty, still a part of me who wants to say yes. But we will never know what the future may held. What it will bring us, or what will it saves us from. Maybe something good, but maybe something that is really really disastrous. So if I have no clue, I leave the universe to give me the clue, and now it has giving me a clue.

Maybe once again, a “No” is the best way.

Bahasa · My Skincare Addicts Side

#MendadakSkincare: Mid-2020 Empties

Harusnya saya lagi kerja banget nih detik ini, bukannya malah nulis beginian 🙃

Tapi beberapa hantaman mental breakdown akhir-akhir ini mengajarkan saya untuk memberikan kelonggaran bagi diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang bikin saya hepi. Termasuk dalam hal ini #mendadakgambar #mendadaknulisnovel #mendadakmakeup #mendadakshootvideo, dan mendadak-mendadak yang lainnya. Yang seringkali saya publikasikan di media sosial saya ehe.

Nah ternyata di bulan Mei kemarin banyak skincare saya yang sudah habis, jadi yaudah sekalian aja saya ocehin di sini. Siapa tau ada yang perlu kan. Kalo nga ada perlu juga ngapapa~ Suka-suka saya, kan blog juga blog saya (¬_¬)ノ (lahgitu).

Saya sama sekali bukan expert soal skincare, bahkan bukan pecinta skincare amat juga ya sebetulnya. Cuma saya sadar, kulit saya membutuhkannya. Makan saya berantakan, jam tidur dan jam kerja saya berantakan, level stress tinggi terus, serta kulit saya rada rewel dan warnanya gelap. Jadi kalau cuek sedikit aja, bisa kusam dan breakout parah, jadi nggak enak dilihat banget. Dulu waktu SMP-SMA-Kuliah saya pernah mengalami hormonal breakout parah dan ada di fase di mana I even embarassed looking at my own reflection in the mirror. I dont want it to happen ever again. Saya ingin tiap saya lihat kaca, saya merasa bangga karena tau sudah merawat diri saya sebaik-baiknya. Jiaa, kan #selflove guys (iya mba, terserah mba aja 🙃).

Nah, balik ke empties, kira-kira inilah produk yang sudah habis di bulan ini. Baik pemirsa, kita bahas tuntas satu-persatu.

 

1. HADA LABO Gokujyun Alpha Ultimate Anti Aging Lotion

Ini bisa dibilang holygrail saya sih sejak 4 tahun yang lalu. Dulu selepas SMA, sampai kuliah kulit saya breakout. Jadi sewajah ya penuh sama bekas jerawat dan jerawat pula. Tapi pakai Hada Labo Gokujyun Lotion ini perlahan jadi mendingan, bekas jerawat pudar dan lebih ajaib lagi, breakout-nya pun jadi terkendali dan lambat laut malah mereda sendiri. Entah mereda karena memang efek hormonal/puberty acne-nya yang sudah selesai atau memang karena lotion ini, Wallahualam pemirsa. But this one works wonder.

Seri Hadalabo sebetulnya banyak, tapi saya pernah coba yang warna biru untuk brigtening haha gak ngefek. Seri yang putih pun B aja. Tapi yang ini walau pun namanya anti-aging, malah oke banget untuk memudarkan bekas jerawat, bikin kulit chewy dan lembap, serta sedikit lebih cerah.

Lalu walau namanya lotion, tapi sebetulnya ini lebih mirip seperti cairan kental sih. Semacam emulsion kali yah. Jadi pakai 3-4 tetes saja sudah cukup buat satu muka. Ini harusnya dipakai berdua dengan Hada Labo anti-aging milk. Tapi setelah saya coba, malah B aja, kayaknya yang milk malah gak ngefek sama sekali di saya. Jadi kalau bisa pakai 1 item saja sudah bagus dan keluar uang lebih murah, kenapa harus pakai dua bukan?? #medit

Ohya ngomongin harga, menurut saya ini produk underated banget lho. Bayangin, ini produk ajaib sekali, lalu volumenya 100 ml, bisa dipakai sampe setengah tahun, repeat, SE-TE-NGAH TA-HUN, tapi harganya cuma 50-60 ribu?? WHaaT???

 

2. Missha Premium Aloe Soothing Gel

Sobat tentu tidak ingat dengan postingan curcol Cosrx Salicylic Acid Cleanser yang pernah saya tulis tempo tahun lalu, bukan?

Yha, pokoknya secara singkat, saat itu saya breakout lagi parah-parahnya. Sampe pakai apa-apa nggak mempan. Si Hada Labo di atas itu juga kewalahan memudarkan bekas jerawatnya karena bisa dibilang setiap hari muncul jerawat baru yang parah dan berbekas terus.

