English · My Artist Side · My Fashion Madness Side

One Fine Day

The thoughts of sharing something that I really really love is always thrilled me, in a good way! So maybe that’s rings the bell when my bestie and I decide to make a youtube channel together.

So please let me kindly introduce ourselves: we named ourselves One Fine Day, because our channel always all about a beautiful and happy day, with the intention of making people who watching are have a good time too. We will be all about fashion, food, make up, travel, design, and all things artsy and delightful.

In the meantime, please kindly check us out as our videos will come shortly ❤️

Advertisements
English · My Fashion Madness Side

It Was a Happy Day Today!

Been a long while, I mean A REALLY REALLY LONG, since last time I uploaded some photos of me myself here. I wrote about thoughts, ideas, rants, and things I learnt here but I can’t even remember when is the last time I simply talking about how my days goes here in my blog as a diary.

So yeah, it was a happy day today and I miss writing like this.

Here’s some photos that my bestie took of me and hope you had a good day too ❤

Processed with VSCO with c1 presetProcessed with VSCO with c1 presetProcessed with VSCO with c1 preset

English · My Entrepreneur Obsession Side

Business Hack: Investor Pitching

I currently so into business and marketing podcast right now, and one of my favorite that I currently listening is Startup Podcast by Gimlet Media.

Here’s what I learnt from them today:

“In order to win a business pitching, you don’t have to convinced the investors about making tons of money. You just have to convinced them that you are good at what you do. Like, REALLY REALLY GOOD.”
#TheMorningTales · English · My Chaotic Philosophy

#LearnToday: God Answers if You Asks

Allah knows how denial person I am. Since I grown up realizing that I’m actually have a sensitive heart and learnt that the more sensitive person you are, the easier other people to hurt you, I keep it for myself. Too many people hurt me, betray me, and stab me in the back long long ago, and I don’t want it anymore. I don’t want to get hurt anymore.

Hence now I grown up hiding my fragility, showcasing my insensitivity more, and permanently wearing this I’m-a-warrior-I’m-strong-I’m-okay-and-I-don’t-need-your-help traits wherever I go and whatever happens to me. I build a wall so high around me so no one can pass. And whether I realized it or not, this applied to my relationship with Allah too.

But day by day He force me to admit it. He makes me realized that it’s okay to have a breakdown and be open about it. Hence I doing it, only in front of Him though. Only when I cried and pray to Him. And believe it or not, when I’m opening up to Him, admitting all my vulnerabilities, not pretending nor hiding anything, I can hear a voice inside my head answering:

“Understood. Your apologies and requests accepted. Thank you for your honesty.”

Then within minutes, even second, I feel better. As if my wounds heals really fast and the demons in my head is all fading away.

That’s when I realize, from human you can hide anything all you want. But God already seeing all of you.  Every microparts that you trying to hide, so it’s okay to tell Him anything, even things you tried to hide from Him because you knows He hates it.

He might hate it, but He never hates you. Hence if you ask, He will answer.

English · My Chaotic Philosophy

#LearnToday: Learn from a 13-Years-Old CEO

Quick writing this in middle of the work (My boss is right there! Ssstttt…) because I watch youtube while working and found this one that I should share everywhere (because so many negativity already and I think we should replace it with positivity more, agree?).

While what my 24-years-old do everyday is whining my love life, my mental instability, and my social dysfunctions, there she is a girl who build the world, and she just 13 years old.

Seriously, watching this slapped me right in the face, in an extremely good way. I have to start doing something useful and meaningful.

And I have to do it NOW.

#TheMorningTales · English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

#TheMorningTales – I Found What I Wanna Be

“What you want to be in 7 years?”

This question was popped out when I listening to a podcast about spirituality guidance this morning—which is a new thing amidst the business and marketing related podcasts that I usually listening to—and I just stopped, right in the middle of the stairs in the office. Shocked with the fact that I just got the answer myself. Usually I always hate this kind of question in a job interview. But this time I cant help to resonate with it. Finally after years and years and years doubting mysef and frustrating about what I wanna be in life, fulfilling other people’s expectation while being so harsh on myself, I found it. And it feels right.

In 7 years from now, I want to be a coach. I want to be either career, life, or business coach, or even them all at once, and I want to build an entrepreneur academy for young entrepreneurs who struggling to make their wishes come true. I want to guide and help people going through their obstacles in life. I want to share wisdom, experiences, and passion for those in need. Either from me, or from other people to another one.

