English · My Chaotic Philosophy · My Skincare Addicts Side

Have you ever thanking your body?

A while ago I bought a meditation massage oil from Sensatia Botanical, a Bali-based local skincare brand, just because one of my friend shared how this product smells like yoga class.

At that time, i really really really miss my yoga class in mood studio but barely have time to do it, hence i gave that yoga class-smelled massage oil a try.

Yet due to the hectic hectic worklife, i barely got the chance to use it now. As gratitude to a great job i’ve done today. And, oh boy, aside from how nice it smells (not anything like my yoga class aromateraphy or something but YES I LOVE IT), i got the fact that self-massage is a way to reconnect to our body. The shell that we’re living now.

I thank my fingers to do a great job today.

I realized that my toes never get proper care nor enough attention.

I barely realized that i always complaining and complaining about how fat my thighs but never actually take care of the skin in that particular parts.

And from a very young age, i believe my super tan skin is ugly and tried so hard to make it brighter. But this very second i just realized how beautiful it is, and thinking how white people trying so hard to get the skin color i born with.

How i’ve been so ungrateful with the body i living in. This is my the only body i have for the rest of my life. My forever home.

Taking care of our body should be a deeper work. More than merely to make it firm and toned, or changing the skin color, or to make it thin or thicker. But about knowing our flaws and completely accepting it. About knowing how our body is doing right now. About thanking our body parts for their hardwork throughout our life.

The journey of body-acceptance is different for everyone, but i found mine through self body-massaging.

So how is yours? And have you giving a sincere gratitude to your body parts? Have you ever properly thanking them?

English · My Chaotic Philosophy

Dear Allah

I am whoever You want me to be.

I am nowhere near perfect, thus our relationship too.

But You hear all my deepest fear, my subsconcious traumas, my unspoken wishes, my unknown feelings.

You know me more than I am. You love me more than I am too.

Hence I am at Your service.

I am ready to be devoted.

Now and forever.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Seperti apa sih isi kepala ketika anxiety menyerang? Ya, seperti ini.

Takut banget. Mereka memang tidak akan mengerti, yang berpikir dengan logikanya. Aneh, mencurigakan. Menghitung mundur, 3, 2, 1, apa lagi ya? Kejutan yang baru. Harus berjalan, atau lari? Ah, yang paling benar adalah sembunyi. Pikiran siapa ini? Seenaknya datang menghampiri. Rusak semua, berisik, tidak ada henti. Tenang, tenang. Tarik napas. Nanti akan baik-baik saja. Hitung mundur lagi, 10, 9, 8, ah. Bodoh. Tidak cukup energi. Berat. Harus bilang ke siapa. Aku harus bilang ke seseorang. Tidak, tidak, mereka tidak akan mengerti. Mereka berpikir dengan logikanya. Diam, diam. Tarik napas. Bernapas lagi. Tiga, dua, satu. Apa harus yoga? Kayaknya harus yoga saja. Ah, nggak bisa. Cari perlindungan. Tapi ke mana? Gelap semua. Manusia mencurigakan. Tarik napas lagi, tenang. It’s okay, it’s okay. Aku di sini kok. Bernapas perlahan lagi. Semua akan baik-baik saja. Hitung mundur, lima, empat, tiga, dua satu. Hitung maju juga mungkin akan membantu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh. Tanganku dingin semua. Jantungku dug, dug, dug, dug. Kencang sekali. Ayo napas lagi. Perlahan-lahan. Satu, dua, tiga, empat. Masih terlalu cepat. Kepalaku pusing, sakit, berputar. Aku mau pulang. Aku butuh ruangan sepi dan tertutup. Aku butuh tempat aman. Aduh, kok semakin berat. Sakit, aku tidak bisa berpikir lagi. Tenang, tenang. Malah semakin parah.

It’s okay, Cristopher ada di sini. Dia selalu di sini. Semua aman kalau ada Chris. Take your time, katanya, Nggak perlu memaksakan kerjain deksjob sampai jam 11 siang kalau memang belum kuat. It’s okay. Chris is here. Pasang lagu zico yang any song, mungkin akan jadi lebih senang. Baiklah.

 

Mungkin harusnya hari ini aku betulan nggak masuk saja ya.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Perkara Perasaan Asing yang Terus Berdatangan

Aneh.

Mood swings-ku memang parah banget sih. Bisa berubah dari tertawa ke murka hanya dalam hitungan menit, lalu dari marah besar ke ketawa haha-hehe dua jam setelahnya.

