English · My Blabber Side · My Chaotic Philosophy

Pursuing Our True Selves

Main Story

“I’m really really really a showbiz person, you know, Lad?!”, she said that day. On the late afternoon of 24 December at our office room in 2016, where it was just the two of us (everybody else is out on their meetings), wrapping presents for office’s Secret Santa event that will be held on the evening.

She blurted that out when we’re talking about career, life projections, goals, and something like that. I know, such a high quality topic amidst pile of glittery wrapping paper and clear tapes on our fingers, right?

Actually, I didn’t (and still don’t) know what she means with ‘showbiz person’. What’s showbiz means anyway? But she likes modelling and acting and that kind of stuff so I assume showbiz means something to do with spotlights, costumes, script-reading, acting, and light-camera-action. Am I even close to it? No? Okay.

As much as I held myself not to ask her what showbiz means (because sometimes I’m a stupid potato and prone to embarassed myself), I already familiar with the feeling underneath her words. It felt like I can already hear she went on “I don’t care about going to the same place from Monday all the way though Friday, from nine to five, doing the same thing, meeting the same people, deal with the same bullshit—“ and on and on. Yeah, I’m extremely familiar with that.

“When I was a little girl, I always wanted to be a news anchor! They sounds really cool and bonafide and all!” She continued with the same sparkle in her eyes. Ugh, so bright. Despite that she is a pretty humanbeing that sure will makes every male bend their knees to her instantly, people will always look more attractive when they’re talk honest about things they love. So for her case, the brightness level is doubled up. Like a venus with gold halo up on her head. Don’t look at her, you’ll be blind.

About things that we talked about later, I don’t remember. I believe it included some office gossips, or which presents box that we targetted on or whether I’ve ever smoke or drink alcohol (just a clarification: I NEVER) or anything else. But she already made clear the reason why she left the office 5 months later (after just working there for 7 months). She wants to chase her passion.

Familiar phrase. Familiar feeling.

Now, nearly eight months later, her face is familiar in youtube cinemascape and indie filmscape. she plays in some mini sitcom by a local magazine, starred in an indie movie, been a model of some local fashion brands, an actress on a local band’s new music video. She nailed it, right in front of everyone’s face.

I still don’t know what’s showbiz means, maybe I’m just too lazy to google an oxford dictionary. But by seeing her, I think now a little bit I know, I can figure it out, finally.

And that’s a story about chasing a passion. Another story about gambling with life and fight for the what one’s believe. A story about pursuing our very, very, true selves of us.

Advertisements
English · My Chaotic Philosophy

Do You know What’s This Mean?

FREEDOM.

I bet you wouldn’t understand. But today, exactly today, I choose the independence.

Now I’m stronger, much more stronger.

Now I’m fearless, cautions and warnings are nothing.

Now I’m visionary, ready to fly and soar high.

Try to move or crush me. No one can’t.

Never anymore.

Bahasa · My Chaotic Philosophy

Tentang Transisi Hari dan Semua yang Terjadi di Antaranya

rps20180102_182654

Saya masih ingat detik detik menjelang pergantian tahun di tahun lalu. Saya terduduk di mobil kijang yang berlari kencang menuju Jakarta dari kampung halaman di Wates. Hari itu juga 31 Desember, malam tahun baru. Malam terakhir saya ambil izin dari kantor, unpaid leave, bahasa kerennya, untuk mengambil napas di kota kecil yang tenang tempat ayah saya dilahirkan.

Saat itu workload saya sedang hectic-hecticnya, klien saya sedang gila-gilanya, hampir tiap 10 menit saya harus handle issue yang urgent bahkan saya sampai harus cari kursi lalu buka laptop ketika sedang pelesir di Malioboro. Ironis. Syukurlah itu semua sudah terlewati.