But before that, I have to do many things and learn so so much more.

Bahasa · My Chaotic Philosophy · My Writer Side

Izin Menggerutu Sedikit, Ya

Saya di waktu kecil dan remaja dulu adalah seorang pembaca yang rakus. Betul. Setiap hari saya baca bukuuuuu terus. Teman-teman sekolah saya hampir nggak pernah lihat saya nggak bawa buku bacaan di tas. Orang-orang rumah saya hampir nggak pernah liat saya pulang sekolah tanpa dilanjutkan dengan baca buku sampe sore (kadang sampai malam, kadang sampai pagi lagi malah). Penjaga perpustakaan di SMP saya hampir nggak pernah absen tiap minggu bawa pulang minimal 3 buku setiap pinjam dan nanya “Buku segini kamu habis dua hari aja?” dan selalu saya jawab dengan “hahaha, Bu, segini justru kurang malah!”

Perpustakaan selalu jadi tempat favorit saya. Hmm sebenarnya ketika SD nggak juga sih karena memang nggak ada perpustakaan di SD saya dulu. Saat SD, ‘perpustakaan’ saya adalah rumah Tante saya. Tante saya juga hobi baca buku, koleksi serial Lima Sekawan dan Hardy Boys lengkap, ada Laura Ingalls, Little Women, Alfred Hitchock, Agatha Christie, pokoknya banyak deh buku-buku serial barat yang booming di tahun 70-80an. Tinggal sebut saja, Tante saya pasti punya dan saya hampir pasti pernah baca minimal 2 judulnya (meski sekarang sudah lupa karena ingatan saya mirip Dory temannya Nemo).

Baru deh ketika SMP saya jadi merajalela. Saya bisa dengan pede menyatakan bahwa saya udah baca seluruh buku yang ada di perpustakaan SMP Negeri 1 Depok pertahun 2009. Saat itu saya baca apa pun isi perpustakaan, tidak terkecuali. Bahkan buku beternak hamster dan budidaya tanaman hias aglonema. Eh jangan ketawa, betulan lho. Nah ketika SMA, perpustakaannya jauuuuuuuuuh lebih kecil, saya terlalu malas untuk datang duluan ketika masuk siang, sementara setelah masuk pagi, pintunya hampir selalu terkunci setiap saya datangi sepulang sekolah. Jadi bacaan saya saat SMA itu either beli sendiri, pinjam teman, atau pinjam ke peminjaman buku dekat rumah.

Berkat kegilaan saya dengan buku sejak kecil itulah saya sudah mulai menulis novel sejak SD. Kemudian sejak saat itu kerjaan saya tiap hari sekolah, baca buku, tulis novel. Makanya jangan heran kalo lihat saya bisa mengetik dengan 10 jari dan kecepatan yang luar biasa tinggi tanpa perlu lihat keyboard. Itu hasil dari bertahun-tahun ketak-ketik novel di komputer setiap hari.

Tapi sejak kuliah frekuensi baca saya menurun. Begitu juga dengan frekuensi menulis. Meluncur curam sangat drastis. Saya mulai kenal dunia luar dan menyadari bahwa ternyata dunia organisasi kampus seru juga ya, desain itu super asyik ya, fotografi dan videografi itu unik banget ya, fashion dan styling itu super menyenangkan ya, marketing dan bisnis itu keren banget ya. Dan begitulah, saya yang dari dulu minatnya kebanyakan ini selanjutnya mulai menjelajah semakin jauh dan jauh lagi.

Sekarang setelah bertahun-tahun saya jauh dari dunia tulis-menulis, iseng-iseng saya kepo juga dan cukup kaget menyadari bahwa anak muda jaman sekarang lebih melek sastra dan pemilihan kata-kata dibanding anak-anak muda di jaman saya. Ya saya harap ini bukan cuma karena tuntutan caption di instagram ya.

Tapi setelah saya telaah lagi, ah kok ya pemakaian sastranya untuk hal-hal receh yang remeh temeh gitu lho. Lebih kayak, ah apaan sih, seperti kayak menurunkan derajat bahasa itu sendiri deh kalau dipakai untuk hal yang seperti itu. Ngerti maksudnya nggak? Ya mungkin nggak ngerti ya karena saya juga bingung bagaimana menjelaskannya. Silakan tebak sendiri lah hahaha.