Nah berbekal rekomendasi teman saya, tadinya saya mau pakai Nature Republic aloe vera untuk menenangkan kulit. Tapi waktu itu, si produk satu itu susaaaaahhh banget dicari di mana-mana karena sold out terus. Sekalinya ada di reseller, kemungkinannya 2: harganya dipukul sangat mahal, atau, produk palsu 😦

Jadi saat itu saya seluncur nyari di Sociolla dan kebetulan sedang ada flash sale aloe vera gel Missha ini. Tapi begitu dipakai, waw tidak ada efeknya saudara-saudara. Saya jadi curiga saya memang nggak begitu cocok sama produk aloe vera karena sebelumnya saya penasaran pakai wardah yang aloe vera juga dan malah terasa panas bangetttt di kulit. Jadi ya, enough lah pakai-pakai aloe vera gel di muka 😦

Nah karena sudah terlanjur beli, maka saya alihfungsikan gel ini lebih ke lotion untuk badan, karena kulit tangan dan kaki saya kering sekali. Tapi sekali lagi, karena gel aloe vera bukan favorit saya, saya lebih memilih body lotion atau handcream yang lain, ujung-ujungnya ya nggak terpakai haha. Akhirnya sekarang habis juga, setelah hampir dua tahun lalu dibuka!

Repurchase? NO! NEVER!

 

3. Laneige Eye Sleeping Mask (Sample Size)

Ini saya beli udah setahun-setahun setengah yang lalu kali ya? Udah lama banget deh. Jarang dipake karena kayaknya nggak ngefek apa-apa untuk kantung mata saya yang seperti SBY dan hitam seperti panda, terutama kalo habis begadang.

Jujur sih, saya juga nggak tahu ini ngefek atau nggak. Cuma kayak, yaaa nice to have aja. Mungkin memang eye cream dan sebagainya itu bukan produk yang bisa dilihat efeknya dalam jangka waktu dekat atau dalam hitungan bulan, mungkin harus dipakai terus menerus agar terlihat efeknya di hari tua. Sama seperti apabila kita bersedekah. (Waw, Mamah Dedeh curhat dong).

Repurchase nggak ya? Hmmm… Saya suka rada merasa bersalah sih kalau skincare-an tapi mata nggak dipakaikan apa-apa. Karena begitu tambah usia nanti, yang paling dulu muncul kan kerutan di mata dan di pipi yah. I dont want it to happen! Jadi yaa, kayaknya coba beli merk lain aja kali yah? I’m eye-in on The Body Shop eye cream. Yah kita coba lihat nanti aja ya.

 

4. Laneige Water Sleeping Mask

Ah, ini juga salah satu holy grail saya! Sebelumnya saya coba yang travel sizenya (ekonomis ceu, Rp 25k tapi bisa untuk dua minggu heuheu) dan itu OKE BANGET. Kalau dipakai sebelum tidur, paginya begitu bangun kulit wajah seperti dipakein lampu disko. Halus, kenyal, dan cerah berkilau-kilau. Persis seperti glass-skin cewek-cewek koriya. God, I love this one. Saking sukanya, saya sampai beli travel size-nya berkali-kali sampai akhirnya memutuskan untuk beli yang fullsize-nya.

Nah ini saya pakai biasanya di hari-hari di mana kulit saya nggak begitu banyak tingkah, nggak ada breakout, dan sedang adem-ayem saja. Karena kalau sedang ada breakout pasti saya fokus ke skincare products yang memang untuk taking care the acne and the acne scars dulu kan. Makanya bisa dibilang walau cukup pricey, tapi lama banget habisnya lho! Bahkan ini baru habis 1 tahun setelah dibuka! Padahal di kemasannya jelas-jelas tertulis maks. digunakan 6 bulan setelah dibuka. Ya tapi memang dipakenya disayang-sayang sih hehe.

Definitely will repurchase! Eh tapi saya juga lagi penasaran sama sleeping mask-nya Lacoco yang katanya bagus sekali itu. Secara harganya juga lebih murah (#tetep) dan kemasannya lebih praktis karena bentuk tube, dan isinya 5 ml lebih banyak (astaga pelitnya).

 

Nah jadi sekian saja kuliah #mendadakskincare dari saya di sesi ini. Kalau punya rekomendasi skincare serupa, silakan lho! 

Bahasa · My Writer Side

Penari Matahari

2020 1

Wahai penari matahari, sampai mana kau kejar sayap agar dapat naik membumbung tinggi? Perlukah pekikmu itu, terpecah keras hingga ujung angkasa?