Tahun yang lalu, 31 desember 2016, di dalam mobil yang tengah ayah saya kendarai, tiba-tiba saya mau meledak. Mau menangis menjerit-jerit. Tiba-tiba merasa sedih dan sakit hati yang tidak ada duanya. Entah kenapa, saya juga nggak tahu sampai sekarang. Sepertinya campuran antara stress pekerjaan dengan beban ekspektasi hidup yang tidak kesampaian. Khas orang dewasa, ya kan? Saat itu saya sampai serius berpikir untuk membuat janji konseling dengan psikolog atau psikiater. Alasannya karena saya mencurigai diri saya punya anxiety (social anxiety, mungkin lebih tepatnya) yang parah atau mungkin bipolar disorder tipe II (karena mood swing saya memang luar biasa ekstrim dari sananya) atau depresi ringan (ternyata bukan ini, karena baru-baru ini saya merasakan seperti apa namanya depresi ringan itu, dan rasanya sungguh berbeda. Jauh jauh jauh lebih buruk, sungguh, rasanya seperti mimpi buruk yang jadi nyata, hanya saja tidak hilang ketika kita bangun). Tapi hati kecil saya tau, saya sebenarnya hanya menginginkan obat-obat antidepresan dari ahli medis secara legal saja. Beberapa bilang gangguan mental mereka jadi lebih baik dengan adanya antidepresan tersebut (ya asal tidak ketergantungan saja sih).

Tapi bagaimana pun, toh saya tidak jadi melakukannya saat itu, konseling ke psikiater maksud saya. Saya memang sudah simpan beberapa kontak klinik dan rumah sakit yang kelihatannya cukup terpercaya, tapi saya tetap tidak sanggup memaksa diri saya pergi. Pertama, sepertinya biayanya mahal sekali. Saya harus bayar kuliah, itu lebih penting. Kedua, saya tidak mampu berhadapan dengan orang untuk membicarakan masalah saya, penyakit di pikiran saya, gangguan di hati saya, ketidakstabilan emosi saya, dan lain-lainnya. Mereka tidak bakal anggap saya serius, dan terutama saya tidak pernah bisa bercerita tentang ini dengan siapa pun. Saya terlalu takut dengan apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya.

Maka, dengan asumsi jika saya bisa memikirkan alasan pertama (biaya kuliah lebih penting), berarti saya masih belum sesakit itu dan masih bisa menyembuhkan diri saya sendiri, saya urung membuat janji konseling. Alih-alih saya habiskan hari berikutnya dengan membaca buku, makan makanan tidak sehat, dan menulis review tentang buku tersebut di blog. Syukurlah saya kemudian lebih baik hari demi hari.

Tahun 2016 adalah tahun yang sangat sulit. Emosi saya diaduk hingga terkuras, diguncang-guncangkan hingga saya muak, diombang-ambing sampai rasanya mau gila. Oleh karena itu pula saya tidak terpikir untuk menulis post tahunan tentang 20 pencapaian saya di tahun tersebut. Karena boro-boro kepikiran posting, masih bisa bertahan hidup pun sudah syukur. (Yah walaupun setelah saya pikir-pikir lagi, pencapaian saya di 2016 toh lumayan fantastis juga, sebanding lah dengan berdarah-darahnya).

Tahun 2017 ini lebih kalem, dengan beberapa hal yang sebelumnya cuma ada di imajinasi liar saya, tahu-tahu jadi nyata. Hard, but not that hard, but still hard. Mungkin karena itulah malam tahun baru ini, walau pun saya ada di situasi yang sama, bersama orang yang sama, menaiki mobil yang sama, dan mengarungi jalan yang sepertinya juga sama, saya tidak lagi frustrasi dan menangis histeris. Saya lebih tenang dan stabil. Yah walau dua-tiga ada saja masalah di sana-sini (dua-tiga masalah yang kebetulan LUMAYAN besar) tapi sepertinya tahun 2017 saya sudah ditempa untuk jadi lebih dewasa. Lebih matang dengan pikiran bahwa tidak semua yang kita inginkan akan terwujudkan. Pikiran untuk mengontrol ekspektasi dan berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dengan orang lain.

Saya masih belajar. Saya rasa kita semua pada dasarnya adalah anak kecil. Manja, egois, dan penuh cita-cita. Yang membuat kita jadi ‘sedikit’ lebih dewasa adalah mental yang stabil, yang tetap mampu mempertahankan letaknya walau diterjang badai realita. Bohong kalau saya bilang saya sudah tidak pernah merasakan mental breakdown seperti itu lagi. Kenyataannya sering, sering sekali. Saya seringkali berpikir pasrah, kalau Tuhan mau ambil saya, silakan sajalah, saya toh belum punya tanggungan apa-apa, belum punya pencapaian apa-apa. Tapi sungguh tidak pernah diwarnai dengan suicidal thoughts atau pikiran-pikiran bunuh diri. Saya rasa frustrasi saya masih normal, atau mungkin juga saya terlalu pengecut? Ah entahlah. Jadi ya karena kasus bunuh diri sedang marak-maraknya, tenang saja teman-teman, saya tidak termasuk satu yang harus kalian waspadai. Saya terlalu pengecut dan terlalu cinta dengan diri saya sendiri.