Sekarang, sudah sekitar 5-6 tahun belakangan, saya jadi super picky dan super kritis sama buku yang saya baca. Iya, dulu saya baca apa pun. Tapi hal itu bikin saya jadi paham mana yang berkualitas dan mana yang tidak. Mana yang layak dan mana yang tidak. Mana yang hidden gem dan mana yang cuma bersepuh emas padahal cuma batu biasa. Kalau istilah baratnya mah, “Know the box, then break out of them”. Alias kenalin dulu secara keseluruhan baru bisa kasih aksi.

Saya memang sudah nggak in-touch lagi dengan dunia tulis menulis sih (kecuali penulisan konten yang menurut saya derajatnya jauh di bawahnya karena berkaitan dengan marketing, bukan dengan sastra murni), tapi saya suka pusing kepala lihat kualitas buku lokal di toko sekarang ini.

Contohnya saja, begini lho, menurut saya, untuk jadi seorang penulis yang baik itu bukan cuma butuh plot atau alur cerita. Penulis yang baik itu harus mampu membuat karakterisasi yang kuat dan bagus. Maksudnya bukan yang ‘kuat’ seperti Thor atau yang ‘bagus’ kayak muka cowok korea. Tapi yang real, detail, punya emosi yang nyata, semua sense-nya digali dengan dalam, diungkapkan keadaan psikis dan pemikirannya, punya ciri khas, ada personal developmentnya. Bukan sekadar karakter stereotip yang maha sempurna bisa ini-itu tapi lempeng kayak robot.

Kemudian penulis yang baik harus dapat membuat setting yang se-real mungkin. Karena di sanalah tempat karakter-karakternya hidup. Kalau dunianya dunia buatan, dia harus bayangkan bahwa dunia itu betul-betul ada. Pikirkan sampai ke detail terkecilnya kalau bisa sampai ke suhu, jenis tanah, warna langit, semuanya! Kalau pakai dunia nyata maka RISET! Google map punya fitur google street di mana kita bisa ‘berjalan-jalan’ di dunia maya, manfaatkan hal itu untuk memindahkan isi google map ke tulisan, senyata mungkin.

Itu baru dari dua aspek ya, karakterisasi dan worldbuilding. Masih banyak unsur lainnya.

Dan lagi, saya muak sekali membaca resensi buku yang bertebaran sekarang ini (udah dari dulu sih sebenarnya). Begini mas mba kebanyakan, yang kamu tulis itu bukan RESENSI tapi RANGKUMAN PLOT. Setelah saya jabarkan beberapa poin di atas, harusnya tahu kan kalau karya baik itu bukan cuma dibangun dari plot saja. Kamu harus bisa menilai secara objektif, karakterisasinya bagaimana ya, gaya bahasa sudah tepat belum ya, latarnya bisa kebayang nggak ya, kecepatan alurnya sudah pas atau belum ya, unsur ekstrinsiknya sudah benar belum ya, cara pembukaan dan penutupnya cukup impactful nggak ya, cara penulisannya konsisten dan jelas nggak ya, daaaaaaaan lain-lain.

Jadi, tolonglah, saya muak sekali baca review-review buku yang cuma bicara “Overall saya suka sekali dengan buku ini karena endingnya bla bla bla bla…” Aduh please. Pantesan kualitas buku lokal gitu-gitu aja, lha wong mindset pembacanya kayak begini. Iya plot itu memang sangat penting, tapi itu saja belum cukup dipakai jadi dasar apakah sebuah cerita bagus atau tidak dan penulis itu bagus atau tidak. Hargailah penulis lain yang betul-betul melakukan riset segala rupa untuk memikirkan semua detail, unsur intrinsik dan ekstrinsik tulisannya.

Long story short, memang post saya ini lebih bertujuan untuk menyombongkan diri dan nyinyirin pembaca dan reviewer aja sih HAHAHAHAHA. Tapi di tengah kesombongan saya yang biasanya ini, semoga dapat menjadi masukan ya.

Jadi kembali ke masalah baca buku. Tahun lalu sebenarnya adalah semacam kebangkitan buat saya karena di tahun-tahun sebelumnya jumlah buku yang saya baca sangat minim. Keasyikan hidup di dunia nyata dan terjun di bidang minat yang lain sepertinya (#HalahAlasan). Mungkin start dari tahun ini saya perlu baca buku lebih banyak lagi. Atau mungkin setelah ini saya bikin summary buku-buku yang saya baca di tahun 2018 lengkap dengan short review-nya. Ya memang agak telat sih but better than never, right?