Wahai penari matahari, sampai kapan kau kejar deru angin yang menghempas tak kenal henti? Maukah kau bisikkan padaku, apalagi salahmu kali ini?

Processed with VSCO with  preset

Wahai penari matahari, lihatlah jauh sampai menembus cakrawala. Yang kau cari-cari itu, adakah di sana?

Wahai penari matahari, tak perlu kau sembunyi lagi. Kiri dan kanan selalu berdampingan, seperti iblis dan malaikat yang tak terpisahkan.

20202kjagfa

Wahai penari matahari, dengarlah suara jeritmu sendiri. Si kecil dirimu yang meronta-ronta jauh di dasar semesta, menunggumu mengulurkan tangan untuk melangkah bersama.

Wahai penari matahari, kau boleh menangis keras-keras, selantang-lantangnya, karena gunung dan laut ini semua tuli tak mendengarnya.

2

Wahai penari matahari. Mari kita menari, menari, menari.
Menari terus sampai mati.

Processed with VSCO with  preset

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Apa ya rasanya menjalani Hari Raya padahal sedang bertengkar dengan Tuhan?

Rasanya seperti terpaksa harus menjalani sleepover bersama teman yang sudah direncanakan berbulan-bulan lalu padahal kami sedang bertengkar hebat sejak beberapa hari sebelumnya. Sungguh tidak nyaman.

Mungkin kata-kata ‘bertengkar dengan Tuhan’ terdengar berlebihan, kesannya jadi dua arah. Padahal sebenarnya hanya satu arah, dari aku saja. Dia? Dia sih diam saja, tidak terpengaruh sama sekali. Iya, Dia kan Tuhan. Mana bisa terpengaruh sama seonggok daging kecil banyak tingkah bernama manusia?

Dua hari lalu Ibuku mengangkat sebuah perkara yang sebenarnya sungguh melukai aku. Tapi setelah aku pikir-pikir, ya itu bukan salah Ibuku. Bukan juga salahku. Karena pada perkara satu ini, yang bisa memberi penyelesaiannya sebenarnya hanya Tuhan saja sedangkan kami berdua hanya manusia biasa. Tapi sepertinya Dia nggak mau menolongku. Dia nggak mau mendengarkan permintaanku, tidak peduli berapa banyak aku jatuh-bangun dari dulu. Jadi aku timpakan semua kemarahan dan kekecewaanku, lagi-lagi, kepada Tuhan.

Malam itu aku menulis surat panjang lebar kepada-Nya di tengah malam, sambil menangis hebat berurai air mata kemarahan. Isinya tentang hal-hal yang bisa aku luapkan seandainya aku bisa bicara dengan-Nya langsung. Rasanya era gelap yang dulu, saat-saat di mana aku betul-betul terpuruk dan amarahku semuanya tertuju pada Tuhan, kini kembali aku alami lagi. Padahal aku kira kami sudah berbaikan.

Setelah aku baca surat itu kembali, sebenarnya aku terkejut menyadari bahwa kata-kataku tajam sekali. Apalagi ditujukan kepada Tuhan. Kalau benar Tuhan suka menghukum seperti yang semua orang alim itu bilang, entah aku akan dihukum seberapa besar karena berani mengatakan hal-hal seperti itu kepada-Nya.

“Tapi aku nggak peduli,” kataku kepada-Nya. “Apa pun mau-Mu sekarang, Kau mau dengar aku atau tidak, aku tidak peduli lagi. Aku lelah sekali, diperlakukan seperti ini oleh-Mu.”

Jadi aku memboikot-Nya lagi. Aku menolak beribadah sesuai ketentuan-Nya secara sengaja sejak dua hari terakhir Ramadan. Suasana hari raya yang sebenarnya kesepian dan menyedihkan ini pun, jadi tambah menyedihkan karena amarahku pada Tuhan masih tidak kunjung pergi.

Aku tahu, kalau aku bercerita kepada orang lain mereka pasti akan menyuruh aku berhenti, memendam amarahku dalam-dalam, dan memohon ampun segera. Oh, kalian sungguh tidak mengerti betapa berbahayanya akibat dari memendam emosi. Lagipula aku cuma manusia biasa. Aku bukan nabi berhati mulia. Aku bisa marah serta kecewa, dan aku harus terima kenyataan itu demi kesehatan mentalku.