Tapi kali ini, beda dari biasa,  berubahnya sepertinya bukan karena aku deh. Aku terus-terusan merasakan banyak perasaan yang aneh dan asing akhir-akhir ini, yang aku sendiri tidak paham bagaimana cara mendeskripsikannya. Kalau dari aku sendiri, biasanya akan terasa berat di kepala. Tapi kali ini rasanya berkumpul di dada. Berdatangan pelan-pelan, tapi bikin aku kaget sendiri karena asing sekali rasanya.

Seringkali karena capek dan bingung (dan tentunya takut juga) aku cuma bisa memandang ke langit dengan curiga sambil bertanya-tanya. Lalu kalau sudah begitu, rasanya aku mau lari kabur saja. Rumahku, orang tuaku, tempat kerjaku, teman-temanku, rasanya semuanya asing, rasanya aku seperti berasal dari tempat yang berbeda, dan aku kepingin pulang ke tempatku sendiri supaya aman, padahal di mana tempat yang dimaksud pun, aku nggak tahu.

Aku sempat berpikir “Ah, mungkin karena aku sedang capek saja ya, mungkin hanya pikiran-pikiran hormonal.” Tapi semakin aku berusaha membumikan pemikiranku dengan cara itu, rasanya aku malah semakin tidak membumi. Rasanya semakin ingin melepaskan koneksi dengan tempatku berpijak dan orang-orang sekitar.

Aneh.

Ada yang seperti peringatan, tapi memperingatkan akan apa ya?
Ada yang berupa panggilan, tapi siapa yang memanggil?
Ada pula yang berupa suruhan, tapi menyuruhku untuk apa?

Dan selebihnya bahkan lebih asing lagi sampai aku gak bisa menangkap bentuknya. Sampai susah tidur karena hati rasanya berat.

Aneh sekali.
Sekaligus menakutkan.

Tuhan, apakah perasaan dan firasat aneh ini Kau yang memberi, ya? Kalau iya, sebetulnya apa yang mau Kau sampaikan?

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Ada yang mencurigakan di langit.

Intuisi, firasat, pertanda. Apa pun sebutannya, sekarang aku sudah bisa membedakannya. Iya, aku memang sering terserang anxiety tanpa sebab. Tapi jika firasat-firasat itu datang, rasanya berbeda dengan anxiety walau pun sering jadi penyebabnya. Keduanya betul-betul hal yang berbeda.

Anxiety itu kencang, bising, tidak beraturan, menyeruak, menendang perasaan-perasaan lain agar terpaksa menepi ke pinggir, pokoknya sangat egois dan menakutkan. Sedangkan firasat itu datangnya perlahan, sunyi senyap, merayap seperti kabut yang turun ketika hari mulai petang. Sama-sama bikin hati tidak tenang, tapi dengan cara yang berbeda.

Seringkali, firasatku benar. Jika perasaan itu menghampiri, maka tidak lama akan ada sesuatu yang terjadi. Jangka waktunya bisa secepat 1-2 jam, bisa juga baru terjadi di keesokan harinya. Tapi bisa jadi hal yang baik mau pun buruk, besar mau pun kecil, dekat mau pun jauh. Aku masih belum bisa membedakannya. Seringkali hanya sesepele ternyata partner kerjaku mau resign (tapi aku merasakan firasat anehnya sepagian sampai kena anxiety), tapi pernah juga sebesar bencana alam, misalnya gempa (belum lama ini) atau tsunami (sudah bertahun-tahun lalu).

Pernah juga ternyata hal baik seperti aku dipanggil ke HRD untuk membicarakan gaji dan kontrak, tapi pernah juga hal buruk seperti contohnya ada pekerjaan dadakan yang tidak mengenakkan.

Ah, ngomong-ngomong, aku sudah mengalami hal ini cukup lama, tidak pernah kasih tahu siapa-siapa juga, baru kali ini akhirnya aku tuliskan.

Saat ini, aku duduk di meja kerjaku, tepat di samping jendela besar yang mengarah ke hutan gedung beton beratap langit biru cerah dengan awan stratocumulus putih bersih seperti kapas. Anehnya, aku malah menatap langit itu dengan pandangan memicing curiga. Di balik warna biru cerah yang terlihat menyenangkan itu, apa lagi kejutan yang akan diberikan kepada kita?

Ya Tuhan, semoga tidak ada hal aneh-aneh lagi ya.

.

.

Update:

2 jam setelah menulis ini, aku membaca berita karyawan yang terjangkit korona virus di salah satu gedung di daerah tak jauh dari tempatku bekerja.

Ah, ya, benar. Langit, udara luas, virus yang bertebaran.

Untungnya isu itu terbukti secara klinis tidak benar. Dan aku pun tidak bisa memastikan apakah ini yang intuisiku coba peringatkan?