Jadi, apa yang bisa saya bawa untuk mengarungi buku kosong selanjutnya, di tahun yang baru? Ah entah. Manusia itu seperti bunglon, kita berubah setiap saatnya. Belum tentu saya di tahun lalu akan sama dengan di tahun ini sehingga pikiran untuk membawa pengalaman lalu menjadi pelajaran hari ini sepertinya akan sia-sia saja. Siapa pun yang membuat quotes experience is the best teacher pasti bukanlah seseorang yang sifat dan pemikirannya selalu berubah seperti saya. Tapi ya, balik lagi, mengontrol ekspektasi itu sangat penting. Karena, sungguh, disakiti oleh kenyataan, itu luar biasa mengerikan.

Saya tidak terlalu suka bertukar ucapan selamat tahun baru atau sejenisnya, karena buat saya itu fana. Tapi saya punya beberapa target yang harus saya capai tahun ini, yang menjadi alasan agar saya tetap hidup. Karena, apalah artinya hidup kalau kita tidak punya cita-cita untuk diwujudkan?

Tahun ini pun sepertinya saya tidak akan terlalu sering menulis di sini. Tahun ini pun sepertinya saya akan banyak berada di dunia nyata. Tahun ini pun sepertinya saya tetap akan menjadi saya yang emosian, panikan, impulsif, dan ambisius. Tahun ini pun, kalau saya masih ada usia, akan banyak hal yang akan dipelajari, yang nantinya akan saya tuliskan dan bagikan juga di sini kala senggang. Tahun ini pun akan ada orang-orang yang datang dan pergi, entah siapa dan kapan.

Kenyataan bahwa kita tidak tahu apa pun tentang masa depan dan ketidakmampuan kita untuk mengontrol hidup kita sendiri memang mengerikan. Tapi itulah manusia. Pada akhirnya, semua hanya Tuhan yang tahu, kan. Kita hanya bisa berdoa saja. Lagipula, Tuhan adalah penulis skenario paling handal yang ada di seluruh alam semesta.

Tuhan, aku titipkan cita dan cintaku pada-Mu. Silakan bawa ke mana Kau mau.

English · My Chaotic Philosophy

#LearnToday 11: Made Of Glass

“Apparently the level of how vulnerable and fragile we are as a woman can be measured by how much we willing to sacrifice ourselves in order to feel loved and accepted.

And this is, what makes love could be toxic and lethal, and above all, dangerous.”

English · My Chaotic Philosophy

20 Things I’ve Accomplished in 2017

00900027

Main Story

1. Resigned from my job (believe me, it’s apparently hard)

2. And got a new job two months later

3. Learnt how to build website from scratch in my new job (you know, about UX and sitemap kinda things…)

4. Have a boyfriend

5. Had my first kiss (no, my parents better to not read this)

6. Went to club (I didn’t do ANYTHING I swear. All I do was just a little dance in the corner with my friends and OBSERVING. No alcohol, no cigarette, no bad boys or ANYTHING)

7. Mastered the art of academic presentation (based on how well I’ve always did it and how my lecturer use my slides as class reference. Yes, I’m proud like that, it was such an honour!)

8. Move out from home

9. And make a living on my own

10. Taking a piano class

11. Bought a flute. MY dream flute

12. Getting better on reading music notes (believe me I had tried so many time and it was all failures before)

13. Bought a dreamy skirt from one of my dream clothing brand: ARGYLE AND OXFORD. Woohoo!

14. Tried wall climbing (not only once but TWICE!)

15. Being a copywriter (now at least I have some portofolios)

16. Involved in charity action towards animals and humanism.

17. Read Al-quran more often.

18. Purchased Frankie magazines

19. Passed my calculus class (finally!) and got B+ as the final score!

20. Being financially independent

 

Epilogue

My resolutions is kind of failures hahah. I mean, not so many numbers to cross, but I learnt that apparently the parameter of whether you’re doing great is not merely about crossing your goals. Human changes everytime and our initial aims may not be applies for us all the time, we grown and developed our way of thinking everyday. I though it’s all about counting what we’ve become and how far we go.

Now that I’ve wrote some new goals to start anew, let just see where we’ll headed to. Excited!