Jadi aku putuskan, biarlah saja. Saat aku menulis ini pun, aku sedang menangis karena marah. Iya aku tahu memang marah kepada Tuhan itu tidak ada gunanya. Tapi aku harus belajar memperlakukan diriku lebih baik lagi, mendengarkan dan menuntaskan emosiku lebih baik lagi. Termasuk kepada siapa aku marah, dan apakah kemarahan itu sudah tuntas atau belum.

Maka saat ini, Tuhan, sungguh aku masih murka sekali pada-Mu, dan aku tidak akan menahan hal itu lagi. Nanti jika kemarahanku reda, aku akan kembali. Tapi saat ini sungguh, kebencianku kepada-Mu masih tidak terbendung. Meluap-luap hingga bikin kepalaku sakit.

Bahasa · My Blog Talks

Life Update Ver 1.0

Dulu saya bikin blog sebagai tempat saya ‘kabur’ dari dunia nyata dengan cara membahas hal-hal yang saya sukai. Lho makin lama kok malah jadi sarana curhat untuk hal-hal yang saya tidak sukai juga ya? Dari yang dulunya masih campur-campur, makin ke sini malah makin monoton jadi seperti itu semua isinya. Ah, pantesan aura (((aura))) blog saya ini jadi aneh. Tiap masuk dan scroll tuh rasanya kayak jadi pusing gitu. HEHE.

Dipikir-pikir, nggak apa juga sih sebenarnya. Bisa dibilang blog ini jadi semacam diary pendewasaan diri, dan dalam perjalanan untuk menjadi dewasa memang seringkali harus lewat bagian yang nggak enak. Gonjang-ganjing rumah tangga mentalitas, pikiran-pikiran tergelap, prasangka yang tidak mengenakkan, masalah-masalah hidup yang berentetan, semuanya memang saya tuliskan sebagai salah satu bentuk terapi diri.

Tapi takut lama-lama saya jadi gak betah sama blog ini, sepertinya mari kita bicarakan hal yang senang-senang juga ya hahaha.

9a966bc199e31e17df14a7c9bdbc45f557f8fd6a

Beberapa bulan belakangan ini, tepatnya sudah 3 bulan, saya langganan Netflix. Waw sebuah gebrakan besar buat saya yang medit dan selama ini berprinsip “LEbiH bAIk akU DOwnlOaD tOrrENt SajA DariPAdA nonTOn SEriES haRUs BayAR.” 🙃

Awalnya saya langganan cuma untuk nonton lanjutannya To All The Boys I’ve Loved Before sih, yaitu To All The Boys: Ps I Still Love You.

6-1

Rada cheessy yah saya? 😦 Ending si sekuel kedua ini nggak begitu ok sih menurut saya sendiri. Tapi gimana yah, Lara-jean dan Peter tuh kinda cute together, aren’t they? PLUS saya suka sekali style berpakaiannya Lara-Jean, tipe-tipe fashion asia yang preppy dan cute (ketauan kan gak di jalan, nggak di film, nggak di mana-mana, yang selalu saya perhatikan adalah baju dan cara berpakaian, emang kudunya saya masuk jurusan fashion aja HAHAHA), dan fakta bahwa film-film barat sekarang sudah mulai berinteraksi lintas-ras seakan itu adalah hal yang sudah lumrah bikin saya seneng sih. Yay to races equality!

Tapiii setelah saya pikir bakal berenti langganan setelah nonton itu, ternyata tidak guys. Malah lanjut (-_-). Mungkin kapan-kapan saya bahas list film dan series rekomendasi Netflix versi saya ya.

Okay now please let me bless your eyes with this cute illustration of Lara-Jean’s fashion sense. This illustration is not mine tho.

0cde387172bd19e232835864f5399d68
Found in Pinterest and couldnt find the creator, if you are owning this, please let me know

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Self-love is like, a very powerful defense mechanism

Practicing self-love itu bisa diibaratkan seperti menempa besi untuk dijadikan tameng. Ketika tameng itu sudah kuat terbentuk, lalu orang lain berusaha untuk menjatuhkan kamu, no, baby, they can’t. No matter how hard they tried to drag you down, kamu tidak akan terpengaruh ke dalam permainan mereka.

Kenapa? Karena pada poin itu kamu sudah tahu seberapa besar nilai diri kamu. You will not triggered karena kamu sudah mengerti apa yang memang ‘kamu’ dan apa yang ‘bukan kamu.’ Dan kamu nggak akan terganggu dan terpengaruh sama sekali jika memang pedang-pedang yang berusaha mereka lemparkan ke kamu itu sama sekali tidak mengarah ke kamu.

Mencapainya memang susah, setengah mati, mati-matian. But once you got it, really, self-love is such a powerful defense mechanism. In a very, very positive way.