Makan cukup, istirahat cukup, olahraga teratur, minum Vitamin C. Karena aku sudah pernah diisolasi di rumah sakit khusus selama 9 hari dan itu sangat tidak menyenangkan, alangkah baiknya kalian juga menjaga kesehatan, ya!

My Chaotic Philosophy

Tuhan, aku tidak ingin kita bertengkar lagi.

Karena jika kita bertengkar, aku tentu tidak akan bisa menang. Iya, tentu, bagaimana bisa? Kau kan Tuhan. Yang ada aku malah akan dihancurkan.


Aku berusaha keras sekali, sangat, sangat keras, supaya hubungan kita berdua tidak sekacau dulu lagi. Dulu mengerikan, semuanya gelap di mana pun aku melihat. Setelah kita berdua saling memaafkan, dunia perlahan jadi cerah lagi. Tapi kenapa ya, Tuhan, rasanya kau masih belum puas? Apakah ini berarti Kau belum menganggap bahwa kita sudah berdamai, ya?

Semua orang selalu, selalu berkata berulang-ulang, kalau Kau toh ingin hal-hal yang terbaik untuk makhluk-makhluk-Mu. Dalam hal ini, contohnya mungkin aku.

Tapi bagaimana pun, Tuhan, aku cuma manusia biasa. Batas kesabaranku ya segini saja. Aku tidak sesuci itu juga, Kau pun pasti tahu, kan? Kadang kalau aku merasa tidak mampu lagi dikecewakan terus, aku akan sedih, aku akan merasa marah sekali. Contohnya seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi, dan hari ini.

Aku harus bagaimana lagi sebetulnya, Tuhan?
Kau mau aku melakukan apa lagi?
Aku bisa bertanya kepada siapa?
Aku bisa dapat jawabannya di mana?

Di saat aku merasa kecewa pada-Mu, seringkali pikiranku jadi gelaaap sekali. Aku jadi melihat sekitarku dengan pandangan penuh api membara-bara. Aku jadi membanding-bandingkan diriku dengan mereka yang lainnya. Kenapa ya Kau berikan mereka semua yang mereka inginkan, bahkan tanpa mereka seujung rambut pun berusaha melakukan hal yang Kau minta. Tapi itu tidak terjadi padaku, yang setiap harinya berusaha keras memenuhi yang Kau inginkan.

Sekali-dua kali, saking kecewanya aku memboikotmu secara sengaja. Sehari-dua hari dirundung perasaan berdosa dan bersalah, hingga akhirnya aku berlari kembali kepada-Mu sambil menangis. Persis seperti anak yang kembali lagi memeluk kedua orangtuanya setelah sebelumnya kabur dari rumah.

Tapi sungguh, jika Kau lakukan ini kepadaku terus-terusan, aku tidak akan bisa mampu. Sementara Kau minta kami para manusia agar bertahan? Oh, tentu saja, Kau tidak tahu rasanya, ya? Kau kan tidak pernah jadi manusia. Ha, sekali ini mungkin argumen ini aku menangkan.


Tidak bisa terbayangkan, apa jadinya aku jika sekali lagi, kulayarkan bendera perang kepada-Mu? Bisa-bisa aku dihancurkan lagi, kan?

Tuhan, tolong jawab sekali ini, aku harus bagaimana?
English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

20 Things I’ve Accomplished in 2019

1. Graduated from uni and being a bachelor (after a long long journey)

2. Become more thoughtful in spending money

3. Have a youtube channel (which unexpectedly have really good engagements)

4. And autodidac-ly (as always) learn to use adobe premiere

5. Developed friendship and links with indonesian Mom influencers

6. Learnt to sew properly and have a clothing that I’ve sewed myself as a result.

7. Learnt to bake a cake

8. Able to make organic soap

9. Finally went to a psychologist

10. Have a starbucks member card

11. Became a ‘producer’ of a big photoshoot project with a well-known celeb (whose name i wont mentioned here)

12. Become a founder of Charithrift

13. Joined ideafest talkshows

14. Joining fashion class

15. Visited IKJ

16. Becoming a live talkshow host TWICE!!

17. Ate ame ringo & taiyaki

18. Got myself roller skates (and able to rolls on intermediet level)

19. Joined Yoga Class for the first time

20. Able to wear contact lens

21. Had my very first flight experience

22. Having passport

23. Signed up myself to classpass (a fitness membership pass app)

24. Managed to be in the next stage of self-love process

Ah, apparently I made it more than 20? 😆 Anyway, whatever year may come, BRING IT ON!